Acne Vulgaris, Rinitis, Gangguan Gastrointestinal Fungsional, dan Alergi Makanan: Tinjauan Sumbu Usus–Kulit–Jalan Napas dan Peran Oral Food Challenge
Audi Yudhasmara, Widodo Judarwanto
Latar belakang: Acne vulgaris, rinitis, dan gangguan gastrointestinal fungsional merupakan kondisi yang sering dijumpai dalam praktik klinis. Keluhan gastrointestinal yang dianggap berkaitan dengan makanan juga sering dilaporkan, tetapi tidak selalu menunjukkan alergi makanan. Alergi makanan merupakan reaksi imunologis terhadap protein makanan, sedangkan gangguan gastrointestinal fungsional melibatkan mekanisme yang lebih kompleks, termasuk interaksi usus–otak, hipersensitivitas viseral, motilitas gastrointestinal, mikrobiota, dan faktor psikososial. Hubungan antara sistem imun, mikrobiota, sawar epitel, kulit, dan mukosa saluran napas kemudian menimbulkan konsep gut–skin–airway axis.
Tujuan: Menelaah hubungan potensial antara acne vulgaris, rinitis, gangguan gastrointestinal fungsional, dan alergi makanan serta membahas kedudukan oral food challenge (OFC) dalam diagnosis alergi makanan. Metode: Tinjauan naratif terhadap literatur ilmiah yang dapat diverifikasi, terutama pedoman internasional dan publikasi yang terindeks PubMed. Hasil: Bukti menunjukkan adanya hubungan antara pola makan dengan acne vulgaris, terutama makanan dengan indeks atau beban glikemik tinggi. Hubungan konsumsi produk susu dengan akne juga telah dilaporkan, tetapi hasil penelitian masih heterogen. Rinitis dapat muncul dalam reaksi alergi makanan, tetapi rinitis akibat makanan yang berdiri sendiri relatif tidak umum. Keluhan gastrointestinal dapat ditemukan pada alergi makanan, tetapi juga sangat sering ditemukan pada gangguan gastrointestinal fungsional dan intoleransi makanan. Pemeriksaan skin-prick test dan specific IgE menunjukkan sensitisasi dan tidak selalu membuktikan alergi klinis. Pedoman EAACI menempatkan OFC sebagai standar rujukan untuk diagnosis alergi makanan pada keadaan yang masih meragukan. [1–4] Kesimpulan: Acne vulgaris, rinitis, gangguan gastrointestinal fungsional, dan alergi makanan dapat ditemukan bersamaan dan mungkin mempunyai jalur biologis yang saling berhubungan. Namun, bukti yang tersedia belum cukup untuk menyatakan bahwa keempat kondisi tersebut merupakan satu kesatuan penyakit. Akne, rinitis, konstipasi, nyeri perut, atau keluhan gastrointestinal lainnya tidak dapat digunakan sendiri untuk mendiagnosis alergi makanan. Diagnosis harus didasarkan pada riwayat klinis, pemeriksaan yang tepat, dan pada keadaan tertentu dikonfirmasi dengan OFC yang dilakukan secara medis dan terkontrol.
Kata kunci: acne vulgaris, rinitis, gangguan gastrointestinal fungsional, alergi makanan, oral food challenge, mikrobiota, gut–skin axis, atopi.
Pendahuluan
- Acne vulgaris merupakan penyakit inflamasi kronis pada unit pilosebasea yang terutama mengenai remaja dan dewasa muda. Patogenesisnya melibatkan hiperkeratinisasi folikel, peningkatan produksi sebum, perubahan lingkungan mikroba termasuk Cutibacterium acnes, serta aktivasi respons imun dan inflamasi. Dalam beberapa tahun terakhir, faktor diet semakin banyak diteliti sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi aktivitas akne. Tinjauan sistematis menunjukkan bahwa indeks glikemik dan beban glikemik yang tinggi berhubungan dengan terjadinya atau keparahan akne, walaupun besarnya efek dan hubungan kausalnya masih memerlukan penelitian lebih lanjut. [1]
- Rinitis, terutama rinitis alergi, merupakan penyakit inflamasi mukosa hidung yang terutama berkaitan dengan sensitisasi terhadap alergen inhalan. Makanan juga dapat menimbulkan manifestasi respiratorik dalam konteks alergi makanan, tetapi rinitis yang secara khusus disebabkan oleh makanan dan berdiri sendiri bukan merupakan manifestasi yang umum. [2] Di sisi lain, keluhan gastrointestinal seperti nyeri perut, kembung, mual, muntah, diare, konstipasi, dan perubahan pola buang air besar sering dianggap oleh pasien sebagai tanda alergi terhadap makanan tertentu. Padahal, gejala tersebut dapat disebabkan oleh berbagai keadaan, termasuk gangguan gastrointestinal fungsional, intoleransi makanan, penyakit organik, maupun alergi makanan.
- Masalah diagnostik muncul ketika seluruh gejala tersebut secara langsung dihubungkan dengan makanan. Pendekatan semacam ini berpotensi menyebabkan eliminasi makanan yang tidak diperlukan dan dapat mengganggu kecukupan nutrisi, terutama pada anak. Oleh karena itu, diperlukan pembedaan yang jelas antara alergi makanan, sensitisasi makanan, intoleransi makanan, dan gangguan gastrointestinal fungsional.
Acne Vulgaris dan Faktor Diet
- Hubungan indeks glikemik dengan akne
- Hubungan antara pola makan dan akne telah menjadi perhatian dalam penelitian dermatologi. Makanan dengan indeks dan beban glikemik tinggi dapat meningkatkan kadar glukosa dan insulin setelah makan. Peningkatan insulin dapat memengaruhi jalur insulin-like growth factor-1 atau IGF-1, metabolisme androgen, produksi sebum, keratinisasi folikel, dan proses inflamasi.
- Tinjauan sistematis oleh Meixiong dan kolega yang mencakup puluhan penelitian menemukan adanya hubungan antara indeks atau beban glikemik yang lebih tinggi dengan akne. Namun, para penulis juga menekankan adanya heterogenitas penelitian dan perlunya penelitian intervensional yang lebih baik untuk memperkuat kesimpulan kausal. [1]
- Temuan tersebut mempunyai implikasi bahwa pola makan dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan akne. Namun, hubungan antara diet dan akne tidak boleh disamakan dengan alergi makanan. Seorang pasien yang mengalami akne setelah mengonsumsi makanan tertentu tidak otomatis mengalami alergi terhadap makanan tersebut.
Produk susu dan akne
- Produk susu juga telah banyak diteliti dalam hubungannya dengan akne. Beberapa penelitian observasional menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi susu dan akne, tetapi hubungan tersebut tidak konsisten pada semua populasi. Faktor jenis susu, jumlah konsumsi, karakteristik individu, pola diet secara keseluruhan, dan faktor hormonal dapat berperan. [1]
- Penting untuk membedakan hubungan epidemiologis antara konsumsi susu dan akne dengan alergi protein susu sapi. Alergi protein susu sapi merupakan reaksi imunologis terhadap protein susu, sedangkan hubungan susu dengan akne merupakan persoalan dermatologis dan metabolik yang mekanismenya berbeda. Oleh sebab itu, keberadaan akne tidak dapat digunakan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa seorang pasien mengalami alergi susu sapi.
Rinitis dan Alergi Makanan
- Alergi makanan dapat menimbulkan manifestasi pada beberapa sistem organ, termasuk kulit, saluran gastrointestinal, dan saluran respiratorik. Reaksi respiratorik dapat berupa gejala hidung, bronkospasme, atau manifestasi saluran napas lainnya sebagai bagian dari reaksi alergi sistemik.
- Namun, rinitis yang secara khusus disebabkan oleh makanan dan muncul sebagai satu-satunya manifestasi alergi relatif tidak umum. Tinjauan mengenai rinitis akibat alergi makanan menunjukkan bahwa gejala hidung biasanya perlu dipahami dalam konteks keseluruhan reaksi alergi, bukan sebagai bukti tunggal adanya alergi makanan. [2]
- Dengan demikian, pasien yang mengalami rinitis kronis tidak seharusnya langsung menjalani eliminasi berbagai makanan hanya berdasarkan gejala hidung. Penyebab rinitis yang lebih umum, terutama alergen inhalan, tetap harus dipertimbangkan berdasarkan riwayat dan pemeriksaan klinis.
Gangguan Gastrointestinal Fungsional dan Keluhan Setelah Makan
- Gangguan gastrointestinal fungsional merupakan kelompok kondisi yang ditandai oleh gejala gastrointestinal tanpa kelainan struktural yang memadai untuk menjelaskan seluruh keluhan. Mekanismenya melibatkan interaksi kompleks antara sistem saraf pusat dan saluran gastrointestinal, motilitas, hipersensitivitas viseral, fungsi sawar mukosa, mikrobiota, sistem imun, serta faktor psikososial.
- Pada sebagian pasien, gejala muncul atau memburuk setelah mengonsumsi makanan tertentu. Keadaan tersebut menyebabkan pasien sering menganggap makanan sebagai penyebab utama keluhannya. Namun, hubungan temporal antara makanan dan gejala belum cukup untuk membuktikan adanya alergi makanan.
- Nyeri perut, kembung, mual, perubahan konsistensi tinja, diare, dan konstipasi dapat ditemukan pada berbagai kondisi. Karena itu, diagnosis harus mempertimbangkan kemungkinan gangguan fungsional, intoleransi makanan, penyakit organik, maupun alergi makanan sesuai dengan pola gejala dan temuan klinis.
Alergi Makanan, Intoleransi Makanan, dan Gangguan Gastrointestinal Fungsional
- Alergi makanan merupakan reaksi merugikan terhadap makanan yang melibatkan mekanisme imunologis. Sebaliknya, intoleransi makanan bukanlah alergi imunologis klasik. Gangguan gastrointestinal fungsional juga memiliki mekanisme tersendiri yang terutama berkaitan dengan interaksi usus–otak, motilitas, hipersensitivitas viseral, dan faktor lainnya.
- Perbedaan tersebut sangat penting dalam praktik klinis. Seorang pasien dapat mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan tanpa mengalami alergi terhadap makanan tersebut. Sebaliknya, pasien dengan alergi makanan yang benar dapat mengalami manifestasi gastrointestinal sebagai bagian dari reaksi imunologis.
- Istilah “alergi makanan” tidak seharusnya digunakan sebagai diagnosis untuk setiap keluhan yang muncul setelah makan.
Atopi dan Manifestasi Multisistem
- Atopi menggambarkan kecenderungan individu untuk mengalami respons imun yang berkaitan dengan IgE terhadap alergen lingkungan atau makanan. Manifestasi atopi dapat melibatkan kulit, hidung, saluran napas, dan saluran gastrointestinal.
- Kehadiran beberapa manifestasi atopi pada satu individu memberikan dasar biologis untuk mempelajari hubungan antara sistem imun kulit, saluran gastrointestinal, dan saluran respiratorik. Namun, keberadaan beberapa penyakit tersebut secara bersamaan tetap tidak membuktikan adanya satu penyebab tunggal.
- Dalam konteks penelitian, konsep gut–skin axis dan gut–lung axis memberikan kerangka untuk memahami kemungkinan komunikasi antara mikrobiota usus, sistem imun, dan organ perifer. Akan tetapi, konsep tersebut masih harus dibedakan dari diagnosis klinis alergi makanan.
Pemeriksaan Alergi Makanan
- Diagnosis alergi makanan seharusnya dimulai dengan riwayat klinis yang terperinci. Riwayat perlu mencakup jenis makanan, jumlah yang dikonsumsi, waktu munculnya gejala, konsistensi reaksi, gejala pada organ lain, serta apakah reaksi tersebut berulang ketika makanan yang sama dikonsumsi.
- Pada kecurigaan alergi makanan yang dimediasi IgE, pemeriksaan skin-prick test dan serum-specific IgE dapat digunakan untuk menilai sensitisasi. Namun, hasil positif menunjukkan bahwa sistem imun mengenali alergen tertentu dan tidak selalu berarti bahwa konsumsi makanan tersebut akan menyebabkan reaksi klinis.
- Hasil pemeriksaan laboratorium harus ditafsirkan dalam konteks riwayat klinis. Pemeriksaan yang terlalu luas tanpa indikasi juga berpotensi menemukan banyak hasil sensitisasi yang tidak mempunyai relevansi klinis.
- Pedoman EAACI mengenai diagnosis alergi makanan menekankan bahwa pendekatan diagnostik harus dimulai dari riwayat klinis, dilanjutkan dengan pemeriksaan yang sesuai, dan menggunakan OFC ketika diagnosis masih belum dapat dipastikan. [3]
Oral Food Challenge
- Oral food challenge merupakan prosedur diagnostik dengan memberikan makanan yang dicurigai secara terkontrol kepada pasien di bawah pengawasan tenaga medis. Tujuannya adalah menentukan apakah konsumsi makanan tersebut benar-benar menghasilkan reaksi klinis yang dapat direproduksi.
- Dalam pedoman EAACI, OFC ditempatkan sebagai standar rujukan dalam diagnosis alergi makanan ketika terdapat ketidakpastian diagnostik. [3] Dengan demikian, OFC memiliki kedudukan yang berbeda dari pemeriksaan specific IgE atau skin-prick test, karena kedua pemeriksaan tersebut terutama menilai sensitisasi.
- OFC dapat menjadi sangat penting ketika terdapat perbedaan antara riwayat klinis dan hasil pemeriksaan alergi. Misalnya, seorang pasien dapat memiliki hasil specific IgE positif terhadap suatu makanan tetapi telah berulang kali mengonsumsi makanan tersebut tanpa gejala. Dalam keadaan seperti ini, hasil laboratorium saja tidak cukup untuk menyatakan bahwa makanan tersebut harus dihindari sepanjang hidup.
Open Oral Food Challenge
- Pada open oral food challenge, dokter dan pasien mengetahui makanan yang sedang diberikan. Pendekatan ini relatif sederhana dan dapat digunakan dalam banyak situasi klinis.
- Namun, kesederhanaan prosedur tidak berarti bahwa OFC dapat dilakukan secara sembarangan. Pasien harus dipilih berdasarkan risiko, kondisi klinis harus sesuai, pemberian makanan dilakukan secara bertahap sesuai protokol, dan pasien harus berada dalam lingkungan yang mampu menangani reaksi alergi apabila terjadi.
- Pembaruan AAAAI–EAACI PRACTALL tahun 2024 memberikan perhatian khusus terhadap standardisasi dosis, interval pemberian, observasi, dan kriteria penghentian OFC. [4]
Double-Blind Placebo-Controlled Food Challenge
- Double-blind placebo-controlled food challenge merupakan pendekatan yang lebih kompleks karena pasien dan pemeriksa tidak mengetahui apakah bahan yang diberikan mengandung makanan yang dicurigai atau placebo.
- Metode ini dapat berguna ketika gejala bersifat subjektif atau ketika diperlukan pengendalian yang lebih ketat terhadap pengaruh psikologis dan bias observasi. Namun, kebutuhan sumber daya, persiapan makanan, blinding, dan fasilitas medis membuat prosedur ini lebih kompleks dibandingkan open challenge.
- Kedua pendekatan tersebut pada dasarnya mempunyai tujuan yang sama, yaitu menentukan hubungan kausal antara konsumsi makanan tertentu dan timbulnya reaksi klinis.
Sumbu Usus–Kulit–Jalan Napas
- Interaksi antara usus, kulit, dan saluran napas merupakan bidang penelitian yang berkembang. Usus mempunyai fungsi penting sebagai organ imunologis dan berinteraksi secara dinamis dengan mikrobiota serta sawar epitel.
- Secara teoritis, perubahan diet dapat memengaruhi lingkungan mikrobiota. Perubahan tersebut kemudian dapat memodulasi fungsi sawar intestinal dan respons imun mukosa. Mediator imun dan metabolit yang dihasilkan mikrobiota berpotensi memengaruhi organ lain, termasuk kulit dan saluran respiratorik.
- Kerangka tersebut sering disebut sebagai gut–skin axis atau gut–lung axis. Apabila ketiganya dipandang secara lebih luas, dapat digunakan istilah gut–skin–airway axis. Namun, istilah tersebut lebih tepat digunakan sebagai konsep penelitian daripada sebagai diagnosis klinis.
- Belum ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa seorang pasien yang mempunyai akne, rinitis, dan gangguan gastrointestinal pasti mempunyai alergi makanan.
Apa yang Dapat dan Tidak Dapat Disimpulkan?
- Bukti yang tersedia menunjukkan bahwa pola makan, terutama beban glikemik, mempunyai hubungan dengan akne. Hubungan antara produk susu dan akne juga telah dilaporkan, tetapi bersifat heterogen. [1]
- Alergi makanan dapat melibatkan sistem gastrointestinal dan respiratorik. Namun, rinitis yang berdiri sendiri sebagai manifestasi alergi makanan relatif tidak umum. [2]
- Gangguan gastrointestinal fungsional dapat menghasilkan gejala yang sangat mirip dengan keluhan yang oleh pasien dianggap sebagai alergi makanan. Oleh karena itu, gejala gastrointestinal setelah makan tidak cukup untuk menetapkan diagnosis alergi.
- Pemeriksaan skin-prick test dan specific IgE membantu mengidentifikasi sensitisasi, tetapi tidak selalu membuktikan alergi klinis. [3]
- Ketika diagnosis masih meragukan, OFC mempunyai peranan penting sebagai standar rujukan. Prosedur tersebut harus dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan pasien dan mengikuti protokol yang sesuai. [3,4]
Implikasi Klinis
- Pendekatan klinis yang rasional adalah memulai dari pola gejala dan riwayat makanan, kemudian menentukan diagnosis yang paling sesuai dan melakukan pemeriksaan secara terarah.
- Pasien dengan akne tidak perlu otomatis menjalani diet eliminasi karena dugaan alergi makanan. Demikian pula, pasien dengan rinitis tidak seharusnya menghindari berbagai makanan hanya karena mempunyai gejala hidung. Pasien dengan konstipasi, nyeri perut, kembung, atau keluhan gastrointestinal juga tidak otomatis mengalami alergi makanan.
- Eliminasi makanan sebaiknya mempunyai alasan diagnostik atau terapeutik yang jelas. Pada pasien dengan kecurigaan alergi yang kuat tetapi diagnosis belum pasti, evaluasi alergi yang terstruktur dan, bila sesuai, OFC dapat membantu menentukan apakah makanan tertentu memang harus dihindari.
- Pendekatan tersebut penting untuk menghindari overdiagnosis alergi makanan dan pembatasan diet yang tidak diperlukan.
Kesimpulan
- Acne vulgaris, rinitis, gangguan gastrointestinal fungsional, dan alergi makanan dapat muncul bersamaan dan mungkin mempunyai beberapa jalur biologis yang saling berhubungan melalui diet, mikrobiota, sawar epitel, dan regulasi imun. Namun, bukti saat ini belum mendukung anggapan bahwa keempat kondisi tersebut merupakan satu penyakit atau bahwa salah satunya secara otomatis disebabkan oleh alergi makanan.
- Akne mempunyai hubungan dengan faktor diet tertentu, terutama indeks dan beban glikemik, sementara hubungan dengan produk susu masih menunjukkan hasil yang heterogen. [1] Rinitis dapat menjadi bagian dari reaksi alergi makanan, tetapi rinitis yang berdiri sendiri akibat makanan relatif tidak umum. [2] Keluhan gastrointestinal setelah makan juga tidak identik dengan alergi karena dapat terjadi pada intoleransi makanan dan gangguan gastrointestinal fungsional.
- Diagnosis alergi makanan harus didasarkan pada integrasi riwayat klinis dan pemeriksaan yang tepat. Hasil skin-prick test atau specific IgE menunjukkan sensitisasi dan tidak selalu berarti alergi klinis. [3] Bila diagnosis masih tidak jelas, oral food challenge merupakan standar rujukan yang penting untuk menentukan apakah makanan tertentu benar-benar menimbulkan reaksi klinis. Pelaksanaannya harus mengikuti prinsip keselamatan dan protokol yang terstandar. [3,4]
- Dengan demikian, konsep sumbu usus–kulit–jalan napas menarik dan relevan untuk penelitian lebih lanjut, tetapi dalam praktik klinis prinsip utamanya tetap sama: jangan menyamakan gejala dengan alergi; identifikasi mekanisme yang sebenarnya, konfirmasi diagnosis bila diperlukan, dan hindari eliminasi makanan yang tidak mempunyai dasar ilmiah.
Daftar Pustaka
- [1] Meixiong J, Ricco C, Vasavda C, Ho BK. Diet and acne: A systematic review. JAAD International. 2022;7:95–112. doi:10.1016/j.jdin.2022.02.012. PMID: 35373155.
- [2] Cingi C, Demirbas D, Songu M. Allergic rhinitis caused by food allergies. European Archives of Oto-Rhino-Laryngology. 2010;267(9):1327–1335. doi:10.1007/s00405-010-1280-5. PMID: 20490817.
- [3] Santos AF, Riggioni C, Agache I, et al. EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023;78(12):3057–3076. doi:10.1111/all.15902. PMID: 37815205.
- [4] Sampson HA, et al. AAAAI–EAACI PRACTALL: Standardizing oral food challenges—2024 Update. Pediatric Allergy and Immunology. 2024;35(11):e14276. doi:10.1111/pai.14276. PMID: 39560049.












Leave a Reply