ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

REKOMENDASI KLINIS: HINDARI PEMERIKSAAN PANEL ALERGI MAKANAN TANPA INDIKASI KLINIS

  • REKOMENDASI KLINIS: HINDARI PEMERIKSAAN PANEL ALERGI MAKANAN TANPA INDIKASI KLINIS
  • Tinjauan dan rekomendasi berdasarkan Canadian Society of Allergy and Clinical Immunology Position Statement (2024)**

Pemeriksaan panel alergi makanan (*food allergy panel testing*) merupakan pemeriksaan beberapa alergen makanan sekaligus tanpa selalu mempertimbangkan riwayat klinis dan relevansi setiap makanan terhadap gejala pasien. Praktik ini berisiko menghasilkan temuan positif palsu, mendeteksi sensitisasi yang tidak selalu menunjukkan alergi klinis, serta mendorong diagnosis berlebihan (*overdiagnosis*), pembatasan diet yang tidak diperlukan, peningkatan biaya kesehatan, dan tekanan psikososial pada pasien maupun keluarga. Canadian Society of Allergy and Clinical Immunology (CSACI), melalui pernyataan posisi yang diterbitkan pada 2024, menyoroti bahwa pemeriksaan panel belum tervalidasi secara memadai sebagai metode skrining alergi makanan pada populasi tanpa indikasi klinis yang jelas. Artikel rekomendasi ini mengusulkan pendekatan diagnostik berbasis riwayat klinis, pemeriksaan alergi yang terarah, interpretasi hasil sesuai probabilitas klinis, dan *oral food challenge* (OFC) apabila diperlukan. Tujuannya adalah meningkatkan ketepatan diagnosis, mengurangi pembatasan makanan yang tidak perlu, menjaga kecukupan nutrisi, serta meningkatkan keselamatan dan kualitas hidup pasien.

**Kata kunci:** alergi makanan, pemeriksaan panel, IgE spesifik, sensitisasi, diagnosis berlebihan, oral food challenge.

Pendahuluan

Alergi makanan merupakan masalah kesehatan yang dapat menimbulkan reaksi ringan hingga anafilaksis. Diagnosis yang tepat penting untuk menentukan makanan yang benar-benar perlu dihindari, memberikan edukasi mengenai risiko reaksi, dan menyusun rencana penanganan yang aman. Namun, diagnosis alergi makanan tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan hasil laboratorium tanpa mempertimbangkan riwayat reaksi dan kondisi klinis pasien.

Pemeriksaan panel alergi makanan adalah pemeriksaan sejumlah alergen sekaligus, misalnya susu sapi, telur, gandum, kedelai, kacang tanah, kacang pohon, ikan, dan makanan laut, meskipun pasien belum tentu pernah mengalami reaksi terhadap makanan tersebut. Semakin banyak alergen yang diperiksa pada individu dengan probabilitas alergi yang rendah, semakin besar peluang ditemukannya hasil positif yang tidak mencerminkan alergi klinis.

Dalam artikel *Canadian Society of Allergy and Clinical Immunology Position Statement: Panel Testing for Food Allergies*, Al Ghamdi dan kolega menegaskan persoalan penggunaan pemeriksaan panel sebagai alat skrining tanpa seleksi berdasarkan relevansi klinis. Pernyataan posisi tersebut diterbitkan dalam *Allergy, Asthma & Clinical Immunology* pada 29 November 2024.

Prinsip utama yang perlu diterapkan adalah bahwa hasil tes harus menjawab pertanyaan klinis yang spesifik. Tujuan pemeriksaan bukan menemukan sebanyak mungkin hasil positif, melainkan mengidentifikasi alergi yang benar-benar relevan agar pasien memperoleh penanganan yang tepat dan tidak menjalani diet eliminasi yang tidak diperlukan.

  • Tinjauan Pustaka dan Pembahasan (Review)
  • Pemeriksaan panel dan risiko diagnosis berlebihan

Menurut Al Ghamdi et al. (2024), pemeriksaan panel alergi makanan dapat menimbulkan dampak klinis yang bermakna apabila dilakukan tanpa indikasi yang jelas. Setiap jenis makanan memiliki karakteristik diagnostik dan nilai prediktif yang berbeda. Karena itu, hasil positif dari banyak alergen tidak dapat langsung diterjemahkan menjadi daftar makanan yang harus dihindari.

Permasalahan utama meliputi:

  • * Positif palsu: hasil pemeriksaan menunjukkan reaktivitas meskipun pasien tidak mengalami alergi klinis terhadap makanan tersebut.
  • * Sensitisasi tanpa alergi klinis: keberadaan antibodi IgE spesifik menunjukkan respons imun terhadap alergen, tetapi belum membuktikan bahwa konsumsi makanan menimbulkan gejala.
  • * Pembatasan diet berlebihan: pasien dapat menghindari banyak makanan yang sebenarnya dapat ditoleransi.
  • * Risiko gangguan nutrisi: terutama pada anak yang sedang mengalami pertumbuhan, memiliki kesulitan makan, atau sudah menjalani diet terbatas.
  • * Dampak psikososial dan ekonomi: meningkatnya kecemasan keluarga, biaya pemeriksaan, pembelian makanan khusus, dan kebutuhan konsultasi lanjutan.

Dengan demikian, banyaknya hasil positif tidak selalu berarti diagnosis menjadi lebih akurat. Pemeriksaan yang tidak terarah justru dapat memperbesar risiko salah diagnosis dan menunda identifikasi penyebab gejala yang sebenarnya.

Riwayat klinis sebagai dasar diagnosis

Diagnosis alergi makanan sebaiknya diawali dengan anamnesis terstruktur. Dokter perlu menilai jenis makanan yang dicurigai, jumlah yang dikonsumsi, waktu timbulnya gejala, pola reaksi, konsistensi kejadian, serta apakah pasien pernah mengonsumsi makanan tersebut tanpa keluhan.

Pemeriksaan skin prick test (SPT) dan IgE spesifik serum dapat digunakan apabila terdapat kecurigaan klinis yang sesuai, terutama pada dugaan alergi yang diperantarai IgE. Pemeriksaan harus diarahkan pada makanan yang relevan dengan riwayat pasien, bukan dilakukan sebagai skrining luas tanpa indikasi.

Hasil positif perlu ditafsirkan berdasarkan riwayat klinis dan probabilitas alergi sebelum pemeriksaan. Hasil negatif juga harus dinilai sesuai karakteristik tes dan jenis reaksi yang dicurigai. Pemeriksaan IgE tidak dapat menyingkirkan seluruh jenis reaksi terhadap makanan, termasuk reaksi non-IgE-mediated.

Peran Oral Food Challenge (OFC)

  • Oral food challenge merupakan prosedur pemberian makanan secara bertahap dan terkontrol untuk menilai apakah konsumsi makanan tersebut menimbulkan reaksi alergi. OFC tetap menjadi standar rujukan diagnostik untuk mengonfirmasi atau menyingkirkan alergi makanan pada situasi klinis yang memerlukannya.
  • OFC terutama perlu dipertimbangkan ketika hasil SPT atau IgE spesifik positif, tetapi riwayat konsumsi tidak menunjukkan reaksi yang meyakinkan; ketika hasil tes dan riwayat klinis tidak sesuai; atau ketika diperlukan konfirmasi apakah alergi masih menetap.
  • Prosedur harus dilakukan oleh tenaga medis terlatih dalam lingkungan yang sesuai dengan risiko pasien dan dilengkapi kemampuan menangani reaksi alergi akut. OFC tidak boleh dilakukan sendiri di rumah apabila terdapat dugaan alergi yang berisiko menimbulkan reaksi berat.

