ALERGI MAKANAN, DEPRESI, DAN KECEMASAN
Hubungan alergi makanan dengan depresi dan kecemasan telah dilaporkan dalam beberapa penelitian. Studi pada remaja dan dewasa muda menemukan hubungan antara alergi makanan dan gejala kecemasan yang menetap, sedangkan penelitian lain menunjukkan hubungan dengan gejala depresi dan kecemasan berdasarkan laporan orang tua. (PubMed)
Namun, bukti tersebut tidak sepenuhnya konsisten. Penelitian berbasis populasi yang lebih baru menunjukkan peningkatan risiko beberapa masalah kesehatan mental pada anak dengan alergi makanan dibandingkan anak tanpa alergi makanan, tetapi analisis dengan kontrol terhadap faktor keluarga menunjukkan bahwa sebagian hubungan dapat dipengaruhi oleh familial confounding. (PubMed)
Perbedaan hasil penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara alergi makanan dan kesehatan mental kemungkinan bersifat multifaktorial. Keparahan alergi, jumlah makanan yang dihindari, kualitas hidup, pengalaman bullying, gangguan tidur, status nutrisi, kecemasan keluarga, kondisi sosial ekonomi, dan penyakit penyerta dapat berkontribusi terhadap kondisi psikologis pasien.
Depresi pada remaja perlu dinilai sebagai masalah klinis tersendiri. Gejalanya dapat mencakup suasana perasaan sedih atau iritabel, kehilangan minat, menarik diri dari aktivitas, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, kelelahan, gangguan konsentrasi, perasaan tidak berharga, hopelessness, serta pikiran mengenai kematian atau bunuh diri. Gejala tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai manifestasi alergi makanan.
KEINGINAN BUNUH DIRI DAN PERCOBAAN BUNUH DIRI
Istilah keinginan bunuh diri perlu dibedakan dari percobaan bunuh diri. Keinginan atau pikiran bunuh diri merujuk pada pikiran mengenai kematian atau mengakhiri hidup. Percobaan bunuh diri merupakan perilaku yang dilakukan dengan tujuan atau kemungkinan menimbulkan kematian. Non-suicidal self-injury merupakan perilaku melukai diri tanpa tujuan bunuh diri. Perbedaan terminologi ini penting karena setiap kondisi memiliki implikasi penilaian dan penanganan yang berbeda.
Data dari Youth Risk Behavior Survey memberikan salah satu bukti epidemiologis terbaru mengenai hubungan alergi makanan dengan perilaku bunuh diri pada remaja. Dari 22.017 peserta berusia 14 sampai 18 tahun, 15,6% melaporkan alergi makanan. Pada kelompok yang melaporkan percobaan bunuh diri serius, 31,9% juga melaporkan alergi makanan, dibandingkan 15,2% pada peserta yang tidak melaporkan percobaan bunuh diri serius. Setelah penyesuaian terhadap sejumlah kovariat, adjusted odds ratio untuk percobaan bunuh diri yang memerlukan intervensi medis adalah 1,63 dengan 95% confidence interval 1,23 sampai 2,16. Analisis sensitivitas terhadap seluruh percobaan bunuh diri menghasilkan adjusted odds ratio 1,35 dengan 95% confidence interval 1,09 sampai 1,68. (PubMed)
Data tersebut menunjukkan adanya asosiasi, bukan kausalitas. Penelitian menggunakan data survei dan tidak dapat menentukan apakah alergi makanan mendahului perubahan kesehatan mental atau apakah faktor lain menjelaskan sebagian hubungan tersebut. Karena itu, hasil penelitian lebih tepat diterapkan sebagai dasar peningkatan clinical awareness daripada sebagai bukti bahwa alergi makanan menyebabkan perilaku bunuh diri.
Pada praktik klinis, remaja dengan alergi makanan perlu mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pengalaman psikologisnya. Pertanyaan mengenai suasana hati, kecemasan, bullying, kualitas tidur, perubahan aktivitas, hopelessness, dan pikiran mengenai kematian dapat menjadi bagian dari evaluasi ketika terdapat indikasi klinis.
TABEL. MANIFESTASI KLINIS DAN IMPLIKASI PSIKOSOSIAL PADA REMAJA DENGAN ALERGI MAKANAN
| Kondisi atau domain | Manifestasi yang dapat ditemukan | Implikasi klinis |
| Alergi makanan IgE-mediated | Urtikaria, pruritus, angioedema, muntah, nyeri abdomen, batuk, wheezing, hingga anafilaksis | Hubungan temporal dengan pajanan perlu dievaluasi |
| Alergi gastrointestinal non-IgE-mediated | Muntah tertunda, diare, nyeri abdomen, gejala gastrointestinal, feeding difficulties, penolakan makanan, gangguan pertumbuhan pada kondisi tertentu | Diagnosis memerlukan pendekatan berdasarkan fenotipe klinis |
| FPIES | Muntah berulang, pucat, letargi, hipotensi atau dehidrasi pada kasus berat, dapat diikuti diare | Memerlukan pengenalan pola klinis dan tata laksana spesifik |
| Dampak nutrisi | Variasi makanan terbatas, asupan energi tidak adekuat, berat badan sulit meningkat | Memerlukan evaluasi pertumbuhan dan diet |
| Dampak psikososial | Takut terhadap makanan, kecemasan, penghindaran aktivitas sosial, bullying, ketergantungan pada orang tua | Evaluasi kualitas hidup dan dukungan psikososial diperlukan |
| Gejala depresi | Mood sedih atau iritabel, anhedonia, menarik diri, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, kelelahan, gangguan konsentrasi, hopelessness | Perlu evaluasi kesehatan mental secara terpisah dari diagnosis alergi |
| Keinginan bunuh diri | Pikiran tentang kematian atau mengakhiri hidup | Memerlukan penilaian risiko bunuh diri oleh tenaga profesional |
| Percobaan bunuh diri | Perilaku dengan tujuan atau kemungkinan menyebabkan kematian | Memerlukan evaluasi dan intervensi keselamatan segera |
| Oral food challenge | Reaksi atau tidak adanya reaksi setelah pajanan makanan yang terkontrol | Membantu memastikan hubungan klinis antara makanan dan reaksi |
GUT-BRAIN AXIS DAN ALERGI MAKANAN
Gut-brain axis menggambarkan komunikasi dua arah antara saluran gastrointestinal dan sistem saraf pusat. Sistem ini melibatkan sistem saraf enterik, saraf vagus, mediator imun, hormon, metabolit mikrobiota, barrier intestinal, serta berbagai jalur neuroendokrin.
Pada alergi makanan, saluran gastrointestinal merupakan salah satu lokasi penting terjadinya interaksi antara makanan, epitel, sistem imun, mikrobiota, dan jaringan saraf. Penelitian mengenai mikrobiota menunjukkan adanya perbedaan komposisi mikrobiota usus pada anak dengan alergi makanan dibandingkan kontrol sehat. Review tahun 2024 yang mencakup 34 penelitian menemukan pola perubahan mikrobiota pada populasi anak dengan alergi makanan, meskipun heterogenitas penelitian masih menjadi masalah. (PubMed)
Hubungan tersebut tidak dapat disederhanakan menjadi konsep bahwa dysbiosis menyebabkan depresi. Mikrobiota berinteraksi dengan sistem imun dan epitel intestinal, sementara sistem imun dan mediator neuroimun dapat memengaruhi fungsi saraf. Review mengenai neuroimmune interactions dalam alergi makanan menunjukkan bahwa hubungan antara respons imun, sistem saraf, dan perilaku merupakan bidang penelitian yang berkembang. (PubMed)
Dengan demikian, gut-brain axis lebih tepat dipandang sebagai jaringan komunikasi biologis yang mungkin ikut menjembatani kondisi gastrointestinal, imunologis, dan psikologis. Bukti saat ini belum cukup untuk menggunakan pemeriksaan mikrobiota atau biomarker gut-brain axis sebagai alat diagnosis depresi atau prediksi perilaku bunuh diri pada pasien alergi makanan.
Daftar Pustaka
- Cummings AJ, Knibb RC, King RM, Lucas JS. The psychosocial impact of food allergy and food hypersensitivity in children, adolescents and their families: a review. Allergy. 2010;65(8):933-945. (PubMed)
- Sicherer SH, et al. Emotional and behavioral problems in adolescents and young adults with food allergy. Allergy. 2016;71(4):532-540. doi:10.1111/all.12829. (PubMed)
- Herbert LJ, et al. Are children and adolescents with food allergies at increased risk for psychopathology? J Psychosom Res. 2014. (PubMed)
- Bender BG, et al. Condition-specific associations of symptoms of depression and anxiety in adolescents and young adults with asthma and food allergy. J Asthma. 2016. doi:10.3109/02770903.2015.1104694. (PubMed)
- Farnetano R, Carucci L, Coppola S, et al. Gut microbiome features in pediatric food allergy: a scoping review. Front Allergy. 2024;5:1438252. doi:10.3389/falgy.2024.1438252. (PubMed)
- Wallrapp A, Chiu IM. Neuroimmune Interactions in the Intestine. Annu Rev Immunol. 2024. (PubMed)
- EAACI. EAACI guidelines on the management of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2024. (PubMed)













Leave a Reply