ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Tata Laksana Alergi Makanan dan Anafilaksis: Tinjauan Ilmiah Terbaru dari JAMA 2024

Tata Laksana Alergi Makanan dan Anafilaksis: Tinjauan Ilmiah Terbaru dari JAMA 2024

Alergi makanan yang dimediasi oleh imunoglobulin E (IgE) merupakan salah satu masalah kesehatan yang terus meningkat di seluruh dunia. Dalam ulasan yang diterbitkan di JAMA (2024), para ahli menegaskan bahwa alergi makanan tidak hanya memengaruhi kualitas hidup pasien, tetapi juga dapat menyebabkan anafilaksis, yaitu reaksi alergi berat yang berpotensi mengancam jiwa. Oleh karena itu, diagnosis yang akurat, edukasi pasien, serta penanganan yang cepat menjadi kunci utama dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat alergi makanan.

Berdasarkan data yang dirangkum JAMA, diperkirakan sekitar 7,6% anak dan 10,8% orang dewasa di Amerika Serikat mengalami alergi makanan yang dimediasi IgE. Lebih dari 90% kasus disebabkan oleh sembilan kelompok makanan utama, yaitu susu sapi, telur, kacang tanah (peanut), kacang pohon (tree nuts), gandum, kedelai, ikan, kerang (crustacean shellfish), dan wijen (sesame). Di antara semua penyebab tersebut, kacang tanah merupakan penyebab tersering anafilaksis fatal atau hampir fatal, diikuti oleh kacang pohon dan makanan laut.

Selain alergi makanan klasik, JAMA juga menyoroti meningkatnya kasus Alpha-gal Syndrome, yaitu alergi terhadap daging mamalia seperti sapi, kambing, dan domba yang dipicu oleh gigitan kutu (tick bite). Berbeda dengan alergi makanan pada umumnya yang muncul dalam hitungan menit, reaksi pada Alpha-gal Syndrome biasanya baru timbul 3–6 jam setelah mengonsumsi daging merah. Kondisi ini kini menjadi salah satu penyebab utama anafilaksis akibat makanan pada orang dewasa di beberapa wilayah Amerika Serikat.

Dalam aspek diagnosis, artikel ini menegaskan bahwa riwayat klinis tetap menjadi dasar utama. Pemeriksaan skin prick test dan IgE spesifik dapat membantu, tetapi hasil positif tidak selalu berarti seseorang benar-benar memiliki alergi klinis. Sebaliknya, hasil negatif juga tidak selalu menyingkirkan alergi. Oleh karena itu, bila diagnosis masih meragukan, Oral Food Challenge (OFC) yang dilakukan oleh dokter berpengalaman tetap merupakan baku emas (gold standard) untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menyebabkan reaksi alergi.

Penatalaksanaan alergi makanan menurut JAMA berfokus pada menghindari makanan penyebab yang telah dipastikan, membaca label makanan dengan teliti, memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga, serta menyusun rencana penanganan bila terjadi reaksi alergi. Pada pasien dengan riwayat anafilaksis atau risiko tinggi, epinefrin intramuskular merupakan terapi lini pertama dan harus diberikan sesegera mungkin ketika muncul tanda-tanda anafilaksis. Antihistamin maupun kortikosteroid bukan pengganti epinefrin dalam kondisi tersebut.

Perkembangan terapi alergi makanan juga terus berlangsung. Salah satu kemajuan penting adalah oral immunotherapy (OIT) yang bertujuan meningkatkan ambang toleransi terhadap makanan penyebab alergi, terutama alergi kacang tanah. Di Amerika Serikat telah tersedia satu produk OIT yang mendapat persetujuan US Food and Drug Administration (FDA) untuk alergi kacang tanah pada pasien tertentu. Meskipun demikian, terapi ini bukan menyembuhkan alergi, melainkan membantu mengurangi risiko reaksi berat akibat paparan yang tidak disengaja, sehingga tetap harus dilakukan di bawah pengawasan tenaga medis yang berpengalaman.

Kesimpulannya, ulasan JAMA 2024 menegaskan bahwa tata laksana alergi makanan modern harus mengutamakan diagnosis yang tepat, penghindaran makanan penyebab yang terkonfirmasi, kesiapan menghadapi anafilaksis dengan epinefrin, serta pemanfaatan imunoterapi pada pasien yang sesuai indikasi. Pendekatan yang berbasis bukti ilmiah ini diharapkan dapat meningkatkan keselamatan pasien sekaligus menghindari pembatasan makanan yang tidak diperlukan.

Tabel. Poin Penting Tata Laksana Alergi Makanan Menurut JAMA 2024

Aspek Temuan Utama
Prevalensi Sekitar 7,6% anak dan 10,8% dewasa mengalami alergi makanan IgE.
Penyebab tersering Susu sapi, telur, kacang tanah, kacang pohon, gandum, kedelai, ikan, kerang, wijen.
Penyebab anafilaksis fatal tersering Kacang tanah, diikuti kacang pohon dan kerang.
Diagnosis Riwayat klinis, skin prick test, IgE spesifik, dan Oral Food Challenge sebagai baku emas bila diperlukan.
Tata laksana utama Menghindari makanan penyebab yang telah dipastikan dan edukasi pasien.
Terapi anafilaksis Epinefrin intramuskular adalah terapi lini pertama.
Terapi baru Oral immunotherapy (OIT) dapat dipertimbangkan pada pasien terpilih, terutama alergi kacang tanah.
Prognosis Sebagian besar pasien dapat hidup normal dengan edukasi, penghindaran alergen, dan penanganan yang tepat.

Daftar Pustaka

Iglesia EGA, Kwan M, Virkud YV, Iweala OI. Management of Food Allergies and Food-Related Anaphylaxis. JAMA. 2024;331(6):510-521. doi:10.1001/jama.2023.26857.

Visited 4 times, 4 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *