Laporan Kasus Klinis: Konstipasi Kronis, Kesulitan Makan, Gangguan Pertumbuhan, dan Dugaan Alergi Pencernaan Non-IgE pada Anak Usia 4 Tahun
Pertanyaan Klinis
Seorang anak laki-laki atau perempuan berusia 4 tahun mengalami konstipasi kronis sejak kecil, dengan frekuensi buang air besar yang tidak teratur, kadang hanya sekali setiap 4 sampai 5 hari, bahkan pernah tidak buang air besar selama sekitar satu minggu. Anak mengalami kesulitan saat buang air besar, diduga menahan tinja atau mengalami nyeri ketika defekasi, sehingga perlu dievaluasi kemungkinan penumpukan tinja dan konstipasi fungsional yang menetap. Sejak kecil, berat badan sulit bertambah dan tubuh cenderung kurus, disertai kesulitan makan yang dapat berupa nafsu makan rendah, penolakan makanan, cepat kenyang, atau gangguan kenyamanan saluran cerna. Anak juga memiliki kulit sensitif, sering mengalami flu atau gejala saluran pernapasan berulang, bernapas melalui mulut, dan mendengkur saat tidur. Pemeriksaan dokter THT dilaporkan menunjukkan pembesaran adenoid dan rinitis. Anak sebelumnya pernah didiagnosis tuberkulosis, tetapi menurut evaluasi dokter paru, diagnosis tersebut tidak sesuai dengan kondisi klinisnya. Pada anak dengan kombinasi konstipasi kronis, kesulitan makan, gangguan pertumbuhan, gejala kulit, rinitis, pembesaran adenoid, dan infeksi saluran pernapasan berulang, apakah perlu dipertimbangkan kemungkinan food allergy-induced constipation atau alergi gastrointestinal non-IgE, gangguan interaksi usus dan otak, serta gangguan nutrisi yang saling berkaitan? Bagaimana membedakan konstipasi fungsional dari konstipasi yang berhubungan dengan alergi makanan, menentukan pemeriksaan yang diperlukan, menilai kontribusi rinitis dan adenoid terhadap kualitas tidur serta pertumbuhan, dan menyusun tata laksana terpadu yang aman tanpa melakukan eliminasi makanan berlebihan atau menetapkan diagnosis alergi, imunodefisiensi, maupun tuberkulosis tanpa bukti yang memadai?
Pembahasan Klinis
Konstipasi kronis berat merupakan masalah utama yang perlu segera dievaluasi. Anak yang buang air besar setiap 4 sampai 5 hari, bahkan sampai satu minggu, terutama jika tinjanya keras, terasa sakit, atau sulit dikeluarkan, dapat mengalami konstipasi dengan penumpukan tinja. Tinja yang tertahan membuat rektum meregang dan sensasi ingin buang air besar berkurang. Anak kemudian dapat menahan tinja karena takut sakit, sehingga terbentuk lingkaran masalah yang memperberat konstipasi. Pemeriksaan perlu menilai konsistensi tinja, nyeri saat defekasi, perilaku menahan tinja, perut kembung, kemungkinan tinja menyumbat, serta riwayat pengobatan sebelumnya. Bila terdapat nyeri perut berat, muntah hijau, perut sangat membuncit, atau anak tampak sangat sakit, evaluasi medis harus dilakukan segera.
Konstipasi fungsional merupakan penyebab tersering konstipasi kronis pada anak. Kondisi ini dapat dimulai sejak toilet training, perubahan pola makan, pengalaman buang air besar yang menyakitkan, atau kebiasaan menahan tinja. Namun, pada anak yang mengalami konstipasi berat sejak kecil, sulit makan, dan berat badan sulit naik, dokter perlu menilai kemungkinan penyebab lain. Riwayat keluarnya mekonium lebih dari 48 jam setelah lahir, konstipasi sejak bulan pertama kehidupan, tinja berbentuk pita, kelemahan tungkai, kelainan daerah anus, atau gangguan pertumbuhan yang nyata merupakan informasi penting untuk mencari penyebab organik. Pemeriksaan dapat mencakup evaluasi penyakit Hirschsprung, gangguan tiroid, penyakit celiac, kelainan anatomi, serta gangguan metabolik sesuai indikasi. Konstipasi tidak boleh langsung dianggap sebagai alergi makanan sebelum penyebab lain dinilai.
Alergi makanan yang melibatkan saluran pencernaan melalui mekanisme non-IgE merupakan salah satu kemungkinan pada kelompok anak tertentu. Berbeda dari alergi yang diperantarai IgE, gejala non-IgE dapat muncul secara tertunda dan didominasi keluhan gastrointestinal. Sebagian anak dengan alergi susu sapi yang terkonfirmasi melalui uji eliminasi dan reintroduksi mengalami konstipasi kronis yang membaik setelah makanan pemicu dihindari. Susu sapi merupakan pemicu yang paling sering dilaporkan, sedangkan telur, kedelai, dan gandum juga mungkin berperan pada sebagian anak. Meski demikian, konstipasi yang disertai kulit sensitif tidak otomatis membuktikan alergi makanan. Position paper EAACI 2024 menekankan bahwa food allergy-induced constipation perlu dipertimbangkan terutama ketika konstipasi menetap meskipun tata laksana standar telah dilakukan, atau gejala berulang setelah terapi dihentikan.
Pemeriksaan alergi perlu disesuaikan dengan jenis reaksi yang dicurigai. Skin prick test dan pemeriksaan specific IgE terutama membantu menilai sensitisasi yang berkaitan dengan alergi IgE, tetapi hasilnya tidak dapat digunakan untuk memastikan atau menyingkirkan semua bentuk alergi gastrointestinal non-IgE. Pemeriksaan IgG makanan juga tidak dianjurkan untuk menentukan makanan penyebab alergi. Jika riwayat klinis mendukung dugaan food allergy-induced constipation, dokter dapat mempertimbangkan eliminasi diagnostik dengan Oral Food Chalenge terhadap satu makanan yang paling dicurigai selama sekitar 2 sampai 4 minggu, dengan pemantauan gejala dan kecukupan nutrisi. Perbaikan selama eliminasi saja belum membuktikan hubungan sebab-akibat. Reintroduksi makanan diperlukan untuk menilai apakah gejala kembali, dan harus dilakukan di bawah pengawasan medis bila terdapat riwayat reaksi berat atau risiko alergi segera. Hindari menghilangkan banyak kelompok makanan sekaligus tanpa dasar klinis.
Kesulitan makan dan berat badan yang sulit bertambah perlu dinilai sebagai masalah tersendiri sekaligus kemungkinan faktor yang berkaitan dengan konstipasi. Anak mungkin mengurangi asupan karena perut terasa penuh, kembung, mual, nyeri, atau takut makan akibat pengalaman gastrointestinal yang tidak nyaman. Sebaliknya, asupan makanan yang rendah, pilihan makanan yang sangat terbatas, dan kurangnya serat atau cairan dapat memperberat konstipasi. Dokter perlu memeriksa grafik berat badan dan tinggi badan berdasarkan usia, menghitung perubahan persentil pertumbuhan, menilai pola makan selama beberapa hari, serta mencari tanda kekurangan zat gizi. Pemeriksaan laboratorium seperti darah lengkap, fungsi tiroid, pemeriksaan celiac, atau pemeriksaan lain dilakukan sesuai riwayat dan temuan klinis, bukan sebagai panel rutin tanpa indikasi. Pendekatan ahli gizi anak dapat membantu memperbaiki asupan energi, protein, serat, dan cairan tanpa memperburuk masalah makan.
Hubungan antara usus dan otak atau gut-brain axis dapat ikut memengaruhi pola makan dan buang air besar. Nyeri saat defekasi dapat menimbulkan kecemasan, penahanan tinja, dan penolakan untuk menggunakan toilet. Ketidaknyamanan gastrointestinal juga dapat mengurangi minat makan dan mengganggu aktivitas harian. Pada sebagian anak, masalah ini berkembang menjadi lingkaran yang melibatkan konstipasi, perilaku menahan tinja, rasa takut makan atau buang air besar, dan asupan yang tidak memadai. Namun, konsep gut-brain axis tidak boleh digunakan sebagai diagnosis tunggal yang menggantikan evaluasi medis. Penanganan perlu mencakup pengeluaran tinja yang tertahan bila ada, terapi pemeliharaan dengan obat yang sesuai berdasarkan penilaian dokter, kebiasaan duduk di toilet setelah makan, pijakan kaki yang stabil, serta pendekatan positif tanpa hukuman. Pada anak dengan kesulitan makan yang menetap, evaluasi kemampuan makan dan perilaku makan juga dapat diperlukan.
Kulit sensitif dapat menjadi petunjuk adanya penyakit atopik, misalnya dermatitis atopik, terutama bila disertai gatal, kulit kering, atau ruam yang berulang. Namun, kulit sensitif memiliki banyak kemungkinan penyebab dan tidak selalu berkaitan dengan alergi makanan. Diagnosis alergi memerlukan pola gejala yang sesuai, hubungan yang masuk akal dengan paparan makanan, dan pemeriksaan terarah bila diperlukan. Menghindari susu, telur, gandum, dan berbagai makanan lain tanpa bukti dapat mengurangi asupan energi, protein, kalsium, vitamin, dan zat gizi lain pada anak yang sudah sulit tumbuh. Karena itu, evaluasi kulit dan saluran pencernaan sebaiknya dilakukan secara terkoordinasi. Dokter dapat menentukan apakah terdapat indikasi rujukan ke spesialis alergi-imunologi anak dan apakah uji eliminasi makanan layak dilakukan dengan pemantauan pertumbuhan.
ANALISIS DAN DISKUSI
Hubungan Alergi Makanan dengan Konstipasi Kronis, Kesulitan Makan, Gangguan Pertumbuhan, dan Keluhan Pernapasan Berulang pada Anak
- Gambaran Klinis dan Perjalanan Penyakit
- Anak mengalami konstipasi kronis berat, dengan frekuensi buang air besar setiap 4 sampai 5 hari, bahkan dapat mencapai satu minggu. Keluhan tersebut disertai kesulitan makan, nafsu makan rendah, kenaikan berat badan yang kurang optimal, kulit sensitif, rinitis berulang, kebiasaan bernapas melalui mulut, dan mendengkur. Pemeriksaan dokter THT sebelumnya menemukan rinitis dan pembesaran adenoid. Kombinasi gejala ini menunjukkan keterlibatan beberapa sistem organ yang memerlukan evaluasi terpadu, terutama saluran pencernaan, pertumbuhan, kulit, dan saluran pernapasan atas.
- Temuan klinis yang paling penting adalah perubahan kondisi anak setelah makanan yang dicurigai sebagai pemicu dihindari. Selama periode pengamatan sekitar empat minggu, keluhan membaik secara bertahap. Nafsu makan mulai meningkat pada minggu pertama hingga kedua. Konstipasi masih berlangsung pada fase awal, tetapi frekuensi dan keluhannya menunjukkan perbaikan dibandingkan kondisi sebelumnya. Perbaikan konstipasi menjadi lebih nyata pada minggu ketiga hingga keempat. Bersamaan dengan perubahan tersebut, berat badan meningkat sekitar 200 sampai 250 gram per minggu, apabila angka ini sesuai dengan catatan pemantauan aktual.
- Pola perubahan ini memberikan petunjuk klinis penting. Perbaikan yang berlangsung pada beberapa aspek secara bersamaan setelah eliminasi makanan meningkatkan kecurigaan terhadap kemungkinan hubungan antara paparan makanan dan gejala anak. Namun, setiap gejala tetap perlu dinilai secara terpisah karena respons tersebut belum membuktikan bahwa seluruh keluhan berasal dari satu mekanisme alergi.
- Analisis Alergi Makanan dan Konstipasi Kronis
- Konstipasi berat merupakan salah satu manifestasi gastrointestinal yang perlu dipertimbangkan dalam evaluasi alergi makanan pada anak tertentu. Sebagian anak dengan alergi makanan, terutama alergi susu sapi yang melibatkan mekanisme non-IgE, dapat mengalami konstipasi kronis. Mekanisme yang mungkin berperan mencakup respons imun pada saluran pencernaan, perubahan fungsi usus, dan timbulnya nyeri atau ketidaknyamanan saat defekasi.
- Pada anak ini, membaiknya konstipasi setelah eliminasi makanan memberikan dukungan terhadap dugaan tersebut. Perbaikan yang baru terlihat lebih jelas pada minggu ketiga hingga keempat juga menunjukkan bahwa respons gastrointestinal dapat berlangsung bertahap. Gejala yang telah berlangsung lama mungkin tidak segera menghilang setelah pemicu dihindari, terutama jika sebelumnya telah terjadi penumpukan tinja, peregangan rektum, dan kebiasaan menahan buang air besar.
- Meskipun demikian, perbaikan bertahap tidak secara khusus membuktikan mekanisme non-IgE. Konstipasi fungsional dapat membaik karena perubahan pola makan, asupan cairan, penggunaan obat pencahar, atau perubahan rutinitas buang air besar. Oleh karena itu, laporan perlu mencatat apakah intervensi tersebut juga dilakukan selama masa pengamatan.
- Apabila konstipasi membaik setelah eliminasi makanan, kemudian kambuh kembali setelah makanan yang sama diberikan dan kembali membaik setelah eliminasi ulang, hubungan sebab-akibat menjadi lebih kuat. Reintroduksi terencana atau OFC yang sesuai dapat membantu mengonfirmasi diagnosis. Pelaksanaannya harus mempertimbangkan riwayat reaksi, risiko alergi segera, status gizi, dan kondisi klinis anak.
- Hubungan dengan Kesulitan Makan dan Gangguan Pertumbuhan
- Kesulitan makan dan berat badan yang sulit naik merupakan bagian penting dari gambaran klinis. Konstipasi berat dapat menimbulkan rasa penuh, kembung, nyeri perut, dan cepat kenyang. Kondisi ini dapat menurunkan minat makan dan membentuk hubungan timbal balik antara gangguan pencernaan dan asupan makanan yang tidak memadai.
- Pada kasus ini, peningkatan nafsu makan sejak minggu pertama hingga kedua setelah eliminasi makanan merupakan temuan yang mendukung kemungkinan berkurangnya ketidaknyamanan gastrointestinal. Ketika anak mulai merasa lebih nyaman, minat terhadap makanan dapat meningkat. Kenaikan berat badan sekitar 200 sampai 250 gram per minggu selanjutnya memberikan bukti objektif yang mendukung adanya perbaikan asupan atau keseimbangan energi selama periode tersebut.
- Namun, kenaikan berat badan saja belum membuktikan alergi makanan sebagai penyebab utama gangguan pertumbuhan. Penilaian harus menggunakan berat badan serial, tinggi badan, indeks antropometri sesuai usia, dan grafik pertumbuhan. Perlu pula dipastikan bahwa peningkatan berat badan bukan hanya perubahan sementara akibat hidrasi atau faktor lain.
- Jika perbaikan nafsu makan dan pertumbuhan berlangsung bersamaan dengan membaiknya konstipasi, pola ini memperkuat dugaan bahwa gangguan gastrointestinal sebelumnya turut membatasi asupan dan pertumbuhan anak. Hubungan tersebut tetap perlu dibedakan dari penyebab lain, termasuk gangguan perilaku makan, asupan energi yang tidak mencukupi, dan penyakit organik.
- Hubungan dengan Rinitis Berulang dan Pembesaran Adenoid
- Rinitis berulang, kebiasaan bernapas melalui mulut, dan mendengkur menunjukkan adanya gangguan pada saluran pernapasan atas. Pembesaran adenoid dapat menghambat aliran udara hidung, sedangkan rinitis dapat menambah sumbatan melalui peradangan mukosa hidung. Kondisi ini dapat mengganggu kualitas tidur dan memengaruhi kesejahteraan serta perilaku anak pada siang hari.
- Pada anak dengan riwayat dugaan alergi makanan, keberadaan keluhan pernapasan dan gastrointestinal secara bersamaan menimbulkan pertanyaan mengenai kemungkinan kecenderungan atopik atau keterlibatan lebih dari satu proses inflamasi. Akan tetapi, alergi makanan tidak dapat langsung ditetapkan sebagai penyebab rinitis berulang maupun pembesaran adenoid.
- Jika keluhan hidung juga membaik selama eliminasi makanan, perubahan tersebut perlu didokumentasikan secara objektif. Catatan dapat mencakup frekuensi hidung tersumbat, bersin, pilek, kebutuhan obat, kebiasaan bernapas melalui mulut, dan kualitas tidur. Perubahan gejala secara bersamaan merupakan temuan klinis yang menarik, tetapi belum membuktikan hubungan sebab-akibat.
- Evaluasi dokter THT tetap diperlukan untuk menilai derajat pembesaran adenoid, kemungkinan rinitis alergi atau nonalergi, dan kemungkinan gangguan napas saat tidur. Bila terdapat dengkuran hampir setiap malam, jeda napas, atau tidur gelisah, evaluasi gangguan napas saat tidur perlu diprioritaskan.
- Interpretasi Perbaikan Bertahap Selama Empat Minggu
- Urutan perbaikan gejala pada kasus ini merupakan salah satu aspek yang paling penting untuk dibahas.
- Pada minggu pertama hingga kedua, nafsu makan mulai meningkat. Perubahan ini dapat menunjukkan berkurangnya ketidaknyamanan saat makan atau membaiknya toleransi terhadap pola makan yang baru. Konstipasi belum sepenuhnya teratasi, sehingga respons gastrointestinal tidak dapat dinilai hanya dari frekuensi buang air besar pada fase awal.
- Pada minggu ketiga hingga keempat, konstipasi menunjukkan perbaikan yang lebih nyata. Perubahan tersebut mungkin berkaitan dengan berkurangnya faktor pemicu, membaiknya asupan, perubahan pola makan, atau terapi konstipasi yang diberikan. Jika berat badan meningkat secara konsisten selama periode yang sama, rangkaian perubahan tersebut memperkuat bukti bahwa kondisi klinis dan status gizi anak sedang membaik.
- Pola ini penting karena respons klinis tidak selalu terjadi serentak pada semua organ. Akan tetapi, urutan waktu saja tidak dapat menentukan mekanisme penyakit. Kesimpulan harus mempertimbangkan makanan yang dihindari, terapi penyerta, kondisi awal, dan respons setelah reintroduksi.
- Evaluasi Tuberkulosis dan Penyebab Lain
- Riwayat dugaan tuberkulosis perlu ditinjau berdasarkan hasil evaluasi dokter paru dan bukti pemeriksaan yang tersedia. Jika dokter paru telah menilai bahwa diagnosis TB sebelumnya tidak sesuai, laporan dapat menyebutkan bahwa diagnosis tersebut tidak lagi didukung oleh evaluasi klinis yang tersedia, dengan mencantumkan dasar pemeriksaannya jika diketahui.
- Namun, perbaikan setelah eliminasi makanan tidak dapat digunakan sebagai bukti tunggal untuk menyingkirkan tuberkulosis. Penilaian tetap harus mempertimbangkan riwayat kontak erat, lama batuk, demam berkepanjangan, pemeriksaan radiologi, dan pemeriksaan mikrobiologi atau tes lain sesuai indikasi.
- Penyebab lain konstipasi berat dan gangguan pertumbuhan juga perlu dipertimbangkan berdasarkan riwayat dan pemeriksaan fisik. Hal ini mencakup konstipasi fungsional dengan penumpukan tinja, penyakit Hirschsprung pada anak dengan petunjuk klinis yang sesuai, gangguan tiroid, penyakit celiac, serta masalah asupan dan perilaku makan. Evaluasi tersebut penting agar dugaan alergi makanan tidak menghambat identifikasi penyakit lain yang memerlukan penanganan khusus.
Kesimpulan Analisis Klinis
- Pada anak ini, konstipasi kronis berat, kesulitan makan, gangguan pertumbuhan, kulit sensitif, rinitis berulang, dan pembesaran adenoid membentuk gambaran klinis multisistem. Perbaikan bertahap setelah eliminasi makanan, yang ditandai dengan peningkatan nafsu makan pada minggu pertama hingga kedua, perbaikan konstipasi pada minggu ketiga hingga keempat, dan kenaikan berat badan sekitar 200 sampai 250 gram per minggu, merupakan temuan yang memperkuat dugaan adanya hubungan antara makanan dan keluhan klinis.
- Respons tersebut mendukung pertimbangan alergi makanan dengan manifestasi gastrointestinal, termasuk kemungkinan konstipasi yang berkaitan dengan alergi makanan. Namun, kekuatan diagnosis bergantung pada dokumentasi intervensi, pengendalian faktor perancu, dan hasil reintroduksi makanan atau OFC yang sesuai. Perbaikan rinitis dan keluhan pernapasan, jika benar terjadi, perlu dicatat secara terpisah dan tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti alergi makanan.
- Secara klinis, prioritasnya adalah mempertahankan perbaikan konstipasi, memastikan pertumbuhan berlangsung sesuai target individual, menjaga kecukupan nutrisi, dan mengevaluas
Prioritas Diagnosis Banding
- Diagnosis yang perlu dipertimbangkan meliputi konstipasi fungsional dengan kemungkinan penumpukan tinja, food allergy-induced constipation pada anak terpilih, gangguan asupan atau perilaku makan, serta gangguan pertumbuhan. Penyakit organik seperti penyakit Hirschsprung, hipotiroidisme, atau penyakit celiac perlu dievaluasi berdasarkan riwayat dan temuan klinis. Pada sisi pernapasan, rinitis dan pembesaran adenoid dapat menjelaskan napas melalui mulut serta mendengkur, tetapi tingkat gangguan tidur perlu dinilai secara khusus.
- Data yang masih dibutuhkan mencakup usia saat konstipasi mulai terjadi, waktu keluarnya mekonium setelah lahir, konsistensi dan ukuran tinja, nyeri atau darah saat BAB, riwayat terapi konstipasi, pola makan harian, grafik berat dan tinggi badan, riwayat eksim atau reaksi terhadap makanan tertentu, serta hasil pemeriksaan THT dan paru. Tanpa data tersebut, diagnosis akhir belum dapat ditetapkan secara bertanggung jawab.
Pesan klinis utama
- Pada kasus ini, tiga prioritasnya adalah mengatasi konstipasi berat, mencari penyebab gangguan pertumbuhan, dan mengevaluasi sumbatan hidung serta dengkuran. Alergi pencernaan non-IgE layak dipertimbangkan bila konstipasi tidak membaik dengan terapi standar, tetapi belum dapat dipastikan dari gejala saja.
- Jika anak sudah seminggu tidak buang air besar dan mengalami nyeri berat, muntah, perut membuncit, atau tidak bisa makan dan minum dengan baik, bawa anak untuk diperiksa segera. Jangan menunda evaluasi demi mencoba diet eliminasi sendiri.
Daftar Pustaka Utama
- Meyer R, Vandenplas Y, Chebar Lozinsky A, Vieira MC, Berni Canani R, du Toit G, et al. Diagnosis and management of food allergy-induced constipation in young children: An EAACI position paper. Pediatric Allergy and Immunology. 2024;35(6). doi:10.1111/pai.14163. PMID:38825829. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38825829/
- Tabbers MM, DiLorenzo C, Berger MY, Faure C, Langendam MW, Nurko S, et al. Evaluation and treatment of functional constipation in infants and children: Evidence-based recommendations from ESPGHAN and NASPGHAN. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2014;58(2):258-274. doi:10.1097/MPG.0000000000000266. PMID:24345831. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24345831/
- Meyer R, Chebar Lozinsky A, Fleischer DM, Vieira MC, Du Toit G, Vandenplas Y, et al. Diagnosis and management of non-IgE-mediated gastrointestinal allergies in breastfed infants: An EAACI position paper. Allergy. 2020;75(1):14-32. doi:10.1111/all.13947.
- World Health Organization. WHO Guideline for Complementary Feeding of Infants and Young Children 6–23 Months of Age. Geneva: World Health Organization; 2023. ISBN: 978-92-4-008186-4. https://www.who.int/publications/i/item/9789240081864











Leave a Reply