ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

RISET TERKINI: Meta-Analisis JAMA Pediatrics Mengungkap Faktor Risiko Terbesar Alergi Makanan pada Bayi dan Anak

RISET TERKINI: Meta-Analisis JAMA Pediatrics Mengungkap Faktor Risiko Terbesar Alergi Makanan pada Bayi dan Anak

Sebuah systematic review dan meta-analisis terbaru yang diterbitkan di JAMA Pediatrics pada tahun 2026 memberikan gambaran paling komprehensif hingga saat ini mengenai faktor-faktor yang meningkatkan risiko alergi makanan pada bayi dan anak. Penelitian yang dipimpin oleh Nazmul Islam dan tim menganalisis 190 penelitian dari 40 negara dengan melibatkan sekitar 2,8 juta peserta. Hanya penelitian yang menggunakan metode diagnosis berkualitas tinggi, termasuk Oral Food Challenge (OFC) untuk analisis insidensi, yang dimasukkan. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 4,7% anak mengalami alergi makanan hingga usia 6 tahun, sehingga menegaskan bahwa alergi makanan merupakan masalah kesehatan anak yang semakin penting di seluruh dunia.

Meta-analisis ini menemukan bahwa riwayat penyakit alergi sejak dini (atopic march) merupakan faktor risiko terkuat. Bayi yang mengalami dermatitis atopik (eksim) pada tahun pertama kehidupan memiliki risiko hampir 4 kali lebih tinggi mengalami alergi makanan (OR 3,88). Risiko juga meningkat pada anak dengan rinitis alergi (OR 3,39) maupun mengi/wheezing (OR 2,11). Selain itu, semakin berat dermatitis atopik yang dialami, semakin besar pula kemungkinan anak mengalami alergi makanan. Temuan ini memperkuat konsep bahwa gangguan sawar kulit merupakan salah satu jalur utama terbentuknya sensitisasi terhadap makanan.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kerusakan sawar kulit memiliki peranan penting. Bayi dengan peningkatan kehilangan cairan melalui kulit (transepidermal water loss/TEWL) memiliki risiko lebih dari tiga kali lipat (OR 3,36) mengalami alergi makanan. Faktor genetik juga berkontribusi, terutama variasi gen filaggrin (FLG) yang meningkatkan risiko hampir dua kali lipat (OR 1,93). Filaggrin merupakan protein penting untuk menjaga integritas sawar kulit. Bila fungsi ini terganggu, alergen lebih mudah masuk melalui kulit sehingga memicu sensitisasi sistem imun.

Di antara faktor yang dapat dimodifikasi, penelitian ini menemukan bahwa menunda pemberian makanan padat yang mengandung alergen, terutama kacang tanah setelah usia 12 bulan, berkaitan dengan peningkatan risiko alergi makanan (OR 2,55). Selain itu, penggunaan antibiotik juga berhubungan dengan peningkatan risiko, baik bila diberikan pada bulan pertama kehidupan (OR 4,11), selama tahun pertama (OR 1,39), maupun ketika ibu mendapat antibiotik saat kehamilan atau persalinan (OR 1,32). Temuan ini mendukung hipotesis bahwa perubahan mikrobiota usus pada awal kehidupan dapat memengaruhi perkembangan toleransi imun terhadap makanan.

Beberapa faktor lain juga terbukti meningkatkan risiko, meskipun pengaruhnya lebih kecil. Anak laki-laki, anak pertama, memiliki riwayat alergi dalam keluarga, lahir melalui operasi sesar, atau berasal dari keluarga yang mengalami migrasi internasional memiliki risiko lebih tinggi mengalami alergi makanan. Sebaliknya, penelitian ini tidak menemukan bukti yang kuat bahwa berat badan lahir rendah, kehamilan lewat waktu, pola makan ibu selama kehamilan, maupun stres ibu selama kehamilan secara langsung meningkatkan risiko alergi makanan pada anak. Temuan ini membantu mengoreksi beberapa anggapan yang selama ini belum didukung bukti ilmiah yang kuat.

Para penulis menyimpulkan bahwa alergi makanan merupakan hasil interaksi faktor genetik, gangguan sawar kulit, sistem imun, paparan lingkungan, serta faktor awal kehidupan. Karena sebagian faktor dapat dimodifikasi, hasil penelitian ini memberikan dasar ilmiah yang kuat bagi strategi pencegahan, seperti mengendalikan dermatitis atopik sejak dini, menjaga kesehatan sawar kulit, menggunakan antibiotik secara rasional, serta memperkenalkan makanan pendamping sesuai rekomendasi tanpa menunda pemberian makanan alergen pada bayi yang siap menerimanya. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu menurunkan angka kejadian alergi makanan pada generasi mendatang.

Bagi tenaga kesehatan dan orang tua, meta-analisis ini menegaskan bahwa tidak ada satu penyebab tunggal alergi makanan. Risiko muncul akibat kombinasi banyak faktor, sehingga pencegahan juga memerlukan pendekatan menyeluruh. Identifikasi bayi berisiko tinggi sejak dini memungkinkan dilakukan edukasi, pemantauan, dan intervensi yang lebih tepat berdasarkan bukti ilmiah terbaru.

Daftar Pustaka

  • Islam N, Chu AWL, Sheriff F, et al. Risk Factors for the Development of Food Allergy in Infants and Children: A Systematic Review and Meta-analysis. JAMA Pediatrics. 2026;180(5):486-499. Published online February 9, 2026. doi:10.1001/jamapediatrics.2025.6105.
Visited 4 times, 4 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *