LONG FLU AFTER INFLUENZA A, RECURRENT RESPIRATORY TRACT INFECTIONS, AND FOOD ALLERGY: A NARRATIVE REVIEW OF POST-INFLUENZA SYMPTOMS AND THE POTENTIAL ROLE OF ORAL FOOD CHALLENGE
LONG FLU PASCA INFLUENZA A, INFEKSI SALURAN NAPAS BERULANG, DAN ALERGI MAKANAN: TINJAUAN NARATIF GEJALA PASCAINFLUENZA DAN POTENSI PERAN ORAL FOOD CHALLENGE
Sandiaz Yudhasmara¹, Widodo Judarwanto¹, Audi Yudhasmara²
¹ Department of Pediatrics, Bunda Jakarta Women and Children’s Hospital, Jakarta, Indonesia
² Division of Child Health, Dr. Cipto Mangunkusumo National General Hospital, Faculty of Medicine, Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia
Corresponding Author:
Sandiaz Yudhasmara, MD
Department of Pediatrics
Bunda Jakarta Women and Children’s Hospital
Jl. Teuku Cik Ditiro No. 28, Menteng, Central Jakarta 10310, Indonesia
Email: sandiazyudhasmara@gmail.com
Abstrak
Influenza A merupakan infeksi saluran napas akut yang pada sebagian pasien dapat diikuti oleh keluhan yang menetap atau muncul kembali setelah fase akut berakhir. Fenomena ini dalam literatur klinis sering disebut sebagai post-influenza symptoms atau secara informal sebagai “long flu”, meskipun istilah tersebut belum memiliki definisi diagnostik universal seperti post-COVID-19 condition. Studi kohort besar pada pasien yang dirawat di rumah sakit menunjukkan bahwa influenza dapat diikuti oleh peningkatan risiko berbagai gangguan kesehatan setelah fase akut, terutama gangguan respirasi, meskipun beban multisistem secara keseluruhan lebih tinggi setelah COVID-19 [1]. Kondisi ini menjadi lebih kompleks pada anak dengan penyakit saluran napas alergik, termasuk rinitis alergi dan asma, serta pada anak dengan alergi makanan dan gangguan gastrointestinal fungsional (functional gastrointestinal disorders, FGID).
Alergi makanan dapat disertai manifestasi gastrointestinal seperti nyeri perut, muntah, diare, konstipasi, dan kesulitan makan. Hubungan antara alergi makanan dan infeksi saluran napas berulang juga telah dilaporkan, tetapi bukti yang tersedia belum cukup untuk menyatakan bahwa alergi makanan secara langsung menyebabkan infeksi berulang atau menyebabkan gangguan imunitas [2]. Diagnosis alergi makanan harus dilakukan secara sistematis berdasarkan riwayat klinis, pemeriksaan yang sesuai, dan bila diperlukan oral food challenge (OFC) sebagai pemeriksaan rujukan untuk memastikan hubungan kausal antara makanan dan gejala [3,4]. Penghindaran makanan setelah diagnosis harus dilakukan secara terarah dan tidak berlebihan untuk mencegah defisiensi nutrisi dan gangguan pertumbuhan [5].
Tinjauan ini membahas hubungan konseptual antara gejala pascainfluenza, infeksi saluran napas berulang, alergi makanan, FGID, dan kemungkinan keterlibatan sumbu usus–paru (gut–lung axis). Bukti saat ini mendukung pendekatan diagnostik yang hati-hati dan individual, tetapi belum membuktikan bahwa eliminasi makanan atau OFC dapat meningkatkan imunitas, mencegah influenza, atau secara langsung mencegah long flu.
Kata kunci: influenza A, long flu, recurrent respiratory infection, food allergy, functional gastrointestinal disorder, oral food challenge, gut–lung axis.
Abstract
Influenza A is an acute respiratory infection that may be followed by persistent or recurrent symptoms in some patients. This phenomenon is sometimes informally referred to as “long flu”, although the term does not currently have a universally accepted diagnostic definition comparable to post-COVID-19 condition. A large cohort study of hospitalized patients demonstrated that influenza may be followed by increased risks of several long-term health outcomes, particularly respiratory complications, although the overall multisystem burden was greater following COVID-19 [1]. The clinical course may be more complex in children with allergic respiratory diseases, including allergic rhinitis and asthma, and in children with food allergy and functional gastrointestinal disorders (FGIDs).
Food allergy may manifest with gastrointestinal symptoms including abdominal pain, vomiting, diarrhea, constipation, and feeding difficulties. An association between food allergy and recurrent respiratory tract infections has also been reported, although current evidence does not establish that food allergy directly causes recurrent infections or immune deficiency [2]. Food allergy should be diagnosed systematically using clinical history, appropriate testing, and, when indicated, an oral food challenge (OFC) as a reference procedure for establishing clinical reactivity to a suspected food [3,4]. Once allergy is confirmed, dietary elimination should be targeted and nutritionally adequate to avoid unnecessary restriction and nutritional consequences [5].
This narrative review discusses the conceptual relationship between post-influenza symptoms, recurrent respiratory tract infections, food allergy, FGIDs, and the potential involvement of the gut–lung axis. Current evidence supports careful and individualized diagnostic evaluation; however, there is insufficient evidence to conclude that food elimination or OFC improves immunity, prevents influenza, or directly prevents long flu.
Keywords: influenza A, long flu, recurrent respiratory infection, food allergy, functional gastrointestinal disorder, oral food challenge, gut–lung axis.
Pendahuluan
Influenza A merupakan salah satu penyebab utama infeksi saluran napas akut dan dapat menimbulkan manifestasi klinis mulai dari penyakit ringan hingga komplikasi berat. Sebagian besar pasien mengalami pemulihan dalam beberapa hari hingga beberapa minggu, tetapi pada sebagian pasien keluhan respirasi, kelelahan, batuk, atau gangguan fungsi lainnya dapat menetap setelah fase akut. Fenomena pascainfluenza tersebut semakin mendapat perhatian karena penelitian jangka panjang menunjukkan bahwa dampak influenza tidak selalu berhenti ketika pasien keluar dari fase akut penyakit [1].
Istilah “long flu” dapat digunakan secara deskriptif untuk menggambarkan keluhan yang menetap atau muncul setelah influenza, tetapi istilah tersebut belum merupakan diagnosis klinis yang memiliki kriteria universal. Hal ini berbeda dengan post-COVID-19 condition yang telah memiliki definisi operasional dari WHO. Oleh karena itu, penggunaan istilah long flu dalam tulisan ilmiah sebaiknya dipahami sebagai istilah deskriptif, bukan sebagai diagnosis yang telah memiliki kriteria baku.
Manifestasi pascainfluenza juga perlu dibedakan dari infeksi baru yang terjadi setelah pasien mengalami influenza. Batuk yang menetap, misalnya, dapat berasal dari inflamasi pascavirus atau hiperresponsivitas jalan napas, tetapi dapat pula menunjukkan asma, pneumonia, pertusis, sinusitis, atau infeksi lain. Pada anak dengan rinitis alergi atau asma, infeksi virus dapat memperburuk inflamasi saluran napas dan menyebabkan gejala yang lebih lama.
Di sisi lain, anak dengan alergi makanan dapat mengalami manifestasi gastrointestinal yang menyerupai FGID. Nyeri perut, muntah, diare, konstipasi, kembung, refluks, dan kesulitan makan dapat muncul dalam berbagai kondisi sehingga hubungan antara makanan dan gejala harus dibuktikan secara hati-hati [3,5,6]. Pendekatan yang terlalu cepat memberikan diagnosis alergi dapat menyebabkan eliminasi makanan yang tidak diperlukan, sedangkan kegagalan mengenali alergi makanan yang benar dapat menyebabkan gejala menetap.
Long Flu sebagai Fenomena Pascainfeksi
Penelitian Xie, Choi, dan Al-Aly membandingkan luaran jangka panjang pasien yang dirawat karena COVID-19 dengan pasien yang dirawat karena influenza musiman. Studi tersebut menunjukkan bahwa influenza juga dapat diikuti oleh peningkatan risiko berbagai gangguan kesehatan setelah fase akut, dengan dampak yang terutama terlihat pada sistem respirasi [1]. Namun, penelitian tersebut dilakukan pada pasien yang mengalami penyakit cukup berat hingga membutuhkan perawatan rumah sakit. Oleh karena itu, hasilnya tidak dapat langsung digeneralisasikan kepada semua anak atau semua pasien influenza ringan.
Perlu ditekankan bahwa periode tindak lanjut penelitian tersebut mencapai 18 bulan, tetapi hal ini tidak berarti bahwa semua pasien mengalami gejala influenza selama 18 bulan. Tindak lanjut panjang digunakan untuk mengidentifikasi risiko luaran kesehatan setelah fase akut. Dengan demikian, istilah “long flu selama 18 bulan” merupakan interpretasi yang tidak tepat.
Pada anak, gejala pascainfluenza perlu dinilai berdasarkan perjalanan klinis. Batuk yang belum sepenuhnya hilang setelah infeksi virus dapat merupakan bagian dari pemulihan, tetapi apabila menetap, memburuk, disertai mengi, sesak, demam kembali, penurunan kondisi umum, atau gangguan aktivitas, diperlukan evaluasi terhadap kemungkinan penyebab lain.
Influenza dan Penyakit Saluran Napas Alergik
Influenza dapat memperburuk penyakit saluran napas yang telah ada sebelumnya. Pada anak dengan asma, infeksi virus merupakan salah satu pencetus eksaserbasi yang penting. Inflamasi akibat infeksi dapat meningkatkan hiperresponsivitas bronkus sehingga batuk dan mengi dapat bertahan lebih lama dibandingkan pada anak tanpa penyakit saluran napas kronis.
Rinitis alergi juga dapat memperpanjang atau memperberat keluhan hidung setelah infeksi virus. Hidung tersumbat, rinore, bersin, dan postnasal drip dapat menyebabkan batuk berkepanjangan sehingga gejala pascainfluenza terkadang sulit dibedakan dari infeksi yang masih berlangsung.
Karena itu, pada anak dengan batuk berkepanjangan setelah influenza, evaluasi tidak seharusnya hanya berfokus pada kemungkinan “infeksi belum sembuh”. Asma, rinitis alergi, hiperresponsivitas pascavirus, pertusis, sinusitis, dan komplikasi paru perlu dipertimbangkan sesuai gambaran klinis.
Alergi Makanan dan Infeksi Saluran Napas Berulang
Hubungan antara alergi makanan dan infeksi saluran napas berulang telah dilaporkan dalam penelitian observasional. Woicka-Kolejwa dan kolega melaporkan adanya infeksi saluran napas berulang pada sebagian anak dengan alergi makanan [2]. Temuan tersebut menunjukkan adanya asosiasi klinis yang menarik, tetapi desain observasional tidak dapat membuktikan bahwa alergi makanan merupakan penyebab langsung infeksi berulang.
Anak dengan alergi makanan dapat memiliki berbagai kondisi yang berjalan bersamaan, seperti dermatitis atopik, rinitis alergi, asma, gangguan tidur, keterbatasan diet, dan masalah nutrisi. Faktor-faktor tersebut dapat menjadi confounders yang memengaruhi kerentanan terhadap penyakit atau frekuensi kunjungan layanan kesehatan.
Dengan demikian, istilah “alergi makanan menyebabkan imunitas lemah” sebaiknya dihindari. Alergi makanan merupakan gangguan imunologis terhadap protein makanan tertentu, bukan sinonim dari imunodefisiensi. Bila seorang anak mengalami infeksi berulang, evaluasi harus mempertimbangkan paparan di lingkungan, usia dan pola infeksi, status imunisasi, penyakit saluran napas alergik, status nutrisi, paparan asap rokok, serta kemungkinan imunodefisiensi bila terdapat tanda klinis yang sesuai.
Alergi Makanan dan Sistem Imun
Alergi makanan merupakan respons imun yang tidak sesuai terhadap komponen makanan tertentu. Pada alergi yang dimediasi IgE, aktivasi sel mast dan mediator inflamasi dapat menyebabkan urtikaria, angioedema, muntah, gejala respirasi, hingga anafilaksis. Pada bentuk non-IgE atau campuran, manifestasi dapat lebih dominan pada sistem gastrointestinal atau kulit [3].
Alergi makanan tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan satu gejala. Muntah, diare, konstipasi, nyeri perut, batuk, pilek, atau kesulitan makan memiliki banyak kemungkinan penyebab. Bahkan hasil pemeriksaan sensitisasi IgE juga harus diinterpretasikan bersama riwayat klinis karena sensitisasi tidak selalu sama dengan alergi makanan klinis [3,7].
Karena itu, tujuan diagnosis bukan sekadar menemukan hasil tes yang positif, tetapi menentukan apakah konsumsi makanan tertentu benar-benar menimbulkan reaksi klinis yang konsisten. Pendekatan ini penting untuk mencegah pembatasan diet yang tidak diperlukan.
Gangguan Gastrointestinal dan Alergi Makanan
Manifestasi gastrointestinal merupakan salah satu tantangan terbesar dalam diagnosis alergi makanan. Nyeri perut, muntah, diare, konstipasi, refluks, kembung, dan gangguan pola makan dapat muncul pada alergi makanan maupun berbagai gangguan gastrointestinal fungsional [5,6].
FGID merupakan kelompok gangguan yang memiliki hubungan kompleks antara motilitas, sensasi viseral, sistem saraf enterik, mikrobiota, faktor psikososial, dan interaksi otak–usus. Oleh sebab itu, tidak semua anak dengan gejala gastrointestinal memiliki alergi makanan.
Alergi makanan dapat menjadi salah satu diagnosis banding pada kondisi tertentu, terutama ketika terdapat hubungan temporal yang konsisten antara makanan tertentu dengan gejala dan terdapat manifestasi alergi lain. Namun, diagnosis harus dilakukan secara terarah agar FGID tidak secara berlebihan diberi label sebagai alergi makanan.
Konstipasi dan Alergi Makanan
Konstipasi pada anak memiliki etiologi yang luas dan sebagian besar merupakan konstipasi fungsional. Namun, alergi makanan juga telah dibahas sebagai kemungkinan faktor pada kelompok anak tertentu. EAACI menerbitkan position paper khusus mengenai diagnosis dan tata laksana konstipasi yang berhubungan dengan alergi makanan pada anak kecil [6].
Kecurigaan terhadap hubungan makanan dan konstipasi perlu didasarkan pada pola klinis yang jelas. Penghindaran makanan tanpa diagnosis dapat mengurangi variasi diet dan meningkatkan risiko kekurangan nutrisi. Karena itu, bila alergi makanan dicurigai, pendekatan diagnostik terstruktur lebih tepat daripada eliminasi empiris jangka panjang.
Alergi Makanan dan Kesulitan Makan
Kesulitan makan sering ditemukan pada anak dengan alergi makanan. Pembatasan diet, pengalaman reaksi terhadap makanan, kecemasan saat makan, tekstur makanan yang terbatas, serta gejala gastrointestinal dapat memengaruhi perilaku makan. EAACI Task Force Report menekankan bahwa anak dengan alergi makanan memiliki risiko mengalami masalah makan yang memerlukan perhatian multidisiplin [5].
Hubungan tersebut bersifat dua arah. Gejala gastrointestinal dapat membuat anak menolak makanan, sedangkan pembatasan diet yang berlebihan dapat mempersempit pilihan makanan dan memperburuk masalah makan. Oleh karena itu, tata laksana harus mencakup pengendalian gejala, kecukupan nutrisi, variasi makanan yang aman, dan dukungan perilaku makan sesuai kebutuhan.
Diagnosis Alergi Makanan
Diagnosis alergi makanan harus dimulai dengan anamnesis yang rinci mengenai jenis makanan, jumlah yang dikonsumsi, waktu munculnya gejala, bentuk gejala, konsistensi reaksi, serta riwayat toleransi terhadap makanan tersebut. Pemeriksaan IgE spesifik atau skin prick test dapat membantu pada kondisi tertentu, tetapi hasil positif menunjukkan sensitisasi dan tidak selalu membuktikan alergi klinis [3,7].
Diagnosis yang tidak tepat dapat menghasilkan dua masalah berlawanan. Anak dapat menjalani diet eliminasi yang tidak diperlukan, atau sebaliknya alergi yang benar dapat terlewatkan. Karena itu, ketika diagnosis masih meragukan, OFC dapat digunakan untuk menentukan apakah konsumsi makanan tertentu benar-benar menyebabkan reaksi klinis.
Oral Food Challenge
OFC merupakan prosedur terkontrol untuk menilai respons klinis terhadap makanan yang dicurigai. Dalam praktik klinis, OFC dapat digunakan ketika diagnosis alergi makanan tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan riwayat dan pemeriksaan penunjang. Pedoman EAACI dan pembaruan PRACTALL memberikan prinsip standardisasi mengenai pelaksanaan OFC [3,4].
OFC harus dilakukan dengan mempertimbangkan risiko individual pasien dan dalam lingkungan medis yang mampu melakukan observasi serta menangani reaksi alergi akut. Prosedur ini bukan pemeriksaan yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah pada anak dengan dugaan alergi yang berpotensi menimbulkan reaksi berat.
Dalam konteks penelitian, double-blind placebo-controlled food challenge tetap merupakan metode yang sangat ketat untuk mengurangi bias subjektif. Dalam praktik klinis, open food challenge dapat digunakan pada situasi yang sesuai dengan pertimbangan dokter dan profil risiko pasien [4,8].
Penanganan Alergi Makanan Setelah Diagnosis
Setelah alergi makanan terkonfirmasi, makanan pencetus harus dihindari secara terarah. Tujuan eliminasi bukan menghilangkan sebanyak mungkin makanan, tetapi menghindari makanan yang terbukti menimbulkan reaksi sambil mempertahankan pola makan yang cukup, beragam, dan sesuai kebutuhan pertumbuhan anak [5].
Diet eliminasi yang terlalu luas dapat menyebabkan kekurangan energi, protein, vitamin, mineral, serta membatasi perkembangan pola makan. Oleh karena itu, anak dengan alergi makanan sebaiknya memperoleh pemantauan pertumbuhan dan, bila diperlukan, dukungan ahli gizi.
OFC juga dapat berperan dalam menilai apakah seorang anak telah memperoleh toleransi terhadap makanan tertentu sehingga pembatasan diet tidak diteruskan tanpa alasan. Pengelolaan alergi makanan modern semakin menekankan diagnosis yang akurat, penghindaran yang tepat sasaran, dan evaluasi ulang toleransi sesuai kondisi pasien [8,9].
Apakah Eliminasi Makanan Memperbaiki Infeksi Berulang?
Secara biologis, terdapat kemungkinan hubungan tidak langsung antara alergi makanan, gejala gastrointestinal, status nutrisi, kualitas tidur, penyakit atopik, dan kesehatan saluran napas. Namun, bukti saat ini belum cukup untuk menyatakan bahwa eliminasi makanan secara langsung meningkatkan sistem imun atau mencegah infeksi saluran napas berulang.
Apabila eliminasi makanan dilakukan pada anak yang memang memiliki alergi makanan, perbaikan gejala gastrointestinal dan peningkatan toleransi terhadap makanan yang aman dapat membantu memperbaiki asupan nutrisi. Perbaikan nutrisi secara umum penting bagi pertumbuhan dan kesehatan anak, tetapi hal tersebut tidak boleh diterjemahkan sebagai bukti bahwa eliminasi makanan merupakan terapi imunologis untuk influenza.
Demikian pula, belum terdapat bukti kuat bahwa OFC-guided elimination dapat mencegah long flu. Hubungan tersebut masih merupakan hipotesis yang memerlukan penelitian prospektif dengan desain yang lebih kuat, kelompok kontrol, ukuran sampel lebih besar, dan definisi luaran yang terstandar.
Gut–Lung Axis
Hubungan antara saluran gastrointestinal dan sistem respirasi semakin banyak diteliti melalui konsep gut–lung axis. Interaksi tersebut melibatkan mikrobiota, metabolit, permeabilitas mukosa, mediator imun, serta komunikasi antara sistem imun lokal dan sistemik.
Secara konseptual, perubahan lingkungan gastrointestinal dapat memengaruhi respons imun sistemik, sedangkan infeksi dan inflamasi respirasi juga dapat memengaruhi respons di luar paru. Namun, hubungan biologis tersebut tidak berarti bahwa setiap gangguan gastrointestinal akan menyebabkan infeksi respirasi atau bahwa eliminasi makanan tertentu dapat mencegah penyakit paru.
Konsep gut–lung axis lebih tepat digunakan sebagai kerangka penelitian untuk memahami hubungan kompleks antara alergi, mikrobiota, inflamasi, infeksi, dan penyakit saluran napas daripada sebagai dasar untuk membuat klaim terapi yang belum terbukti.
Model Konseptual
Secara konseptual, anak dengan influenza dapat mengalami fase akut yang diikuti oleh gejala respirasi persisten. Pada anak dengan asma atau rinitis alergi, inflamasi dasar saluran napas dapat menyebabkan gejala lebih lama atau lebih mudah kambuh.
- Pada saat yang sama, anak dengan alergi makanan dapat mengalami gejala gastrointestinal, kesulitan makan, pembatasan diet, dan masalah nutrisi. Kondisi tersebut dapat berjalan bersamaan dengan penyakit atopik dan infeksi berulang. Namun, setiap hubungan harus diuji secara individual karena adanya berbagai faktor perancu.
- Model tersebut dapat diringkas sebagai hubungan multidimensional antara infeksi virus, inflamasi saluran napas, penyakit alergik, gejala gastrointestinal, nutrisi, dan faktor lingkungan. Dalam model ini, OFC berfungsi terutama sebagai alat diagnostik untuk mengonfirmasi atau menyingkirkan alergi makanan, bukan sebagai terapi langsung terhadap influenza.
Pendekatan Klinis pada Anak dengan Gejala Pascainfluenza
- Pada anak yang mengalami batuk atau gejala respirasi menetap setelah influenza A, langkah pertama adalah menentukan apakah gejala tersebut merupakan bagian dari proses pemulihan atau terdapat diagnosis lain. Riwayat asma, rinitis alergi, paparan asap rokok, pola demam, mengi, sesak, status hidrasi, dan perjalanan gejala perlu dinilai.
- Bila terdapat gejala gastrointestinal yang bermakna, evaluasi harus mempertimbangkan FGID, konstipasi, refluks, intoleransi makanan, infeksi gastrointestinal, dan alergi makanan. Alergi makanan sebaiknya tidak didiagnosis hanya karena terdapat kombinasi gejala gastrointestinal dan respirasi.
- Pada anak dengan kecurigaan alergi makanan yang kuat tetapi diagnosis belum pasti, pemeriksaan alergi yang sesuai dan OFC dapat dipertimbangkan berdasarkan risiko klinis. Setelah alergi dikonfirmasi, eliminasi dilakukan secara spesifik dan disertai pemantauan pertumbuhan serta kecukupan nutrisi [3–5].
Perbedaan Long Flu dan Infeksi Berulang
- Long flu dan infeksi saluran napas berulang merupakan dua konsep yang berbeda. Long flu menggambarkan keluhan atau gangguan kesehatan yang menetap setelah episode influenza, sedangkan infeksi berulang berarti munculnya episode infeksi baru secara berulang.
- Anak yang mengalami batuk terus-menerus setelah influenza tidak selalu mengalami infeksi influenza yang berulang. Sebaliknya, anak yang sering mengalami infeksi baru tidak otomatis mengalami long flu. Pembedaan ini penting agar antibiotik tidak diberikan hanya karena batuk berlangsung lebih lama atau karena anak mengalami beberapa episode infeksi dalam satu periode.
- Pemeriksaan klinis harus menentukan apakah terdapat infeksi baru, komplikasi, penyakit alergik, hiperresponsivitas pascavirus, atau kondisi lain. Pendekatan ini lebih rasional daripada menggunakan satu istilah untuk seluruh gejala yang menetap setelah influenza.
Arah Penelitian Masa Depan
- Penelitian selanjutnya diperlukan untuk menentukan apakah terdapat sindrom pascainfluenza yang dapat didefinisikan secara konsisten pada anak. Studi prospektif sebaiknya menggunakan kelompok kontrol, diagnosis influenza yang terkonfirmasi, pengukuran gejala secara serial, serta definisi luaran yang jelas.
- Hubungan antara alergi makanan dan infeksi respirasi berulang juga memerlukan penelitian prospektif. Studi perlu membedakan alergi makanan yang terkonfirmasi dengan sensitisasi, intoleransi makanan, dan gejala gastrointestinal fungsional.
- Penelitian mengenai OFC dan eliminasi makanan juga perlu menentukan luaran yang relevan, seperti perubahan gejala gastrointestinal, status nutrisi, pertumbuhan, kualitas hidup, frekuensi infeksi, penggunaan antibiotik, serta kejadian respirasi. Dengan desain yang tepat, hubungan antara diagnosis alergi makanan, pengelolaan diet, dan penyakit respirasi dapat dinilai secara lebih objektif.
Kesimpulan
- Long flu merupakan istilah deskriptif untuk gejala atau gangguan kesehatan yang menetap setelah influenza dan belum memiliki definisi diagnostik universal. Bukti kohort menunjukkan bahwa influenza dapat diikuti oleh peningkatan risiko berbagai luaran kesehatan jangka panjang, terutama respirasi, tetapi temuan tersebut terutama berasal dari populasi pasien yang dirawat di rumah sakit [1].
- Alergi makanan, FGID, asma, dan rinitis alergi dapat menjadi kondisi yang berjalan bersamaan pada anak dengan infeksi atau gejala pascainfluenza. Alergi makanan telah dilaporkan berasosiasi dengan infeksi saluran napas berulang, tetapi hubungan tersebut belum membuktikan kausalitas [2].
- OFC memiliki peran penting ketika diagnosis alergi makanan belum dapat dipastikan melalui anamnesis dan pemeriksaan penunjang [3,4]. Setelah alergi dikonfirmasi, eliminasi makanan harus dilakukan secara terarah dan memperhatikan kecukupan nutrisi [5,6].
- Berdasarkan bukti saat ini, belum dapat disimpulkan bahwa eliminasi makanan meningkatkan imunitas, mencegah influenza, atau secara langsung mencegah long flu. Hubungan antara alergi makanan, FGID, infeksi berulang, dan gejala pascainfluenza merupakan bidang penelitian yang menarik, tetapi masih memerlukan penelitian prospektif dan terkontrol dengan definisi diagnosis serta luaran yang lebih ketat.
Daftar Pustaka
- [1] Xie Y, Choi T, Al-Aly Z. Long-term outcomes following hospital admission for COVID-19 versus seasonal influenza: a cohort study. Lancet Infect Dis. 2024;24(3):239–255. doi:10.1016/S1473-3099(23)00684-9.
- [2] Woicka-Kolejwa K, Zaczeniuk M, Majak P, Pawłowska-Iwanicka K, Kopka M, Stelmach W, Jerzyńska J, Stelmach I. Food allergy is associated with recurrent respiratory tract infections during childhood. Postepy Dermatol Alergol. 2016;33(2):109–113. doi:10.5114/ada.2016.59151.
- [3] Santos AF, Riggioni C, Agache I, et al. EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023;78:3057–3076. doi:10.1111/all.15902.
- [4] Sampson HA, Arasi S, Bahnson HT, et al. AAAAI-EAACI PRACTALL: Standardizing oral food challenges—2024 Update. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(11):e14276. doi:10.1111/pai.14276.
- [5] Hill SA, Nurmatov U, DunnGalvin A, et al. Feeding difficulties in children with food allergies: An EAACI Task Force Report. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(4):e14119. doi:10.1111/pai.14119.
- [6] Meyer R, Vandenplas Y, Chebar Lozinsky A, et al. Diagnosis and management of food allergy-induced constipation in young children—An EAACI position paper. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(6):e14163. doi:10.1111/pai.14163.
- [7] Foong RX, Dantzer JA, Wood RA, Santos AF. Improving the diagnosis of IgE-mediated food allergy. J Allergy Clin Immunol Pract. 2024.
- [8] Ishibashi S, Yanagida N, Sato S, Ebisawa M. Management of food allergy based on oral food challenge. Curr Opin Allergy Clin Immunol. 2024;24(3):153–159. doi:10.1097/ACI.0000000000000980.
- [9] Santos AF, et al. EAACI guidelines on the management of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2025.










Leave a Reply