ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Imunoterapi Injeksi pada Alergi Makanan: Mengapa Belum Direkomendasikan?

Imunoterapi Injeksi pada Alergi Makanan: Mengapa Belum Direkomendasikan?

Imunoterapi alergen melalui suntikan atau subcutaneous immunotherapy (SCIT) telah lama menjadi terapi standar untuk alergi inhalan, seperti rinitis alergi akibat serbuk sari, tungau debu rumah, atau sengatan serangga. Namun, pendekatan ini tidak direkomendasikan untuk alergi makanan karena memiliki risiko tinggi menimbulkan reaksi alergi sistemik dan anafilaksis. Berbeda dengan alergi inhalan, alergen makanan umumnya memiliki potensi yang lebih besar untuk mengaktivasi sel mast dan basofil secara luas setelah pemberian melalui injeksi, sehingga keamanan menjadi perhatian utama.

Mekanisme Kerja SCIT

SCIT dilakukan dengan menyuntikkan ekstrak alergen ke jaringan subkutan secara bertahap, dimulai dari dosis yang sangat rendah hingga mencapai dosis pemeliharaan. Terapi ini bertujuan mengubah respons imun dari dominasi sel T-helper 2 (Th2) menjadi respons tolerogenik melalui peningkatan sel T regulator (Treg), peningkatan produksi interleukin-10 (IL-10) dan transforming growth factor-β (TGF-β), serta peningkatan antibodi IgG4 yang berfungsi sebagai blocking antibody. Selain itu, terjadi penurunan aktivasi sel mast, basofil, eosinofil, serta penurunan produksi IgE spesifik terhadap alergen.

Mengapa SCIT Tidak Digunakan untuk Alergi Makanan?

  • Pada awal tahun 1990-an beberapa penelitian mengevaluasi SCIT menggunakan ekstrak kacang tanah. Meskipun ditemukan peningkatan ambang toleransi terhadap alergen, frekuensi reaksi sistemik sangat tinggi. Banyak pasien mengalami urtikaria, bronkospasme, hipotensi, bahkan anafilaksis yang memerlukan pemberian epinefrin. Risiko tersebut jauh lebih besar dibandingkan manfaat klinis yang diperoleh sehingga pengembangan SCIT untuk alergi makanan dihentikan.
  • Pemberian alergen secara langsung ke jaringan subkutan menghasilkan paparan sistemik yang cepat, sehingga IgE pada permukaan sel mast dan basofil segera mengalami ikatan silang (cross-linking) dan memicu pelepasan mediator inflamasi dalam jumlah besar. Hal ini berbeda dengan OIT, EPIT, dan SLIT yang memanfaatkan jalur mukosa atau kulit sehingga induksi toleransi berlangsung lebih bertahap dengan risiko reaksi sistemik yang lebih rendah.

Perbandingan SCIT dengan Modalitas Imunoterapi Lain

Karakteristik SCIT OIT EPIT SLIT
Jalur pemberian Subkutan Oral Kulit Sublingual
Status pada alergi makanan Tidak direkomendasikan Direkomendasikan pada pasien terpilih Masih berkembang Masih berkembang
Efektivitas desensitisasi Berpotensi tinggi Tinggi Sedang Sedang
Risiko anafilaksis Sangat tinggi Sedang hingga tinggi Sangat rendah Rendah
Bukti keamanan Tidak memadai Baik pada pusat berpengalaman Baik Baik
Penggunaan klinis saat ini Tidak digunakan Digunakan di pusat khusus Uji klinis dan implementasi terbatas Pusat tertentu

Apakah Masih Ada Penelitian Mengenai SCIT?

Meskipun SCIT konvensional tidak lagi dikembangkan sebagai terapi alergi makanan, beberapa penelitian eksperimental masih mengevaluasi modifikasi pendekatan ini. Strategi yang sedang diteliti meliputi penggunaan alergen rekombinan dengan alergenisitas rendah, peptida hipoalergenik, nanopartikel sebagai sistem penghantaran antigen, serta kombinasi SCIT dengan obat biologik seperti antibodi anti-IgE (misalnya omalizumab) untuk meningkatkan keamanan. Namun, hingga saat ini belum terdapat bukti yang cukup untuk merekomendasikan SCIT sebagai terapi rutin alergi makanan.

Kesimpulan

Imunoterapi injeksi atau subcutaneous immunotherapy (SCIT) tidak direkomendasikan dalam tata laksana alergi makanan karena risiko reaksi sistemik dan anafilaksis yang tinggi melebihi manfaat klinisnya. Saat ini, pendekatan yang lebih aman dan memiliki bukti ilmiah lebih kuat adalah oral immunotherapy (OIT), epicutaneous immunotherapy (EPIT), dan sublingual immunotherapy (SLIT), yang bekerja melalui induksi toleransi imun dengan paparan alergen yang lebih terkontrol. Penelitian masa depan berfokus pada pengembangan bentuk imunoterapi yang lebih aman melalui modifikasi alergen dan kombinasi dengan terapi biologik, sehingga diharapkan dapat meningkatkan efektivitas tanpa meningkatkan risiko efek samping.

Visited 3 times, 3 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *