Alergi Makanan atau Intoleransi Makanan? Pendekatan Patofisiologi, Diagnosis Diferensial, dan Strategi Evaluasi Klinis Berbasis Bukti
- Sandiaz Yudhasmara¹; Audi Yudhasmara, MD²; Widodo Judarwanto³
- ¹ Rumah Sakit Ibu dan Anak Bunda, Jakarta, Indonesia
² Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jakarta, Indonesia
³ Departemen Kesehatan Anak, Rumah Sakit Ibu dan Anak Bunda, Jakarta, Indonesia
Abstrak
- Latar belakang: Reaksi simpang makanan (adverse reactions to foods) mencakup berbagai manifestasi klinis yang timbul setelah konsumsi makanan, baik akibat mekanisme imunologis maupun nonimunologis. Kesamaan gejala antara alergi makanan, intoleransi makanan, dan gangguan gastrointestinal fungsional dapat menimbulkan kesalahan diagnosis serta pembatasan diet yang tidak diperlukan.
- Tujuan: Menguraikan klasifikasi, mekanisme patofisiologi, manifestasi klinis, pendekatan diagnostik, dan prinsip penatalaksanaan reaksi simpang makanan dengan menekankan perbedaan alergi makanan dan intoleransi makanan.
- Metode: Artikel ini merupakan tinjauan naratif berdasarkan pedoman klinis dan publikasi ilmiah mengenai diagnosis alergi makanan, alergi protein susu sapi, food protein-induced enterocolitis syndrome (FPIES), dan uji tantang makanan oral.
- Hasil: Alergi makanan merupakan respons imunologis terhadap makanan yang dapat diperantarai IgE, non-IgE, atau mekanisme campuran. Intoleransi makanan umumnya tidak melibatkan mekanisme alergi imunologis dan dapat berkaitan dengan defisiensi enzim, gangguan absorpsi, efek farmakologis, atau sensitivitas terhadap komponen makanan tertentu. Riwayat klinis yang terarah merupakan dasar evaluasi. Pemeriksaan skin prick test dan IgE spesifik digunakan untuk menilai sensitisasi pada dugaan alergi IgE, tetapi hasil positif tidak selalu menunjukkan alergi klinis. Oral food challenge (OFC) merupakan metode rujukan untuk mengonfirmasi alergi makanan pada kasus terpilih.
- Kesimpulan: Diagnosis reaksi simpang makanan harus didasarkan pada integrasi riwayat klinis, pemeriksaan yang sesuai dengan mekanisme yang dicurigai, dan uji konfirmasi bila diperlukan. Pendekatan ini membantu mencegah diagnosis berlebihan, mengurangi risiko defisiensi gizi akibat eliminasi makanan yang tidak tepat, serta memastikan penanganan reaksi alergi berat secara optimal.
Kata kunci: adverse reactions to foods, alergi makanan, intoleransi makanan, IgE spesifik, alergi non-IgE, oral food challenge.
1. Pendahuluan
- Reaksi simpang makanan merupakan istilah payung yang digunakan untuk menggambarkan respons merugikan setelah konsumsi makanan. Spektrum klinisnya luas, mulai dari gangguan gastrointestinal ringan hingga reaksi sistemik yang mengancam jiwa. Namun, hubungan temporal antara konsumsi makanan dan munculnya gejala tidak dengan sendirinya membuktikan adanya alergi makanan. Penilaian harus mempertimbangkan mekanisme biologis, karakteristik gejala, waktu munculnya reaksi, konsistensi respons pada paparan berulang, serta diagnosis alternatif yang relevan [1,2].
- Alergi makanan didefinisikan sebagai respons imunologis yang merugikan terhadap makanan tertentu. Sebaliknya, intoleransi makanan umumnya merupakan respons nonimunologis, misalnya akibat maldigesti, malabsorpsi, atau efek fisiologis zat tertentu. Selain itu, reaksi toksik akibat kontaminasi makanan, penyakit gastrointestinal fungsional, penyakit seliak, dan gangguan gastrointestinal eosinofilik perlu dipertimbangkan sebagai entitas klinis tersendiri.
- Pembedaan ini memiliki implikasi langsung terhadap penatalaksanaan. Alergi IgE dapat menyebabkan anafilaksis bahkan setelah paparan dalam jumlah kecil, sedangkan intoleransi enzimatik sering dipengaruhi oleh jumlah makanan yang dikonsumsi. Kesalahan klasifikasi dapat menyebabkan penghindaran makanan yang tidak perlu, gangguan kualitas hidup, dan masalah nutrisi, terutama pada bayi dan anak yang sedang mengalami pertumbuhan [2,3].
2. Klasifikasi Reaksi Simpang Makanan
- Secara klinis, reaksi simpang makanan dapat diklasifikasikan berdasarkan mekanisme yang mendasarinya.
| Kategori | Mekanisme utama | Contoh | Pendekatan diagnostik |
|---|---|---|---|
| Reaksi toksik | Paparan toksin, kontaminan, atau zat berbahaya dalam makanan | Keracunan makanan | Riwayat paparan, pola kasus, dan pemeriksaan sesuai dugaan |
| Alergi IgE | Respons imun yang melibatkan IgE spesifik, sel mast, dan basofil | Alergi kacang, telur, susu, ikan, atau udang | Riwayat terarah, skin prick test, IgE spesifik, dan OFC bila diperlukan |
| Alergi non-IgE | Respons imun tanpa IgE sebagai mediator utama | FPIES dan sejumlah fenotipe alergi gastrointestinal | Pola klinis, evaluasi diagnosis alternatif, eliminasi dan reintroduksi atau OFC sesuai indikasi |
| Alergi dengan mekanisme campuran | Keterlibatan mekanisme IgE dan seluler | Sejumlah kasus gangguan alergi gastrointestinal | Evaluasi klinis dan pemeriksaan khusus berdasarkan penyakit |
| Intoleransi enzimatik atau malabsorptif | Gangguan pencernaan atau absorpsi komponen makanan | Intoleransi laktosa | Riwayat diet dan pemeriksaan khusus bila dibutuhkan |
| Reaksi farmakologis atau terhadap zat bioaktif | Respons terhadap zat tertentu dalam makanan | Gejala terkait kafein atau amina biogenik pada individu tertentu | Evaluasi paparan, dosis, obat, dan penyebab alternatif |
| Gangguan terkait makanan lainnya | Mekanisme beragam atau belum sepenuhnya dipahami | Penyakit seliak dan sensitivitas gandum non-seliak | Pemeriksaan khusus sesuai kriteria masing-masing penyakit |
- Klasifikasi tersebut tidak berarti bahwa setiap kategori memiliki batas klinis yang selalu tegas. Beberapa penyakit memerlukan pendekatan multidisiplin, khususnya jika gejala gastrointestinal menetap, terdapat gangguan pertumbuhan, atau diagnosis awal tidak menjelaskan keseluruhan manifestasi klinis.
- Penyakit seliak, misalnya, merupakan penyakit sistemik yang dimediasi respons imun terhadap gluten pada individu yang rentan. Oleh karena itu, penyakit ini tidak tepat disamakan dengan intoleransi laktosa atau intoleransi makanan nonimunologis.
3. Alergi Makanan yang Diperantarai IgE
- 3.1 Patofisiologi
- Alergi IgE umumnya berkembang melalui dua tahap. Tahap pertama adalah sensitisasi, ketika sistem imun membentuk IgE spesifik terhadap alergen. IgE kemudian berikatan dengan reseptor berafinitas tinggi pada sel mast dan basofil. Pada paparan berikutnya, alergen dapat menghubungkan IgE yang terikat pada sel tersebut dan memicu aktivasi sel serta pelepasan mediator inflamasi.
- Mediator seperti histamin, leukotrien, dan prostaglandin berkontribusi terhadap timbulnya gejala pada kulit, saluran cerna, saluran pernapasan, dan sistem kardiovaskular. Mekanisme ini menjelaskan mengapa reaksi dapat berlangsung cepat dan, pada kasus tertentu, berkembang menjadi anafilaksis [1,2].
- 3.2 Manifestasi klinis
- Gejala umumnya timbul dalam beberapa menit hingga sekitar dua jam setelah paparan, meskipun waktu reaksi dapat bervariasi.
- Manifestasi klinis meliputi:
- Kulit dan mukosa: urtikaria, pruritus, angioedema, dan eritema.
- Gastrointestinal: muntah, nyeri perut, dan diare.
- Respirasi: batuk, mengi, suara serak, atau gangguan pernapasan.
- Kardiovaskular: hipotensi, pusing, sinkop, atau kolaps.
- Tidak semua reaksi melibatkan beberapa sistem organ. Anafilaksis dapat terjadi tanpa manifestasi kulit yang jelas. Karena itu, dugaan anafilaksis harus dinilai berdasarkan keseluruhan gejala dan perjalanan klinis, bukan hanya keberadaan biduran.
- 3.3 Sindrom alergi oral
- Sindrom alergi oral, atau pollen-food allergy syndrome, merupakan reaksi yang berkaitan dengan reaktivitas silang antara alergen serbuk sari dan protein homolog pada buah atau sayuran tertentu. Gejala biasanya muncul segera setelah konsumsi makanan, terutama dalam bentuk mentah, dan berupa gatal atau kesemutan pada rongga mulut serta tenggorokan.
- Sebagian besar kasus terbatas pada orofaring, tetapi reaksi sistemik juga dapat terjadi. Diagnosis mempertimbangkan riwayat alergi serbuk sari, makanan yang memicu gejala, dan hasil pemeriksaan alergi yang relevan. Toleransi terhadap makanan yang dimasak tidak boleh diasumsikan berlaku untuk semua pasien atau semua jenis alergen.
- 3.4 Anafilaksis yang bergantung pada kofaktor
- Pada sebagian pasien, reaksi alergi hanya muncul atau menjadi lebih berat ketika konsumsi makanan disertai kofaktor tertentu. Salah satu contohnya adalah wheat-dependent exercise-induced anaphylaxis, yang pada banyak kasus berkaitan dengan sensitisasi terhadap omega-5 gliadin.
- Olahraga setelah konsumsi gandum dapat menjadi pemicu, sementara faktor lain seperti alkohol dan OAINS dapat memengaruhi ambang reaksi pada sebagian pasien. Diagnosis didasarkan pada riwayat klinis terperinci dan pemeriksaan alergi terarah. Uji provokasi yang melibatkan makanan dan olahraga memiliki risiko dan hanya boleh dipertimbangkan oleh tim spesialis dalam kondisi yang sesuai.
- 3.5 Sindrom alfa-gal
- Sindrom alfa-gal merupakan alergi terhadap karbohidrat galaktosa-α-1,3-galaktosa yang dapat ditemukan pada produk dari mamalia nonprimata. Sensitisasi sering berkaitan dengan gigitan kutu tertentu. Reaksi setelah konsumsi daging mamalia dapat tertunda selama beberapa jam, sehingga hubungan antara paparan dan gejala lebih sulit dikenali.
- Manifestasi dapat mencakup urtikaria, gejala gastrointestinal, angioedema, atau anafilaksis. Diagnosis memerlukan kesesuaian antara riwayat klinis dan pemeriksaan IgE spesifik terhadap alfa-gal. Hasil pemeriksaan positif tanpa gejala yang sesuai tidak selalu membuktikan alergi klinis.
4. Alergi Makanan Non-IgE dan Gangguan Gastrointestinal
- 4.1 Prinsip umum
- Alergi non-IgE merupakan kelompok heterogen yang tidak memiliki satu biomarker diagnostik universal. Manifestasinya sering didominasi gangguan gastrointestinal dan dapat muncul lebih lambat daripada reaksi IgE. Namun, waktu munculnya gejala saja tidak cukup untuk membedakan alergi non-IgE dari intoleransi atau gangguan gastrointestinal fungsional.
- Alergi protein susu sapi merupakan salah satu contoh penting pada bayi. Penyakit ini dapat memiliki fenotipe IgE, non-IgE, atau mekanisme campuran. Gejalanya tidak spesifik, sehingga diagnosis berlebihan menjadi masalah klinis yang perlu diperhatikan [3].
- 4.2 Alergi protein susu sapi
- Manifestasi yang dapat ditemukan meliputi muntah, diare, darah pada tinja dalam konteks klinis tertentu, gejala kulit, dan gangguan pertumbuhan. Namun, gumoh, kolik, perubahan konsistensi tinja, konstipasi, atau penolakan makan tidak dapat digunakan secara terpisah untuk memastikan diagnosis alergi protein susu sapi.
- Menurut posisi ESPGHAN, diagnosis memerlukan penilaian klinis yang cermat dan, pada banyak kasus, eliminasi diagnostik dalam waktu terbatas yang diikuti reintroduksi atau uji tantang yang sesuai. Pada dugaan alergi non-IgE, uji konfirmasi perlu direncanakan dengan mempertimbangkan jenis reaksi dan keselamatan pasien [3].
- Eliminasi susu sapi tanpa rencana evaluasi lanjutan berisiko mempertahankan diagnosis yang belum terbukti. Pada bayi dan anak, pemilihan pengganti susu juga harus memperhatikan kecukupan energi, protein, kalsium, dan mikronutrien.
- 4.3 Food protein-induced enterocolitis syndrome
- FPIES merupakan sindrom alergi makanan non-IgE yang terutama memengaruhi saluran cerna. Pada FPIES akut, muntah berulang biasanya muncul sekitar 1–4 jam setelah konsumsi makanan pemicu. Gejala lain dapat berupa pucat, letargi, dan diare yang muncul kemudian. Pada kasus berat, pasien dapat mengalami dehidrasi atau gangguan sirkulasi.
- FPIES klasik umumnya tidak menunjukkan urtikaria atau mengi sebagai manifestasi utama. Diagnosis didasarkan pada kriteria klinis, pola waktu reaksi, dan evaluasi penyebab alternatif. Tidak terdapat pemeriksaan IgE spesifik yang dapat menyingkirkan atau memastikan seluruh kasus FPIES.
- Penanganan episode akut bergantung pada tingkat keparahan. Muntah berulang disertai letargi, pucat berat, atau tanda dehidrasi membutuhkan penilaian medis segera. Uji tantang pada dugaan FPIES harus menggunakan protokol khusus dan dilakukan dengan kesiapan menangani reaksi yang berat [4].
- 4.4 Gangguan gastrointestinal eosinofilik
- Gangguan gastrointestinal eosinofilik merupakan kelompok penyakit inflamasi yang ditandai infiltrasi eosinofil pada saluran cerna, dengan kriteria diagnostik yang berbeda menurut lokasi dan jenis penyakit. Esofagitis eosinofilik merupakan salah satu entitas yang paling dikenal.
- Pada anak, esofagitis eosinofilik dapat bermanifestasi sebagai kesulitan makan, muntah, nyeri perut, penolakan makanan, atau gangguan pertumbuhan. Pada anak yang lebih besar dan orang dewasa, disfagia dan impaksi makanan dapat menjadi petunjuk penting.
- Diagnosis esofagitis eosinofilik memerlukan korelasi antara gejala, endoskopi, dan biopsi esofagus sesuai pedoman. Pemeriksaan eosinofil dalam darah saja tidak dapat menegakkan diagnosis. Gangguan eosinofilik di bagian saluran cerna lainnya memerlukan evaluasi khusus serta pengecualian penyebab lain, termasuk infeksi parasit, obat, dan penyakit sistemik.
- Kelompok penyakit ini tidak seharusnya disederhanakan menjadi alergi makanan non-IgE biasa. Hubungan antara makanan dan penyakit dapat bervariasi, dan evaluasi gastroenterologi sering diperlukan.
5. Intoleransi Makanan dan Diagnosis Diferensial
- 5.1 Intoleransi laktosa
- Intoleransi laktosa terjadi ketika aktivitas enzim laktase tidak cukup untuk mencerna laktosa secara optimal. Laktosa yang tidak tercerna dapat meningkatkan beban osmotik dalam usus dan difermentasi oleh mikrobiota kolon, menghasilkan gas serta keluhan gastrointestinal.
- Gejala meliputi kembung, flatulensi, nyeri perut, dan diare. Keparahan dipengaruhi jumlah laktosa yang dikonsumsi, aktivitas laktase, dan kondisi saluran cerna.
- Intoleransi laktosa harus dibedakan dari alergi protein susu sapi. Produk bebas laktosa masih dapat mengandung protein susu, sehingga tidak otomatis aman bagi pasien dengan alergi protein susu sapi. Sebaliknya, intoleransi laktosa tidak selalu memerlukan penghindaran semua produk susu karena toleransi dapat bergantung pada jumlah laktosa dan jenis produk.
- 5.2 Reaksi terhadap histamin dan zat bioaktif
- Histamin merupakan amina biogenik yang terdapat pada sejumlah makanan dan juga diproduksi secara endogen. Gejala setelah konsumsi makanan kaya histamin dapat menyerupai alergi, tetapi diagnosis intoleransi histamin masih memiliki keterbatasan dalam definisi, kriteria, dan pemeriksaan yang tervalidasi.
- Penilaian perlu mempertimbangkan penyebab alternatif, termasuk alergi IgE, efek obat, penyakit gastrointestinal, dan faktor lain yang memengaruhi gejala. Pemeriksaan atau diet eliminasi yang tidak tervalidasi tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya dasar diagnosis.
- 5.3 Sensitivitas gandum non-seliak
- Sensitivitas gandum non-seliak merupakan diagnosis yang dipertimbangkan pada pasien dengan gejala terkait konsumsi gandum atau gluten setelah penyakit seliak dan alergi gandum yang relevan dievaluasi. Gejala dapat mencakup kembung, nyeri perut, perubahan pola buang air besar, dan keluhan ekstraintestinal.
- Pada sebagian pasien, gejala mungkin berkaitan dengan komponen gandum selain gluten, termasuk fruktan yang termasuk kelompok FODMAP. Karena mekanisme dan kriteria diagnosis belum sepenuhnya seragam, istilah ini perlu digunakan secara hati-hati.
- Pemeriksaan penyakit seliak sebaiknya dilakukan sebelum memulai diet bebas gluten, karena penghindaran gluten dapat memengaruhi hasil serologi dan pemeriksaan lanjutan.
6. Pendekatan Diagnostik Berbasis Bukti
- 6.1 Riwayat klinis terarah
- Riwayat klinis merupakan dasar evaluasi alergi makanan. Informasi yang perlu dikumpulkan meliputi:
- Identitas makanan, jumlah, bentuk pengolahan, dan waktu konsumsi.
- Waktu antara paparan dan timbulnya gejala.
- Jenis gejala, durasi, keparahan, dan sistem organ yang terlibat.
- Reaksi pada paparan sebelumnya atau berikutnya.
- Makanan yang dapat dikonsumsi tanpa gejala.
- Faktor kofaktor, seperti olahraga atau penggunaan obat tertentu.
- Riwayat atopi dan penyakit gastrointestinal.
- Status pertumbuhan serta dampak diet eliminasi.
- Riwayat yang konsisten dan spesifik meningkatkan kemungkinan diagnosis tertentu, tetapi tetap harus dikorelasikan dengan pemeriksaan yang relevan.
- 6.2 Skin prick test dan IgE spesifik
- Pada dugaan alergi IgE, skin prick test dan pengukuran IgE spesifik dapat membantu menilai sensitisasi. Pemilihan alergen harus didasarkan pada riwayat klinis, bukan semata-mata penggunaan panel yang luas.
- Sensitisasi tidak identik dengan alergi klinis. Hasil positif menunjukkan bahwa sistem imun mengenali alergen, tetapi tidak selalu berarti paparan akan menyebabkan gejala. Nilai prediktif hasil juga berbeda menurut jenis makanan, karakteristik pasien, dan metode pemeriksaan [1].
- Pada kasus terpilih, pemeriksaan komponen alergen atau basophil activation test dapat membantu memperjelas probabilitas diagnosis, bergantung pada ketersediaan dan indikasi klinis. Pemeriksaan tersebut tidak menggantikan penilaian klinis.
- 6.3 Pemeriksaan alergi non-IgE
- Tidak ada satu pemeriksaan darah yang dapat mendiagnosis seluruh alergi non-IgE. Evaluasi didasarkan pada fenotipe klinis, pemeriksaan untuk menyingkirkan diagnosis alternatif, serta eliminasi dan reintroduksi atau OFC apabila sesuai.
- Endoskopi dan biopsi digunakan bila dicurigai penyakit tertentu, seperti esofagitis eosinofilik, bukan sebagai pemeriksaan rutin untuk semua keluhan setelah makan.
- Pemeriksaan IgG atau IgG4 spesifik terhadap makanan tidak direkomendasikan untuk mendiagnosis alergi makanan. Hasilnya tidak dapat digunakan untuk menetapkan makanan pemicu secara andal.
- 6.4 Eliminasi dan reintroduksi makanan
- Diet eliminasi diagnostik harus memiliki tujuan yang jelas, durasi terbatas, serta kriteria evaluasi sebelum dimulai. Perbaikan setelah eliminasi belum cukup untuk membuktikan alergi karena gejala dapat berfluktuasi secara alami atau dipengaruhi perubahan pola makan lainnya.
- Reintroduksi atau uji tantang membantu menilai hubungan sebab-akibat antara makanan dan gejala. Namun, reintroduksi di rumah hanya sesuai untuk kondisi yang dinilai aman oleh tenaga kesehatan. Pada riwayat anafilaksis, reaksi berat, atau dugaan FPIES yang signifikan, prosedur harus direncanakan dengan pengawasan medis yang sesuai.
7. Oral Food Challenge sebagai Metode Rujukan
- OFC merupakan prosedur pemberian makanan secara bertahap dengan pemantauan klinis untuk menentukan apakah makanan tertentu menimbulkan reaksi. Pedoman EAACI menempatkan OFC sebagai metode rujukan dalam diagnosis alergi makanan, terutama ketika riwayat dan pemeriksaan awal memberikan hasil yang belum konklusif [1,5].
- OFC tidak diperlukan pada setiap pasien. Keputusan melakukan uji tantang mempertimbangkan probabilitas alergi, tingkat risiko, manfaat diagnostik, dan apakah hasilnya akan mengubah tata laksana.
| Metode | Karakteristik | Kegunaan |
|---|---|---|
| OFC terbuka | Pasien dan penilai mengetahui makanan yang diberikan | Umum digunakan dalam praktik klinis |
| OFC tersamar tunggal | Salah satu pihak tidak mengetahui jenis pemberian | Berguna pada situasi tertentu |
| OFC tersamar ganda dengan plasebo | Pasien dan penilai tidak mengetahui apakah makanan atau plasebo diberikan | Mengurangi bias ekspektasi dan sering digunakan dalam penelitian atau kasus terpilih |
- Prosedur harus mengikuti protokol yang sesuai dengan makanan, usia, riwayat reaksi, dan kemungkinan mekanisme penyakit. Pemantauan dan kesiapan menangani reaksi akut merupakan bagian penting dari keselamatan OFC [5].
- Pada alergi non-IgE, strategi konfirmasi berbeda menurut fenotipe. Pada sebagian kasus alergi protein susu sapi non-IgE, eliminasi diagnostik singkat yang diikuti reintroduksi terencana merupakan komponen penting untuk mengurangi risiko diagnosis berlebihan [3]. Pada FPIES, uji tantang harus mempertimbangkan kemungkinan muntah berat, letargi, dan dehidrasi [4].
- OFC tidak boleh dilakukan sebagai eksperimen mandiri di rumah pada pasien berisiko tinggi. Uji tantang juga tidak boleh dirancang untuk sengaja memicu gejala neurologis berat atau kondisi yang berpotensi membahayakan pasien.
8. Prinsip Penatalaksanaan dan Pencegahan Diagnosis Berlebihan
- Penatalaksanaan harus ditentukan berdasarkan diagnosis yang paling mungkin dan tingkat kepastian diagnostiknya.
- Pada alergi makanan yang telah terkonfirmasi, penghindaran alergen yang relevan, edukasi pengenalan reaksi, dan rencana penanganan darurat merupakan bagian penting tata laksana. Pasien dengan risiko anafilaksis harus mendapatkan penilaian kebutuhan epinefrin dan instruksi penggunaannya sesuai pedoman klinis.
- Pada intoleransi makanan, penanganan diarahkan pada mekanisme yang mendasari. Sebagai contoh, intoleransi laktosa dapat dikelola dengan menyesuaikan asupan laktosa sesuai toleransi, bukan otomatis menghindari semua produk susu seumur hidup.
- Pada bayi dan anak, eliminasi makanan perlu disertai pemantauan kecukupan energi, protein, dan mikronutrien. Diet yang terlalu restriktif dapat mengganggu pertumbuhan dan meningkatkan beban keluarga. Evaluasi ulang secara berkala diperlukan untuk menilai apakah pembatasan masih dibutuhkan dan apakah toleransi telah berkembang.
- Diagnosis berlebihan harus dihindari dengan tidak menyamakan gejala nonspesifik, hasil tes positif, atau perbaikan sementara setelah diet eliminasi dengan bukti definitif alergi makanan.
9. Kesimpulan
- Reaksi simpang makanan merupakan kelompok kondisi heterogen yang mencakup reaksi toksik, alergi imunologis, intoleransi nonimunologis, dan penyakit lain yang berkaitan dengan konsumsi makanan. Alergi IgE dapat menimbulkan reaksi cepat hingga anafilaksis, sedangkan alergi non-IgE memiliki manifestasi dan strategi diagnosis yang berbeda. Intoleransi makanan umumnya berkaitan dengan gangguan pencernaan, absorpsi, atau respons terhadap komponen makanan tertentu.
- Riwayat klinis terarah merupakan langkah pertama dalam evaluasi. Pemeriksaan skin prick test dan IgE spesifik membantu menilai sensitisasi pada dugaan alergi IgE, tetapi harus diinterpretasikan bersama gejala. Eliminasi makanan harus direncanakan dan diikuti konfirmasi bila sesuai. OFC merupakan metode rujukan penting dalam kasus terpilih dan harus dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan pasien.
- Pendekatan diagnostik berbasis bukti diperlukan untuk meningkatkan ketepatan diagnosis, menghindari penghindaran makanan yang tidak diperlukan, mempertahankan kecukupan gizi, dan memastikan bahwa reaksi alergi yang berpotensi mengancam jiwa dapat dikenali serta ditangani dengan tepat.
Daftar Pustaka
- Santos AF, Riggioni C, Agache I, et al. EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy. 2023;78(12):3057-3076. doi:10.1111/all.15902.
- Sicherer SH, Sampson HA. Food allergy: A review and update on epidemiology, pathogenesis, diagnosis, prevention, and management. J Allergy Clin Immunol. 2018;141(1):41-58. doi:10.1016/j.jaci.2017.11.003.
- Vandenplas Y, Broekaert I, Domellöf M, et al. An ESPGHAN position paper on the diagnosis, management, and prevention of cow’s milk allergy. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2024;78(2):386-413. doi:10.1097/MPG.0000000000003897.
- Nowak-Węgrzyn A, Chehade M, Groetch ME, et al. International consensus guidelines for the diagnosis and management of food protein-induced enterocolitis syndrome: Executive summary. J Allergy Clin Immunol. 2017;139(4):1111-1126.e4. doi:10.1016/j.jaci.2016.12.966.
- Bird JA, Leonard S, Groetch M, et al. Conducting an oral food challenge: An update to the 2009 Adverse Reactions to Foods Committee Work Group Report. J Allergy Clin Immunol Pract. 2020;8(1):75-90.e17. doi:10.1016/j.jaip.2019.09.029.
- Sampson HA, Gerth van Wijk R, Bindslev-Jensen C, et al. Standardizing double-blind, placebo-controlled oral food challenges: AAAAI-EAACI PRACTALL consensus report. J Allergy Clin Immunol. 2012;130(6):1260-1274. doi:10.1016/j.jaci.2012.10.017.












Leave a Reply