ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Review Jurnal Ilmiah: Kesulitan Makan pada Anak dengan Alergi Makanan Non-IgE

 

  • Review Jurnal Ilmiah: Kesulitan Makan pada Anak dengan Alergi Makanan Non-IgE
  • Telaah kritis literatur • Alergi anak • Gastroenterologi pediatrik • Nutrisi dan tumbuh kembang
  • Audi Yudhasmara, Widodo Judarwanto,

Identitas artikel

  • Prevalence of Feeding Difficulties in Children With Non-IgE Mediated Food Allergies: A Systematic Review
  • Tomlin ML, Bendall C, Loke P, Bennett CJ.
  • Jurnal: Clinical & Experimental Allergy. 2026;56(9):1117–1124.
  • Publikasi daring: 25 Juni 2026
  • DOI: 10.1111/cea.70367
  • PMID: 42348246
  • Jenis artikel: Research Letter berupa tinjauan sistematis.
  • Registrasi protokol: PROSPERO CRD42023458648.

Abstrak review

  • Kesulitan makan pada anak merupakan masalah klinis yang dapat mengganggu kecukupan nutrisi, pertumbuhan, dan kualitas hidup keluarga. Pada anak dengan alergi makanan yang tidak diperantarai imunoglobulin E (non-IgE), gejala saluran cerna dan pengalaman makan yang tidak menyenangkan berpotensi berhubungan dengan penolakan makanan, aversi oral, serta gangguan keterampilan makan. Tomlin dan kolega melakukan tinjauan sistematis untuk mengevaluasi prevalensi kesulitan makan pada anak berusia 0–18 tahun dengan alergi makanan non-IgE dibandingkan anak tanpa alergi makanan.
  • Pencarian literatur dilakukan pada empat basis data, yaitu MEDLINE, Embase, Emcare, dan Scopus, hingga 17 September 2025. Dari 10.681 rekaman yang ditemukan, 17 artikel memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi kesulitan makan pada anak dengan alergi makanan bervariasi antara 13,6% dan 86,2%, sedangkan pada kelompok tanpa alergi makanan berkisar 1,6%–31%. Pada penelitian yang secara khusus mengidentifikasi alergi non-IgE, prevalensinya berkisar 22%–59,3%. Hubungan yang menonjol ditemukan pada eosinophilic esophagitis (EoE), yaitu penyakit inflamasi esofagus yang berkaitan dengan mekanisme imun dan antigen makanan. Namun, heterogenitas definisi, metode diagnosis alergi, karakteristik populasi, dan instrumen penilaian membatasi interpretasi hasil. Artikel ini mendukung pentingnya skrining kesulitan makan dan evaluasi nutrisi pada anak dengan alergi makanan, tetapi tidak membuktikan bahwa semua anak yang sulit makan mengalami alergi non-IgE.

Latar belakang dan rasional penelitian

  • Kesulitan makan pada anak bukan merupakan satu diagnosis tunggal. Kondisi ini dapat berupa penolakan makanan, pilihan makanan yang sangat terbatas, durasi makan yang panjang, kesulitan menerima tekstur tertentu, mengunyah atau menelan, serta ketergantungan pada susu atau makanan cair. Dalam praktik klinis, kesulitan makan dapat berkaitan dengan faktor perilaku, perkembangan keterampilan oral-motor, gangguan sensorik, penyakit saluran cerna, nyeri saat makan, maupun masalah nutrisi.
  • Pada alergi makanan non-IgE, respons imun terhadap protein makanan tidak terutama dimediasi oleh antibodi IgE spesifik. Manifestasi klinis dapat melibatkan saluran cerna, misalnya muntah, diare, atau gangguan pertumbuhan, bergantung pada jenis penyakitnya. Salah satu bentuk yang penting adalah EoE, yang dapat menyebabkan kesulitan menelan, nyeri saat makan, penolakan makanan, dan pada anak yang lebih besar, makanan tersangkut di esofagus.
  • Terdapat kemungkinan hubungan dua arah antara penyakit saluran cerna dan kesulitan makan. Penyakit yang menimbulkan nyeri atau ketidaknyamanan saat makan dapat membentuk pengalaman makan negatif dan perilaku menghindar. Sebaliknya, pembatasan makanan yang berlebihan dan asupan yang tidak mencukupi dapat memperburuk status nutrisi serta menghambat perkembangan keterampilan makan. Karena itu, evaluasi harus membedakan gejala yang disebabkan penyakit organik dari kesulitan makan yang telah berkembang menjadi masalah perilaku atau keterampilan.
  • Artikel Tomlin dan kolega penting karena mengumpulkan bukti mengenai besarnya masalah tersebut, khususnya pada anak dengan alergi non-IgE. Namun, pertanyaan ilmiahnya bukan hanya apakah kesulitan makan sering ditemukan pada kelompok ini, melainkan juga seberapa kuat bukti bahwa alergi menjadi penyebab, jenis gangguan apa yang paling berisiko, dan bagaimana hasil penelitian dapat diterapkan dalam praktik klinis.

Tujuan dan metode penelitian

Tujuan utama penelitian adalah menilai apakah anak dengan alergi makanan non-IgE memiliki prevalensi kesulitan makan yang lebih tinggi dibandingkan anak tanpa alergi makanan. Peneliti menggunakan kerangka PICO (Population, Intervention/Exposure, Comparator, Outcome) untuk menetapkan kriteria pemilihan studi.

Ringkasan metodologi

Sumber literatur: MEDLINE, Embase, Emcare, dan Scopus; pencarian sampai 17 September 2025.

  • Populasi
    • Anak berusia 0–18 tahun, dengan alergi makanan non-IgE atau kelompok pembanding yang sesuai.
  • Kriteria studi
    • Penelitian pada manusia, artikel berbahasa Inggris, telah ditelaah sejawat, tersedia dalam teks lengkap, dan memenuhi kriteria inklusi.
  • Pelaporan dan registrasi
    • Mengikuti PRISMA 2020 dan terdaftar di PROSPERO dengan nomor CRD42023458648.
  • Dari 10.681 rekaman yang ditemukan, sebanyak 17 artikel masuk dalam sintesis akhir. Ukuran sampel studi berkisar 26–4.230 peserta. Sebelas studi meneliti alergi non-IgE secara eksklusif, lima menggabungkan kelompok alergi IgE dan non-IgE, dan satu tidak menyebutkan tipe alergi secara spesifik. Tujuh dari sebelas studi non-IgE secara eksklusif meneliti EoE.
  • Peneliti tidak melakukan meta-analisis karena perbedaan karakteristik studi dan metode pengukuran terlalu besar. Penilaian kualitas menggunakan perangkat Critical Appraisal Skills Programme (CASP). Sebagian penelitian memakai instrumen tervalidasi, tetapi sebagian lainnya menggunakan definisi atau pencatatan klinis yang tidak seragam

Hasil utama dan interpretasi angka prevalensi

  • Temuan utama tinjauan sistematis
  • Artikel yang dianalisis 17 Dari 10.681 rekaman awal
  • Studi khusus non-IgE 11  Tujuh meneliti EoE
  • Alergi makanan secara umum 13,6–86,2% Rentang prevalensi kesulitan makan
  • Alergi non-IgE spesifik 22–59,3%
  • Pada studi yang mengidentifikasi tipe alergi
  • Sumber: Tomlin et al., 2026. Angka merupakan rentang antarstudi, bukan interval kepercayaan dan bukan estimasi gabungan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kesulitan makan sering dilaporkan pada anak dengan alergi makanan. Namun, rentang prevalensi yang lebar menandakan bahwa besarnya masalah sangat dipengaruhi oleh jenis penyakit, usia, karakteristik populasi, dan definisi kesulitan makan yang digunakan. Rentang 13,6%–86,2% tidak boleh dibaca sebagai angka prevalensi tunggal untuk semua anak dengan alergi.

Pada anak dengan EoE, kesulitan makan dapat berupa disfagia, makan sangat lambat, mengunyah berlebihan, menghindari makanan bertekstur padat, membutuhkan cairan untuk membantu menelan, atau mengalami impaksi makanan. Pada anak lebih kecil, manifestasinya dapat lebih samar, misalnya muntah, sulit beralih ke tekstur makanan yang sesuai usia, tersedak atau batuk saat makan, serta kesulitan tumbuh. Temuan ini penting karena anak mungkin tidak mampu menjelaskan bahwa makanan terasa sakit atau sulit ditelan.

Tabel 1. Ringkasan hasil klinis utama

Aspek Temuan yang dilaporkan Makna klinis
Kesulitan makan pada alergi makanan 13,6%–86,2% Masalah cukup sering dilaporkan, tetapi sangat heterogen.
Kesulitan makan pada alergi non-IgE 22%–59,3% Perlu perhatian khusus pada kelompok ini.
Disfagia pada EoE 41%–100% pada empat studi yang melaporkannya Gangguan menelan merupakan manifestasi penting, terutama pada anak lebih besar.
Gagging atau tersedak 8,3%–60% pada studi yang melaporkan Perlu penilaian kemampuan makan dan menelan.
Gangguan pertumbuhan pada EoE 15,5%–46,1% dalam laporan yang dirangkum Mendukung pemantauan antropometri dan dukungan dietetik.
Perbedaan usia Gangguan makan/pertumbuhan lebih tampak pada usia kecil; disfagia dan impaksi lebih menonjol pada usia lebih besar Manifestasi dapat berubah seiring perkembangan anak.
  • Catatan: Angka pada tabel berasal dari studi-studi individual yang dirangkum oleh penulis review. Penyebut dan karakteristik populasi berbeda antarhasil; angka tidak dapat langsung dibandingkan satu sama lain
  • Analisis kritis kualitas bukti
  • Penelitian ini memiliki sejumlah kekuatan metodologis. Pertama, peneliti menggunakan empat basis data ilmiah, menerapkan kriteria inklusi yang telah ditetapkan, mengikuti pedoman PRISMA 2020, dan mendaftarkan protokol pada PROSPERO. Kedua, penelitian tidak hanya membahas alergi makanan secara umum, tetapi berupaya mengidentifikasi bukti khusus pada alergi non-IgE. Ketiga, penulis mengungkapkan keterbatasan studi dan tidak memaksakan meta-analisis ketika data tidak cukup homogen.
  • Meskipun demikian, sejumlah keterbatasan perlu diperhatikan dalam menilai kekuatan kesimpulan.
  • Tabel 2. Penilaian kritis jurnal
  • Aspek Penilaian
    Strategi pencarian Empat basis data dan kriteria seleksi terstruktur merupakan kekuatan. Namun, pembatasan bahasa Inggris berpotensi menyebabkan bias bahasa.
    Jumlah studi 17 artikel memberikan gambaran awal, tetapi belum cukup untuk menghasilkan estimasi prevalensi yang stabil dan seragam.
    Diagnosis alergi Kriteria diagnosis tidak seragam; pada sebagian studi, diagnosis yang dilaporkan peneliti asli diterima meskipun kriterianya tidak dijelaskan.
    Pengukuran kesulitan makan Definisi bervariasi. Dari 12 studi yang menggunakan alat penilaian kesulitan makan, hanya tujuh menggunakan instrumen tervalidasi.
    Heterogenitas Jenis alergi, usia, desain studi, dan hasil yang dilaporkan beragam sehingga meta-analisis tidak dilakukan.
    Hubungan sebab-akibat Mayoritas bukti yang dirangkum menunjukkan prevalensi dan asosiasi, bukan pembuktian bahwa alergi menyebabkan kesulitan makan.
  • Penilaian berdasarkan metode dan keterbatasan yang dilaporkan dalam artikel utama.
  • Hal penting lainnya adalah bahwa artikel ini merupakan Research Letter, meskipun judulnya menyebut Systematic Review. Karena itu, laporan tersebut harus dibaca sesuai format publikasi dan ruang lingkup data yang disajikan, bukan dianggap sebagai pedoman klinis definitif. Tidak adanya meta-analisis juga berarti pembaca tidak memperoleh satu angka prevalensi gabungan, interval kepercayaan gabungan, atau ukuran efek keseluruhan yang dapat langsung digunakan untuk memprediksi risiko pada seorang pasien.
  • Makna klinis: alergi non-IgE dan gangguan makan
  • Temuan jurnal mendukung konsep bahwa kesulitan makan dapat menjadi bagian penting dari gambaran klinis sebagian anak dengan alergi makanan non-IgE. Akan tetapi, istilah feeding difficulties mencakup beberapa kondisi berbeda yang tidak boleh disamakan.
      • Picky eating: anak memilih jenis makanan tertentu, tetapi belum tentu mengalami penyakit organik.
      • Aversi oral: anak menghindari makanan atau aktivitas makan karena pengalaman tidak menyenangkan, sensitivitas sensorik, atau faktor lain.
      • Gangguan keterampilan makan: terdapat kesulitan mengunyah, mengelola tekstur, atau menelan.
      • Disfagia: gangguan menelan yang membutuhkan evaluasi khusus.
      • Pediatric feeding disorder (PFD): gangguan asupan oral yang tidak sesuai usia, berkaitan dengan disfungsi medis, nutrisi, keterampilan makan, atau psikososial.
      • Gangguan pertumbuhan: pertumbuhan yang tidak sesuai harapan, yang dapat terjadi akibat banyak penyebab termasuk asupan tidak memadai atau penyakit kronis.
  • Perbedaan ini memiliki konsekuensi praktis. Anak yang menolak makan karena nyeri saat menelan memerlukan pendekatan berbeda dari anak yang memilih makanan karena preferensi sensorik atau kebiasaan keluarga. Demikian pula, konstipasi dapat memperburuk nafsu makan, tetapi konstipasi saja tidak membuktikan adanya alergi makanan.
  • Pada EoE, penolakan makanan dan perubahan perilaku makan dapat merupakan cara anak beradaptasi terhadap rasa sakit atau kesulitan menelan. EoE sendiri memerlukan evaluasi klinis dan endoskopi dengan biopsi esofagus sesuai pedoman; diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejala atau tes alergi kulit.
  • Implikasi untuk praktik klinis di Indonesia
  • Hasil review ini relevan untuk pelayanan pediatri, klinik alergi, klinik gizi, dan layanan tumbuh kembang. Evaluasi sebaiknya dilakukan secara bertahap dan tidak langsung mengarahkan setiap anak dengan picky eating ke diagnosis alergi makanan.
    1. Anamnesis makan dan gejala. Catat variasi makanan, tekstur yang ditolak, durasi makan, muntah, nyeri perut, konstipasi, diare, darah pada feses, dan hubungan gejala dengan makanan tertentu.
    2. Penilaian pertumbuhan. Ukur berat dan tinggi badan secara akurat, plot pada kurva WHO, dan evaluasi perubahan lintasan pertumbuhan dari waktu ke waktu.
    3. Evaluasi keterampilan makan. Periksa kemampuan mengunyah, menelan, menerima tekstur, serta tanda tersedak atau batuk saat makan. Rujuk sesuai indikasi kepada tenaga profesional yang menangani keterampilan makan dan menelan.
    4. Evaluasi penyakit organik. Pertimbangkan konstipasi fungsional, refluks, EoE, alergi saluran cerna, gangguan motilitas, atau penyakit lain berdasarkan riwayat dan temuan klinis.
    5. Pemeriksaan alergi terarah. Tentukan apakah riwayat sesuai dengan alergi IgE atau non-IgE. Pemeriksaan IgE spesifik dan skin-prick test terutama membantu pada dugaan alergi IgE; hasil positif menunjukkan sensitisasi dan tidak selalu berarti alergi klinis.
    6. Eliminasi dan reintroduksi terencana. Jika dicurigai alergi non-IgE, eliminasi diagnostik harus terbatas, memiliki tujuan dan durasi yang jelas, disertai evaluasi ulang serta reintroduksi atau OFC yang sesuai. Hindari eliminasi jangka panjang tanpa konfirmasi.
    7. Dukungan nutrisi. Susun strategi memenuhi energi, protein, vitamin, dan mineral, terutama ketika beberapa kelompok makanan harus dihindari. Pelibatan dokter anak dan dietisien penting pada gangguan pertumbuhan atau diet eliminasi multipel.
  • Pendekatan ini konsisten dengan pesan utama artikel: identifikasi dini kesulitan makan, evaluasi penyebab yang mendasari, serta dukungan nutrisi dan intervensi makan yang tepat.
  • Penerapan pada kasus anak dengan berat badan rendah, konstipasi, dan picky eating
  • Pada anak usia 4 tahun dengan berat badan 12 kg, kesulitan makan, dan feses keras berbentuk bulatan kecil, jurnal ini memberikan landasan untuk menilai gangguan makan secara sistematis sekaligus mempertimbangkan penyakit saluran cerna yang mendasarinya. Namun, jurnal tersebut tidak dapat digunakan untuk menyatakan bahwa anak tersebut pasti mengalami alergi non-IgE.
  • Terdapat beberapa hal yang perlu diperjelas sebelum menghubungkan gejala dengan alergi makanan.
  • Pertama, status pertumbuhan perlu ditentukan berdasarkan tinggi badan, jenis kelamin, dan kurva pertumbuhan, bukan hanya berat badan. Kedua, konstipasi harus dinilai berdasarkan durasi, frekuensi BAB, nyeri, retensi feses, dan respons terhadap terapi. Ketiga, feses hitam pekat perlu dibedakan dari feses cokelat gelap akibat makanan atau suplemen; apabila menyerupai ter, lengket, atau disertai pucat, lemas, nyeri perut, atau muntah darah, diperlukan evaluasi medis segera.
  • Keempat, bila riwayat klinis mengarah pada alergi makanan, dokter dapat mempertimbangkan eliminasi diagnostik dan pengenalan kembali makanan yang dicurigai. Perbaikan nafsu makan dan berat badan selama intervensi merupakan informasi penting, tetapi belum cukup untuk memastikan mekanisme alergi non-IgE. Hubungan kausal lebih meyakinkan apabila gejala yang relevan membaik selama eliminasi, muncul kembali setelah pajanan ulang yang sesuai, dan kembali membaik setelah eliminasi dilakukan lagi. Prosedur pajanan harus disesuaikan dengan risiko alergi dan dilakukan di bawah pengawasan medis bila diperlukan.
  • Dengan demikian, penerapan paling tepat dari jurnal ini adalah memperkuat evaluasi gangguan makan dan pertumbuhan, bukan menjadikan picky eating, konstipasi, perilaku aktif, atau kulit kering sebagai penanda spesifik alergi makanan.
  • Kesimpulan review
  • Tinjauan sistematis Tomlin dan kolega tahun 2026 menunjukkan bahwa kesulitan makan sering dilaporkan pada anak dengan alergi makanan non-IgE, terutama pada kelompok dengan EoE. Prevalensi yang dilaporkan bervariasi luas, dan kesimpulan harus ditafsirkan secara hati-hati karena definisi, metode diagnosis, instrumen pengukuran, serta karakteristik populasi berbeda antarstudi.
  • Kekuatan utama artikel adalah sintesis literatur yang terstruktur dan penekanan pada masalah klinis yang sering kurang dikenali. Keterbatasan utamanya adalah heterogenitas bukti dan tidak tersedianya estimasi prevalensi gabungan yang dapat digeneralisasikan. Penelitian ini mendukung skrining kesulitan makan, pemantauan pertumbuhan, dan dukungan dietetik pada anak dengan alergi makanan. Namun, penelitian ini tidak membuktikan bahwa alergi non-IgE merupakan penyebab umum seluruh kasus picky eating atau konstipasi.
  • Implikasi praktisnya adalah bahwa anak dengan kesulitan makan dan pertumbuhan yang kurang baik memerlukan penilaian menyeluruh. Diagnosis alergi harus ditentukan melalui riwayat klinis dan prosedur konfirmasi yang sesuai, sementara intervensi nutrisi dan penanganan gangguan makan tetap menjadi bagian penting perawatan.
  • Daftar pustaka
  • 1. Tomlin ML, Bendall C, Loke P, Bennett CJ. Prevalence of Feeding Difficulties in Children With Non-IgE Mediated Food Allergies: A Systematic Review. Clinical & Experimental Allergy. 2026;56(9):1117–1124. doi: 10.1111/cea.70367.
  • 2. Hill SA, Nurmatov U, DunnGalvin A, Reese I, Vieira MC, Rommel N, et al. Feeding difficulties in children with food allergies: An EAACI Task Force Report. Pediatric Allergy and Immunology. 2024;35(4):e14119. doi: 10.1111/pai.14119.
  • 3. Ruano-Zaragoza M, Hill SA, Nurmatov U, Reese I, Vieira MC, Dupont C, et al. Systematic review of feeding difficulties in children with eosinophilic esophagitis: An EAACI Task Force report. Pediatric Allergy and Immunology. 2025;36(4):e70087. doi: 10.1111/pai.70087.
  • 4. Page MJ, McKenzie JE, Bossuyt PM, Boutron I, Hoffmann TC, Mulrow CD, et al. The PRISMA 2020 statement: An updated guideline for reporting systematic reviews. BMJ. 2021;372:n71. doi: 10.1136/bmj.n71.
  • 5. Vandenplas Y, Broekaert I, Domellöf M, et al. An ESPGHAN Position Paper on the Diagnosis, Management, and Prevention of Cow’s Milk Allergy. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2024;78(2). doi: 10.1097/MPG.0000000000003897.
  • 6. Meyer R, et al. World Allergy Organization DRACMA Guideline update VII: Milk elimination and reintroduction in the diagnostic process of cow’s milk allergy. World Allergy Organization Journal. 2023;16:100785. doi: 10.1016/j.waojou.2023.100785.
  • Catatan bibliografi: Sebelum naskah digunakan untuk publikasi ilmiah, cocokkan kembali metadata lengkap setiap referensi dengan laman penerbit, khususnya daftar penulis, nomor halaman, dan DOI. Referensi nomor 5–6 merupakan sumber tambahan untuk konteks diagnosis alergi, bukan studi yang termasuk dalam 17 artikel review Tomlin dan kolega.
Visited 1 times, 1 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *