Alergi Makanan dan Infeksi Saluran Napas Berulang pada Anak. Bukti Baru dari Penelitian Klinis Berbasis IgE
Infeksi saluran napas berulang merupakan salah satu penyebab tersering kunjungan anak ke dokter, terutama pada usia balita. Selama ini sebagian besar kasus dianggap semata-mata disebabkan oleh infeksi virus, namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa faktor lain, termasuk penyakit alergi, juga dapat memengaruhi kerentanan seorang anak terhadap infeksi berulang. Salah satu penelitian yang banyak mendapat perhatian dipublikasikan oleh Woicka-Kolejwa dan kolega dalam Postępy Dermatologii i Alergologii tahun 2016. Penelitian tersebut mengevaluasi apakah alergi makanan yang dimediasi imunoglobulin E (IgE) berhubungan dengan meningkatnya risiko infeksi saluran napas berulang dan asma pada anak. Hasil penelitian ini memberikan gambaran bahwa hubungan antara alergi makanan dan infeksi saluran napas ternyata lebih kompleks dibandingkan yang selama ini diperkirakan.
Penelitian dilakukan secara retrospektif terhadap seluruh anak berusia di bawah 10 tahun yang didiagnosis mengalami alergi makanan IgE-mediated dan terdaftar di sebuah klinik alergi selama periode 2012 hingga 2013. Seluruh pasien diikuti selama 18 bulan, kemudian dianalisis karakteristik demografi, data antropometri, manifestasi klinis, jenis sensitisasi alergen makanan, serta kejadian infeksi saluran napas atas maupun bawah yang berulang. Dengan desain tersebut, peneliti berupaya menggambarkan profil klinis anak dengan alergi makanan serta menentukan apakah jenis alergen tertentu berkaitan dengan meningkatnya risiko infeksi atau asma.
Sebanyak 280 anak memenuhi kriteria penelitian dan dimasukkan dalam analisis akhir. Dari seluruh subjek tersebut, infeksi saluran napas berulang ditemukan pada 153 anak atau sekitar 54,6%, sehingga menjadi manifestasi klinis tersering setelah diagnosis alergi makanan. Selain itu, sebanyak 96 anak (34,3%) telah mengalami asma, sedangkan 39 anak (13,9%) mengalami keluhan saluran cerna. Frekuensi infeksi saluran napas maupun asma menunjukkan kecenderungan meningkat pada kelompok usia yang lebih besar. Temuan ini menunjukkan bahwa pada populasi anak dengan alergi makanan, gangguan saluran napas merupakan masalah klinis yang sangat sering ditemukan dan memerlukan perhatian khusus selama pemantauan jangka panjang.
Analisis berdasarkan kelompok usia menghasilkan temuan yang lebih menarik. Pada anak berusia 1 hingga 2 tahun, sensitisasi terhadap β-laktoglobulin, salah satu protein utama dalam susu sapi, berhubungan dengan peningkatan risiko infeksi saluran napas berulang hampir empat kali lipat dibandingkan anak yang tidak mengalami sensitisasi terhadap protein tersebut (OR 3,91; IK95% 1,03-14,87). Hasil ini menunjukkan bahwa pada usia dini, alergi terhadap protein susu sapi mungkin menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran napas. Peneliti menduga kondisi tersebut berkaitan dengan maturasi sistem imun yang belum sempurna, inflamasi alergi yang masih aktif, serta tingginya paparan protein susu sapi pada kelompok usia tersebut.
Sebaliknya, hasil yang diperoleh pada kelompok anak yang lebih besar menunjukkan pola yang berbeda. Pada usia di atas tiga tahun, sensitisasi terhadap alergen makanan selain susu dan telur justru berhubungan dengan penurunan risiko infeksi saluran napas berulang (OR 0,25; IK95% 0,10-0,62). Selain itu, sensitisasi terhadap telur dikaitkan dengan risiko diagnosis asma yang lebih rendah (OR 0,09; IK95% 0,01-0,75). Penelitian ini juga tidak menemukan adanya jenis alergen makanan tertentu yang secara konsisten meningkatkan risiko timbulnya gejala saluran cerna pada seluruh kelompok usia. Temuan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara sensitisasi makanan dan manifestasi klinis berubah seiring bertambahnya usia serta dipengaruhi oleh perkembangan toleransi imun.
Peneliti menjelaskan bahwa hubungan tersebut kemungkinan tidak terjadi melalui mekanisme langsung. Alergi makanan dapat memicu inflamasi kronis yang dimediasi IgE dengan aktivasi sel mast, eosinofil, dan sitokin tipe 2 seperti IL-4, IL-5, serta IL-13. Inflamasi yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi fungsi sawar mukosa, mengubah respons imun bawaan maupun adaptif, serta meningkatkan kerentanan terhadap infeksi pada sebagian anak. Selain itu, alergi makanan juga dapat menyebabkan gangguan makan, muntah, diare, enteropati, dan gangguan penyerapan nutrisi sehingga status gizi menjadi kurang optimal. Kombinasi inflamasi kronis dan gangguan nutrisi diduga ikut berkontribusi terhadap meningkatnya kejadian infeksi saluran napas berulang, terutama pada bayi dan balita.
Walaupun demikian, penelitian ini juga memberikan pesan penting bahwa sensitisasi terhadap makanan tidak identik dengan alergi makanan yang bermakna secara klinis. Pemeriksaan IgE spesifik hanya menunjukkan adanya respons imun terhadap suatu protein makanan, tetapi tidak dapat memastikan bahwa makanan tersebut benar-benar menyebabkan gejala. Oleh karena itu, hasil laboratorium harus selalu diinterpretasikan bersama riwayat klinis yang konsisten. Peneliti tidak menyarankan pembatasan makanan hanya berdasarkan hasil pemeriksaan IgE positif karena tindakan tersebut berpotensi menyebabkan eliminasi makanan yang tidak diperlukan, meningkatkan risiko kekurangan gizi, serta mengganggu pertumbuhan anak.
Secara keseluruhan, penelitian Woicka-Kolejwa dan kolega memperkuat konsep bahwa alergi makanan merupakan salah satu faktor yang dapat berkontribusi terhadap infeksi saluran napas berulang pada kelompok anak tertentu, terutama bayi dan balita dengan sensitisasi terhadap protein susu sapi. Namun, penelitian ini tidak membuktikan bahwa alergi makanan merupakan penyebab utama seluruh kasus infeksi saluran napas berulang. Evaluasi alergi makanan sebaiknya dilakukan secara selektif pada anak yang memiliki riwayat reaksi alergi yang konsisten, dermatitis atopik, asma, atau gangguan pertumbuhan yang menyertai infeksi berulang. Pendekatan berbasis evidence-based medicine tetap menempatkan anamnesis yang cermat, pemeriksaan fisik, pemeriksaan alergi sesuai indikasi, dan bila diperlukan Open Oral Food Challenge sebagai baku emas diagnosis alergi makanan, sehingga diagnosis menjadi lebih akurat dan pembatasan makanan yang tidak perlu dapat dihindari.
Referensi Utama
- Woicka-Kolejwa K, Zaczeniuk M, Majak P, Pawłowska-Iwanicka K, Kopka M, Stelmach W, Jerzyńska J, Stelmach I. Food allergy is associated with recurrent respiratory tract infections during childhood. Postepy Dermatol Alergol. 2016 Apr;33(2):109-13. doi: 10.5114/ada.2016.59151. Epub 2016 May 16. PMID: 27279819; PMCID: PMC4884778.










Leave a Reply