TERAPI ALERGI MAKANAN PADA ABAD KE-21: DARI PENGHINDARAN ALERGEN MENUJU DESENSITISASI DAN MODULASI RESPONS IMUN
Sandiaz Yudhasmara¹, Widodo Judarwanto², Audi Yudhasmara³
¹RSIA Bunda Jakarta, Jakarta, Indonesia
²Child Health, Rumah Sakit Bunda Jakarta, Jakarta, Indonesia
³Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Indonesia; Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia
Abstrak
Alergi makanan merupakan penyakit imunologis yang dapat menyebabkan morbiditas bermakna, gangguan kualitas hidup, pembatasan diet, kecemasan terhadap paparan tidak disengaja, dan anafilaksis. Selama bertahun-tahun, pengelolaan alergi makanan terutama bertumpu pada penghindaran makanan pencetus dan pemberian epinefrin ketika terjadi reaksi berat. Perkembangan ilmu imunologi dalam dua dekade terakhir telah mengubah paradigma tersebut. Diagnosis kini menekankan korelasi antara riwayat klinis, bukti sensitisasi IgE, dan oral food challenge ketika diagnosis masih meragukan. Dalam bidang terapi, oral immunotherapy telah menunjukkan kemampuan meningkatkan ambang reaksi, terutama pada alergi kacang tanah. Persetujuan Palforzia oleh Food and Drug Administration pada 2020 menjadi tonggak penting sebagai terapi imunoterapi oral yang disetujui untuk alergi kacang tanah. Pada 2024, omalizumab memperoleh persetujuan FDA untuk mengurangi risiko reaksi alergi akibat paparan tidak disengaja terhadap satu atau lebih makanan pada pasien dengan alergi makanan yang dimediasi IgE. Penelitian juga berkembang pada imunoterapi epikutan, imunoterapi sublingual, inhibitor Bruton’s tyrosine kinase, serta kombinasi biologik dengan imunoterapi. Namun, sebagian besar pendekatan tersebut masih memerlukan bukti jangka panjang mengenai keamanan, efektivitas, keberlanjutan toleransi, dan dampaknya terhadap perjalanan alami penyakit. Artikel ini membahas perubahan paradigma diagnosis dan terapi alergi makanan serta menempatkan terapi baru dalam konteks bukti klinis yang tersedia.
Kata kunci: alergi makanan, imunoterapi oral, desensitisasi, omalizumab, IgE, Palforzia, oral food challenge, imunomodulasi
Pendahuluan
Alergi makanan menjadi masalah kesehatan yang semakin mendapat perhatian di berbagai negara. Prevalensi berbeda menurut wilayah, kelompok usia, makanan pencetus, serta metode diagnostik yang digunakan. Perbedaan tersebut penting karena sensitisasi terhadap makanan tidak selalu identik dengan alergi makanan klinis. Pemeriksaan skin prick test dan serum-specific IgE dapat memberikan bukti sensitisasi, tetapi hasil positif tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa konsumsi makanan tersebut akan menyebabkan gejala. Karena itu, evaluasi alergi makanan memerlukan integrasi antara riwayat klinis, pemeriksaan imunologis, dan pada kasus tertentu oral food challenge [1,2].
Editorial Leung dan kolega pada World Journal of Pediatrics tahun 2025 menggambarkan perubahan penting dalam pengelolaan alergi makanan. Tujuan terapi tidak lagi semata-mata mencegah paparan melalui penghindaran makanan, tetapi mulai diarahkan pada peningkatan ambang reaksi dan modulasi respons imun [3]. Perubahan tersebut muncul dari perkembangan penelitian imunoterapi dan terapi biologik yang berusaha memengaruhi mekanisme dasar reaksi alergi.
Diagnosis sebagai dasar pemilihan terapi
Diagnosis yang tepat merupakan tahap pertama sebelum terapi dimulai. Pedoman EAACI 2023 menempatkan riwayat klinis yang berfokus pada alergi sebagai dasar evaluasi, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan untuk mengetahui sensitisasi IgE seperti skin prick test dan serum-specific IgE. Pemeriksaan komponen alergen atau component-resolved diagnostics dapat memberikan informasi tambahan pada makanan tertentu. Basophil activation test juga dapat digunakan pada keadaan tertentu apabila tersedia [1].
Oral food challenge tetap memiliki posisi penting sebagai standar rujukan untuk menentukan alergi makanan klinis. Pemeriksaan ini sangat relevan ketika riwayat klinis dan pemeriksaan sensitisasi belum memberikan kepastian. Pedoman AAAAI-EAACI PRACTALL 2024 menekankan bahwa oral food challenge harus dilakukan dengan protokol yang terstruktur, pemilihan dosis yang tepat, interval observasi yang memadai, dan kriteria penghentian yang jelas [2]. Pendekatan ini penting karena diagnosis alergi yang keliru dapat menyebabkan eliminasi makanan yang sebenarnya dapat ditoleransi.
Dari penghindaran menuju desensitisasi
Penghindaran alergen tetap merupakan bagian penting dalam pengelolaan alergi makanan. Namun, penghindaran tidak mengubah respons imun terhadap makanan pencetus. Paparan tidak sengaja juga dapat terjadi meskipun pasien telah menjalankan diet eliminasi secara ketat. Kondisi tersebut mendorong penelitian terhadap terapi yang dapat meningkatkan jumlah alergen yang dapat ditoleransi sebelum muncul reaksi [3].
Oral immunotherapy atau OIT merupakan salah satu pendekatan yang paling banyak diteliti. Prinsipnya adalah memberikan protein makanan alergen dalam jumlah yang telah ditentukan, kemudian meningkatkan dosis secara bertahap sampai mencapai dosis pemeliharaan. Tujuan utama OIT adalah desensitisasi, yaitu peningkatan ambang reaksi selama pasien tetap menjalani terapi. Konsep ini berbeda dari toleransi imunologis permanen. Peningkatan ambang reaksi selama terapi tidak secara otomatis berarti alergi telah sembuh [4].
Bukti dari studi PALISADE menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan OIT untuk alergi kacang tanah. Dalam uji klinis fase III, AR101 meningkatkan kemampuan anak dan remaja dengan alergi kacang tanah untuk mentoleransi paparan protein kacang tanah dibandingkan plasebo. Pada peserta berusia 4 sampai 17 tahun, 67,2% kelompok AR101 mampu mentoleransi sedikitnya 600 mg protein kacang tanah pada food challenge akhir dibandingkan 4,0% pada kelompok plasebo [4]. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa efek samping cukup sering terjadi, sehingga OIT membutuhkan seleksi pasien dan pengawasan klinis.
Palforzia dan perubahan paradigma terapi
Hasil penelitian tersebut berkontribusi terhadap persetujuan Palforzia oleh FDA pada Januari 2020. Palforzia merupakan bubuk alergen kacang tanah yang digunakan sebagai imunoterapi oral pada pasien dengan diagnosis alergi kacang tanah. FDA menyatakan bahwa terapi ini digunakan untuk mengurangi risiko dan beratnya reaksi akibat paparan tidak disengaja serta harus dilakukan bersamaan dengan penghindaran kacang tanah [5].
Palforzia tidak dimaksudkan sebagai terapi untuk memungkinkan pasien mengonsumsi kacang tanah secara bebas. Produk tersebut juga bukan terapi emergensi untuk anafilaksis. Pasien tetap membutuhkan strategi penghindaran dan penanganan anafilaksis sesuai standar. Makna klinis utama terapi ini adalah peningkatan ambang reaksi terhadap paparan tidak sengaja [5].
Terapi anti-IgE dan omalizumab
Perkembangan berikutnya berasal dari terapi biologik yang menargetkan jalur imunologis. Omalizumab merupakan antibodi monoklonal anti-IgE. IgE memiliki peran sentral dalam alergi tipe I karena berikatan dengan reseptor FcεRI pada sel mast dan basofil. Ketika alergen berikatan dengan kompleks IgE tersebut, sel dapat mengalami aktivasi dan melepaskan mediator inflamasi yang menghasilkan manifestasi alergi [6].
Studi OUtMATCH memberikan bukti klinis penting mengenai penggunaan omalizumab pada alergi makanan multipel. Dalam penelitian tersebut, 180 peserta menjalani randomisasi dan analisis utama mencakup 177 anak serta remaja berusia 1 sampai 17 tahun. Setelah terapi selama 16 sampai 20 minggu, 67% peserta yang mendapatkan omalizumab mampu mengonsumsi sedikitnya 600 mg protein kacang tanah tanpa gejala pembatas dosis, dibandingkan 7% pada kelompok plasebo. Hasil serupa ditemukan untuk kacang mede, susu, dan telur [6].
Berdasarkan bukti tersebut, FDA pada Februari 2024 menyetujui omalizumab untuk pasien berusia 1 tahun atau lebih dengan alergi makanan yang dimediasi IgE, untuk mengurangi risiko reaksi alergi, termasuk anafilaksis, akibat paparan makanan secara tidak disengaja [7]. FDA secara tegas menyatakan bahwa pasien tetap harus menghindari makanan alergennya. Omalizumab juga bukan obat untuk menangani anafilaksis akut [7].
Terapi akut dan inovasi pemberian epinefrin
Perkembangan terapi alergi makanan juga mencakup cara pemberian obat untuk keadaan darurat. Epinefrin tetap merupakan terapi utama anafilaksis. Pada 2024, FDA menyetujui neffy, sediaan epinefrin intranasal, untuk terapi emergensi reaksi alergi tipe I termasuk anafilaksis pada pasien dewasa dan anak dengan berat badan minimal 30 kg [8].
Perkembangan ini memiliki arti praktis karena sebagian pasien mengalami hambatan dalam menggunakan epinefrin injeksi. Namun, epinefrin intranasal tetap merupakan terapi untuk reaksi akut. Terapi tersebut tidak mengubah mekanisme dasar alergi dan tidak meningkatkan toleransi terhadap makanan pencetus [8].
Terapi yang sedang berkembang
Penelitian alergi makanan kini bergerak menuju target imunologis yang lebih spesifik. Salah satu kelompok obat yang sedang dipelajari adalah inhibitor Bruton’s tyrosine kinase atau BTK. BTK terlibat dalam transduksi sinyal melalui reseptor FcεRI pada sel mast dan basofil. Penghambatan jalur tersebut secara teoritis dapat mengurangi aktivasi sel efektor pada reaksi alergi yang dimediasi IgE [3].
Data awal mengenai acalabrutinib menunjukkan peningkatan toleransi terhadap protein kacang tanah pada penelitian manusia berskala kecil. Dalam laporan yang dibahas oleh Leung dan kolega, median dosis kacang tanah yang dapat ditoleransi meningkat dari 29 mg menjadi 4.044 mg setelah terapi [3]. Temuan tersebut menarik secara biologis, tetapi jumlah peserta yang kecil dan desain penelitian membuat hasil tersebut belum dapat digunakan sebagai dasar untuk menganggap inhibitor BTK sebagai terapi standar.
Penelitian lain mengembangkan imunoterapi melalui jalur epikutan dan sublingual. Tujuannya tetap sama, yaitu memberikan paparan alergen dalam bentuk dan dosis yang dapat memengaruhi respons imun dengan risiko sistemik yang diharapkan lebih rendah. Pendekatan tersebut masih memerlukan penelitian lanjutan untuk menentukan efektivitas klinis, keamanan, durasi terapi, dan kemampuan mempertahankan toleransi setelah terapi dihentikan [3].
Kombinasi terapi dan arah precision medicine
Kombinasi terapi merupakan salah satu arah penelitian yang menarik. Omalizumab dapat menekan jalur IgE sehingga secara teoritis dapat membantu mengurangi reaksi selama proses imunoterapi. Kombinasi anti-IgE dengan OIT sedang dipelajari sebagai strategi untuk meningkatkan keamanan dan memungkinkan peningkatan dosis yang lebih cepat pada pasien tertentu [3].
Konsep precision medicine juga mulai memasuki bidang alergi makanan. Respons terhadap OIT atau terapi biologik tidak selalu sama pada setiap pasien. Profil IgE, komponen alergen, fenotipe klinis, usia, penyakit atopik yang menyertai, serta karakteristik imunologis lainnya dapat menjadi dasar pengembangan strategi terapi yang lebih individual. Namun, penggunaan biomarker untuk menentukan terapi secara rutin masih membutuhkan validasi klinis lebih lanjut [1,3].
Tabel. Perkembangan pendekatan diagnosis dan terapi alergi makanan
| Pendekatan | Tujuan | Bukti atau posisi klinis |
| Riwayat klinis terarah | Menentukan hubungan antara makanan dan gejala | Dasar diagnosis |
| Skin prick test | Menilai sensitisasi IgE | Digunakan secara selektif |
| Serum-specific IgE | Menilai sensitisasi IgE | Digunakan berdasarkan kecurigaan klinis |
| Component-resolved diagnostics | Mengidentifikasi sensitisasi terhadap komponen alergen | Berguna pada kondisi tertentu |
| Oral food challenge | Memastikan reaksi klinis terhadap makanan | Standar rujukan diagnosis |
| Penghindaran alergen | Mencegah paparan | Tetap menjadi bagian penting pengelolaan |
| Epinefrin | Mengatasi anafilaksis | Terapi utama keadaan akut |
| OIT | Meningkatkan ambang reaksi | Terapi yang telah digunakan untuk kondisi tertentu |
| Palforzia | Imunoterapi oral kacang tanah | Disetujui FDA |
| Omalizumab | Menghambat jalur IgE | Disetujui FDA untuk indikasi alergi makanan tertentu |
| Inhibitor BTK | Menghambat sinyal FcεRI | Masih investigasional |
| Kombinasi biologik dan OIT | Mengoptimalkan desensitisasi | Masih dalam penelitian |
Implikasi klinis
Perubahan terapi alergi makanan membawa konsekuensi penting bagi praktik klinis. Diagnosis harus semakin presisi sebelum pasien menjalani eliminasi makanan jangka panjang atau imunoterapi. Pemeriksaan sensitisasi tidak boleh diperlakukan sebagai bukti tunggal alergi klinis. Pada kasus yang meragukan, OFC tetap memiliki peran penting dalam menentukan apakah makanan tertentu benar-benar menyebabkan reaksi [1,2].
Terapi imunologis juga perlu ditempatkan dalam konteks tujuan yang realistis. Peningkatan ambang reaksi merupakan hasil klinis yang berbeda dari penyembuhan. Pasien yang mendapatkan OIT atau omalizumab tetap membutuhkan strategi pengelolaan alergi dan rencana penanganan reaksi akut. Pada OIT, risiko reaksi selama terapi harus dipertimbangkan bersama manfaat peningkatan ambang toleransi [4,5]. Pada omalizumab, terapi diberikan secara berulang dan pasien tetap perlu menghindari makanan pencetus [7].
Perspektif masa depan
Perjalanan terapi alergi makanan menunjukkan perubahan dari strategi avoidance menuju disease modification. Perubahan ini tidak berarti penghindaran alergen kehilangan peran. Sebaliknya, penghindaran, kesiapan menggunakan epinefrin, edukasi keluarga, diagnosis yang tepat, dan terapi imunomodulator dapat menjadi bagian dari pendekatan yang lebih komprehensif.
Data sampai saat ini menunjukkan bahwa OIT dan omalizumab telah membawa terapi alergi makanan memasuki fase baru. Namun, pertanyaan ilmiah masih cukup besar. Penelitian perlu menentukan apakah peningkatan ambang toleransi dapat bertahan setelah terapi dihentikan, pasien mana yang memperoleh manfaat terbesar, bagaimana mengurangi efek samping, dan bagaimana terapi dapat diterapkan secara aman serta terjangkau pada berbagai sistem kesehatan.
Kesimpulan
Alergi makanan sedang mengalami perubahan paradigma dalam diagnosis dan pengobatan. Diagnosis modern menempatkan riwayat klinis sebagai dasar dan menggunakan pemeriksaan IgE secara terarah, dengan oral food challenge sebagai standar rujukan ketika diagnosis masih tidak pasti [1,2]. Dalam terapi, OIT telah menunjukkan kemampuan meningkatkan ambang reaksi terhadap kacang tanah dan menjadi dasar persetujuan Palforzia [4,5]. Omalizumab kemudian memperluas pilihan terapi dengan menargetkan IgE pada pasien dengan alergi makanan yang dimediasi IgE [6,7].
Perkembangan tersebut belum dapat disebut sebagai penyembuhan alergi makanan. Sebagian besar terapi bertujuan mengurangi risiko reaksi atau meningkatkan ambang toleransi. Masa depan pengobatan kemungkinan akan mengarah pada kombinasi imunoterapi, terapi biologik, biomarker, dan pendekatan precision medicine. Keberhasilan akhir tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meningkatkan dosis toleransi, tetapi juga oleh keamanan jangka panjang, kualitas hidup, keberlanjutan efek, akses terhadap terapi, dan kemampuan mengidentifikasi pasien yang paling mungkin memperoleh manfaat.
Daftar pustaka
- Santos AF, Riggioni C, Agache I, Akdis CA, Akdis M, Alvarez-Perea A, et al. EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023;78(12):3057-3076. doi:10.1111/all.15902.
- Sampson HA, Arasi S, Bahnson HT, et al. AAAAI-EAACI PRACTALL: Standardizing oral food challenges, 2024 Update. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35:e14276. doi:10.1111/pai.14276.
- Leung ASY, Xing YH, Wong GWK. Food allergy: emerging therapies in the twenty-first century. World J Pediatr. 2025;21:634-643. doi:10.1007/s12519-025-00928-0.
- PALISADE Group of Clinical Investigators. AR101 Oral Immunotherapy for Peanut Allergy. N Engl J Med. 2018;379:1991-2001. doi:10.1056/NEJMoa1812856.
- U.S. Food and Drug Administration. PALFORZIA. Peanut (Arachis hypogaea) Allergen Powder-dnfp. FDA. Updated 2024.
- Wood RA, Togias A, Sicherer SH, Shreffler WG, Kim EH, Jones SM, et al. Omalizumab for the Treatment of Multiple Food Allergies. N Engl J Med. 2024;390:889-899. doi:10.1056/NEJMoa2312382.
- U.S. Food and Drug Administration. FDA Approves First Medication to Help Reduce Allergic Reactions to Multiple Foods After Accidental Exposure. FDA. February 16, 2024.
- U.S. Food and Drug Administration. FDA Approves First Nasal Spray for Treatment of Anaphylaxis. FDA. August 9, 2024.
- Sampath V, Abrams EM, Adlou B, Akdis C, Akdis M, Brough HA, et al. Food allergy across the globe. J Allergy Clin Immunol. 2021;148(6):1347-1364.
- Warren CM, Sehgal S, Sicherer SH, Gupta RS. Epidemiology and the growing epidemic of food allergy in children and adults across the globe. Curr Allergy Asthma Rep. 2024;24:95-106.
- Osborne NJ, Koplin JJ, Martin PE, Gurrin LC, Lowe AJ, Matheson MC, et al. Prevalence of challenge-proven IgE-mediated food allergy using population-based sampling and predetermined challenge criteria in infants. J Allergy Clin Immunol. 2011;127:668-676.e1-2.
- Peters RL, Koplin JJ, Gurrin LC, Dharmage SC, Wake M, Ponsonby AL, et al. The prevalence of food allergy and other allergic diseases in early childhood in a population-based study: HealthNuts age 4-year follow-up. J Allergy Clin Immunol. 2017;140:145-153.e8.
- Gupta RS, Warren CM, Smith BM, Blumenstock JA, Jiang J, Davis MM, et al. The public health impact of parent-reported childhood food allergies in the United States. Pediatrics. 2018;142:e20181235.
- Gupta RS, Warren CM, Smith BM, Jiang J, Blumenstock JA, Davis MM, et al. Prevalence and severity of food allergies among US adults. JAMA Netw Open. 2019;2:e185630.
- Turner PJ, Baseggio Conrado A, Kallis C, O’Rourke E, Haider S, Ullah A, et al. Time trends in the epidemiology of food allergy in England: an observational analysis of Clinical Practice Research Datalink data. Lancet Public Health. 2024;9:e664-e673.













Leave a Reply