ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Alergi dan Sistem Kardiovaskular: Peran Sel Mast Jantung dan Mediator Alergi pada Anafilaksis

Alergi dan Sistem Kardiovaskular: Peran Sel Mast Jantung dan Mediator Alergi pada Anafilaksis

Audi Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Abstrak

Alergi merupakan gangguan sistem imun yang dapat menyebabkan reaksi ringan hingga kondisi mengancam nyawa berupa anafilaksis. Selama ini manifestasi alergi sering dikaitkan dengan gangguan kulit, saluran napas, dan sistem pencernaan. Namun, bukti ilmiah menunjukkan bahwa sistem kardiovaskular merupakan salah satu organ utama yang menentukan beratnya reaksi alergi, terutama pada anafilaksis.

Anafilaksis terjadi akibat aktivasi sel mast dan basofil yang menyebabkan pelepasan berbagai mediator inflamasi seperti histamin, leukotrien, platelet-activating factor (PAF), triptase, dan sitokin. Mediator tersebut tidak hanya memengaruhi pembuluh darah perifer, tetapi juga secara langsung memengaruhi jantung. Sel mast ditemukan dalam jaringan jantung, terutama di sekitar pembuluh darah koroner dan jaringan miokard. Aktivasi sel mast jantung dapat menyebabkan gangguan kontraksi otot jantung, perubahan irama jantung, gangguan aliran darah koroner, hingga kegagalan sirkulasi.

Artikel ini membahas hubungan antara alergi dan sistem kardiovaskular berdasarkan kajian ilmiah Triggiani dan kolega dalam Clinical and Experimental Immunology tahun 2008. Pemahaman mengenai mekanisme imunologi pada jantung memberikan wawasan baru bahwa anafilaksis merupakan kondisi sistemik dengan keterlibatan kompleks antara sistem imun, pembuluh darah, dan fungsi jantung.

Kata kunci: alergi, anafilaksis, jantung, sel mast, histamin, mediator inflamasi, sistem kardiovaskular


Pendahuluan

Penyakit alergi mengalami peningkatan prevalensi dalam beberapa dekade terakhir. Kondisi seperti alergi makanan, rinitis alergi, dermatitis atopik, dan asma semakin banyak ditemukan pada anak maupun dewasa. Sebagian besar reaksi alergi bersifat ringan, tetapi anafilaksis merupakan bentuk paling berat yang dapat berkembang cepat dan menyebabkan gangguan berbagai organ.

Anafilaksis merupakan keadaan darurat medis akibat aktivasi sistem imun secara berlebihan. Gejala yang muncul dapat berupa urtikaria, pembengkakan, gangguan pernapasan, muntah, diare, penurunan tekanan darah, gangguan irama jantung, hingga henti jantung. Meskipun kulit dan saluran napas sering menjadi organ pertama yang menunjukkan gejala, gangguan sistem kardiovaskular sering menjadi faktor utama yang menentukan keselamatan pasien.

Kajian Triggiani dan kolega menjelaskan bahwa jantung bukan hanya organ yang terkena dampak selama reaksi alergi, tetapi juga menjadi sumber penting mediator alergi melalui keberadaan sel mast jantung. Aktivasi sel mast di jaringan jantung dapat menyebabkan perubahan fungsi ventrikel, gangguan irama, perubahan tonus pembuluh darah koroner, serta berkontribusi terhadap terjadinya syok anafilaksis.


Mekanisme Dasar Anafilaksis dan Aktivasi Sistem Imun

  • Sebagian besar reaksi anafilaksis terjadi melalui mekanisme hipersensitivitas tipe I yang diperantarai oleh imunoglobulin E (IgE). Pada individu yang telah mengalami sensitisasi, sistem imun menghasilkan IgE spesifik terhadap alergen tertentu seperti protein makanan, obat, atau bahan lain.
  • Ketika alergen masuk kembali ke tubuh, molekul tersebut berikatan dengan IgE yang terdapat pada permukaan sel mast dan basofil melalui reseptor FcεRI. Aktivasi ini menyebabkan pelepasan mediator alergi dalam jumlah besar dalam hitungan menit.
  • Mediator yang dilepaskan terdiri dari mediator yang sudah tersimpan dalam sel, seperti histamin, triptase, dan kimase, serta mediator yang baru dibentuk seperti leukotrien sisteinil, prostaglandin D2, dan PAF. Zat-zat tersebut menyebabkan pelebaran pembuluh darah, peningkatan kebocoran pembuluh darah, kontraksi otot polos, perubahan tekanan darah, dan gangguan fungsi organ.

Jantung sebagai Target dan Sumber Mediator Alergi

  • Penelitian menunjukkan bahwa jaringan jantung manusia memiliki jumlah sel mast yang cukup banyak. Sel mast jantung terutama ditemukan di antara serabut otot jantung, sekitar pembuluh darah koroner kecil, dan pada dinding pembuluh darah besar.
  • Keberadaan sel mast di jantung memiliki peran penting karena sel tersebut dapat langsung memengaruhi fungsi kardiovaskular ketika mengalami aktivasi. Sel mast jantung mampu melepaskan berbagai mediator inflamasi yang bekerja langsung terhadap otot jantung dan pembuluh darah.
  • Saat terjadi reaksi alergi berat, mediator dari sel mast jantung dapat menyebabkan penurunan kemampuan kontraksi ventrikel, gangguan irama jantung, dan perubahan aliran darah koroner. Kondisi tersebut menjelaskan mengapa beberapa pasien dengan anafilaksis mengalami hipotensi berat, syok, atau bahkan henti jantung.

Peran Histamin terhadap Fungsi Jantung

  • Histamin merupakan salah satu mediator utama dalam reaksi alergi. Pada sistem kardiovaskular, histamin bekerja melalui reseptor H1 dan H2 yang terdapat pada pembuluh darah dan jaringan jantung.
  • Pelepasan histamin dalam jumlah besar menyebabkan pelebaran pembuluh darah perifer sehingga tekanan darah menurun. Kondisi ini dapat menyebabkan tubuh meningkatkan aktivitas saraf simpatis yang menyebabkan peningkatan denyut jantung.
  • Selain itu, histamin juga dapat memengaruhi pembuluh darah koroner. Pada individu tertentu, terutama yang memiliki penyakit pembuluh darah jantung, histamin dapat menyebabkan gangguan aliran darah koroner dan memicu gangguan irama jantung.

Peran Leukotrien dan Prostaglandin dalam Gangguan Kardiovaskular

  • Sel mast jantung merupakan sumber penting mediator lipid seperti leukotrien sisteinil dan prostaglandin D2. Mediator ini memiliki efek kuat terhadap pembuluh darah jantung.
  • Leukotrien dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah koroner sehingga mengurangi aliran darah menuju otot jantung. Penurunan suplai darah ini dapat mengganggu fungsi kontraksi jantung dan berkontribusi terhadap penurunan kemampuan pompa jantung pada anafilaksis.
  • Gangguan aliran darah koroner akibat mediator alergi menunjukkan bahwa reaksi alergi berat memiliki hubungan erat dengan proses iskemia jantung. Kondisi ini menjelaskan munculnya gejala nyeri dada atau perubahan elektrokardiografi pada sebagian pasien selama reaksi alergi.

Peran Platelet Activating Factor (PAF) pada Anafilaksis Berat

  • PAF merupakan salah satu mediator paling kuat dalam menyebabkan gangguan kardiovaskular selama anafilaksis. Mediator ini dapat dilepaskan oleh sel mast, basofil, neutrofil, eosinofil, dan makrofag jaringan.
  • PAF menyebabkan penurunan kontraksi otot jantung, gangguan aliran darah koroner, pelebaran pembuluh darah perifer, dan penurunan tekanan darah. Pada kadar tinggi, PAF dapat menyebabkan gangguan sirkulasi berat yang berhubungan dengan kematian akibat anafilaksis.
  • Penelitian menunjukkan bahwa kadar PAF dalam darah meningkat pada pasien dengan anafilaksis berat. Pasien dengan anafilaksis fatal juga ditemukan memiliki kemampuan yang lebih rendah dalam memecah PAF, sehingga mediator ini bertahan lebih lama dalam tubuh.

Hubungan Penyakit Jantung dengan Risiko Anafilaksis Berat

  • Pasien dengan penyakit jantung tertentu memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi berat saat terjadi anafilaksis. Pada penyakit jantung iskemik dan kardiomiopati dilatasi, jumlah sel mast jantung ditemukan lebih banyak dibandingkan individu sehat.
  • Peningkatan jumlah sel mast menyebabkan pelepasan mediator alergi yang lebih besar ketika terjadi aktivasi. Selain itu, pembuluh darah koroner yang sudah mengalami kerusakan menjadi lebih sensitif terhadap efek mediator inflamasi.
  • Hubungan antara alergi dan penyakit jantung juga terlihat pada kondisi yang dikenal sebagai sindrom Kounis, yaitu kejadian sindrom koroner akut yang dipicu oleh reaksi alergi. Mediator alergi dapat menyebabkan spasme pembuluh darah koroner atau mempercepat pecahnya plak aterosklerosis.

Implikasi Klinis dalam Penanganan Alergi Berat

  • Pemahaman mengenai hubungan alergi dan jantung memiliki dampak penting dalam penanganan anafilaksis. Reaksi alergi berat tidak hanya membutuhkan perhatian terhadap gangguan napas, tetapi juga pemantauan fungsi sirkulasi.
  • Pasien dengan tanda gangguan kardiovaskular seperti tekanan darah rendah, penurunan kesadaran, gangguan irama jantung, atau tanda syok membutuhkan penanganan segera. Identifikasi faktor risiko seperti penyakit jantung sebelumnya juga penting untuk menentukan tingkat kewaspadaan.
  • Pemahaman mengenai peran sel mast jantung dan mediator alergi membuka peluang pengembangan terapi baru yang menargetkan jalur inflamasi tertentu dalam anafilaksis.

Kesimpulan

Alergi memiliki hubungan erat dengan sistem kardiovaskular, terutama pada kondisi anafilaksis. Jantung bukan hanya menjadi organ target akibat pelepasan mediator alergi, tetapi juga merupakan sumber penting mediator melalui keberadaan sel mast jantung.

Histamin, leukotrien, prostaglandin, dan PAF dapat menyebabkan gangguan kontraksi jantung, perubahan irama, gangguan aliran darah koroner, dan penurunan tekanan darah. Perubahan tersebut berperan besar dalam menentukan beratnya reaksi anafilaksis.

Pemahaman mengenai mekanisme imunologi dan kardiovaskular pada alergi membantu meningkatkan deteksi risiko, pencegahan komplikasi, dan tata laksana pasien dengan reaksi alergi berat.


Daftar Pustaka

  • Triggiani M, Patella V, Staiano RI, Granata F, Marone G. Allergy and the cardiovascular system. Clinical and Experimental Immunology. 2008;153(Suppl 1):7-11. doi:10.1111/j.1365-2249.2008.03714.x. PMID:18721322. PMCID:PMC2515352.
  • Muraro A, Roberts G, Worm M, et al. Anaphylaxis: guidelines from the European Academy of Allergy and Clinical Immunology. Allergy. 2014;69(8):1026-1045.
  • Cardona V, Ansotegui IJ, Ebisawa M, et al. World Allergy Organization anaphylaxis guidance 2020. World Allergy Organization Journal. 2020;13:100472.
Visited 3 times, 3 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *