ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

LAPORAN KASUS PRAKTIK SEHARI-HARI: Alergi Makanan, THT dan Ngompol Pada Anak

 

LAPORAN KASUS PRAKTIK SEHARI-HARI

Alergi Makanan, Inflamasi Multisistem, THT, Enuresis, dan Gangguan Tidur pada Anak

Seorang anak laki-laki usia 9 tahun mengalami mengompol hampir setiap hari meskipun telah diperiksakan ke berbagai dokter. Pemeriksaan darah, urine, dan USG dilaporkan tidak menunjukkan kelainan bermakna. Sejak kecil anak pernah dinyatakan alergi susu sapi. Anak juga sering bersin dan pilek, mengalami pembesaran adenoid dan dianjurkan operasi, sering mimisan, tidur mengorok, kulit kadang terasa gatal, sangat aktif, serta mengalami gangguan fokus di sekolah. Banyaknya keluhan yang muncul pada beberapa sistem tubuh menimbulkan pertanyaan penting: apakah anak benar-benar mempunyai alergi makanan yang belum teridentifikasi dengan baik, dan apakah proses alergi/inflamasi dapat berkontribusi terhadap berbagai keluhan yang muncul secara bersamaan?

Alergi makanan bukan sekadar persoalan “tidak cocok makan makanan tertentu”. Pada individu yang benar-benar mengalami food allergy, respons imun terhadap makanan dapat menimbulkan manifestasi pada berbagai sistem, terutama kulit, saluran cerna, dan saluran pernapasan, dengan spektrum gejala yang berbeda sesuai mekanisme alerginya. Anak dengan food allergy juga lebih sering memiliki penyakit atopik lain, dan hubungan antara food allergy dengan penyakit respirasi seperti asma dan rinitis telah banyak diteliti. Namun, keberadaan beberapa keluhan pada berbagai organ tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti bahwa semuanya disebabkan oleh satu makanan tertentu. Hubungan tersebut harus dibuktikan secara klinis. (Frontiers)

Kompleksitas menjadi lebih tinggi ketika seorang anak mengalami keluhan berulang dan inflamasi pada beberapa sistem tubuh. Dalam praktik, seorang anak dapat datang bukan dengan satu gejala khas alergi, tetapi dengan kombinasi masalah kulit, gastrointestinal, respirasi, kesulitan makan, dan gangguan kualitas hidup. Bahkan pada anak dengan food allergy, kesulitan makan cukup sering ditemukan; laporan sistematis EAACI menemukan prevalensi feeding difficulties sekitar 13,6–40% pada penelitian yang tersedia dan lebih tinggi pada anak dengan alergi terhadap banyak makanan. Hal ini menunjukkan bahwa food allergy dapat menjadi masalah klinis yang kompleks dan memerlukan penilaian multidisiplin. (EAACI)

Infeksi berulang juga perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Salah satu penelitian pada anak melaporkan adanya asosiasi antara food allergy dan infeksi saluran napas berulang selama masa kanak-kanak. Namun, temuan tersebut tidak berarti setiap anak dengan food allergy pasti mengalami infeksi berulang atau bahwa alergi makanan merupakan satu-satunya penyebab infeksi. Hubungan antara alergi, inflamasi, fungsi penghalang jaringan, penyakit atopik, dan kerentanan terhadap gangguan respirasi masih merupakan bidang yang kompleks. Karena itu, pada anak yang sering sakit, dokter tetap harus membedakan alergi, infeksi virus berulang, rinitis, asma, gangguan tidur, kelainan anatomi, maupun faktor lain yang dapat meningkatkan keluhan. (PMC)

Dalam kasus ini, saluran cerna, kulit, THT, dan saluran kemih tidak harus dipandang sebagai masalah yang sepenuhnya terpisah, tetapi juga tidak boleh dipaksakan sebagai satu diagnosis alergi makanan. Misalnya, gatal pada kulit dapat terjadi pada penyakit alergi tetapi juga mempunyai banyak penyebab lain. Keluhan THT dapat berkaitan dengan penyakit atopik, tetapi adenoid dan gangguan napas saat tidur memiliki evaluasi klinis tersendiri. Bahkan terdapat penelitian lama yang menemukan perbedaan beberapa parameter sensitisasi makanan pada anak dengan enuresis dibanding kontrol, tetapi penelitian tersebut kecil dan tidak membuktikan bahwa alergi makanan merupakan penyebab mengompol. Karena itu, temuan tersebut lebih tepat dipandang sebagai hipotesis hubungan yang masih memerlukan pembuktian, bukan sebagai diagnosis. (PubMed)

Karena anak sejak kecil disebut mengalami alergi susu sapi, pertanyaan terpenting adalah apakah diagnosis tersebut benar dan apakah alerginya masih berlangsung saat ini. Riwayat reaksi harus ditelusuri secara rinci: makanan yang dikonsumsi, jumlahnya, waktu timbulnya reaksi, jenis gejala, konsistensi reaksi setiap kali terpapar, serta respons ketika makanan dihilangkan. Pemeriksaan skin prick test atau serum-specific IgE dapat membantu menunjukkan sensitisasi terhadap makanan yang dicurigai, tetapi hasil sensitisasi tidak selalu sama dengan alergi makanan klinis. Karena itu, diagnosis tidak seharusnya dibangun hanya berdasarkan panel pemeriksaan alergi.

Jika hasil pemeriksaan dan riwayat klinis masih menimbulkan keraguan, oral food challenge (OFC) terawasi secara medis merupakan pemeriksaan rujukan untuk mengonfirmasi atau menyingkirkan alergi makanan pada kasus yang diagnosisnya belum jelas. Pedoman EAACI merekomendasikan OFC pada keadaan ketika diagnosis masih tidak pasti meskipun telah dilakukan pemeriksaan sensitisasi; OFC juga penting untuk mencegah anak menjalani eliminasi makanan yang sebenarnya tidak diperlukan. Pedoman AAAAI–EAACI PRACTALL 2024 menekankan bahwa food challenge harus dilakukan dengan protokol, kriteria penghentian, dan pengawasan keselamatan yang sesuai. Jadi, OFC bukan “uji coba makanan di rumah”, tetapi prosedur diagnostik medis. (Wiley Online Library)

Konsep “alergi makanan sebagai masalah multisistem” penting dipahami agar anak tidak hanya dilihat dari satu keluhan. Tetapi konsep ini harus digunakan dengan hati-hati: inflamasi akibat alergi makanan memang dapat mempunyai manifestasi di berbagai organ, namun tidak setiap inflamasi tubuh berarti alergi makanan dan tidak setiap infeksi berulang berarti terdapat alergi. Demikian pula, mengompol tidak boleh otomatis dianggap sebagai manifestasi alergi makanan hanya karena pemeriksaan urine dan USG normal. Setiap organ tetap membutuhkan evaluasi spesifik, sementara alergi makanan dinilai berdasarkan hubungan yang dapat dibuktikan antara paparan makanan dan reaksi klinis.

Pada kasus ini, mengorok dan pembesaran adenoid juga perlu dinilai secara paralel. Gangguan sumbatan saluran napas atas dapat mengganggu tidur, dan tidur yang tidak optimal pada anak dapat muncul sebagai hiperaktivitas, sulit berkonsentrasi, mudah terdistraksi, atau masalah fungsi sekolah. Karena itu, evaluasi THT dan kemungkinan sleep-disordered breathing tetap penting. Namun, gangguan tidur tersebut tidak boleh digunakan untuk membuktikan adanya alergi makanan, sebagaimana alergi makanan juga tidak boleh digunakan untuk menjelaskan semua keluhan tanpa bukti.

Dengan demikian, kasus ini menggambarkan bahwa alergi makanan pada anak dapat menjadi persoalan klinis yang kompleks, multisistem, dan berpotensi berdampak pada kualitas hidup, pola makan, kulit, saluran cerna, serta penyakit alergi saluran napas. Beberapa penelitian juga menunjukkan hubungan dengan infeksi respirasi berulang, tetapi hubungan tersebut harus dibaca sebagai asosiasi, bukan bukti bahwa semua infeksi disebabkan alergi makanan tetapi berkaitan dengan kekebalan tubuh yang disebabkan karena alergii makanan. (PMC)

Kesimpulan: pada anak dengan banyak keluhan seperti kasus ini, pendekatan terbaik bukan mencari satu diagnosis yang menjelaskan semuanya, melainkan mencari apakah terdapat alergi makanan yang benar-benar terbukti sekaligus mengevaluasi masalah lain yang dapat hidup berdampingan. Riwayat alergi susu sapi sejak kecil perlu ditinjau kembali; pemeriksaan alergi dilakukan secara terarah; dan apabila diagnosis masih meragukan, OFC terawasi secara medis dapat digunakan untuk memastikan apakah anak benar-benar alergi atau sudah mengalami toleransi. Pada saat yang sama, enuresis, adenoid, gangguan tidur, keluhan kulit, dan gangguan fokus tetap dinilai melalui jalurnya masing-masing. Prinsipnya: jangan asal menghindari makanan, tetapi juga jangan mengabaikan kemungkinan food allergy ketika terdapat pola gejala yang mendukung. Pastikan diagnosisnya, cari organ yang terdampak, dan tangani masalah yang benar-benar terbukti.

Daftar pustaka

  • Woicka-Kolejwa K, Zaczeniuk M, Majak P, Pawłowska-Iwanicka K, Kopka M, Stelmach W, Jerzyńska J, Stelmach I. Food allergy is associated with recurrent respiratory tract infections during childhood. Postepy Dermatol Alergol. 2016 Apr;33(2):109-13. doi: 10.5114/ada.2016.59151. Epub 2016 May 16. PMID: 27279819; PMCID: PMC4884778.
  • Foong RX, du Toit G, Fox AT. Asthma, Food Allergy, and How They Relate to Each Other. Front Pediatr. 2017 May 9;5:89. doi: 10.3389/fped.2017.00089. PMID: 28536690; PMCID: PMC5422552.
  • Hill SA, Nurmatov U, DunnGalvin A, Reese I, Vieira MC, Rommel N, Dupont C, Venter C, Cianferoni A, Walsh J, Yonamine G, Beauregard A, Meyer R, Vazquez-Ortiz M. Feeding difficulties in children with food allergies: An EAACI Task Force Report. Pediatr Allergy Immunol. 2024 Apr;35(4):e14119. doi: 10.1111/pai.14119. PMID: 38566436.
  • Marseglia GL, Poddighe D, Caimmi D, Marseglia A, Caimmi S, Ciprandi G, Klersy C, Pagella F, Castellazzi AM. Role of adenoids and adenoiditis in children with allergy and otitis media. Curr Allergy Asthma Rep. 2009 Nov;9(6):460-4. doi: 10.1007/s11882-009-0068-4. PMID: 19814919.
  • Filiz S, Keleş Ş, Akbulut UE, Işık IA, Kara MZ. Sleep disturbances and affecting factors in young children with food allergy and their mothers. Allergol Immunopathol (Madr). 2020 Mar-Apr;48(2):158-164. doi: 10.1016/j.aller.2019.06.014. Epub 2019 Oct 7. PMID: 31601501.
  • Mungan NA, Seckiner I, Yesilli C, Akduman B, Tekin IO. Nocturnal enuresis and allergy. Scand J Urol Nephrol. 2005;39(3):237-41. doi: 10.1080/00365590510007739. PMID: 16118098.
  • Zheng Y, Yin L, Wang X, Zhao C, Du Y. Prevalence and allergy-related risk factors of overactive bladder in children in Northeast China. Front Public Health. 2024 Oct 4;12:1415833. doi: 10.3389/fpubh.2024.1415833. PMID: 39430706; PMCID: PMC11486752.
Visited 10 times, 10 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *