Dermatitis Atopik dan Alergi Makanan, Hubungan yang Kompleks Menurut Tinjauan Terbaru
Sebuah artikel tinjauan (review) yang diterbitkan dalam jurnal internasional Current Opinion in Allergy and Clinical Immunology tahun 2020 menyimpulkan bahwa hubungan antara dermatitis atopik (eksim) dan alergi makanan jauh lebih kompleks daripada yang selama ini dipahami masyarakat. Penelitian yang ditulis oleh François Graham dan Philippe A. Eigenmann menegaskan bahwa tidak semua anak dengan dermatitis atopik mengalami alergi makanan, sehingga penghindaran makanan secara sembarangan tidak dianjurkan. Para penulis menekankan bahwa diagnosis alergi makanan harus didasarkan pada riwayat klinis yang jelas dan pemeriksaan yang tepat.
Menurut laporan tersebut, dermatitis atopik merupakan penyakit kulit inflamasi kronis yang terjadi akibat kombinasi faktor genetik, gangguan sistem imun, kerusakan sawar (barrier) kulit, serta perubahan mikrobiota kulit. Kerusakan sawar kulit menyebabkan alergen dari lingkungan lebih mudah masuk ke dalam tubuh sehingga meningkatkan risiko terjadinya sensitisasi alergi. Proses ini merupakan bagian dari atopic march, yaitu perjalanan penyakit alergi yang dapat dimulai dari dermatitis atopik pada bayi, kemudian berkembang menjadi alergi makanan, asma, dan rinitis alergi pada sebagian anak.
Review ini menunjukkan bahwa hingga sekitar 50% anak dengan dermatitis atopik memiliki hasil IgE spesifik terhadap makanan yang positif, tetapi hasil tes positif tidak selalu berarti anak benar-benar alergi terhadap makanan tersebut. Bahkan, banyak anak hanya mengalami sensitisasi tanpa gejala klinis. Sebaliknya, pada anak dengan dermatitis atopik berat, hanya sekitar sepertiga yang terbukti mengalami reaksi alergi terhadap makanan saat dilakukan Oral Food Challenge (OFC), yang merupakan standar emas dalam diagnosis alergi makanan. Temuan ini menunjukkan bahwa hasil tes darah atau skin prick test saja tidak cukup untuk menegakkan diagnosis alergi makanan.
Para peneliti juga mengingatkan bahwa tes alergi tidak dianjurkan dilakukan secara rutin pada semua anak dengan dermatitis atopik. Pemeriksaan hanya dipertimbangkan bila terdapat riwayat yang kuat mengarah pada alergi makanan atau dermatitis atopik sedang hingga berat yang tidak membaik meskipun telah mendapatkan terapi kulit yang optimal. Pemeriksaan tanpa indikasi yang jelas dapat menghasilkan false positive yang tinggi, sehingga anak berisiko menjalani diet eliminasi yang sebenarnya tidak diperlukan. Penghindaran makanan tanpa diagnosis yang benar dapat menyebabkan kekurangan gizi, menghambat pertumbuhan, serta menurunkan kualitas hidup anak dan keluarganya.
Review tersebut juga membahas berbagai strategi pencegahan alergi makanan pada bayi yang berisiko tinggi. Bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa perawatan kulit sejak dini menggunakan pelembap (emollient) untuk menjaga fungsi sawar kulit, pengobatan dermatitis atopik secara optimal dengan obat topikal sesuai indikasi, serta pengenalan dini makanan alergenik pada usia yang sesuai dapat membantu menurunkan risiko berkembangnya alergi makanan pada sebagian anak. Pendekatan ini merupakan perubahan penting dibandingkan praktik lama yang justru menunda pemberian makanan alergen.
Para penulis menyimpulkan bahwa masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami faktor-faktor yang menyebabkan dermatitis atopik berkembang menjadi alergi makanan. Namun, berdasarkan bukti yang ada saat ini, tidak semua dermatitis atopik disebabkan oleh alergi makanan, dan tidak semua hasil tes alergi yang positif berarti anak harus menghindari makanan tersebut. Pendekatan yang paling tepat adalah melakukan diagnosis berdasarkan riwayat klinis, mengoptimalkan terapi kulit, serta menggunakan Oral Food Challenge (OFC) pada kasus yang diperlukan untuk memastikan diagnosis sebelum melakukan diet eliminasi.
Daftar Pustaka
Graham F, Eigenmann PA. Atopic dermatitis and its relation to food allergy. Current Opinion in Allergy and Clinical Immunology. 2020;20(3):305-310. doi:10.1097/ACI.0000000000000638. PMID: 32109909.










Leave a Reply