- REVIEW JURNAL ILMIAH
- Kesulitan Makan pada Anak dengan Dugaan Alergi Makanan Saluran Cerna Non-IgE: Telaah Kritis terhadap Studi Observasional di Rumah Sakit Rujukan Anak
- Audi Yudhasmara, Widodo Judarwanto
1. Identitas artikel
- Judul asli: Assessing Feeding Difficulties in Children Presenting with Non-IgE-Mediated Gastrointestinal Food Allergies—A Commonly Reported Problem
- Penulis: Adriana Chebar-Lozinsky, Claire De Koker, Robert Dziubak, Daniel Lorber Rolnik, Heather Godwin, Gloria Dominguez-Ortega, Ana-Kristina Skrapac, Yara Gholmie, Kate Reeve, Neil Shah, dan Rosan Meyer.
- Jurnal: Nutrients
- Tahun terbit: 2024
- Volume dan nomor: 16(11), artikel 1563
- DOI: https://doi.org/10.3390/nu16111563
- Jenis penelitian: Studi observasional pada anak dengan dugaan alergi makanan gastrointestinal non-IgE yang menjalani diet eliminasi diagnostik.
2. Abstrak review
- Kesulitan makan merupakan masalah yang sering dijumpai pada anak dengan gangguan saluran cerna dan dapat berdampak pada kecukupan nutrisi serta pertumbuhan. Penelitian Chebar-Lozinsky dan kolega bertujuan menilai prevalensi kesulitan makan pada anak dengan alergi makanan gastrointestinal non-IgE serta hubungannya dengan gejala saluran cerna dan diet eliminasi.
- Penelitian dilakukan di Great Ormond Street Hospital for Children, London, Inggris. Dari 131 anak yang direkrut, 114 orang tua menyelesaikan kuesioner kesulitan makan. Sebanyak 61 anak atau 53,5% dilaporkan mengalami sedikitnya satu bentuk kesulitan makan. Bentuk yang paling sering ditemukan adalah penolakan makan berulang, waktu makan yang berkepanjangan, dan kesulitan menghadapi tekstur makanan tertentu. Kesulitan makan juga berhubungan secara statistik dengan konstipasi dan muntah.
- Temuan ini menunjukkan bahwa masalah makan perlu diperhatikan dalam evaluasi anak dengan gejala gastrointestinal yang diduga berkaitan dengan alergi makanan non-IgE. Namun, desain observasional, penggunaan kuesioner yang belum tervalidasi khusus untuk alergi makanan, dan keterbatasan konfirmasi diagnosis membatasi kesimpulan kausal. Penelitian ini mendukung perlunya penilaian kesulitan makan secara sistematis, tetapi tidak membuktikan bahwa alergi makanan merupakan penyebab semua kasus sulit makan, sembelit, atau gangguan pertumbuhan.
- Kata kunci: kesulitan makan; alergi makanan non-IgE; konstipasi; muntah; diet eliminasi; pertumbuhan anak.
3. Latar belakang penelitian
- Kesulitan makan pada anak tidak hanya berupa penolakan terhadap makanan. Masalah ini juga dapat terlihat sebagai waktu makan yang terlalu lama, kesulitan menerima tekstur makanan, tersedak atau refleks muntah saat menghadapi makanan tertentu, serta keterbatasan variasi makanan.
- Pada anak dengan keluhan gastrointestinal, pengalaman makan dapat menjadi tidak menyenangkan. Rasa sakit saat buang air besar, muntah berulang, nyeri perut, atau ketidaknyamanan setelah makan berpotensi membentuk hubungan negatif antara makanan dan pengalaman tubuh. Akibatnya, anak dapat semakin menolak makan meskipun penyebab awal keluhan sudah membaik.
- Alergi makanan non-IgE merupakan salah satu kondisi yang dapat menimbulkan gejala gastrointestinal. Berbeda dengan alergi yang diperantarai IgE, manifestasi non-IgE umumnya tidak terutama dimediasi oleh antibodi IgE spesifik. Gejala dan waktu kemunculannya bergantung pada bentuk klinis alergi yang terjadi.
- Penulis menyoroti bahwa kesulitan makan sering disebut dalam pedoman klinis alergi makanan, tetapi bukti mengenai prevalensi dan bentuk kesulitan makan pada kelompok anak ini masih terbatas. Karena itu, penelitian dilakukan untuk menggambarkan masalah tersebut secara lebih sistematis.
- Penting untuk dipahami bahwa latar belakang ini bukan berarti setiap anak yang mengalami sembelit, muntah, atau penolakan makanan pasti mempunyai alergi. Gejala tersebut juga dapat ditemukan pada gangguan gastrointestinal fungsional dan kondisi medis lainnya.
4. Tujuan penelitian
- Penelitian memiliki dua tujuan utama:
-
- Menilai seberapa sering kesulitan makan ditemukan pada anak dengan dugaan alergi makanan gastrointestinal non-IgE.
- Menilai hubungan antara kesulitan makan dengan gejala gastrointestinal, karakteristik klinis, dan jumlah makanan yang dihindari selama diet eliminasi.
- Dengan demikian, penelitian ini terutama menilai frekuensi dan hubungan statistik antarkarakteristik klinis. Penelitian ini bukan uji klinis untuk membuktikan bahwa diet eliminasi atau pengobatan alergi secara langsung menyembuhkan kesulitan makan.
- 5. Metode penelitian
- 5.1. Desain dan populasi
- Penelitian menggunakan desain observasional di sebuah rumah sakit rujukan tersier, yaitu Great Ormond Street Hospital for Children, London, Inggris.
- Anak berusia 4 minggu hingga 16 tahun yang menjalani diet eliminasi untuk evaluasi dugaan alergi makanan gastrointestinal non-IgE diikutsertakan sesuai kriteria penelitian. Anak dengan komorbiditas nonalergi tertentu, seperti palsi serebral dan kelainan jantung, tidak dimasukkan.
- Dari 131 anak yang direkrut, 114 orang tua menyelesaikan kuesioner kesulitan makan, sehingga tingkat penyelesaian kuesioner mencapai sekitar 87%.
- 5.2. Penilaian gejala
- Gejala gastrointestinal dinilai menggunakan skala Likert yang mencakup sembilan gejala, antara lain diare, konstipasi, muntah, perdarahan rektal, nyeri perut, perut kembung, dan keengganan terhadap makanan.
- Kesulitan makan dinilai melalui kuesioner yang diadaptasi dari instrumen penelitian populasi anak sebelumnya dan ditambah dengan bentuk kesulitan makan yang dinilai relevan pada alergi non-IgE.
- Analisis statistik membandingkan anak dengan dan tanpa kesulitan makan. Peneliti juga menggunakan regresi logistik untuk mengevaluasi faktor yang berhubungan dengan kesulitan makan.
- 5.3. Catatan metodologis
- Meskipun penelitian dilakukan secara sistematis, instrumen kesulitan makan yang digunakan belum tervalidasi secara khusus untuk anak dengan alergi makanan. Penilaian gejala juga melibatkan laporan orang tua sehingga berpotensi dipengaruhi persepsi dan ingatan responden.
- Selain itu, kelompok penelitian ditentukan melalui evaluasi klinis dan respons terhadap diet eliminasi. Oleh sebab itu, hasilnya perlu ditafsirkan sebagai temuan pada kelompok pasien yang dievaluasi karena dugaan alergi non-IgE, bukan sebagai bukti bahwa seluruh peserta telah dikonfirmasi melalui tantangan makanan tersamar ganda.
- 5.1. Desain dan populasi
- 6. Hasil utama penelitian
- 6.1. Prevalensi kesulitan makan
- Dari 114 anak yang orang tuanya menyelesaikan kuesioner, sebanyak 61 anak atau 53,5% mengalami setidaknya satu bentuk kesulitan makan.
- Temuan ini menunjukkan bahwa kesulitan makan merupakan masalah yang cukup sering dilaporkan pada populasi klinis tersebut. Namun, angka 53,5% tidak boleh langsung dianggap sebagai prevalensi pada semua anak dengan alergi makanan atau seluruh populasi anak, karena peserta berasal dari satu rumah sakit rujukan tersier.
- 6.2. Bentuk kesulitan makan yang paling sering
| Bentuk kesulitan makan | Proporsi yang dilaporkan |
|---|---|
| Menolak makan secara berulang | 26,9% |
| Waktu makan berkepanjangan | 26,7% |
| Kesulitan atau refleks muntah saat menghadapi tekstur makanan | 26,5% |
- Sebagian besar anak yang mengalami kesulitan makan mempunyai lebih dari satu masalah. Sebanyak 40 dari 61 anak dengan kesulitan makan dilaporkan memiliki sedikitnya dua bentuk kesulitan, sedangkan delapan anak memiliki sedikitnya empat bentuk.
- Temuan ini menegaskan bahwa kesulitan makan tidak selalu berupa anak yang tidak mau makan. Masalahnya dapat mencakup penerimaan tekstur, proses makan, dan pengalaman anak ketika berhadapan dengan makanan.
- 6.3. Hubungan dengan konstipasi dan muntah
- Penelitian menemukan perbedaan bermakna secara statistik antara anak dengan dan tanpa kesulitan makan.
| Gejala | Dengan kesulitan makan | Tanpa kesulitan makan | Nilai p |
|---|---|---|---|
| Konstipasi | 60,7% | 35,8% | 0,008 |
| Muntah | 63,9% | 41,5% | 0,017 |
Nilai p di bawah 0,05 menunjukkan bahwa perbedaan tersebut bermakna secara statistik dalam analisis yang dilaporkan. Namun, nilai p tidak membuktikan bahwa konstipasi atau muntah menyebabkan kesulitan makan, ataupun sebaliknya.
- Hubungan ini dapat mencerminkan beberapa kemungkinan: gejala gastrointestinal membuat pengalaman makan tidak nyaman, kesulitan makan berjalan bersamaan dengan penyakit yang lebih berat, atau terdapat faktor lain yang memengaruhi keduanya.
- 6.4. Temuan mengenai pertumbuhan
- Peneliti tidak menemukan perbedaan bermakna pada sejumlah parameter pertumbuhan, termasuk skor-z berat badan menurut umur, indeks massa tubuh menurut umur, dan berat badan menurut tinggi badan, antara kelompok dengan dan tanpa kesulitan makan.
- Namun, kelompok dengan kesulitan makan memiliki skor-z tinggi badan menurut umur yang lebih rendah, dengan nilai p = 0,049.
- Temuan tersebut perlu ditafsirkan secara hati-hati. Hasil ini menunjukkan adanya perbedaan pada parameter tinggi badan menurut umur dalam sampel penelitian, tetapi tidak membuktikan bahwa kesulitan makan menyebabkan hambatan pertumbuhan. Faktor seperti lama diet eliminasi, tingkat keparahan gejala, kecukupan nutrisi, dan penyakit yang mendasari juga dapat berperan.
- 6.5. Faktor yang berhubungan dengan kesulitan makan
- Dalam analisis regresi logistik, usia anak dan skor gejala awal merupakan faktor yang berhubungan dengan kesulitan makan. Hubungan usia dilaporkan bersifat nonlinier.
- Jenis kelamin dan jumlah makanan yang dieliminasi tidak menunjukkan hubungan bermakna dalam model akhir yang dilaporkan.
- Hasil ini mengisyaratkan bahwa karakteristik klinis dan keparahan gejala awal mungkin lebih relevan daripada sekadar banyaknya jenis makanan yang dihindari. Namun, hubungan statistik tersebut tidak dapat langsung diterjemahkan menjadi prediksi individual tanpa validasi lebih lanjut.
- 7. Pembahasan dan interpretasi ilmiah
- 7.1. Kesulitan makan perlu dinilai sebagai masalah klinis tersendiri
- Salah satu kontribusi penting penelitian ini adalah menunjukkan bahwa kesulitan makan dapat hadir dalam beberapa bentuk sekaligus. Anak yang sering menolak makanan mungkin juga membutuhkan waktu makan yang lama atau mengalami kesulitan menerima tekstur tertentu.
- Dalam praktik pediatri, keluhan tersebut sebaiknya tidak langsung diberi label sebagai perilaku manja atau sekadar pilih-pilih makanan. Dokter perlu menilai apakah masalah tersebut memengaruhi asupan nutrisi, keterampilan makan, kondisi medis, dan interaksi anak saat makan.
- Kesulitan makan yang menetap juga dapat membutuhkan pendekatan multidisiplin, misalnya dokter anak, ahli gizi, serta tenaga profesional yang menangani keterampilan makan atau masalah oral-motor bila terindikasi.
- 7.2. Mengapa konstipasi dan muntah berkaitan dengan kesulitan makan?
- Konstipasi dapat menimbulkan feses keras, nyeri saat buang air besar, perut terasa penuh, dan rasa tidak nyaman. Muntah atau gejala gastrointestinal lainnya juga dapat membuat pengalaman makan menjadi menakutkan atau tidak menyenangkan.
- Jika anak berulang kali mengalami rasa sakit atau mual ketika makan, ia dapat mengembangkan perilaku menghindari makanan. Hubungan ini masuk akal secara klinis, tetapi penelitian ini tidak membuktikan mekanisme tersebut secara langsung.
- Karena itu, pada anak yang sulit makan dan mengalami konstipasi, penanganan sembelit tetap penting meskipun alergi makanan juga sedang dievaluasi. Tidak tepat jika semua keluhan langsung dianggap sebagai akibat alergi tanpa pemeriksaan diagnosis banding.
- 7.3. Apakah diet eliminasi menyebabkan atau memperbaiki kesulitan makan?
- Penulis membahas kemungkinan bahwa diet eliminasi dapat memengaruhi perilaku makan. Pembatasan jenis makanan dapat mengurangi variasi pengalaman makan, sedangkan pengalaman gejala yang tidak menyenangkan dapat membuat anak mengaitkan makanan dengan rasa sakit atau ketidaknyamanan.
- Sebaliknya, bila suatu makanan benar-benar menjadi pemicu gejala alergi, pengelolaan yang tepat berpotensi mengurangi gejala tersebut. Kedua kemungkinan ini perlu dibedakan berdasarkan riwayat klinis dan evaluasi yang terstruktur.
- Penelitian ini tidak membuktikan bahwa semakin banyak makanan yang dieliminasi akan semakin berat kesulitan makan. Jumlah makanan yang dihindari tidak berhubungan bermakna dengan kesulitan makan dalam analisis yang dilaporkan. Meski demikian, hasil tersebut juga tidak membuktikan bahwa diet eliminasi selalu aman atau tidak memengaruhi asupan nutrisi.
- 7.4. Hubungan dengan gangguan pertumbuhan
- Anak dengan kesulitan makan berisiko tidak memenuhi kebutuhan energi dan protein apabila variasi atau jumlah makanan yang dikonsumsi terlalu terbatas. Akan tetapi, hasil penelitian ini tidak menunjukkan perbedaan bermakna pada semua parameter pertumbuhan.
- Perbedaan skor-z tinggi badan menurut umur perlu ditindaklanjuti melalui penelitian dengan pengukuran pertumbuhan serial dan informasi diet yang lebih lengkap. Berat badan atau tinggi badan tunggal tidak cukup untuk menentukan penyebab gangguan pertumbuhan pada seorang anak.
- Pada praktik klinis, penilaian pertumbuhan harus menggunakan usia, jenis kelamin, tinggi badan, berat badan, dan lintasan pertumbuhan. Evaluasi asupan serta penyakit penyerta juga diperlukan bila ditemukan pertumbuhan yang tidak optimal.
- 8. Telaah kritis: kekuatan dan keterbatasan penelitian
- Kekuatan penelitian
- Pertama, masalah yang diteliti relevan secara klinis. Kesulitan makan sering menjadi keluhan orang tua, tetapi dapat luput dari evaluasi apabila perhatian hanya tertuju pada gejala alergi atau gastrointestinal.
- Kedua, penelitian mendeskripsikan bentuk kesulitan makan secara konkret. Penolakan makan, waktu makan berkepanjangan, dan kesulitan menerima tekstur makanan memberikan gambaran yang lebih berguna bagi tenaga kesehatan dibandingkan hanya menggunakan istilah umum “picky eating”.
- Ketiga, penelitian menganalisis hubungan dengan gejala gastrointestinal dan karakteristik klinis. Hal ini membantu membangun hipotesis bahwa kesulitan makan dapat berjalan bersama dengan beban gejala yang lebih besar.
- Keempat, tingkat penyelesaian kuesioner cukup tinggi. Sebanyak 114 dari 131 peserta menyelesaikan penilaian kesulitan makan, sehingga sebagian besar anak yang direkrut tercakup dalam analisis tersebut.
- Kekuatan penelitian
- Keterbatasan penelitian
- Pertama, penelitian dilakukan di satu rumah sakit rujukan tersier. Pasien yang dirujuk ke pusat spesialis mungkin memiliki gejala lebih kompleks atau lebih berat dibandingkan anak yang ditangani di layanan primer. Oleh sebab itu, angka 53,5% tidak dapat digeneralisasi secara langsung ke semua anak dengan alergi makanan.
- Kedua, instrumen penilaian belum tervalidasi khusus untuk alergi makanan. Kuesioner yang diadaptasi dapat membantu eksplorasi awal, tetapi belum tentu menangkap seluruh aspek kesulitan makan secara konsisten pada berbagai usia.
- Ketiga, sebagian data didasarkan pada laporan orang tua. Persepsi terhadap gejala, ingatan mengenai kejadian, dan interpretasi terhadap perilaku makan dapat menimbulkan bias pengukuran.
- Keempat, desain observasional tidak membuktikan sebab-akibat. Hubungan antara konstipasi, muntah, dan kesulitan makan tidak menunjukkan mana yang menjadi penyebab awal. Faktor perancu masih mungkin berperan.
- Kelima, diagnosis alergi mempunyai keterbatasan. Evaluasi menggunakan diet eliminasi dan skor gejala, sedangkan penulis mengakui bahwa tantangan makanan tersamar ganda merupakan metode rujukan untuk meminimalkan bias dalam penegakan diagnosis alergi makanan. Tantangan semacam ini sulit dilakukan pada praktik sehari-hari, terutama ketika gejala dapat muncul beberapa hari setelah pajanan.
- Keenam, data pertumbuhan belum dapat menjelaskan hubungan kausal. Perbedaan skor-z tinggi badan menurut umur tidak membuktikan bahwa kesulitan makan atau alergi menyebabkan gangguan pertumbuhan.
- 9. Implikasi bagi praktik klinis
- Hasil penelitian mendukung beberapa langkah praktis dalam evaluasi anak yang sulit makan.
- Tanyakan bentuk kesulitan makan secara spesifik. Selain menanyakan apakah anak sulit makan, gali apakah anak menolak makan berulang, membutuhkan waktu lama, kesulitan mengunyah, atau menolak tekstur tertentu.
- Evaluasi gejala gastrointestinal secara bersamaan. Konstipasi dan muntah perlu dinilai karena dalam penelitian ini keduanya lebih sering ditemukan pada anak dengan kesulitan makan.
- Periksa status pertumbuhan dan kecukupan nutrisi. Gunakan pengukuran antropometri yang sesuai dan tinjau asupan energi, protein, serta variasi makanan.
- Pertimbangkan alergi makanan bila riwayat klinis mendukung. Jangan mendiagnosis alergi hanya berdasarkan sembelit, penolakan makanan, atau hasil satu jenis pemeriksaan.
- Hindari pembatasan makanan yang tidak perlu. Diet eliminasi harus mempunyai alasan klinis, tujuan diagnostik yang jelas, dan pemantauan kecukupan nutrisi.
- Lakukan tindak lanjut. Perbaikan gejala gastrointestinal belum tentu berarti kesulitan makan langsung menghilang. Penerimaan makanan dan pertumbuhan perlu dipantau secara terpisah.
- Hasil penelitian mendukung beberapa langkah praktis dalam evaluasi anak yang sulit makan.
- 10. Relevansi terhadap kasus anak yang sulit makan, sembelit, dan berat badan sulit naik
- Penelitian ini relevan sebagai dasar untuk meningkatkan kewaspadaan klinis terhadap kesulitan makan pada anak yang mengalami gejala gastrointestinal. Pada anak dengan feses keras, BAB tidak lancar, penolakan makanan, dan berat badan yang diduga tidak optimal, evaluasi sebaiknya tidak berhenti pada label picky eater.
- Namun, penelitian ini tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa seorang anak tertentu pasti mengalami alergi makanan non-IgE. Kesimpulan tersebut memerlukan riwayat klinis individual, evaluasi pertumbuhan, penilaian penyebab konstipasi, dan pemeriksaan alergi yang sesuai dengan indikasi.
- Jika setelah intervensi nafsu makan membaik dan berat badan meningkat, perubahan tersebut layak didokumentasikan. Akan tetapi, hubungan sebab-akibat tetap perlu dinilai dengan mempertimbangkan perubahan asupan, penanganan konstipasi, intervensi lain, serta respons terhadap eliminasi dan reintroduksi makanan apabila prosedur tersebut memang diindikasikan.
- Penelitian ini juga tidak mendukung anggapan bahwa kulit kering, mendengkur, bernapas melalui mulut, atau perubahan perilaku selalu merupakan akibat alergi makanan. Gejala tersebut perlu dievaluasi berdasarkan penyebab yang mungkin berbeda.
- 11. Kesimpulan review
- Penelitian Chebar-Lozinsky dan kolega menunjukkan bahwa kesulitan makan merupakan masalah yang sering dilaporkan pada anak yang dievaluasi karena alergi makanan gastrointestinal non-IgE. Dalam sampel penelitian, 53,5% anak mengalami sedikitnya satu bentuk kesulitan makan, dan masalah tersebut lebih sering ditemukan pada anak dengan konstipasi atau muntah.
- Nilai utama penelitian ini terletak pada penekanannya bahwa kesulitan makan perlu dinilai secara sistematis, bukan dianggap sebagai perilaku sederhana. Meski demikian, desain observasional, keterbatasan instrumen, dan ketidakpastian kausal membatasi interpretasi hasil.
- Secara klinis, temuan ini mendukung evaluasi terpadu terhadap pola makan, gejala gastrointestinal, pertumbuhan, dan kemungkinan alergi pada anak yang sesuai. Penelitian ini tidak membuktikan bahwa alergi makanan merupakan penyebab tunggal kesulitan makan, sembelit, atau gangguan pertumbuhan.
- Pesan utama: Anak yang sulit makan perlu dinilai lebih dalam, terutama jika disertai konstipasi, muntah, atau pertumbuhan yang tidak optimal. Tujuan pemeriksaan adalah menemukan penyebab yang benar dan memperbaiki masalah yang terbukti ada, bukan memberikan pantangan makanan tanpa dasar diagnostik.
- Daftar pustaka utama
- Chebar-Lozinsky A, De Koker C, Dziubak R, Rolnik DL, Godwin H, Dominguez-Ortega G, et al. Assessing Feeding Difficulties in Children Presenting with Non-IgE-Mediated Gastrointestinal Food Allergies—A Commonly Reported Problem. Nutrients. 2024;16(11):1563. doi:10.3390/nu16111563.
- Goday PS, Huh SY, Silverman A, et al. Pediatric Feeding Disorder: Consensus Definition and Conceptual Framework. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2019;68(1):124–129. doi:10.1097/MPG.0000000000002188.
- Vandenplas Y, Broekaert I, Domellöf M, et al. An ESPGHAN Position Paper on the Diagnosis, Management, and Prevention of Cow’s Milk Allergy. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2024;78(2):386–413. doi:10.1097/MPG.0000000000003897.











Leave a Reply