Hubungan Infeksi Saluran Napas Atas Berulang, Gangguan THT, dan Alergi Makanan pada Anak. Tinjauan Evidence-Based Medicine
Widodo Judarwanto, Audi Yudhasmara
Infeksi saluran napas atas (ISPA) berulang merupakan salah satu penyebab tersering kunjungan anak ke fasilitas kesehatan. Sebagian besar episode ISPA disebabkan oleh infeksi virus, seperti rhinovirus, respiratory syncytial virus (RSV), influenza, parainfluenza, adenovirus, dan coronavirus. Pada anak sehat, infeksi umumnya bersifat ringan dan akan sembuh spontan. Namun, apabila infeksi terjadi berulang, berlangsung lebih lama dari biasanya, atau disertai gangguan pertumbuhan, gangguan tidur, dan keluhan alergi, dokter perlu mencari faktor predisposisi yang mendasarinya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ISPA berulang merupakan kondisi multifaktorial yang melibatkan interaksi antara infeksi, penyakit telinga hidung tenggorok (THT), gangguan sistem imun, status gizi, paparan lingkungan, serta penyakit alergi.
Gangguan THT merupakan salah satu penyebab tersering mengapa seorang anak mengalami kekambuhan ISPA. Rhinitis alergi, hipertrofi adenoid, sinusitis kronis, otitis media, disfungsi tuba Eustachius, dan tonsilitis kronis dapat menyebabkan sumbatan jalan napas atas, gangguan drainase sekret, serta penurunan fungsi mukosiliar. Sebaliknya, infeksi virus yang terjadi berulang juga dapat memperburuk inflamasi kronis pada saluran napas atas sehingga terbentuk suatu siklus yang saling memperberat. Akibatnya, anak lebih mudah mengalami pilek, batuk, demam, mendengkur, gangguan tidur, hingga penurunan kualitas hidup.
Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian juga tertuju pada kemungkinan peran alergi makanan terhadap kejadian infeksi saluran napas berulang. Alergi makanan bukan merupakan penyebab langsung ISPA, namun sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pada sebagian anak kondisi ini dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi melalui mekanisme inflamasi kronis, gangguan integritas sawar mukosa, perubahan respons imun, gangguan makan, serta defisiensi nutrisi. Hubungan tersebut terutama terlihat pada anak yang juga memiliki dermatitis atopik, rhinitis alergi, atau asma sebagai bagian dari spektrum penyakit atopik.
Hubungan ISPA Berulang dengan Gangguan THT
Mukosa saluran napas merupakan garis pertahanan pertama terhadap berbagai mikroorganisme. Pada ISPA yang berulang, inflamasi yang terus-menerus menyebabkan edema mukosa, gangguan gerakan silia, peningkatan produksi sekret, serta penyumbatan ostium sinus dan tuba Eustachius. Kondisi tersebut memudahkan kolonisasi bakteri sekunder sehingga infeksi menjadi lebih lama atau lebih sering kambuh.
Rhinitis alergi merupakan gangguan THT yang paling sering ditemukan pada anak dengan ISPA berulang. Inflamasi alergi menyebabkan pembengkakan mukosa hidung sehingga ventilasi sinus dan telinga tengah terganggu. Akibatnya risiko sinusitis, otitis media akut, maupun otitis media dengan efusi meningkat. Hipertrofi adenoid yang sering menyertai rhinitis alergi juga menyebabkan hidung tersumbat kronis, napas melalui mulut, mendengkur, hingga obstructive sleep apnea yang selanjutnya memperburuk kualitas tidur dan fungsi sistem imun.
Peran Alergi Makanan terhadap Infeksi Saluran Napas Berulang
Berbeda dengan anggapan yang masih banyak berkembang di masyarakat, alergi makanan bukan penyebab langsung batuk pilek berulang. Manifestasi utama alergi makanan tetap didominasi oleh gejala pada kulit, saluran cerna, dan reaksi sistemik. Namun, penelitian menunjukkan bahwa pada sebagian anak, alergi makanan dapat menjadi faktor yang meningkatkan risiko infeksi saluran napas berulang melalui mekanisme tidak langsung.
Inflamasi alergi kronis pada saluran cerna dapat mengganggu fungsi sawar mukosa usus sehingga terjadi peningkatan permeabilitas usus, perubahan mikrobiota, dan aktivasi respons imun tipe 2 yang menetap. Kondisi tersebut dapat memengaruhi keseimbangan sistem imun mukosa, termasuk pada saluran napas. Selain itu, anak dengan alergi makanan sering mengalami gangguan makan, muntah berulang, diare kronis, konstipasi, enteropati alergi, atau malabsorpsi sehingga lebih mudah mengalami kekurangan energi, protein, zat besi, seng, vitamin D, dan mikronutrien lain yang berperan penting dalam pertahanan tubuh terhadap infeksi.
Bukti Penelitian tentang Alergi Makanan dan Infeksi Saluran Napas Berulang
Salah satu penelitian penting dipublikasikan oleh Woicka-Kolejwa dan kolega dalam Postępy Dermatologii i Alergologii tahun 2016. Penelitian retrospektif ini mengevaluasi 280 anak berusia di bawah 10 tahun dengan diagnosis alergi makanan yang dimediasi IgE selama masa observasi 18 bulan di klinik alergi. Tujuan penelitian adalah mengetahui apakah anak dengan alergi makanan memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi saluran napas berulang, asma, dan gangguan saluran cerna.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa infeksi saluran napas berulang ditemukan pada 153 anak atau sekitar 54,6% dari seluruh subjek. Asma ditemukan pada 34,3% anak, sedangkan gejala saluran cerna ditemukan pada 13,9%. Frekuensi ketiga manifestasi tersebut meningkat seiring bertambahnya usia anak. Temuan ini menunjukkan bahwa infeksi saluran napas berulang merupakan salah satu masalah klinis yang cukup sering ditemukan pada anak dengan alergi makanan.
Analisis lebih lanjut memperlihatkan bahwa pada anak usia 1 hingga 2 tahun, sensitisasi terhadap β-laktoglobulin, salah satu protein utama susu sapi, meningkatkan risiko terjadinya infeksi saluran napas berulang hampir empat kali lipat (OR 3,91; IK95% 1,03-14,87). Sebaliknya, pada anak yang lebih besar, sensitisasi terhadap alergen selain susu dan telur tidak meningkatkan risiko infeksi saluran napas berulang. Penelitian ini juga tidak menemukan bahwa sensitisasi makanan meningkatkan risiko gangguan saluran cerna pada seluruh kelompok usia.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara alergi makanan dan infeksi saluran napas berulang bergantung pada usia serta jenis alergen yang terlibat. Risiko terbesar tampak pada anak usia dini dengan sensitisasi terhadap protein susu sapi, sedangkan pada anak yang lebih besar hubungan tersebut menjadi jauh lebih lemah. Peneliti menyimpulkan bahwa alergi makanan bukan merupakan penyebab utama ISPA berulang, tetapi pada kelompok anak tertentu dapat menjadi salah satu faktor risiko yang perlu dipertimbangkan.
Hubungan Alergi Makanan dengan Rhinitis Alergi
Hubungan alergi makanan dengan rhinitis alergi juga mendapat perhatian dalam beberapa penelitian. Tinjauan sistematis oleh Al-Abri dan kolega menyimpulkan bahwa hingga saat ini belum terdapat bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa alergi makanan merupakan penyebab langsung rhinitis alergi. Namun, anak dengan alergi makanan memiliki risiko lebih tinggi mengalami rhinitis alergi di kemudian hari sebagai bagian dari perjalanan alami penyakit atopik atau atopic march. Hubungan tersebut dipengaruhi oleh predisposisi genetik, respons imun tipe 2, faktor epigenetik, serta paparan lingkungan.
Penelitian Al-Rabia terhadap 100 pasien rhinitis alergi menemukan bahwa 63% memiliki sensitisasi terhadap satu atau lebih alergen makanan berdasarkan pemeriksaan IgE spesifik. Walaupun demikian, peneliti menegaskan bahwa sensitisasi tidak sama dengan alergi makanan yang bermakna secara klinis. Hasil pemeriksaan IgE positif hanya menunjukkan adanya respons imun terhadap suatu protein makanan dan harus selalu diinterpretasikan bersama riwayat klinis pasien.
Penelitian lain pada 435 pasien Asia juga menunjukkan bahwa sensitisasi makanan lebih sering ditemukan pada anak dibandingkan dewasa. Putih telur, susu sapi, dan kedelai merupakan alergen makanan yang paling sering ditemukan pada anak dengan rhinitis alergi. Temuan tersebut mendukung perlunya evaluasi alergi makanan pada pasien yang memiliki riwayat reaksi setelah mengonsumsi makanan tertentu, tetapi tidak mendukung pemeriksaan alergi makanan secara rutin pada seluruh pasien rhinitis alergi.
Penelitian retrospektif yang dilakukan oleh Woicka-Kolejwa dan kolega, yang dipublikasikan dalam Postępy Dermatologii i Alergologii tahun 2016, memberikan bukti bahwa alergi makanan yang dimediasi imunoglobulin E (IgE) dapat berhubungan dengan meningkatnya kejadian infeksi saluran napas berulang pada sebagian anak, terutama pada usia dini. Penelitian ini mengevaluasi 280 anak berusia di bawah 10 tahun yang didiagnosis mengalami alergi makanan IgE-mediated dan diikuti selama 18 bulan di klinik alergi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infeksi saluran napas berulang ditemukan pada 153 anak (54,6%), asma pada 96 anak (34,3%), dan gejala saluran cerna pada 39 anak (13,9%), dengan kecenderungan peningkatan angka kejadian seiring bertambahnya usia. Analisis lebih lanjut memperlihatkan bahwa pada kelompok usia 1 hingga 2 tahun, sensitisasi terhadap β-laktoglobulin, salah satu protein utama susu sapi, meningkatkan risiko infeksi saluran napas berulang hampir empat kali lipat (OR 3,91; IK95% 1,03-14,87). Sebaliknya, pada anak yang berusia lebih dari 3 tahun, sensitisasi terhadap alergen makanan selain susu dan telur justru tidak meningkatkan risiko infeksi saluran napas berulang (OR 0,25; IK95% 0,10-0,62), sedangkan sensitisasi terhadap telur berhubungan dengan risiko diagnosis asma yang lebih rendah (OR 0,09; IK95% 0,01-0,75). Peneliti juga tidak menemukan adanya alergen makanan tertentu yang memengaruhi risiko timbulnya gejala saluran cerna secara konsisten pada seluruh kelompok usia. Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara alergi makanan dan infeksi saluran napas berulang bersifat kompleks, dipengaruhi oleh usia anak serta jenis alergen yang menyebabkan sensitisasi. Dengan demikian, alergi makanan tidak dapat dianggap sebagai penyebab langsung ISPA berulang pada semua anak, tetapi pada bayi dan balita, khususnya yang tersensitisasi terhadap protein susu sapi, kondisi ini dapat menjadi salah satu faktor risiko penting yang perlu dipertimbangkan dalam evaluasi klinis. Hasil penelitian ini juga menegaskan bahwa pemeriksaan IgE spesifik hanya menunjukkan adanya sensitisasi imunologis dan harus selalu diinterpretasikan bersama riwayat klinis, karena tidak semua anak dengan sensitisasi makanan akan mengalami alergi makanan yang bermakna secara klinis ataupun infeksi saluran napas berulang. Diagnosis alergi makanan tetap memerlukan pendekatan berbasis bukti yang menggabungkan anamnesis, pemeriksaan alergi sesuai indikasi, dan bila diperlukan dikonfirmasi dengan Open Oral Food Challenge sebagai baku emas diagnosis.
Diagnosis
Evaluasi anak dengan ISPA berulang harus dilakukan secara komprehensif. Dokter perlu menilai frekuensi infeksi, lama gejala, jenis mikroorganisme penyebab bila diketahui, pertumbuhan, status gizi, pola tidur, riwayat keluarga, paparan asap rokok, polusi udara, kondisi rumah, serta kemungkinan adanya gangguan THT maupun penyakit alergi.
Pemeriksaan alergi makanan tidak dianjurkan sebagai skrining pada seluruh anak dengan ISPA berulang. Evaluasi hanya dilakukan bila terdapat riwayat yang konsisten, seperti munculnya urtikaria, muntah, diare, sesak napas, eksim, atau reaksi lain setiap kali mengonsumsi makanan tertentu. Pemeriksaan skin prick test maupun IgE spesifik hanya menunjukkan sensitisasi dan tidak dapat berdiri sendiri untuk menegakkan diagnosis alergi makanan. Bila diperlukan, diagnosis dikonfirmasi dengan Open Oral Food Challenge sebagai baku emas diagnosis alergi makanan.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan ISPA berulang harus difokuskan pada penyebab yang mendasarinya. Tata laksana meliputi pengobatan infeksi sesuai etiologi, pengendalian rhinitis alergi, pengobatan sinusitis atau otitis media, tata laksana hipertrofi adenoid maupun tonsil bila diperlukan, perbaikan status gizi, imunisasi lengkap, tidur yang cukup, serta menghindari paparan asap rokok dan polusi udara.
Pada anak dengan alergi makanan yang telah terkonfirmasi, dilakukan eliminasi makanan penyebab secara individual disertai pemantauan pertumbuhan dan kecukupan nutrisi. Eliminasi makanan tanpa diagnosis yang pasti tidak dianjurkan karena berisiko menyebabkan kekurangan zat gizi, gangguan pertumbuhan, dan beban psikologis pada anak maupun keluarga.
Artikel ini memperlihatkan bahwa ISPA berulang, gangguan THT, dan alergi makanan merupakan kondisi yang saling berhubungan melalui mekanisme yang kompleks. Evidence-Based Medicine menunjukkan bahwa alergi makanan bukan penyebab langsung infeksi saluran napas berulang ataupun rhinitis alergi. Namun, pada kelompok anak tertentu, terutama usia dini dengan alergi protein susu sapi atau penyakit atopik multipel, alergi makanan dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran napas melalui mekanisme inflamasi kronis, gangguan mukosa, serta gangguan nutrisi. Pendekatan diagnostik yang komprehensif dan penggunaan Open Oral Food Challenge bila diindikasikan akan membantu menghindari overdiagnosis, pembatasan makanan yang tidak perlu, serta memberikan tata laksana yang lebih tepat sasaran.
Daftar Pustaka
- Al-Abri R, Al-Amri AS, Al-Dhahli Z, Varghese AM. Allergic Rhinitis in Relation to Food Allergies: Pointers to Future Research. Sultan Qaboos Univ Med J. 2018;18(1):e30-e33.
- Al-Rabia MW. Food-induced immunoglobulin E-mediated allergic rhinitis. J Microsc Ultrastruct. 2016;4(2):69-75.
- Pang KA, Pang KP, Pang EB, Tan YN, Chan YH, Siow JK. Food allergy and allergic rhinitis in 435 Asian patients: A descriptive review. Med J Malaysia. 2017;72(4):215-220.
- Woicka-Kolejwa K, Zaczeniuk M, Majak P, Pawłowska-Iwanicka K, Kopka M, Stelmach W, Jerzyńska J, Stelmach I. Food allergy is associated with recurrent respiratory tract infections during childhood. Postepy Dermatol Alergol. 2016 Apr;33(2):109-13. doi: 10.5114/ada.2016.59151. Epub 2016 May 16. PMID: 27279819; PMCID: PMC4884778.










Leave a Reply