- Reaksi Simpang terhadap Makanan (Adverse Reactions to Foods): Definisi, Klasifikasi, Mekanisme, dan Relevansi Klinis pada Bayi dan Anak
- dr Audi Yudhasmara, Dr Widodo Judarwanto, pediatrician
Reaksi simpang terhadap makanan atau Adverse Reactions to Foods merupakan istilah penting dalam alergi dan imunologi klinis untuk menjelaskan berbagai respons yang tidak diinginkan setelah seseorang mengonsumsi makanan tertentu. Dalam nomenklatur internasional, klasifikasi reaksi ini didasarkan terutama pada keterlibatan mekanisme imunologis. Alergi makanan (Food Allergy) melibatkan respons sistem imun, sedangkan intoleransi makanan (Food Intolerance) terjadi melalui mekanisme nonimunologis.
Pedoman European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI), American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI), dan literatur internasional menggunakan pembedaan tersebut untuk membantu diagnosis dan tata laksana. Pada bayi dan anak, identifikasi jenis reaksi sangat penting karena gejalanya dapat melibatkan kulit, saluran cerna, sistem pernapasan, serta kondisi nutrisi dan pertumbuhan. Diagnosis yang akurat membantu menghindari pembatasan makanan yang tidak perlu dan mengurangi risiko kekurangan zat gizi.
Definisi
- 1.1. Adverse Reactions to Foods
- Adverse Reactions to Foods adalah istilah umum untuk respons yang tidak diinginkan dan berkaitan dengan konsumsi makanan atau komponen makanan. Reaksi tersebut dapat terjadi melalui mekanisme imunologis maupun nonimunologis. Gejala dapat muncul segera setelah paparan atau berkembang beberapa jam hingga lebih lama, bergantung pada mekanisme penyebabnya. Istilah ini digunakan sebagai kategori klinis untuk mengevaluasi dugaan alergi makanan, intoleransi makanan, reaksi akibat zat farmakologis dalam makanan, serta reaksi toksik akibat kontaminan atau toksin. Karena cakupannya luas, istilah ini tidak boleh langsung dianggap sebagai diagnosis alergi makanan.
- 1.2. Food Allergy dan Food Intolerance
- Food Allergy adalah reaksi simpang terhadap makanan yang melibatkan mekanisme sistem imun dan dapat muncul kembali ketika individu terpapar makanan penyebab. Mekanismenya meliputi reaksi yang diperantarai imunoglobulin E (IgE), reaksi non-IgE, atau kombinasi mekanisme IgE dan seluler. Sebaliknya, Food Intolerance merupakan reaksi terhadap makanan yang tidak melibatkan mekanisme imunologis yang mendasari gejalanya. Contohnya adalah intoleransi laktosa akibat gangguan pencernaan gula laktosa. Kedua kondisi ini dapat menimbulkan gejala serupa, seperti sakit perut, muntah, atau diare, sehingga penegakan diagnosis perlu mempertimbangkan riwayat klinis, mekanisme penyakit, pemeriksaan yang relevan, dan bila diperlukan, uji provokasi makanan di bawah pengawasan medis.
- Penggolongan Adverse Reactions to Foods
- Secara konseptual, reaksi simpang terhadap makanan dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu reaksi yang diperantarai sistem imun dan reaksi yang tidak diperantarai sistem imun. Penggolongan ini merupakan kerangka dasar yang digunakan dalam pedoman alergi makanan dan evaluasi diagnosis banding.
Adverse Reactions to Foods
Reaksi simpang terhadap makanan
- A. Immune-mediated
- Food Allergy
- 1. IgE-mediated
- 2. Non-IgE-mediated
- 3. Mixed IgE and non-IgE-mediated
- Food Allergy
- B. Non-immune-mediated
- Food Intolerance dan reaksi nonimunologis lainnya
- 1. Metabolik
- 2. Farmakologis
- 3. Toksik
- 4. Mekanisme lain atau belum teridentifikasi
- Food Intolerance dan reaksi nonimunologis lainnya
- Skema konseptual berdasarkan nomenklatur alergi dan klasifikasi reaksi simpang makanan. Tidak semua kondisi dalam kelompok nonimunologis termasuk intoleransi dalam arti sempit.
Reaksi yang diperantarai sistem imun
Kelompok ini mencakup alergi makanan. Klasifikasinya bergantung pada mekanisme imun yang berperan dalam timbulnya gejala.
- A. IgE-mediated food allergy
- Alergi makanan yang diperantarai IgE terjadi ketika sistem imun membentuk antibodi IgE spesifik terhadap alergen makanan. Setelah paparan ulang, aktivasi sel mast dan basofil dapat melepaskan mediator inflamasi, termasuk histamin, sehingga menimbulkan gejala.
- Gejala biasanya muncul dalam beberapa menit hingga sekitar dua jam setelah paparan. Manifestasinya dapat berupa urtikaria, angioedema, muntah akut, mengi, sesak napas, atau anafilaksis. Namun, waktu munculnya gejala tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya dasar diagnosis.
- Contoh makanan pemicu meliputi susu sapi, telur, kacang tanah, kacang pohon, ikan, dan udang. Diagnosis menggabungkan riwayat klinis yang terarah dengan pemeriksaan skin prick test (SPT) atau serum specific IgE (sIgE). Hasil positif menunjukkan sensitisasi, tetapi belum tentu membuktikan alergi klinis. Oral Food Challenge (OFC) dapat diperlukan jika diagnosis masih meragukan.
- B. Non-IgE-mediated food allergy
- Alergi makanan non-IgE tidak diperantarai oleh antibodi IgE spesifik sebagai mekanisme utama. Respons imun seluler dan mekanisme imun lainnya berperan dalam timbulnya gejala. Keluhan dapat muncul beberapa jam atau lebih lama setelah konsumsi makanan, dan manifestasinya sering melibatkan saluran pencernaan.
- Contoh kondisi dalam kelompok ini meliputi:
- Food Protein-Induced Enterocolitis Syndrome (FPIES), yaitu reaksi gastrointestinal yang dapat menyebabkan muntah berulang, pucat, dan letargi, umumnya satu hingga empat jam setelah paparan.
- Food Protein-Induced Allergic Proctocolitis (FPIAP), yang dapat menyebabkan darah pada tinja bayi yang tampak sehat.
- Food Protein-Induced Enteropathy, yang dapat menyebabkan diare kronis, malabsorpsi, dan gangguan pertumbuhan.
- Dermatitis herpetiformis, penyakit kulit yang berhubungan dengan penyakit seliak.
- Penyakit seliak, yaitu penyakit imunologis sistemik yang dipicu gluten pada individu yang rentan secara genetik. Penyakit ini juga sering dibahas sebagai penyakit autoimun yang dimediasi antigen, sehingga klasifikasinya memerlukan konteks nomenklatur yang digunakan.
- Pemeriksaan IgE spesifik dan SPT dapat memberikan hasil negatif pada kondisi non-IgE. Karena itu, diagnosis mengandalkan riwayat klinis, pemeriksaan yang sesuai dengan penyakit yang dicurigai, respons terhadap eliminasi terarah, dan evaluasi kekambuhan atau OFC jika diindikasikan.
- C. Mixed IgE and non-IgE-mediated food allergy
- Pada kelompok ini, mekanisme IgE dan mekanisme imun lainnya dapat berperan bersama. Manifestasi dapat bersifat akut, kronis, atau berulang.
- Contoh yang dibahas dalam literatur meliputi:
- Eosinophilic Esophagitis (EoE), penyakit inflamasi kronis pada esofagus yang berkaitan dengan respons imun terhadap antigen dan dapat menyebabkan sulit menelan, muntah, atau gangguan makan.
- Eosinophilic Gastritis dan Eosinophilic Gastroenteritis, yaitu penyakit inflamasi eosinofilik pada lambung atau saluran cerna.
- Eksaserbasi dermatitis atopik yang berkaitan dengan paparan makanan pada pasien tertentu.
- Eksaserbasi asma yang berkaitan dengan paparan alergen makanan pada pasien tertentu.
- Keterlibatan makanan tidak dapat disimpulkan hanya dari adanya dermatitis, asma, atau peningkatan eosinofil. Dokter perlu menilai hubungan paparan dan gejala, bukti klinis, serta diagnosis banding. EoE, khususnya, memerlukan evaluasi klinis dan histologis yang sesuai.
Reaksi yang tidak diperantarai sistem imun
Kelompok ini mencakup berbagai respons terhadap makanan yang tidak terjadi melalui mekanisme alergi imunologis. Penyebabnya dapat berupa gangguan metabolisme, efek farmakologis, toksin, atau mekanisme lain.
- A. Reaksi metabolik
- Reaksi metabolik terjadi ketika tubuh tidak dapat mencerna, menyerap, atau memetabolisme komponen makanan secara normal.
- Contoh:
- Intoleransi laktosa, akibat kekurangan aktivitas enzim laktase.
- Galaktosemia, kelainan metabolisme galaktosa yang bersifat genetik.
- Gejala terkait FODMAP, yaitu karbohidrat tertentu yang dapat difermentasi dan menimbulkan keluhan pada individu yang rentan.
- Reaksi ini tidak sama dengan alergi protein susu sapi. Pada intoleransi laktosa, komponen yang bermasalah adalah gula laktosa, sedangkan alergi susu sapi melibatkan respons imun terhadap protein susu.
- B. Reaksi farmakologis
- Reaksi farmakologis terjadi akibat efek fisiologis zat tertentu yang terkandung secara alami dalam makanan atau minuman.
- Contohnya meliputi:
- Histamin dalam makanan tertentu, seperti ikan yang mengalami penyimpanan tidak tepat atau keju yang mengalami pematangan.
- Kafein yang dapat menimbulkan palpitasi, gelisah, atau gangguan tidur pada individu yang sensitif.
- Zat pemicu lain yang memiliki efek farmakologis pada dosis tertentu.
- Gejala dapat menyerupai alergi, tetapi mekanisme penyebabnya berbeda. Evaluasi perlu memperhatikan jenis makanan, jumlah yang dikonsumsi, kondisi penyimpanan, dan pola gejala.
- C. Reaksi toksik
- Reaksi toksik terjadi ketika makanan mengandung zat berbahaya, toksin alami, atau kontaminan. Reaksi dapat terjadi pada siapa pun yang mengonsumsi dosis yang cukup, meskipun tingkat keparahan bergantung pada dosis dan kerentanan individu.
- Contohnya adalah keracunan makanan akibat toksin bakteri, toksin pada ikan tertentu, atau kontaminan kimia. Infeksi bawaan makanan juga perlu dipertimbangkan sebagai diagnosis banding, meskipun infeksi dan reaksi toksik merupakan mekanisme yang berbeda.
- D. Reaksi terhadap aditif dan mekanisme lain
- Bahan tambahan pangan, seperti sulfit, pewarna, dan pengawet tertentu, dapat dikaitkan dengan gejala pada sebagian individu. Namun, mekanisme reaksinya bervariasi. Sebagian reaksi tidak melibatkan mekanisme imunologis yang terbukti, sedangkan reaksi imunologis terhadap bahan tertentu memerlukan evaluasi tersendiri.
- Kategori ini juga mencakup reaksi yang mekanismenya belum jelas. Istilah tersebut tidak boleh digunakan untuk menyimpulkan bahwa pasien mengalami alergi tanpa bukti yang memadai.
Tabel klasifikasi lengkap Adverse Reactions to Foods
Tabel berikut merangkum kelompok utama, mekanisme, contoh kondisi, dan karakteristik klinis yang membantu membedakan reaksi simpang makanan.
| Kelompok | Mekanisme utama | Contoh | Gambaran klinis |
|---|---|---|---|
| IgE-mediated food allergy | Antibodi IgE, aktivasi sel mast dan basofil | Alergi telur, susu, kacang tanah | Urtikaria, angioedema, muntah akut, mengi, anafilaksis |
| Non-IgE-mediated food allergy | Respons imun non-IgE | FPIES, FPIAP, enteropati akibat protein makanan | Muntah tertunda, darah pada tinja, diare kronis |
| Mixed IgE and non-IgE-mediated | Kombinasi mekanisme imun | EoE, penyakit gastrointestinal eosinofilik tertentu | Gangguan menelan, muntah, nyeri perut, kesulitan makan |
| Metabolic intolerance | Gangguan enzim atau metabolisme | Intoleransi laktosa, galaktosemia | Kembung, diare, atau manifestasi metabolik sesuai penyakit |
| Pharmacological reaction | Efek fisiologis zat dalam makanan | Histamin, kafein | Kemerahan, sakit kepala, palpitasi, atau gejala lain sesuai zat |
| Toxic reaction | Paparan toksin atau kontaminan | Keracunan toksin makanan | Mual, muntah, diare, gejala sistemik sesuai toksin |
| Reaksi terhadap aditif | Mekanisme beragam, sering nonimunologis | Reaksi terhadap sulfit atau aditif tertentu | Gejala bervariasi menurut zat dan individu |
| Mekanisme lain atau belum diketahui | Belum dapat ditentukan secara pasti | Reaksi yang belum terklasifikasi | Memerlukan evaluasi klinis dan diagnosis banding |
- Sumber klasifikasi: pedoman EAACI dan AAAAI serta literatur nomenklatur alergi makanan. Beberapa penyakit memiliki klasifikasi yang berbeda menurut kerangka ilmiah yang digunakan.
- Relevansi klinis pada bayi dan anak
- Kesulitan makan dan gangguan pertumbuhan
- Reaksi simpang makanan dapat berhubungan dengan kesulitan makan melalui beberapa mekanisme. Gejala gastrointestinal yang berulang, nyeri saat makan, muntah, diare, atau gangguan menelan dapat mengurangi asupan makanan. Pada kondisi tertentu, inflamasi kronis atau malabsorpsi juga dapat memengaruhi status nutrisi dan pertumbuhan.
- Namun, kesulitan makan dan berat badan sulit naik bukan penanda khusus alergi makanan. Dokter perlu menilai jumlah asupan, keterampilan makan, pola pertumbuhan, kemungkinan penyakit gastrointestinal, infeksi, gangguan metabolik, serta faktor perilaku dan lingkungan.
- Kesulitan makan dan gangguan pertumbuhan
Prinsip diagnosis
Diagnosis harus mengikuti mekanisme penyakit yang dicurigai.
| Pemeriksaan atau pendekatan | Kegunaan | Keterbatasan |
|---|---|---|
| Riwayat klinis terarah | Menilai makanan pemicu, waktu muncul gejala, jumlah paparan, dan reproduksibilitas | Ingatan pasien atau orang tua dapat kurang akurat |
| Skin prick test | Menilai sensitisasi IgE terhadap alergen tertentu | Hasil positif tidak otomatis berarti alergi klinis |
| Serum specific IgE | Menilai sensitisasi IgE terhadap makanan tertentu | Tidak mendiagnosis seluruh jenis reaksi simpang makanan |
| Eliminasi makanan terarah | Menilai perubahan gejala pada kondisi yang sesuai | Perbaikan gejala saja tidak selalu membuktikan penyebab |
| Oral Food Challenge | Membantu memastikan atau menyingkirkan alergi makanan pada kasus terpilih | Harus dilakukan dengan pengawasan medis sesuai risiko |
| Pemeriksaan spesifik penyakit | Membantu diagnosis, misalnya biopsi untuk EoE atau pemeriksaan terkait seliak | Jenis pemeriksaan bergantung pada dugaan klinis |
- Pedoman EAACI menempatkan riwayat klinis sebagai langkah awal diagnosis alergi makanan yang diperantarai IgE. Pemeriksaan SPT dan sIgE membantu menilai sensitisasi, sedangkan OFC merupakan standar rujukan untuk memastikan diagnosis pada kasus yang memerlukan konfirmasi.
- Prinsip tata laksana nutrisi
- Pada anak dengan dugaan reaksi simpang makanan, pembatasan makanan harus berdasarkan indikasi klinis yang jelas. Hindari eliminasi banyak kelompok makanan tanpa evaluasi profesional. Pembatasan yang tidak tepat dapat mengurangi asupan energi, protein, kalsium, zat besi, dan zat gizi lain yang diperlukan untuk pertumbuhan.
- Jika alergi makanan telah terkonfirmasi, tata laksana perlu mencakup penghindaran alergen yang relevan, penggantian zat gizi yang hilang, pemantauan pertumbuhan, dan edukasi keluarga. Makanan yang masih dapat ditoleransi sebaiknya tetap dipertahankan sesuai rekomendasi klinis.
Pesan penting
- 1. Adverse Reactions to Foods merupakan istilah payung untuk berbagai reaksi tidak diinginkan terhadap makanan.
- 2. Food Allergy melibatkan mekanisme imunologis, sedangkan Food Intolerance tidak melibatkan mekanisme imunologis sebagai penyebab reaksinya.
- 3. Alergi makanan dibagi menjadi IgE-mediated, non-IgE-mediated, dan mixed IgE and non-IgE-mediated.
- 4. Gejala kulit, saluran cerna, batuk, atau gangguan pertumbuhan tidak cukup untuk menetapkan diagnosis alergi makanan tanpa evaluasi klinis.
- 5. Pemeriksaan IgE dan SPT terutama membantu menilai sensitisasi IgE. Hasilnya harus diinterpretasikan bersama riwayat klinis.
- 6. Pada bayi dan anak dengan kesulitan makan atau gangguan pertumbuhan, diagnosis harus mempertimbangkan alergi makanan, intoleransi, penyakit gastrointestinal, asupan yang tidak memadai, serta penyebab lain.
Referensi ilmiah
- 1. Johansson SGO, et al. Revised nomenclature for allergy for global use. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2004;113(5):832-836.
- 2. Boyce JA, et al. Guidelines for the Diagnosis and Management of Food Allergy in the United States. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2010;126(6 Suppl):S1-S58. Teks lengkap pedoman.
- 3. Santos AF, et al. EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023;78(12):3057-3076. DOI: 10.1111/all.15902. PubMed.
- 4. Muraro A, et al. EAACI Food Allergy and Anaphylaxis Guidelines: diagnosis and management of food allergy. Allergy. 2014;69(8):1008-1025. DOI: 10.1111/all.12429. Artikel ilmiah.
- 5. American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI). Food Allergy: A Practice Parameter. Dokumen praktik klinis.
- 6. EAACI. EAACI Guidelines on the Management of IgE-Mediated Food Allergy. Pedoman tata laksana.











Leave a Reply