ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

GUT-BRAIN AXIS, ALERGI MAKANAN, DAN ORAL FOOD CHALLENGE PADA ANAK. Hubungan Mikrobiota, Nutrisi, Sistem Imun, Saluran Cerna, dan Toleransi Makanan

 

GUT-BRAIN AXIS, ALERGI MAKANAN, DAN ORAL FOOD CHALLENGE PADA ANAK. Hubungan Mikrobiota, Nutrisi, Sistem Imun, Saluran Cerna, dan Toleransi Makanan

Gut-brain axis merupakan sistem komunikasi dua arah antara saluran gastrointestinal dan sistem saraf pusat yang melibatkan sistem saraf enterik, nervus vagus, sistem imun, hormon, metabolit mikrobiota, serta berbagai jalur metabolisme. Pada anak, sistem ini memiliki karakteristik khusus karena otak, saluran gastrointestinal, sistem imun, dan mikrobiota masih mengalami perkembangan. Nutrisi berperan penting dalam proses tersebut melalui penyediaan energi dan zat gizi untuk perkembangan otak sekaligus menyediakan substrat bagi metabolisme mikrobiota. Gangguan gastrointestinal, pola makan yang sangat terbatas, serta eliminasi makanan yang tidak diperlukan dapat memengaruhi kecukupan nutrisi dan lingkungan mikrobiota. Alergi makanan juga berhubungan dengan interaksi kompleks antara barrier intestinal, sistem imun, mikrobiota, dan paparan antigen makanan. Penelitian menunjukkan adanya perbedaan karakteristik mikrobiota pada sebagian anak dengan alergi makanan, tetapi temuan tersebut belum membuktikan hubungan sebab akibat. (PubMed) Diagnosis alergi makanan tetap harus berdasarkan riwayat klinis yang terarah, pemeriksaan yang sesuai, dan bila diperlukan oral food challenge (OFC). OFC merupakan prosedur terkontrol yang digunakan untuk menilai reaktivitas klinis terhadap makanan dan dilakukan dengan pengawasan medis karena dapat menimbulkan reaksi alergi. (EAACI) Dengan demikian, konsep gut-brain axis dapat membantu memahami hubungan antara saluran cerna, nutrisi, sistem imun, dan otak, tetapi tidak boleh digunakan untuk menggantikan diagnosis alergi makanan berbasis bukti.

 

Saluran gastrointestinal bukan hanya organ untuk mencerna makanan. Usus berinteraksi secara terus-menerus dengan sistem saraf, sistem imun, metabolisme tubuh, mikrobiota, dan otak. Komunikasi dua arah tersebut dikenal sebagai gut-brain axis. Pada anak, hubungan ini sangat menarik karena terjadi bersamaan dengan perkembangan otak, pematangan sistem imun, perkembangan intestinal barrier, dan perubahan komposisi mikrobiota. Pola makan, infeksi, antibiotik, lingkungan, dan kondisi gastrointestinal dapat memengaruhi proses tersebut. (PubMed)

Alergi makanan menambahkan dimensi lain dalam hubungan ini. Makanan merupakan sumber nutrisi, tetapi pada individu yang mengalami alergi, protein makanan tertentu dapat memicu respons imun yang merugikan. Karena itu, anak dengan dugaan alergi makanan tidak cukup hanya dinilai berdasarkan satu hasil pemeriksaan laboratorium. Diagnosis harus menghubungkan riwayat paparan makanan dengan gejala, bukti sensitisasi bila relevan, dan pada kasus tertentu konfirmasi melalui OFC. (EAACI)

GUT-BRAIN AXIS: BAGAIMANA USUS BERKOMUNIKASI DENGAN OTAK?

  • Gut-brain axis merupakan jaringan komunikasi yang berlangsung melalui beberapa jalur.
  • Jalur tersebut meliputi:
  • • sistem saraf enterik
    • nervus vagus
    • sistem saraf otonom
    • sistem imun
    • hormon
    • metabolit mikrobiota
    • asam empedu
    • metabolisme triptofan
    • sirkulasi sistemik

Komunikasi tersebut bersifat dua arah.

  • Otak dapat memengaruhi motilitas, sekresi, sensitivitas visceral, dan persepsi gejala gastrointestinal.
  • Sebaliknya, perubahan yang terjadi di saluran cerna dapat mengirimkan sinyal menuju sistem saraf pusat.
  • Pada anak, proses tersebut berlangsung dalam sistem yang masih berkembang.

MIKROBIOTA DAN PERKEMBANGAN ANAK

  • Mikrobiota usus mengalami perubahan besar sejak awal kehidupan.
  • Faktor yang dapat memengaruhi perkembangan mikrobiota antara lain:
  • • usia kehamilan
    • cara persalinan
    • pola pemberian makan
    • ASI dan makanan pendamping
    • pola makan
    • penggunaan antibiotik
    • infeksi
    • lingkungan
    • penyakit gastrointestinal
  • Mikrobiota tidak hanya berfungsi sebagai penghuni usus. Mikroorganisme menghasilkan berbagai metabolit yang dapat memengaruhi sel epitel, sistem imun, metabolisme, dan komunikasi dengan sistem saraf.
  • Penelitian pada anak menunjukkan adanya hubungan antara karakteristik mikrobiota dan perkembangan neuropsikologis. Namun, penelitian tersebut masih menghadapi masalah heterogenitas dan faktor perancu sehingga hubungan yang ditemukan tidak dapat langsung dianggap sebagai hubungan sebab akibat. (PubMed)

NUTRISI SEBAGAI JEMBATAN USUS DAN OTAK

  • Makanan mempunyai peran penting dalam gut-brain axis.
  • Makanan menyediakan energi dan zat gizi untuk pertumbuhan tubuh serta perkembangan otak.
  • Pada saat yang sama, komponen makanan yang mencapai kolon dapat menjadi substrat bagi mikrobiota.
  • Serat merupakan salah satu contoh penting.
  • Fermentasi serat oleh mikrobiota dapat menghasilkan short-chain fatty acids atau SCFA, terutama acetate, propionate, dan butyrate.
  • SCFA berhubungan dengan fungsi barrier intestinal, metabolisme, dan regulasi imun.
  • Namun, respons terhadap makanan tidak selalu sama pada setiap anak. Jumlah dan jenis serat perlu disesuaikan dengan usia, pola makan, serta kondisi gastrointestinal.

NUTRISI DAN PERKEMBANGAN OTAK

  • Perkembangan otak membutuhkan energi dan berbagai zat gizi.
  • Protein, asam lemak omega-3 termasuk DHA, zat besi, zinc, iodium, folat, vitamin B12, vitamin D, dan kolin merupakan beberapa komponen penting dalam pola makan anak.
  • Kekurangan zat gizi tertentu dapat mengganggu pertumbuhan dan fungsi tubuh.
  • Karena itu, setiap diet eliminasi yang dilakukan pada anak harus mempertimbangkan konsekuensi nutrisinya.
  • Hal ini menjadi sangat penting pada anak yang dicurigai mengalami alergi makanan karena eliminasi yang tidak tepat dapat mempersempit variasi makanan.

ALERGI MAKANAN DAN MIKROBIOTA

  • Alergi makanan merupakan respons imun terhadap protein makanan yang pada individu tertentu dapat menimbulkan gejala klinis.
  • Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak penelitian yang mengevaluasi hubungan mikrobiota dengan alergi makanan.
  • Review pada anak menemukan bahwa berbagai penelitian menunjukkan perbedaan komposisi mikrobiota antara anak dengan alergi makanan dan anak tanpa alergi. Beberapa penelitian melaporkan perbedaan pada kelompok bakteri tertentu serta metabolit seperti SCFA. (PubMed)
  • Mikrobiota juga diduga berperan dalam pembentukan oral tolerance melalui interaksi dengan sistem imun mukosa.
  • Namun, perlu dibedakan antara asosiasi dan kausalitas.
  • Adanya perbedaan mikrobiota pada anak dengan alergi makanan tidak berarti bahwa dysbiosis merupakan satu-satunya penyebab alergi.
  • Alergi makanan merupakan kondisi multifaktorial yang melibatkan faktor genetik, barrier epitel, sistem imun, lingkungan, pola makan, dan paparan mikroorganisme.

INTESTINAL BARRIER DAN ORAL TOLERANCE

  • Saluran gastrointestinal merupakan tempat tubuh terus berhadapan dengan berbagai antigen makanan dan mikroorganisme.
  • Tubuh harus mampu membedakan antara antigen yang harus ditoleransi dan antigen yang berpotensi berbahaya.
  • Proses tersebut disebut oral tolerance.
  • Barrier intestinal, sel epitel, mikrobiota, antigen-presenting cells, serta regulatory T cells berperan dalam menjaga toleransi tersebut.
  • Gangguan pada interaksi tersebut dapat berkontribusi terhadap perkembangan respons imun yang tidak sesuai.
  • Penelitian mengenai microbiome dan alergi makanan menunjukkan bahwa mikrobiota dapat memengaruhi perkembangan sistem imun dan toleransi terhadap antigen makanan. (PubMed)
  • Namun, mekanisme tersebut belum dapat diterjemahkan menjadi satu pemeriksaan mikrobiota yang dapat digunakan secara rutin untuk mendiagnosis alergi makanan.

GEJALA GASTROINTESTINAL PADA ALERGI MAKANAN

  • Manifestasi gastrointestinal alergi makanan dapat berbeda berdasarkan mekanisme imunologisnya.
  • Pada alergi yang dimediasi IgE, gejala dapat muncul relatif cepat setelah paparan makanan.
  • Gejala dapat berupa:
  • • muntah
    • nyeri atau rasa tidak nyaman di perut
    • diare
    • urtikaria
    • angioedema
    • gejala respirasi
    • hingga anafilaksis
  • Pada kondisi non-IgE-mediated food allergy, manifestasi gastrointestinal dapat lebih dominan dan pola waktunya berbeda.
  • Karena banyak penyakit gastrointestinal lain juga dapat menyebabkan gejala yang serupa, diagnosis tidak dapat hanya berdasarkan satu gejala.

ALERGI, SENSITISASI, DAN INTOLERANSI TIDAK SAMA

  • Salah satu sumber kebingungan dalam praktik sehari-hari adalah penggunaan istilah alergi untuk semua reaksi terhadap makanan.
  • Sensitisasi berarti terdapat respons imun terhadap alergen yang terdeteksi melalui pemeriksaan tertentu.
  • Alergi makanan berarti sensitisasi tersebut mempunyai relevansi klinis dan menimbulkan reaksi ketika makanan dikonsumsi.
  • Sementara itu, intoleransi makanan mempunyai mekanisme yang berbeda dan tidak identik dengan alergi imunologis.
  • Karena itu, hasil skin prick test atau specific IgE yang positif tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa anak mengalami alergi klinis terhadap makanan tersebut. (EAACI)

GUT-BRAIN AXIS PADA ANAK

Gejala Sistem Saraf Pusat dan Manifestasi Neurobehavioral yang Dapat Menyertai Alergi Makanan atau Gangguan Gastrointestinal

Tabel 1. Jalur Gut-Brain Axis dan kemungkinan manifestasinya pada anak

Jalur Mekanisme utama Kemungkinan manifestasi pada anak
Nervus vagus Mengirimkan sinyal dari saluran cerna ke otak dan sebaliknya Mual, perubahan nafsu makan, rasa tidak nyaman, perubahan respons terhadap stres
Sistem saraf enterik Mengatur motilitas, sekresi, dan fungsi gastrointestinal Nyeri perut, kembung, perubahan BAB
Sistem imun Sitokin dan mediator imun berkomunikasi dengan sistem saraf Malaise, kelelahan, perubahan perilaku saat inflamasi
Mikrobiota Menghasilkan metabolit yang berinteraksi dengan sistem imun dan saraf Hubungan dengan tidur, perilaku, dan fungsi neuropsikologis masih diteliti
SCFA Produk fermentasi serat oleh mikrobiota Memengaruhi barrier usus, metabolisme, dan regulasi imun
Triptofan Dimetabolisme melalui jalur serotonin dan kynurenine Berhubungan dengan regulasi neurotransmisi dan respons imun
Asam empedu Dimodifikasi oleh mikrobiota dan berfungsi sebagai molekul sinyal Memengaruhi metabolisme dan komunikasi usus-sistemik
HPA axis Menghubungkan stres, hormon, otak, dan fungsi gastrointestinal Perubahan nafsu makan, motilitas usus, tidur, dan respons stres
Intestinal barrier Mengatur interaksi isi lumen dengan jaringan tubuh Berhubungan dengan regulasi imun dan homeostasis intestinal

Tabel 2. Gejala gastrointestinal yang dapat menjadi bagian dari masalah gut-brain axis

Kelompok Gejala yang dapat ditemukan
Nyeri Nyeri perut, kram, rasa tidak nyaman
Muntah Muntah berulang, muntah setelah makan
BAB Diare, konstipasi, perubahan frekuensi atau konsistensi tinja
Perut Kembung, distensi, cepat kenyang
Nafsu makan Nafsu makan menurun, cepat kenyang, takut makan
Makan Menolak makanan, selective eating, food avoidance
Refluks Regurgitasi, rasa terbakar atau ketidaknyamanan setelah makan
Tinja Lendir, darah, atau perubahan karakter tinja sesuai penyakit yang mendasari

Tabel 3. Manifestasi sistem saraf pusat dan neurobehavioral yang dapat muncul bersamaan

Manifestasi Gambaran pada anak Kemungkinan hubungan dengan gastrointestinal
Mudah rewel Anak lebih mudah menangis atau sulit ditenangkan Nyeri, mual, konstipasi, atau ketidaknyamanan
Perubahan mood Lebih mudah marah atau emosional Nyeri, gangguan tidur, atau kondisi sistemik
Konsentrasi terganggu Sulit mempertahankan perhatian Dapat berkaitan dengan kurang tidur, nyeri, kelelahan, atau nutrisi
Mudah lelah Aktivitas menurun, tampak kurang bertenaga Penyakit kronis, inflamasi, gangguan tidur, atau kekurangan nutrisi
Gangguan tidur Sulit tidur, sering terbangun, tidur tidak berkualitas Nyeri, refluks, pruritus, atau ketidaknyamanan gastrointestinal
Perubahan nafsu makan Makan lebih sedikit atau menolak makan Mual, nyeri, cepat kenyang, atau pengalaman makan yang tidak menyenangkan
Food avoidance Menghindari makanan tertentu Dapat terjadi setelah pengalaman gejala setelah makan
Selective eating Pilihan makanan sangat terbatas Dapat berkaitan dengan pengalaman gastrointestinal dan faktor sensorik/perilaku
Cemas saat makan Takut atau enggan makan Dapat terjadi setelah pengalaman reaksi makanan
Irritabilitas Mudah tersinggung atau tantrum Dapat diperburuk oleh nyeri, lapar, atau kurang tidur
Penurunan aktivitas Anak lebih pasif Dapat terjadi saat sakit atau kekurangan energi
Keluhan sakit kepala Nyeri kepala berulang Tidak spesifik dan memerlukan evaluasi penyebab lain
Brain fog atau sulit berpikir Istilah populer untuk merasa sulit berkonsentrasi Tidak merupakan diagnosis medis spesifik
Perubahan regulasi emosi Sulit mengendalikan emosi Dapat dipengaruhi tidur, nyeri, stres, dan kondisi kesehatan
Perubahan perilaku Perubahan pola perilaku dari kondisi biasanya Harus dicari penyebab medis, psikologis, perkembangan, dan lingkungan

Tabel 4. Bila anak mempunyai alergi makanan

Kondisi Gejala yang mungkin muncul Catatan
Reaksi IgE-mediated Biduran, bengkak, muntah, wheezing, batuk, hingga anafilaksis Biasanya terjadi relatif cepat setelah paparan
Alergi gastrointestinal non-IgE Muntah, diare, darah pada tinja, nyeri atau gangguan makan sesuai kondisi Pola gejala bergantung pada penyakit
Eliminasi makanan Pilihan makanan semakin terbatas Risiko kekurangan nutrisi bila terlalu luas
Reaksi berulang setelah makan Anak takut makan atau menghindari makanan Dapat membentuk food avoidance
Gejala gastrointestinal kronis Gangguan makan, tidur, dan aktivitas Perlu mencari diagnosis gastrointestinal yang mendasari

Tabel 5. Jalur hubungan alergi makanan, gastrointestinal, gut-brain axis, dan perilaku

Tahap Proses
Makanan Protein makanan masuk ke saluran gastrointestinal
Respons imun Pada anak dengan alergi, antigen tertentu dapat memicu respons imun
Saluran cerna Muncul gejala seperti nyeri, muntah, diare, atau inflamasi sesuai penyakit
Sinyal saraf Informasi dari saluran cerna diteruskan melalui sistem saraf dan nervus vagus
Sistem imun Mediator imun dapat memengaruhi komunikasi sistemik
Otak Anak merasakan sakit, mual, tidak nyaman, atau perubahan kondisi tubuh
Perilaku makan Anak dapat mengurangi atau menghindari makanan
Nutrisi Bila eliminasi luas, variasi dan kecukupan nutrisi dapat menurun
Mikrobiota Perubahan pola makan dapat mengubah substrat yang tersedia bagi mikrobiota
Siklus berulang Gangguan makan dan gastrointestinal dapat saling memperburuk

Tabel 6. Hal yang perlu diperiksa pada anak dengan dugaan hubungan gastrointestinal dan neurobehavioral

Area Pertanyaan klinis
Pertumbuhan Apakah berat dan tinggi badan berkembang sesuai pola pertumbuhan?
Nutrisi Apakah energi, protein, vitamin, dan mineral cukup?
Pola makan Berapa banyak jenis makanan yang dapat diterima anak?
Gastrointestinal Apakah terdapat nyeri, muntah, diare, konstipasi, atau refluks?
Alergi Apakah gejala mempunyai hubungan waktu yang konsisten dengan makanan tertentu?
Tidur Apakah anak sulit tidur atau sering terbangun?
Perilaku Apakah terdapat perubahan perilaku yang berhubungan dengan gejala fisik?
Perkembangan Apakah perkembangan bahasa, motorik, sosial, dan kognitif sesuai usia?
Obat Apakah anak menggunakan antibiotik atau obat lain yang relevan?
Eliminasi Apakah ada makanan yang dihindari dan apa dasar penghindarannya?
Diagnosis Apakah terdapat diagnosis gastrointestinal atau alergi yang sudah terbukti?

PESAN UTAMA

  • Tidak semua gejala pada tabel di atas berarti alergi makanan.
  • Anak dengan alergi makanan dapat mengalami gejala gastrointestinal. Ketidaknyamanan tersebut kemudian dapat memengaruhi tidur, nafsu makan, aktivitas, dan perilaku makan.
  • Sebaliknya, pola makan yang sangat terbatas dapat memengaruhi kecukupan nutrisi dan komposisi mikrobiota.
  • Inilah salah satu cara memahami gut-brain axis sebagai hubungan dua arah.
  • Namun, hubungan tersebut tidak boleh dibalik menjadi kesimpulan bahwa setiap anak yang rewel, sulit tidur, sulit konsentrasi, atau mengalami perubahan perilaku pasti mempunyai alergi makanan.
  • Diagnosis tetap harus berdasarkan gejala, pemeriksaan klinis, dan pemeriksaan penunjang yang sesuai.
  • Bila alergi makanan masih diragukan, evaluasi dapat mencakup pemeriksaan sensitisasi yang sesuai dan pada keadaan tertentu oral food challenge di bawah pengawasan medis.
  • Gut-brain axis membantu kita melihat anak secara lebih menyeluruh.
  • USUS ↔ MIKROBIOTA ↔ SISTEM IMUN ↔ SARAF VAGUS ↔ OTAK
  • Tetapi setiap anak tetap membutuhkan diagnosis individual, bukan satu penjelasan untuk semua gejala.

MENGAPA ELIMINASI MAKANAN HARUS HATI-HATI?

  • Jika suatu makanan memang terbukti menyebabkan reaksi alergi, penghindaran makanan tersebut merupakan bagian penting dari tata laksana.
  • Masalah muncul ketika banyak makanan dihilangkan tanpa diagnosis yang kuat.
  • Eliminasi beberapa jenis makanan sekaligus dapat menyebabkan:
  • • variasi makanan semakin sempit
    • asupan energi berkurang
    • kekurangan protein
    • kekurangan vitamin dan mineral
    • gangguan pertumbuhan
    • kecemasan makan
    • selective eating yang semakin berat
  • Pedoman alergi makanan menekankan pentingnya memastikan diagnosis, terutama ketika eliminasi jangka panjang melibatkan banyak makanan karena terdapat risiko kekurangan nutrisi. (AAAAI)

ORAL FOOD CHALLENGE

  • Oral food challenge atau OFC adalah prosedur diagnostik dengan memberikan makanan yang dicurigai secara bertahap dalam kondisi terkontrol dan melakukan observasi terhadap munculnya gejala.
  • OFC mempunyai posisi penting ketika diagnosis alergi makanan belum dapat dipastikan berdasarkan riwayat dan pemeriksaan sebelumnya.
  • Pedoman EAACI mengenai diagnosis alergi IgE-mediated menyatakan bahwa apabila masih terdapat keraguan setelah evaluasi klinis dan pemeriksaan sensitisasi, OFC dapat dilakukan dalam setting medis yang sesuai. (EAACI)
  • Pembaruan AAAAI-EAACI PRACTALL tahun 2024 memberikan standar lebih rinci mengenai pelaksanaan food challenge, termasuk pemilihan dosis, interval pemberian, kriteria melanjutkan atau menghentikan challenge, observasi, dan aspek keselamatan. (EAACI)

TUJUAN ORAL FOOD CHALLENGE

  • OFC dapat mempunyai beberapa tujuan klinis.
  • Pertama, membantu memastikan apakah anak benar-benar mengalami reaksi terhadap makanan yang dicurigai.
  • Kedua, membantu menentukan apakah alergi yang sebelumnya telah didiagnosis masih aktif.
  • Ketiga, membantu mengevaluasi kemungkinan toleransi yang telah berkembang.
  • Keempat, membantu menghindari eliminasi makanan yang sebenarnya sudah dapat ditoleransi.
  • Kelima, memberikan informasi untuk menentukan rencana diet selanjutnya.
  • Dengan demikian, OFC bukan sekadar “tes alergi”.
  • OFC merupakan evaluasi terhadap respons klinis anak ketika mengonsumsi makanan dalam kondisi terkontrol.

BAGAIMANA OFC DILAKUKAN?

  • Secara umum, makanan diberikan dalam dosis bertahap.
  • Anak kemudian diamati setelah setiap pemberian.
  • Pada pedoman AAAAI-EAACI PRACTALL 2024, protokol untuk alergi IgE-mediated umumnya menggunakan peningkatan dosis secara bertahap berdasarkan kandungan protein dengan interval sekitar 20 sampai 30 menit, disertai kriteria yang jelas untuk melanjutkan, menghentikan, atau melakukan observasi. Protokol dapat berbeda berdasarkan jenis reaksi dan kondisi klinis anak. (EAACI)
  • Karena reaksi alergi berat dapat terjadi, OFC harus dilakukan dengan pengawasan medis dan kesiapan untuk menangani reaksi alergi.

OFC BUKAN PROSEDUR UNTUK DILAKUKAN SENDIRI DI RUMAH

  • Ini merupakan poin penting.
  • OFC mempunyai risiko reaksi alergi, termasuk reaksi berat.
  • Karena itu, orang tua tidak dianjurkan melakukan “uji coba makanan” dengan dosis bertahap sendiri di rumah pada anak yang mempunyai dugaan alergi dengan risiko reaksi berat.
  • Keputusan mengenai OFC harus mempertimbangkan riwayat reaksi, hasil pemeriksaan, kondisi klinis, dan risiko individual anak.

HASIL OFC DAN MAKNA KLINISNYA

Hasil OFC Makna klinis
Tidak terjadi reaksi Mendukung toleransi terhadap makanan dalam kondisi challenge
Terjadi reaksi objektif Mendukung adanya reaktivitas klinis terhadap makanan
Hasil meragukan Membutuhkan interpretasi klinis dan kemungkinan evaluasi lanjutan
Challenge dihentikan karena gejala Dinilai berdasarkan jenis dan tingkat keparahan gejala

OFC tidak berdiri sendiri.

Hasilnya harus diinterpretasikan bersama riwayat klinis dan pemeriksaan sebelumnya.

GUT-BRAIN AXIS DAN ALERGI MAKANAN: DI MANA HUBUNGANNYA?

  • Hubungannya dapat dipahami melalui beberapa jalur.
  • Makanan memengaruhi mikrobiota.
  • Mikrobiota menghasilkan metabolit.
  • Mikrobiota berinteraksi dengan sistem imun.
  • Sistem imun memengaruhi lingkungan intestinal.
  • Saluran gastrointestinal mengirimkan sinyal ke sistem saraf.
  • Pada saat yang sama, alergi makanan dapat menyebabkan gejala gastrointestinal yang mengubah pola makan dan kualitas hidup anak.
  • Jika anak kemudian menghindari banyak makanan, keragaman diet dapat menurun.
  • Dengan demikian, hubungan antara alergi makanan, nutrisi, mikrobiota, saluran cerna, dan gut-brain axis bersifat kompleks dan dua arah.

PENTINGNYA MEMBEDAKAN ALERGI DENGAN DUGAAN ALERGI

  • Dalam praktik klinis, istilah “alergi makanan” sebaiknya digunakan secara hati-hati.
  • Riwayat gejala yang tidak spesifik tidak selalu berarti alergi.
  • Hasil pemeriksaan sensitisasi juga tidak selalu berarti alergi klinis.
  • Karena itu, pendekatan diagnosis perlu mengikuti alur:
  • RIWAYAT KLINIS → PEMERIKSAAN YANG SESUAI → INTERPRETASI KLINIS → OFC BILA DIPERLUKAN → DIAGNOSIS → RENCANA DIET
  • Pendekatan tersebut membantu mencegah dua masalah.
  • Pertama, anak dengan alergi yang sebenarnya tidak terdiagnosis.
  • Kedua, anak yang mendapatkan eliminasi makanan tanpa indikasi yang cukup.

IMPLIKASI TERHADAP NUTRISI ANAK

  • Diagnosis alergi makanan harus diikuti dengan perhatian terhadap nutrisi.
  • Jika suatu makanan memang harus dihindari, perlu dipikirkan sumber alternatif untuk menggantikan zat gizi yang hilang.
  • Jika OFC menunjukkan bahwa makanan dapat ditoleransi, pengenalan kembali makanan tersebut dapat membantu memperluas variasi diet bila sesuai dengan rencana klinis.
  • Hal ini sangat penting pada anak dengan selective eating, karena setiap makanan yang dihilangkan dapat semakin mempersempit pilihan makanan.

GUT-BRAIN AXIS BUKAN DIAGNOSIS

  • Istilah gut-brain axis sering digunakan secara luas.
  • Namun, gut-brain axis bukan diagnosis penyakit.
  • Gut-brain axis adalah konsep biologis untuk menjelaskan komunikasi antara saluran gastrointestinal dan sistem saraf.
  • Karena itu, istilah ini tidak seharusnya digunakan sebagai pengganti diagnosis seperti alergi makanan, penyakit celiac, inflammatory bowel disease, konstipasi, refluks, atau gangguan gastrointestinal lainnya.
  • Demikian pula, perubahan mikrobiota tidak dapat digunakan sebagai bukti tunggal bahwa seorang anak mengalami gangguan neurodevelopmental.

KESIMPULAN

  • Gut-brain axis menggambarkan hubungan kompleks dan dua arah antara saluran gastrointestinal dan otak melalui sistem saraf, nervus vagus, sistem imun, hormon, mikrobiota, dan metabolit.
  • Pada anak, hubungan ini berlangsung bersamaan dengan perkembangan otak, sistem imun, intestinal barrier, dan mikrobiota.
  • Alergi makanan dapat melibatkan interaksi antara paparan antigen makanan, barrier intestinal, sistem imun, mikrobiota, dan oral tolerance. Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara mikrobiota dan alergi makanan pada anak, tetapi mekanisme kausal dan penerapan klinisnya masih terus diteliti. (PubMed)
  • Dalam diagnosis alergi makanan, pemeriksaan sensitisasi seperti skin prick test atau specific IgE tidak selalu sama dengan alergi klinis. Bila diagnosis masih meragukan, oral food challenge dapat menjadi bagian penting dari evaluasi.
  • OFC harus dilakukan secara terkontrol dan dengan pengawasan medis. Pedoman AAAAI-EAACI PRACTALL 2024 memberikan standar keselamatan dan prosedur yang lebih rinci untuk pelaksanaan food challenge. (EAACI)
  • Tujuan akhirnya bukan sekadar menentukan makanan yang harus dihindari.
  • Tujuan yang lebih luas adalah memperoleh diagnosis yang tepat, mencegah eliminasi makanan yang tidak diperlukan, menjaga kecukupan nutrisi, mendukung pertumbuhan, dan meningkatkan kualitas hidup anak.

DAFTAR PUSTAKA

  • Muraro A, Werfel T, Hoffmann-Sommergruber K, et al. EAACI Food Allergy and Anaphylaxis Guidelines: diagnosis and management of food allergy. Allergy. 2014;69:1008-1025.
  • Santos AF, et al. EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023/2024. European Academy of Allergy and Clinical Immunology. (EAACI)
  • Bird JA, Leonard S, Groetch M, et al. Conducting an Oral Food Challenge: An Update to the 2009 Adverse Reactions to Foods Committee Work Group Report. J Allergy Clin Immunol Pract. 2020;8:75-90.e17.
  • Ando H, et al. AAAAI-EAACI PRACTALL: Standardizing oral food challenges—2024 Update. Pediatric Allergy and Immunology. 2024;35:e14276. (EAACI)
  • Boyce JA, Assa’ad A, Burks AW, et al. Guidelines for the Diagnosis and Management of Food Allergy in the United States. J Allergy Clin Immunol. 2010;126:S1-S58. (AAAAI)
  • Demircioglu F, et al. The gut microbiome in food allergy. Current Opinion in Allergy and Clinical Immunology. 2019. PMID: 30578857. (PubMed)
  • Smeekens JM, et al. Food allergy and the microbiome: Current understandings and future directions. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2020. PMID: 31812181. (PubMed)
  • Savova MV, Zhu P, Harms AC, van der Molen RG, Belzer C, Hendrickx DM. Current insights into cow’s milk allergy in children: Microbiome, metabolome, and immune response: A systematic review. Pediatric Allergy and Immunology. 2024;35. doi:10.1111/pai.14084. (PubMed)
  • Farnetano M, Carucci L, Coppola S, et al. Gut microbiome features in pediatric food allergy: a scoping review. Frontiers in Allergy. 2024;5:1438252. doi:10.3389/falgy.2024.1438252. (PubMed)
  • Sheridan E, et al. Gut microbiome in the first 1000 days and risk for childhood food allergy. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2024. PMID: 38494114. (PubMed)
  • Marano G, Sfratta G, Marzo EM, et al. The Pediatric Microbiota-Gut-Brain Axis: Implications for Neuropsychiatric Development and Intervention. Children. 2025;12(11):1561. PMID: 41300676. (PubMed)
  • Jiang Y, Li X. The role of nutrition and gut microbiome in childhood brain development and behavior. Frontiers in Nutrition. 2025. doi:10.3389/fnut.2025.1590172. PMID: 40551742. (PubMed)
  • EAACI. EAACI Guidelines on the Management of IgE-Mediated Food Allergy. Allergy. 2024. (EAACI)
  • Nowak-Węgrzyn A, et al. Role of the Early-Life Microbiome in the Development of Food Allergy. Journal of Allergy and Clinical Immunology: In Practice. 2026. PMID: 41419086. (PubMed)
  • Saya sengaja menempatkan OFC sebagai alat konfirmasi diagnosis, bukan sebagai “terapi gut-brain axis”. Ini penting agar artikel tidak mencampurkan konsep mikrobiota yang masih berkembang dengan diagnosis alergi makanan yang sudah mempunyai guideline klinis yang jelas.
Visited 3 times, 3 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *