ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

TES DIAGNOSIS ALERGI MAKANAN PADA ANAK: ORAL FOOD CHALLENGE SEBAGAI REFERENCE STANDARD, PERAN SPT DAN sIgE, SERTA PEMERIKSAAN YANG TIDAK DIREKOMENDASIKAN

TES DIAGNOSIS ALERGI MAKANAN PADA ANAK: ORAL FOOD CHALLENGE SEBAGAI REFERENCE STANDARD, PERAN SPT DAN sIgE, SERTA PEMERIKSAAN YANG TIDAK DIREKOMENDASIKAN

Sandiaz Yudhasmara¹, Widodo Judarwanto², Audi Yudhasmara³

¹RSIA Bunda Jakarta, Jakarta, Indonesia

²Child Health, Rumah Sakit Bunda Jakarta, Jakarta, Indonesia

³Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Indonesia; Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia

 

ABSTRAK

Diagnosis alergi makanan memerlukan integrasi antara riwayat klinis yang terarah, pemeriksaan fisik, pemeriksaan untuk mendeteksi sensitisasi imunologis, dan pada kondisi tertentu oral food challenge (OFC). Tidak ada satu pemeriksaan darah atau pemeriksaan kulit yang dapat secara universal membuktikan bahwa suatu makanan merupakan penyebab alergi klinis. Pada dugaan alergi makanan yang diperantarai IgE, skin prick test (SPT) dan serum-specific IgE (sIgE) merupakan pemeriksaan lini pertama untuk mendeteksi sensitisasi. Namun, hasil positif menunjukkan sensitisasi dan tidak selalu berarti alergi klinis [1]. Component-resolved diagnostics dapat memberikan informasi tambahan pada kondisi tertentu, sedangkan basophil activation test (BAT) dapat digunakan secara selektif apabila tersedia [1]. Oral food challenge merupakan reference standard untuk mengonfirmasi atau menyingkirkan alergi makanan ketika diagnosis belum dapat dipastikan berdasarkan riwayat dan pemeriksaan sensitisasi [1]. Pembaruan AAAAI-EAACI PRACTALL 2024 memberikan standar mengenai pelaksanaan, keamanan, dosis bertahap, interval pemberian, dan kriteria penghentian OFC [2]. Pada dugaan alergi non-IgE-mediated, SPT dan sIgE dapat memberikan hasil negatif sehingga pendekatan eliminasi terarah dan reintroduksi atau food challenge sesuai kondisi klinis dapat diperlukan. Sebaliknya, pemeriksaan food-specific IgG dan berbagai pemeriksaan alternatif seperti electrodermal testing, applied kinesiology, hair analysis, serta cytotoxic testing tidak mempunyai validitas klinis yang memadai untuk menegakkan diagnosis alergi makanan [3].

Kata kunci: food allergy, oral food challenge, skin prick test, specific IgE, basophil activation test, non-IgE-mediated food allergy.

PENDAHULUAN

Alergi makanan merupakan respons imun terhadap protein makanan tertentu yang dapat menimbulkan berbagai manifestasi klinis. Diagnosis menjadi kompleks karena gejala seperti muntah, nyeri abdomen, diare, konstipasi, dermatitis, batuk, dan kesulitan makan juga dapat disebabkan oleh berbagai kondisi nonalergi. Karena itu, diagnosis harus dimulai dengan riwayat klinis yang terarah dan kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan yang sesuai dengan mekanisme imunologis yang dicurigai [1,4].

Perbedaan antara sensitisasi dan alergi klinis merupakan prinsip utama dalam interpretasi pemeriksaan alergi. Sensitisasi menunjukkan adanya respons imun terhadap suatu alergen, sedangkan alergi klinis menunjukkan adanya hubungan antara pajanan terhadap makanan dan munculnya gejala yang konsisten. SPT dan sIgE terutama mendeteksi sensitisasi IgE dan tidak dapat digunakan sendirian untuk membuktikan alergi makanan [1,4].

RIWAYAT KLINIS SEBAGAI LANGKAH PERTAMA

Evaluasi harus dimulai dengan riwayat yang mencakup makanan yang dicurigai, jumlah makanan yang dikonsumsi, bentuk makanan, waktu antara konsumsi dan munculnya gejala, jenis gejala, durasi, reproduksibilitas reaksi, serta apakah makanan tersebut pernah dikonsumsi tanpa gejala [1].

EAACI merekomendasikan allergy-focused clinical history sebagai langkah pertama dalam diagnosis dugaan alergi makanan IgE-mediated. Pemeriksaan selanjutnya harus diarahkan berdasarkan makanan yang secara klinis dicurigai [1].

SKIN PRICK TEST

SPT merupakan pemeriksaan untuk mendeteksi sensitisasi IgE terhadap alergen tertentu. Pemeriksaan ini dapat membantu mendukung diagnosis alergi makanan IgE-mediated, tetapi hasil positif tidak secara otomatis membuktikan alergi klinis [1,4].

NIAID juga menegaskan bahwa skin prick test dapat membantu mengidentifikasi makanan yang mungkin menyebabkan reaksi alergi IgE-mediated, tetapi tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar diagnosis. Intradermal testing tidak direkomendasikan untuk diagnosis alergi makanan [4].

SERUM-SPECIFIC IgE

Serum-specific IgE mengukur antibodi IgE terhadap alergen tertentu. Pemeriksaan ini dapat digunakan sebagai pemeriksaan lini pertama bersama SPT pada pasien dengan dugaan alergi makanan IgE-mediated [1].

Nilai sIgE harus diinterpretasikan bersama riwayat klinis. Nilai positif menunjukkan sensitisasi, bukan secara otomatis menunjukkan bahwa makanan tersebut menyebabkan gejala klinis [1,4].

COMPONENT-RESOLVED DIAGNOSTICS

Component-resolved diagnostics atau CRD mengukur IgE terhadap komponen molekuler tertentu dari suatu alergen. Pemeriksaan ini dapat membantu meningkatkan ketepatan interpretasi pada makanan tertentu. EAACI memberikan contoh Ara h 2 pada kacang tanah, Cor a 14 pada hazelnut, dan Ana o 3 pada kacang mete [1].

CRD tidak diperlukan untuk setiap pasien dan tidak menggantikan penilaian klinis atau OFC pada seluruh kondisi.

BASOPHIL ACTIVATION TEST

BAT mengukur aktivasi basofil setelah pajanan terhadap alergen tertentu secara in vitro. EAACI menyebut BAT sebagai pemeriksaan tambahan pada kasus tertentu apabila tersedia, termasuk pada dugaan alergi kacang tanah dan wijen [1].

Pemeriksaan ini belum tersedia secara luas sehingga belum menjadi pemeriksaan rutin untuk seluruh pasien.

ORAL FOOD CHALLENGE

OFC merupakan prosedur pemberian makanan secara bertahap dalam kondisi terkontrol untuk menentukan apakah pajanan terhadap makanan tersebut menimbulkan reaksi klinis. EAACI menyebut OFC sebagai reference standard untuk diagnosis alergi makanan [1].

OFC sangat berguna ketika hasil SPT atau sIgE tidak sesuai dengan riwayat klinis atau ketika probabilitas alergi belum dapat ditentukan dengan cukup baik. OFC juga dapat digunakan untuk menilai apakah toleransi terhadap makanan telah berkembang seiring waktu [1].

OFC harus dilakukan dengan protokol keselamatan yang sesuai. Pembaruan AAAAI-EAACI PRACTALL 2024 memberikan rekomendasi mengenai dosis bertahap, interval pemberian, kriteria melanjutkan, menghentikan, atau mengobservasi pasien, serta persiapan untuk menangani reaksi alergi [2].

OPEN FOOD CHALLENGE DAN DBPCFC

Open food challenge dilakukan ketika pasien dan dokter mengetahui makanan yang diberikan. Metode ini praktis dan dapat digunakan dalam banyak kondisi klinis [1].

Double-blind placebo-controlled food challenge atau DBPCFC menggunakan makanan aktif dan placebo dalam kondisi tersamar. Metode ini mengurangi pengaruh ekspektasi dan subjektivitas sehingga memberikan kontrol metodologis yang lebih ketat. Dalam penelitian dan kasus diagnostik tertentu, DBPCFC digunakan ketika diperlukan tingkat kepastian yang lebih tinggi [1,5].

ALERGI NON-IgE-MEDIATED

Tidak semua alergi makanan diperantarai IgE. Pada kondisi non-IgE-mediated, SPT dan sIgE dapat negatif karena mekanisme penyakit tidak menghasilkan sensitisasi IgE yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan tersebut [1].

Pada kondisi tertentu, diagnosis memerlukan eliminasi makanan yang dicurigai kemudian reintroduksi secara terkontrol. Pendekatan ini harus dilakukan secara hati-hati, terutama pada anak karena eliminasi yang luas dapat meningkatkan risiko kekurangan nutrisi dan gangguan pertumbuhan.

PEMERIKSAAN YANG TIDAK DIREKOMENDASIKAN

  • Food-specific IgG
    • Pemeriksaan food-specific IgG tidak dapat digunakan untuk membuktikan alergi makanan. CSACI menyatakan bahwa tidak terdapat bukti yang mendukung penggunaan pemeriksaan tersebut untuk mendiagnosis adverse food reactions atau memprediksi reaksi makanan di masa mendatang [3].
    • Adanya IgG terhadap makanan lebih berkaitan dengan pajanan terhadap makanan dan dapat ditemukan pada individu yang mentoleransi makanan tersebut [3].
  • Electrodermal testing dan Vega testing
    • Electrodermal testing, termasuk Vega testing, tidak memiliki validitas klinis yang memadai untuk diagnosis alergi makanan. Hasil pemeriksaan tersebut tidak dapat digunakan untuk menetapkan makanan sebagai penyebab alergi.
  • Applied kinesiology
    • Applied kinesiology menggunakan perubahan respons otot sebagai dasar untuk menentukan reaksi terhadap makanan. Metode ini tidak memiliki dasar diagnostik yang cukup untuk digunakan sebagai pemeriksaan standar alergi makanan.
  • Hair analysis
    • Hair analysis yang digunakan untuk mengidentifikasi alergi atau food sensitivity belum menunjukkan validitas dan reproduksibilitas yang diperlukan untuk diagnosis alergi makanan.
  • Cytotoxic testing dan ALCAT
    • Cytotoxic testing dan berbagai metode yang mengklaim dapat menentukan reaksi makanan melalui perubahan sel belum memberikan bukti yang cukup untuk digunakan sebagai pemeriksaan diagnostik standar.
    • Pemeriksaan tersebut tidak dapat menggantikan riwayat klinis, SPT, sIgE, atau OFC.
  • INDISCRIMINATE FOOD PANEL
    • Pemeriksaan panel sIgE terhadap puluhan atau ratusan makanan tanpa dasar riwayat klinis juga perlu dihindari. Semakin banyak makanan yang diperiksa, semakin besar kemungkinan ditemukan hasil positif yang tidak berkaitan dengan gejala pasien. Kondisi ini dapat menyebabkan eliminasi makanan yang sebenarnya dapat ditoleransi [1,4].

TABEL PEMERIKSAAN ALERGI MAKANAN

Pemeriksaan Tujuan Kemampuan membuktikan alergi klinis Status
Riwayat klinis Menentukan hubungan makanan dan gejala Sangat penting untuk menentukan probabilitas klinis Langkah pertama [1]
SPT Mendeteksi sensitisasi IgE Tidak secara mandiri Direkomendasikan [1,4]
Serum sIgE Mendeteksi IgE spesifik Tidak secara mandiri Direkomendasikan [1,4]
CRD Mendeteksi IgE terhadap komponen alergen Tidak secara mandiri Selektif [1]
BAT Menilai aktivasi basofil Dapat membantu pada kasus tertentu Selektif [1]
Open OFC Menilai respons klinis terhadap makanan Ya, pada kondisi yang tepat Reference standard [1]
DBPCFC Menilai respons klinis secara tersamar Ya Metode dengan kontrol tertinggi [1,5]
Elimination dan reintroduction Menilai hubungan makanan dan gejala Dapat membantu kondisi tertentu Selektif
Food-specific IgG Mendeteksi IgG terhadap makanan Tidak Tidak direkomendasikan [3]
IgG4 makanan Mendeteksi IgG4 Tidak Tidak digunakan untuk membuktikan alergi
Vega/electrodermal Mengukur parameter listrik Tidak Tidak direkomendasikan
Applied kinesiology Respons otot Tidak Tidak direkomendasikan
Hair analysis Analisis rambut Tidak Tidak direkomendasikan
Cytotoxic testing/ALCAT Respons sel Tidak Tidak direkomendasikan
Intradermal testing Sensitisasi kulit Tidak sesuai untuk diagnosis makanan Tidak direkomendasikan [4]
Total IgE Total IgE serum Tidak mengidentifikasi makanan penyebab Tidak digunakan sebagai tes tunggal [4]

ALGORITME DIAGNOSIS

Dugaan alergi makanan

↓

Riwayat klinis terarah [1]

↓

Tentukan apakah pola mengarah ke IgE-mediated atau non-IgE-mediated

↓

Jika dugaan IgE-mediated:

SPT dan atau sIgE terhadap makanan yang dicurigai [1]

↓

Interpretasikan bersama riwayat klinis

↓

Jika diagnosis belum jelas:

OFC dalam fasilitas medis yang sesuai [1,2]

↓

Konfirmasi alergi atau toleransi

Pada dugaan non-IgE-mediated:

Riwayat klinis

↓

Eliminasi makanan yang terarah

↓

Evaluasi respons klinis

↓

Reintroduksi atau food challenge sesuai indikasi

↓

Tentukan apakah hubungan makanan dengan gejala dapat dibuktikan

KESIMPULAN

Diagnosis alergi makanan harus menggabungkan riwayat klinis, pemeriksaan sensitisasi yang tepat, dan pada kondisi tertentu oral food challenge. SPT dan serum sIgE merupakan pemeriksaan lini pertama pada dugaan alergi makanan IgE-mediated, tetapi keduanya mendeteksi sensitisasi dan tidak secara mandiri membuktikan alergi klinis [1].

OFC merupakan reference standard untuk diagnosis alergi makanan ketika diagnosis belum dapat dipastikan melalui evaluasi klinis dan pemeriksaan sensitisasi. DBPCFC memberikan kontrol metodologis yang lebih ketat dan memiliki peran penting pada situasi tertentu, terutama penelitian dan kasus diagnostik yang sulit [1,2].

Food-specific IgG tidak dapat digunakan untuk membuktikan alergi makanan. Bukti yang ada menunjukkan bahwa IgG terhadap makanan lebih mencerminkan pajanan dan toleransi terhadap makanan [3]. Berbagai pemeriksaan alternatif seperti electrodermal testing, Vega testing, applied kinesiology, hair analysis, dan cytotoxic testing juga tidak dapat menggantikan metode diagnosis berbasis bukti.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Santos AF, Riggioni C, Agache I, Akdis CA, Akdis M, Alvarez-Perea A, et al. EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023;78(12):3057-3076. doi:10.1111/all.15902. (Wiley Online Library)
  2. Sampson HA, Arasi S, Bahnson HT, Ballmer-Weber B, Beyer K, Bindslev-Jensen C, et al. AAAAI-EAACI PRACTALL: Standardizing oral food challenges, 2024 Update. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(11):e14276. doi:10.1111/pai.14276. (Wiley Online Library)
  3. Carr S, Chan E, Lavine E, Moote W. CSACI position statement on the testing of food-specific IgG. Allergy Asthma Clin Immunol. 2012;8(1):12. doi:10.1186/1710-1492-8-12. (PubMed)
  4. Boyce JA, Assa’ad A, Burks AW, Jones SM, Sampson HA, Wood RA, et al. Guidelines for the diagnosis and management of food allergy in the United States: report of the NIAID-sponsored expert panel. J Allergy Clin Immunol. 2010;126(6 Suppl):S1-S58. doi:10.1016/j.jaci.2010.10.007. (PubMed)
  5. Bindslev-Jensen C, Ballmer-Weber BK, Bengtsson U, Blanco C, Ebner C, Hourihane J, et al. Standardization of food challenges in patients with immediate reactions to foods, position paper from the European Academy of Allergology and Clinical Immunology. Allergy. 2004;59(7):690-697. doi:10.1111/j.1398-9995.2004.00566.x.

 

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *