ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Peran Alergi Makanan pada Rhinitis Alergi: Temuan Baru Berdasarkan Pemeriksaan IgE

Peran Alergi Makanan pada Rhinitis Alergi: Temuan Baru Berdasarkan Pemeriksaan IgE

Widodo Judarwanto, Audi Yudhasmara

Rhinitis alergi merupakan salah satu penyakit alergi kronis yang paling sering dijumpai di seluruh dunia. Penyakit ini ditandai dengan bersin berulang, pilek bening, hidung tersumbat, dan hidung gatal akibat reaksi sistem imun terhadap alergen yang terhirup, seperti tungau debu rumah, serbuk sari, bulu hewan, dan jamur. Selain menimbulkan keluhan pada saluran napas atas, rhinitis alergi juga dapat mengganggu kualitas tidur, konsentrasi, prestasi belajar, produktivitas, dan kualitas hidup penderitanya. Penyakit ini sering ditemukan bersamaan dengan penyakit atopik lain, seperti dermatitis atopik, asma, dan alergi makanan.

Selama bertahun-tahun muncul anggapan bahwa makanan tertentu dapat memicu atau memperberat gejala rhinitis alergi. Namun, hingga saat ini hubungan tersebut masih menjadi perdebatan. Sebagian penelitian menunjukkan adanya sensitisasi terhadap makanan pada penderita rhinitis alergi, sedangkan penelitian lain belum dapat membuktikan bahwa makanan merupakan penyebab langsung timbulnya penyakit tersebut. Oleh karena itu, pemahaman mengenai peran alergi makanan dalam rhinitis alergi menjadi penting agar diagnosis dan penatalaksanaan dilakukan berdasarkan bukti ilmiah, bukan hanya berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.

Penelitian yang Dilakukan

Penelitian yang dilakukan oleh Mohammed W. Al-Rabia dan kolega, yang dipublikasikan dalam Journal of Microscopy and Ultrastructure, berupaya mengevaluasi hubungan antara alergi makanan dan rhinitis alergi melalui pemeriksaan imunoglobulin E (IgE) spesifik. Penelitian ini melibatkan 100 pasien berusia 10 hingga 60 tahun yang telah didiagnosis mengalami rhinitis alergi berdasarkan riwayat penyakit dan pemeriksaan klinis. Pasien yang sedang mengonsumsi antihistamin, steroid jangka panjang, maupun wanita hamil tidak diikutsertakan agar hasil pemeriksaan tidak dipengaruhi oleh faktor lain.

Seluruh peserta menjalani pemeriksaan IgE spesifik menggunakan RIDA Allergy Screen terhadap kombinasi alergen hirup dan alergen makanan. Panel alergen hirup meliputi berbagai jenis tungau debu rumah, kecoak, bulu hewan, jamur, rumput, dan serbuk sari tanaman. Sementara itu, panel makanan meliputi susu sapi, putih telur, kuning telur, kacang tanah, kedelai, gandum, makanan laut, pisang, mangga, stroberi, tomat, kakao, madu, dan berbagai bahan pangan lain yang umum dikonsumsi di wilayah penelitian. Melalui pendekatan ini, peneliti ingin mengetahui seberapa sering sensitisasi makanan ditemukan pada pasien rhinitis alergi serta apakah terdapat hubungan dengan usia dan jenis kelamin.

Hasil Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 63% pasien rhinitis alergi memiliki sensitisasi terhadap satu atau lebih alergen makanan, sedangkan 37% tidak menunjukkan sensitisasi terhadap makanan yang diperiksa. Kelompok usia 21 hingga 40 tahun merupakan kelompok dengan angka sensitisasi tertinggi, yaitu sekitar 53,2% dari seluruh pasien yang mengalami sensitisasi makanan. Penelitian ini juga menemukan bahwa perempuan lebih sering mengalami sensitisasi makanan dibandingkan laki-laki, yaitu masing-masing sebesar 66,2% dan 33,3%.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pada sebagian penderita rhinitis alergi terdapat respons imun terhadap makanan yang dapat dideteksi melalui pemeriksaan IgE spesifik. Namun, hasil ini tidak dapat diartikan bahwa makanan merupakan penyebab utama timbulnya rhinitis alergi. Pemeriksaan IgE hanya menunjukkan adanya sensitisasi imunologis terhadap suatu alergen, sedangkan diagnosis alergi makanan tetap memerlukan kesesuaian antara hasil pemeriksaan laboratorium dan riwayat klinis pasien.

Alergen Hirup Tetap Menjadi Penyebab Utama

Selain mengevaluasi alergen makanan, penelitian ini juga menunjukkan bahwa alergen hirup tetap menjadi faktor utama yang berhubungan dengan rhinitis alergi. Sensitisasi tertinggi ditemukan terhadap tungau debu rumah, yaitu Dermatophagoides pteronyssinus sebesar 52% dan Dermatophagoides farinae sebesar 47%. Sensitisasi juga cukup sering ditemukan terhadap kecoak, Aspergillus fumigatus, Penicillium notatum, bulu kucing, berbagai jenis rumput, dan serbuk sari tanaman.

Di sisi lain, beberapa makanan seperti beras, buah sitrus, pisang, dan black gram termasuk alergen yang relatif lebih sering ditemukan pada populasi penelitian di Arab Saudi. Peneliti menekankan bahwa pola sensitisasi makanan sangat dipengaruhi oleh kebiasaan makan, lingkungan, serta karakteristik populasi. Oleh karena itu, jenis makanan yang menjadi alergen dominan dapat berbeda pada setiap negara dan tidak dapat langsung digeneralisasi ke populasi lain.

Mekanisme Imunologis

Penelitian ini juga mengulas mekanisme imunologis yang mendasari hubungan antara makanan dan rhinitis alergi. Pada individu yang memiliki predisposisi alergi, protein makanan tertentu dapat memicu pembentukan antibodi imunoglobulin E (IgE). Antibodi tersebut kemudian berikatan dengan reseptor pada permukaan sel mast dan basofil. Ketika individu kembali mengonsumsi makanan yang sama, terjadi ikatan antara alergen dan IgE sehingga memicu degranulasi sel mast dengan pelepasan histamin, prostaglandin, leukotrien, serta mediator inflamasi lainnya.

Reaksi fase cepat tersebut dapat diikuti oleh fase lambat yang ditandai infiltrasi eosinofil dan sel inflamasi lain sehingga mempertahankan proses peradangan. Mekanisme ini dapat menjelaskan mengapa sebagian pasien mengalami gejala alergi pada saluran napas setelah mengonsumsi makanan tertentu. Namun, tidak semua penderita rhinitis alergi mengalami mekanisme tersebut sehingga keberadaan IgE spesifik terhadap makanan tidak dapat disamakan dengan alergi makanan yang bermakna secara klinis.

Makna Klinis Penelitian

Temuan penelitian ini memberikan pesan penting bagi praktik klinis. Pemeriksaan IgE spesifik maupun skin prick test tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menegakkan diagnosis alergi makanan pada pasien dengan rhinitis alergi. Hasil positif hanya menunjukkan adanya sensitisasi terhadap suatu alergen dan belum membuktikan bahwa makanan tersebut benar-benar menimbulkan gejala pada pasien.

Diagnosis alergi makanan harus didasarkan pada riwayat klinis yang konsisten, hubungan yang jelas antara konsumsi makanan dengan munculnya gejala, serta dikonfirmasi dengan Open Oral Food Challenge apabila diperlukan dan tidak terdapat kontraindikasi. Pendekatan berbasis bukti ini membantu mencegah pembatasan makanan yang tidak diperlukan, mengurangi risiko kekurangan gizi, terutama pada anak, serta menghindari kesalahan diagnosis yang dapat berdampak pada kualitas hidup pasien dan keluarganya.

Kesimpulan

Penelitian Al-Rabia memberikan bukti bahwa sensitisasi terhadap makanan cukup sering ditemukan pada penderita rhinitis alergi berdasarkan pemeriksaan IgE spesifik. Meskipun demikian, hasil tersebut belum membuktikan adanya hubungan sebab akibat antara alergi makanan dan rhinitis alergi. Alergen hirup tetap merupakan penyebab utama rhinitis alergi, sedangkan alergi makanan lebih tepat dipandang sebagai kondisi penyerta yang dapat ditemukan pada sebagian pasien.

Berdasarkan temuan tersebut, evaluasi alergi makanan sebaiknya dilakukan secara selektif pada pasien yang memiliki riwayat reaksi yang jelas setelah mengonsumsi makanan tertentu atau disertai penyakit atopik lain seperti dermatitis atopik dan asma. Pendekatan diagnosis yang menggabungkan riwayat klinis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan alergi sesuai indikasi, dan konfirmasi dengan Open Oral Food Challenge akan menghasilkan diagnosis yang lebih akurat, terapi yang lebih tepat, serta mencegah pembatasan makanan yang tidak memberikan manfaat klinis.

Referensi

  • Al-Rabia MW. Food-induced immunoglobulin E-mediated allergic rhinitis. J Microsc Ultrastruct. 2016 Apr-Jun;4(2):69-75. doi:10.1016/j.jmau.2015.11.004. Epub 2015 Dec 14. PMID:30023212; PMCID:PMC6014210.
Visited 5 times, 5 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *