- Mimisan (Epistaksis) pada Anak dan Hubungannya dengan Rinitis Alergi serta Alergi Makanan: Mekanisme Patofisiologi, Bukti Klinis, Diagnosis, dan Tata Laksana
- dr Audi Yudhasmara, Dr Widodo Judarwanto, pediatrician
Mimisan atau epistaksis merupakan perdarahan dari rongga hidung yang sering terjadi pada anak. Kondisi ini umumnya berasal dari pecahnya pembuluh darah superfisial pada bagian anterior septum nasi, khususnya pleksus Kiesselbach. Rinitis alergi dapat berhubungan dengan mimisan berulang melalui inflamasi mukosa hidung, rasa gatal, bersin, kebiasaan menggosok hidung, dan trauma mekanis. Sebaliknya, alergi makanan bukan penyebab langsung yang lazim dari epistaksis dan tidak boleh didiagnosis hanya berdasarkan gejala mimisan. Reaksi terhadap makanan dapat menimbulkan gejala pada saluran napas atas, tetapi hubungan antara alergi makanan dan perdarahan hidung meski masih terbatas tapi sudah mulai banyak dilaporkam. Faktor lain, seperti udara kering, infeksi saluran napas atas, trauma lokal, penggunaan obat intranasal, gangguan koagulasi, dan kelainan vaskular, perlu dipertimbangkan dalam evaluasi klinis. Artikel ini membahas mekanisme biologis yang menghubungkan rinitis alergi dengan epistaksis, keterbatasan bukti mengenai alergi makanan, peran senyawa makanan terhadap hemostasis, serta pendekatan diagnosis dan tata laksana berbasis bukti. Pemahaman terhadap hubungan tersebut dapat membantu tenaga kesehatan membedakan asosiasi klinis dari hubungan sebab-akibat dan mencegah pembatasan makanan yang tidak diperlukan.
Kata kunci: epistaksis, mimisan, rinitis alergi, alergi makanan, mukosa hidung, hemostasis, anak.
Epistaksis merupakan salah satu keluhan yang sering dijumpai dalam praktik pediatri dan otorinolaringologi. Sebagian besar kasus pada anak berasal dari bagian anterior rongga hidung dan berkaitan dengan trauma lokal ringan, kebiasaan mengorek hidung, iritasi mukosa, atau kondisi lingkungan yang menyebabkan kekeringan. Walaupun umumnya dapat berhenti secara spontan, mimisan yang berulang memerlukan evaluasi terhadap faktor lokal dan sistemik, terutama jika perdarahan berlangsung lama, terjadi dalam jumlah banyak, atau disertai gejala perdarahan lainnya.
Rinitis alergi merupakan penyakit inflamasi mukosa hidung yang diperantarai oleh mekanisme imunologis, umumnya melibatkan IgE pada rinitis alergi klasik. Manifestasi klinis meliputi bersin berulang, rinore, hidung gatal, dan obstruksi hidung. Pada anak, inflamasi tersebut dapat meningkatkan risiko mimisan melalui iritasi mukosa, gesekan berulang, dan trauma akibat menggosok atau membuang lendir dari hidung. Penelitian observasional telah melaporkan hubungan antara rinitis alergi dan epistaksis berulang pada anak, tetapi hubungan tersebut tidak berarti bahwa setiap kasus mimisan disebabkan oleh alergi.
Hubungan alergi makanan dengan epistaksis memerlukan penilaian yang lebih hati-hati. Alergi makanan dapat menyebabkan urtikaria, angioedema, muntah, gejala respiratorik, dan anafilaksis. Namun, mimisan bukan manifestasi utama yang khas untuk alergi makanan klasik. Laporan mengenai makanan tertentu yang diduga memicu perdarahan hidung juga tidak selalu menunjukkan mekanisme alergi. Oleh karena itu, pendekatan klinis harus membedakan reaksi alergi yang terkonfirmasi, iritasi lokal setelah konsumsi makanan, efek farmakologis suatu zat, dan kebetulan temporal antara konsumsi makanan dengan terjadinya perdarahan.
- Tujuan Penulisan
- Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan:
- Mekanisme hubungan rinitis alergi dengan mimisan berulang.
- Bukti ilmiah mengenai kemungkinan hubungan alergi makanan dengan epistaksis.
- Peran iritasi mukosa hidung, trauma mekanis, dan faktor yang memengaruhi hemostasis.
- Diagnosis banding dan pemeriksaan yang sesuai.
- Pendekatan pencegahan dan tata laksana mimisan pada anak.
- Metode Penelusuran Literatur
- Pembahasan ini menggunakan pendekatan tinjauan naratif dengan mengacu pada penelitian observasional, publikasi ilmiah, dan sumber medis mengenai epistaksis, rinitis alergi, serta reaksi merugikan terhadap makanan. Literatur utama mencakup penelitian Murray dan Milner mengenai rinitis alergi dan epistaksis berulang pada anak, penelitian Qing dan kolega pada tahun 2023, serta kajian mengenai pengaruh makanan terhadap keparahan perdarahan pada pasien dengan hereditary hemorrhagic telangiectasia (HHT). Temuan dari penelitian tersebut ditafsirkan sesuai desain penelitian, jumlah subjek, dan keterbatasan bukti yang tersedia.
- Anatomi dan patofisiologi epistaksis
- Epistaksis terjadi ketika pembuluh darah pada mukosa hidung mengalami kerusakan. Pada anak, perdarahan paling sering berasal dari bagian anterior septum nasi, terutama pleksus Kiesselbach yang memiliki jaringan pembuluh darah superfisial. Area ini rentan mengalami trauma akibat mengorek hidung, menggosok hidung, membuang lendir dengan kuat, dan kekeringan mukosa.
- Perdarahan dapat terjadi ketika integritas epitel dan pembuluh darah terganggu. Respons hemostasis normal melibatkan vasokonstriksi lokal, adhesi dan agregasi trombosit, serta pembentukan fibrin. Gangguan pada salah satu tahapan tersebut dapat memperpanjang perdarahan. Namun, pada sebagian besar anak dengan mimisan ringan, penyebabnya adalah trauma lokal dan iritasi mukosa, bukan kelainan pembekuan darah.
- Mekanisme hubungan rinitis alergi dengan mimisan
- Rinitis alergi dapat meningkatkan risiko epistaksis melalui beberapa mekanisme yang saling berkaitan. Paparan alergen pada individu yang telah tersensitisasi dapat memicu aktivasi sel mast dan pelepasan mediator inflamasi, termasuk histamin. Proses ini menimbulkan bersin, rasa gatal, rinore, dan pembengkakan mukosa hidung.
- Rasa gatal mendorong anak menggosok atau mengorek hidung berulang kali. Bersin yang sering dan kebiasaan membuang lendir juga dapat menambah trauma mekanis. Pada saat yang sama, inflamasi lokal, pembentukan krusta, dan kekeringan dapat membuat mukosa lebih rentan terhadap perdarahan.
- Meskipun mekanisme ini masuk akal secara biologis, tidak semua anak dengan rinitis alergi mengalami mimisan. Sebaliknya, mimisan berulang juga dapat terjadi pada anak tanpa penyakit alergi. Karena itu, dokter perlu mengidentifikasi faktor lokal yang secara langsung menyebabkan perdarahan.
- Bukti penelitian mengenai rinitis alergi dan epistaksis pada anak
- Murray dan Milner meneliti 557 anak yang dirujuk ke klinik alergi. Mereka menemukan bahwa mimisan berulang lebih sering terjadi pada anak yang memiliki gejala hidung sekaligus hasil uji kulit positif terhadap alergen inhalan. Proporsi mimisan berulang mencapai 20,2% pada kelompok dengan kedua karakteristik tersebut, dibandingkan 9,9% pada anak dengan gejala hidung tanpa hasil uji kulit positif, 3,4% pada anak dengan hasil uji kulit positif tanpa gejala hidung, dan 2,1% pada anak tanpa kedua karakteristik tersebut. Temuan ini mendukung adanya asosiasi antara rinitis alergi dan epistaksis berulang, tetapi tidak membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.
- Penelitian Qing dan kolega pada tahun 2023 mengevaluasi 80 anak berusia 3 sampai 14 tahun yang datang dengan epistaksis. Sebanyak 57 anak atau 71,25% memenuhi kriteria rinitis alergi. Kelompok rinitis alergi menunjukkan gejala rinore, bersin, hidung tersumbat, dan gatal hidung yang lebih menonjol. Setelah penyesuaian terhadap faktor perancu, keparahan rinore berhubungan dengan kemungkinan diagnosis rinitis alergi, dengan odds ratio 3,86 dan interval kepercayaan 95% sebesar 1,61 sampai 9,26.
- Angka 71,25% tersebut berasal dari populasi anak yang telah datang ke rumah sakit karena mimisan. Angka itu tidak dapat digunakan untuk menyatakan bahwa 71,25% dari seluruh anak yang mengalami mimisan di masyarakat pasti memiliki rinitis alergi. Ukuran sampel yang relatif kecil dan desain observasional juga membatasi kesimpulan kausal.
Tabel 1. Ringkasan bukti penelitian mengenai rinitis alergi dan epistaksis
| Aspek penelitian | Murray dan Milner, 1995 | Qing dan kolega, 2023 |
|---|---|---|
| Desain | Penelitian observasional pada anak yang dirujuk ke klinik alergi | Studi retrospektif pada anak dengan epistaksis |
| Jumlah peserta | 557 anak | 80 anak |
| Temuan utama | Mimisan berulang lebih sering pada anak dengan gejala hidung dan uji kulit positif | 57 dari 80 anak memenuhi kriteria rinitis alergi |
| Faktor yang berkaitan | Gejala hidung dan sensitisasi terhadap alergen inhalan | Keparahan rinore berkaitan dengan diagnosis rinitis alergi |
| Kekuatan bukti | Mendukung asosiasi klinis | Mendukung asosiasi klinis |
| Keterbatasan | Populasi rujukan klinik alergi tidak mewakili seluruh anak | Sampel kecil, retrospektif, dan tidak membuktikan kausalitas |
Sumber: Murray dan Milner (1995), serta Qing dan kolega (2023).
- Apakah alergi makanan dapat menyebabkan mimisan?
- Alergi makanan merupakan respons imunologis terhadap protein makanan tertentu. Reaksinya dapat melibatkan kulit, saluran gastrointestinal, saluran pernapasan, atau sistem kardiovaskular. Gejala yang lebih khas meliputi urtikaria, angioedema, muntah, nyeri perut, mengi, dan anafilaksis.
- Epistaksis tidak termasuk manifestasi utama alergi makanan klasik. Pada sebagian keadaan, reaksi makanan mungkin disertai gejala hidung, tetapi bukti bahwa alergi makanan secara langsung menyebabkan perdarahan hidung masih terbatas. Jika mimisan terjadi setelah konsumsi makanan tertentu, hubungan waktunya perlu dievaluasi bersama gejala lain dan mekanisme yang mungkin terlibat.
- Sebagai contoh, anak yang mengalami bersin, hidung gatal, lalu menggosok hidung sampai berdarah lebih mungkin mengalami perdarahan akibat trauma lokal pada mukosa yang teriritasi. Urutan tersebut tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa makanan yang dikonsumsi merupakan penyebab alergi.
-
Høst, dalam artikel “Mechanisms in Adverse Reactions to Food: The Nose” yang diterbitkan dalam jurnal Allergy pada 1995, menjelaskan bahwa rinitis atau peradangan mukosa hidung dapat terjadi pada pasien dengan alergi makanan, tetapi rinitis jarang menjadi satu-satunya manifestasi reaksi terhadap makanan. Pada reaksi sistemik anafilaksis, gejala hidung diduga muncul akibat mediator inflamasi yang beredar melalui aliran darah. Pada reaksi nonanafilaksis, gejala hidung diperkirakan berkaitan dengan interaksi alergen makanan yang mencapai mukosa hidung melalui sirkulasi darah. Temuan ini menunjukkan bahwa makanan dapat berkontribusi terhadap gejala hidung pada kondisi tertentu, tetapi tidak membuktikan bahwa setiap pilek, bersin, atau mimisan disebabkan oleh alergi makanan.
-
Dalam konteks mimisan atau epistaksis, penelitian Høst memberikan dasar untuk memahami kemungkinan keterlibatan reaksi makanan pada mukosa hidung, tetapi tidak secara langsung membuktikan bahwa alergi makanan menyebabkan perdarahan hidung. Mimisan dapat terjadi secara tidak langsung ketika peradangan hidung menimbulkan gatal, bersin berulang, dan kebiasaan menggosok hidung sehingga pembuluh darah superfisial mengalami trauma. Oleh karena itu, evaluasi perlu membedakan rinitis akibat alergi makanan, rinitis alergi terhadap alergen inhalan, dan penyebab epistaksis lainnya. Diagnosis alergi makanan harus berdasarkan riwayat klinis dan pemeriksaan yang sesuai, bukan hanya gejala hidung atau hasil tes alergi tanpa korelasi klinis.
- Makanan, salisilat, dan fungsi trombosit
- Salisilat merupakan kelompok senyawa yang memiliki aktivitas biologis beragam. Asam asetilsalisilat, yang dikenal sebagai aspirin, dapat menghambat fungsi trombosit melalui penghambatan siklooksigenase secara ireversibel. Efek ini berbeda dari paparan salisilat alami dalam makanan.
- Sejumlah makanan dan bahan pangan mengandung senyawa yang dalam literatur sering dibahas terkait aktivitas antiplatelet atau kandungan salisilat. Namun, kandungan zat tersebut tidak otomatis menghasilkan efek antiplatelet klinis yang cukup kuat untuk menyebabkan mimisan pada anak sehat. Bukti yang menunjukkan bahwa konsumsi makanan tertentu secara rutin memicu epistaksis pada populasi umum masih tidak memadai.
- Oleh karena itu, orang tua tidak perlu menghindari anggur, cokelat, kopi, jahe, bawang putih, atau rempah-rempah hanya karena anak mengalami mimisan. Pembatasan makanan perlu didasarkan pada alergi yang terkonfirmasi, hubungan gejala yang konsisten, atau indikasi medis tertentu.
- Kondisi khusus pada hereditary hemorrhagic telangiectasia
- Hereditary hemorrhagic telangiectasia atau HHT merupakan kelainan genetik pembuluh darah yang ditandai oleh telangiektasia dan malformasi arteriovenosa. Mimisan berulang merupakan salah satu manifestasi klinis yang penting. Pada pasien dengan HHT, penelitian telah mengeksplorasi hubungan antara gaya hidup, pola makan, dan tingkat keparahan epistaksis.
- Temuan dari kelompok pasien khusus tersebut tidak dapat langsung diterapkan pada anak yang mengalami mimisan biasa atau rinitis alergi. HHT memiliki mekanisme kelainan pembuluh darah yang berbeda dari trauma lokal dan inflamasi mukosa pada rinitis alergi. Karena itu, bukti mengenai faktor makanan pada HHT tidak dapat dijadikan dasar untuk menyusun diet pembatasan pada semua anak dengan epistaksis.
Tabel 2. Perbedaan kemungkinan mekanisme mimisan
| Faktor | Mekanisme yang mungkin | Kekuatan bukti dan interpretasi |
|---|---|---|
| Mengorek atau menggosok hidung | Trauma langsung pada pembuluh darah superfisial | Penyebab lokal yang umum |
| Rinitis alergi | Gatal, bersin, rinore, inflamasi, dan trauma berulang | Terdapat bukti observasional tentang asosiasi |
| Udara kering | Kekeringan mukosa dan pembentukan krusta | Faktor lokal yang masuk akal dan dikenal secara klinis |
| Infeksi saluran napas atas | Inflamasi, sekret, dan iritasi mukosa | Penyebab atau faktor pencetus yang umum |
| Alergi makanan | Reaksi imunologis dapat menimbulkan gejala sistemik dan kadang gejala hidung | Mimisan bukan manifestasi khas, bukti hubungan langsung terbatas |
| Obat yang memengaruhi hemostasis | Gangguan fungsi trombosit atau pembekuan darah | Relevan sesuai jenis obat dan kondisi pasien |
| HHT | Kelainan struktural pembuluh darah | Pertimbangkan jika terdapat petunjuk klinis dan riwayat keluarga |
- Diagnosis banding dan pendekatan pemeriksaan
- Evaluasi epistaksis harus dimulai dengan anamnesis mengenai frekuensi, durasi, jumlah perdarahan, sisi hidung yang berdarah, faktor pencetus, dan gejala penyerta. Dokter perlu menanyakan kebiasaan mengorek hidung, gejala rinitis alergi, infeksi saluran napas, penggunaan semprotan hidung, serta riwayat penggunaan obat yang memengaruhi pembekuan darah.
- Pemeriksaan fisik dapat mengidentifikasi lokasi perdarahan, krusta, pembengkakan mukosa, pembuluh darah superfisial, benda asing, atau kelainan lokal lain. Endoskopi hidung dapat dipertimbangkan jika perdarahan berulang, sumber perdarahan tidak terlihat, atau terdapat kecurigaan kelainan struktural.
- Pemeriksaan darah lengkap, jumlah trombosit, dan tes koagulasi tidak diperlukan pada setiap episode mimisan ringan. Dokter mempertimbangkannya jika perdarahan sering atau berat, terdapat tanda anemia, riwayat mudah memar atau perdarahan di tempat lain, atau riwayat keluarga dengan gangguan perdarahan. Pemeriksaan alergi juga harus disesuaikan dengan gejala. Tes kulit dan IgE spesifik dapat membantu mengevaluasi rinitis alergi apabila riwayat klinis mendukung, tetapi tidak digunakan untuk menentukan penyebab mimisan secara mandiri.
- Prinsip tata laksana dan pencegahan mimisan
- Penanganan epistaksis perlu menargetkan sumber perdarahan dan faktor pencetusnya. Pada anak dengan rinitis alergi, pengendalian inflamasi hidung dapat mengurangi gatal, bersin, dan kebiasaan menggosok hidung. Dokter dapat mempertimbangkan larutan saline, pelembap mukosa, atau obat rinitis alergi sesuai kondisi klinis. Semprotan kortikosteroid intranasal dapat membantu mengendalikan rinitis alergi, tetapi teknik penyemprotan perlu diperhatikan karena arah semprotan yang mengenai septum dapat memicu iritasi dan perdarahan.
- Pencegahan juga mencakup menjaga kelembapan mukosa, menghindari kebiasaan mengorek hidung, dan mengurangi trauma akibat membuang lendir terlalu kuat. Jika mimisan terus berulang meskipun faktor lokal telah ditangani, dokter THT dapat mempertimbangkan pemeriksaan endoskopi untuk menemukan sumber perdarahan. Kauterisasi dapat menjadi pilihan apabila dokter menemukan pembuluh darah yang menjadi sumber perdarahan.
Pertolongan pertama saat anak mengalami mimisan
Tabel 3. Langkah penanganan mimisan di rumah.
| Tahap | Tindakan |
|---|---|
| Posisi | Dudukkan anak dan condongkan kepala sedikit ke depan. |
| Penekanan | Jepit bagian lunak hidung menggunakan ibu jari dan telunjuk selama 10 sampai 15 menit tanpa melepaskannya berulang kali. |
| Pernapasan | Minta anak bernapas melalui mulut dan meludahkan darah yang masuk ke mulut. |
| Setelah perdarahan berhenti | Hindari mengorek hidung, membuang lendir dengan kuat, atau melepaskan keropeng selama 24 jam. |
| Jika perdarahan berulang | Catat frekuensi, durasi, dan faktor pencetus. Periksakan anak ke dokter. |
- Panduan ini sesuai dengan rekomendasi pertolongan pertama untuk epistaksis.
- Segera cari pertolongan medis jika perdarahan berlangsung lebih dari 10 sampai 15 menit meskipun penekanan sudah dilakukan dengan benar, darah keluar sangat banyak, anak tampak lemah atau pusing, mengalami kesulitan bernapas, atau mimisan terjadi setelah cedera kepala. Mimisan yang berulang, disertai mudah memar atau perdarahan di tempat lain, juga memerlukan evaluasi medis.
- Implikasi klinis untuk evaluasi alergi makanan
- Mimisan yang berulang setelah makan makanan tertentu perlu dicatat secara sistematis. Catatan dapat memuat jenis makanan, jumlah yang dikonsumsi, waktu munculnya gejala, durasi perdarahan, serta gejala penyerta seperti biduran, pembengkakan bibir, muntah, atau sesak napas. Pola yang konsisten dapat membantu dokter menentukan apakah evaluasi alergi makanan diperlukan.
- Pemeriksaan IgE spesifik dan uji tusuk kulit dapat membantu mengevaluasi dugaan alergi makanan yang diperantarai IgE, tetapi hasil positif tidak membuktikan bahwa makanan tersebut menyebabkan mimisan. Oral Food Challenge merupakan metode rujukan untuk mengonfirmasi alergi makanan pada kasus yang memerlukan konfirmasi. Pemeriksaan ini harus dilakukan di bawah pengawasan tenaga medis yang kompeten
- Tidak ada dasar ilmiah yang memadai untuk menganjurkan diet eliminasi luas hanya karena anak mengalami epistaksis. Jika tidak terdapat bukti alergi makanan, fokus utama sebaiknya diarahkan pada pemeriksaan hidung, pengendalian rinitis alergi jika terdiagnosis, dan identifikasi penyebab lokal maupun sistemik lainnya.
- Kesimpulan
- Mimisan pada anak paling sering berkaitan dengan trauma lokal dan kerusakan pembuluh darah superfisial di rongga hidung. Rinitis alergi dapat meningkatkan risiko epistaksis melalui inflamasi mukosa, bersin, rasa gatal, dan kebiasaan menggosok hidung. Penelitian observasional mendukung hubungan antara kedua kondisi tersebut, tetapi belum membuktikan bahwa rinitis alergi selalu menjadi penyebab langsung mimisan.
- Alergi makanan mulai banyak dilaporkan berhubungan dengan epistaksis. Meski bukti yang menghubungkan alergi makanan secara langsung dengan perdarahan hidung masih terbatas. Kandungan salisilat atau senyawa antiplatelet dalam makanan juga tidak otomatis menyebabkan gangguan perdarahan pada anak sehat. Oleh karena itu, diagnosis dan penanganan perlu berfokus pada riwayat klinis, pemeriksaan hidung, evaluasi faktor pencetus, serta pemeriksaan lanjutan sesuai indikasi. Pembatasan makanan sebaiknya dilakukan hanya jika memiliki dasar klinis yang jelas khususnya melalui oral food challneg.
Daftar Pustaka
- Murray AB, Milner RA. Allergic rhinitis and recurrent epistaxis in children. Annals of Allergy, Asthma & Immunology. 1995;74(1):30-33. PMID: 7719879. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/7719879/
- Qing J, Cai Y, Tang S, Wang Y. Clinical Characteristics and Risk Factors for Allergic Rhinitis in Children with Epistaxis. International Journal of Clinical Practice. 2023;2023:6731414. doi:10.1155/2023/6731414. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37691857/
- Høst A. Mechanisms in adverse reactions to food. The nose. Allergy. 1995;50(Suppl 20):56-59. PMID: 7741205. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/7741205/
- Silva BM, Hosman AE, Devlin HL, Shovlin CL. Lifestyle and dietary influences on nosebleed severity in hereditary hemorrhagic telangiectasia. The Laryngoscope. 2013;123(5):1092-1099. doi:10.1002/lary.23893. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23404156/
- Tunkel DE, Anne S, Payne SC, et al. Clinical Practice Guideline: Nosebleed (Epistaxis). Otolaryngology-Head and Neck Surgery. 2020;162(1 Suppl):S1-S38. doi:10.1177/0194599819890327. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/?term=10.1177%2F0194599819890327
- Santos AF, Riggioni C, Agache I, et al. EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023. doi:10.1111/all.15902. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/37815205/
- National Health Service. Nosebleed. https://www.nhs.uk/conditions/nosebleed/











Leave a Reply