Makanan yang sudah dikonsumsi secara teratur

CSACI merekomendasikan agar pemeriksaan alergi tidak dilakukan terhadap makanan yang dikonsumsi secara teratur tanpa gejala segera yang konsisten dengan alergi IgE-mediated. Hasil panel positif pada situasi tersebut tidak boleh secara otomatis menjadi dasar penghentian konsumsi.

Sebaliknya, pasien yang belum pernah mengonsumsi suatu makanan juga tidak seharusnya langsung dianggap alergi hanya berdasarkan hasil panel. Pengenalan makanan perlu mengikuti pedoman pencegahan alergi yang sesuai dengan usia dan faktor risiko. Pada pasien berisiko tinggi atau keluarga yang sangat khawatir, dokter dapat mempertimbangkan pengenalan makanan dengan pengawasan klinis sesuai kebutuhan.

Rekomendasi Klinis

Berdasarkan pernyataan posisi CSACI tahun 2024 dan prinsip diagnosis alergi makanan berbasis bukti, rekomendasi berikut diajukan untuk dokter, tenaga kesehatan, fasilitas laboratorium, serta masyarakat.

Untuk dokter dan tenaga kesehatan

  • * Hindari pemeriksaan panel alergi makanan secara rutin tanpa indikasi klinis yang jelas.
  • * Jadikan riwayat klinis dan pola reaksi pasien sebagai dasar pemilihan pemeriksaan.
  • * Gunakan SPT dan IgE spesifik secara terarah, dengan interpretasi sesuai probabilitas klinis.
  • * Jangan menyamakan sensitisasi dengan alergi makanan yang terbukti secara klinis.
  • * Pertimbangkan OFC apabila diagnosis belum jelas dan prosedur dinilai sesuai serta aman bagi pasien.
  • * Evaluasi status gizi dan risiko kekurangan nutrisi sebelum menetapkan diet eliminasi, terutama pada anak dengan pertumbuhan terganggu atau kesulitan makan.
  • * Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai keterbatasan pemeriksaan serta risiko diagnosis berlebihan.

Untuk laboratorium dan fasilitas pelayanan kesehatan

  • * Berikan informasi yang jelas mengenai tujuan, keterbatasan, dan interpretasi pemeriksaan alergi makanan.
  • * Hindari mempromosikan panel luas sebagai metode skrining universal atau sebagai cara memastikan semua penyebab alergi.
  • * Dorong komunikasi antara dokter pemesan pemeriksaan, tenaga laboratorium, dan pasien untuk mencegah salah interpretasi hasil.
  • * Kembangkan alur rujukan kepada dokter yang memiliki kompetensi alergi apabila diperlukan evaluasi lebih lanjut.

Untuk orang tua dan masyarakat

  • * Jangan menyimpulkan bahwa anak alergi terhadap semua makanan dengan hasil tes positif.
  • * Jangan menghentikan banyak jenis makanan hanya berdasarkan hasil panel laboratorium tanpa evaluasi dokter.
  • * Jangan melakukan tes alergi tanpa alasan klinis hanya karena anak memiliki kondisi atopi atau keluarga mempunyai riwayat alergi.
  • * Jangan memulai kembali makanan yang dicurigai menimbulkan reaksi berat tanpa penilaian medis yang sesuai.
  • * Mintalah penjelasan tentang arti hasil pemeriksaan, makanan yang benar-benar perlu dihindari, dan rencana konfirmasi diagnosis.

Catatan penting: rekomendasi ini bukan berarti seluruh pemeriksaan alergi dilarang. Pemeriksaan yang terarah tetap berperan penting dalam evaluasi pasien dengan riwayat yang sesuai. Fokus utamanya adalah menghindari penggunaan panel yang tidak selektif dan memastikan setiap pemeriksaan memiliki tujuan klinis yang jelas.

Kesimpulan

  • Pemeriksaan panel alergi makanan tanpa indikasi klinis yang tepat berpotensi menyebabkan positif palsu, diagnosis berlebihan, pembatasan diet yang tidak diperlukan, gangguan kecukupan nutrisi, peningkatan biaya, dan kecemasan keluarga.
  • Pernyataan posisi CSACI tahun 2024 menekankan perlunya membatasi pemeriksaan panel yang tidak terarah dan meningkatkan akses terhadap konfirmasi diagnosis yang tepat, termasuk OFC apabila diindikasikan.
  • Pendekatan terbaik adalah riwayat klinis yang cermat, pemeriksaan alergi yang terarah, interpretasi berdasarkan bukti, serta konfirmasi diagnosis bila diperlukan. Prinsip ini membantu memastikan bahwa makanan yang dihindari benar-benar relevan secara klinis, sementara makanan yang dapat ditoleransi tetap menjadi bagian dari pola makan yang aman dan bergizi.

### Daftar Pustaka

  • 1\. Al Ghamdi A, Abrams EM, Carr S, Hanna MA, Herman SM, Lavine E, et al. Canadian Society of Allergy and Clinical Immunology position statement: panel testing for food allergies. Allergy Asthma Clin Immunol. 2024;20(1):61. doi: [10.1186/s13223-024-00937-0](https://doi.org/10.1186/s13223-024-00937-0?utm_source=chatgpt.com).
  • 2\. Santos AF, Riggioni C, Agache I, Akdis CA, Akdis M, Alvarez-Perea A, et al. EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023;78(12):3057–3076. doi: 10.1111/all.15902.
  • 3\. Venter C, Brown T, Meyer R, Walsh J, Shah N, Nowak-Węgrzyn A, et al. Better recognition, diagnosis and management of non-IgE-mediated cow’s milk allergy in infancy: iMAP—an international interpretation of the MAP guideline. Clin Transl Allergy. 2017;7:26. doi: 10.1186/s13601-017-0162-y.
  • 4\. Sampson HA, Gerth van Wijk R, Bindslev-Jensen C, Sicherer S, Teuber SS, Burks AW, et al. Standardizing double-blind, placebo-controlled oral food challenges: AAAAI–EAACI PRACTALL consensus report. J Allergy Clin Immunol. 2012;130(6):1260–1274. doi: 10.1016/j.jaci.2012.10.017.
  • 5\. AAAAI–EAACI PRACTALL. Standardizing oral food challenges—2024 update. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35:e14276. doi: 10.1111/pai.14276.

Review Artikel

Penilaian kritis terhadap artikel utama | Aspek | Hasil tinjauan

  • | Jenis publikasi | Position statement dan tinjauan berbasis bukti |
  • | Fokus utama | Risiko pemeriksaan panel alergi makanan tanpa seleksi klinis |
  • | Relevansi klinis | Tinggi, terutama pada anak dan pasien dengan diet terbatas |
  • | Kekuatan | Rekomendasi praktis untuk mengurangi salah diagnosis dan dampak pemeriksaan yang tidak tepat |
  • | Keterbatasan | Tidak dimaksudkan sebagai protokol lengkap untuk setiap jenis alergi makanan; penerapan harus mempertimbangkan kondisi dan populasi pasien |
  • | Implikasi | Mendukung pemeriksaan terarah dan peningkatan akses terhadap OFC |

Penilaian akhir:

artikel CSACI ini merupakan rujukan penting untuk edukasi klinis dan perbaikan praktik diagnosis alergi makanan. Rekomendasinya menekankan bahwa pemeriksaan laboratorium harus digunakan untuk menjawab pertanyaan klinis, bukan menjadi satu-satunya dasar diagnosis atau alasan menghindari berbagai makanan. Artikel ini dapat menjadi dasar pengembangan materi edukasi bagi dokter, orang tua, dan masyarakat mengenai pencegahan overdiagnosis alergi makanan.

Catatan editorial: naskah ini merupakan artikel rekomendasi berbasis tinjauan literatur, bukan pedoman klinis resmi yang diterbitkan atau disahkan oleh CSACI.

Visited 1 times, 1 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *