ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Oral Allergy Syndrome (OAS): Alergi Makanan Akibat Reaksi Silang dengan Serbuk Sari

Oral Allergy Syndrome (OAS): Alergi Makanan Akibat Reaksi Silang dengan Serbuk Sari

Oral Allergy Syndrome (OAS) atau Pollen-Food Allergy Syndrome (PFAS) adalah bentuk alergi makanan yang terjadi akibat reaksi silang (cross-reactivity) antara protein pada buah, sayuran, atau kacang-kacangan dengan protein pada serbuk sari (pollen) tumbuhan. OAS merupakan salah satu bentuk alergi makanan yang dimediasi oleh imunoglobulin E (IgE) dan paling sering ditemukan pada remaja serta orang dewasa yang telah memiliki riwayat rinitis alergi akibat serbuk sari. Berbeda dengan alergi makanan klasik, gejala OAS umumnya terbatas pada rongga mulut dan tenggorokan serta jarang berkembang menjadi reaksi berat.

Mekanisme terjadinya OAS berawal ketika sistem imun membentuk antibodi IgE terhadap protein serbuk sari. Karena beberapa protein pada buah, sayuran, atau kacang memiliki struktur yang sangat mirip dengan protein serbuk sari, sistem imun keliru mengenalinya sebagai alergen yang sama. Akibatnya, setelah mengonsumsi makanan tertentu, muncul reaksi alergi dalam beberapa menit berupa gatal, kesemutan, rasa terbakar, atau pembengkakan ringan pada bibir, lidah, langit-langit mulut, mulut, dan tenggorokan. Pada sebagian kecil penderita dapat timbul bentol di sekitar mulut, mual ringan, atau gatal pada kulit saat menyentuh makanan mentah.

Tabel. Manifestasi Klinis Oral Allergy Syndrome (OAS/Pollen-Food Allergy Syndrome)

Sistem Organ Manifestasi Klinis Frekuensi Keterangan
Bibir Gatal, kesemutan, rasa terbakar, bengkak ringan, kemerahan Sangat sering Gejala muncul dalam beberapa menit setelah makan makanan pemicu.
Rongga mulut Gatal pada mukosa mulut, langit-langit mulut, pipi bagian dalam Sangat sering Merupakan gejala khas OAS.
Lidah Gatal, kesemutan, bengkak ringan Sangat sering Biasanya hilang dalam 15–30 menit.
Tenggorokan Gatal, rasa mengganjal, iritasi, bengkak ringan Sering Umumnya tidak menyebabkan sumbatan jalan napas.
Bibir dan mulut Bentol kecil (urtika lokal) Kadang-kadang Bersifat sementara.
Kulit Gatal, kemerahan, dermatitis kontak saat menyentuh buah atau sayuran mentah Kadang-kadang Lebih sering pada tangan atau sekitar mulut.
Saluran cerna Mual ringan, rasa tidak nyaman di mulut atau tenggorokan Jarang Muntah dan diare jarang terjadi pada OAS.
Saluran napas Suara serak, rasa sesak di tenggorokan Sangat jarang Perlu evaluasi karena dapat mengarah ke reaksi yang lebih berat.
Sistemik Urtikaria menyeluruh, angioedema, anafilaksis Sangat jarang (<2% kasus) Memerlukan penanganan darurat.

Karakteristik Gejala Oral Allergy Syndrome

Karakteristik Keterangan
Waktu timbul Biasanya dalam 5–15 menit setelah mengonsumsi makanan pemicu.
Durasi Umumnya 15–30 menit, jarang lebih dari 1 jam.
Lokasi gejala Terutama bibir, mulut, lidah, langit-langit mulut, dan tenggorokan.
Makanan penyebab Buah, sayuran, kacang-kacangan, dan rempah tertentu, terutama dalam keadaan mentah.
Pengaruh pemanasan Sebagian besar penderita dapat mengonsumsi makanan yang sama setelah dimasak karena protein penyebab mudah rusak oleh panas.
Hubungan dengan serbuk sari Sangat erat; sering terjadi pada penderita rinitis alergi akibat serbuk sari (birch, rumput, ragweed, mugwort).
Risiko anafilaksis Rendah, tetapi tetap mungkin terjadi pada sebagian kecil pasien.
Prognosis Umumnya baik, gejala ringan dan cepat membaik.

Pesan penting: Oral Allergy Syndrome umumnya menimbulkan gejala ringan yang terbatas pada rongga mulut dan tenggorokan, berbeda dengan alergi makanan primer yang lebih sering menyebabkan reaksi sistemik. Namun, bila setelah makan timbul sesak napas, pembengkakan tenggorokan yang berat, suara serak berat, pusing, atau penurunan kesadaran, pasien harus segera mendapatkan pertolongan medis karena dapat merupakan tanda anafilaksis.

Sebagian besar kasus OAS dipicu oleh buah dan sayuran mentah, karena protein penyebab alergi umumnya mudah rusak oleh panas dan proses memasak. Oleh karena itu, banyak penderita dapat mengonsumsi makanan yang sama setelah dimasak tanpa mengalami gejala. Contohnya, penderita alergi terhadap serbuk sari birch dapat bereaksi terhadap apel, pir, persik, kiwi, wortel, seledri, almond, hazelnut, kedelai, dan alpukat. Alergi terhadap serbuk sari rumput dapat berkaitan dengan melon, tomat, kentang, dan jeruk. Sementara alergi terhadap ragweed sering berhubungan dengan , mentimun, zucchini, dan melon. Pada penderita alergi terhadap mugwort, reaksi silang dapat terjadi dengan kubis, brokoli, bawang, wortel, seledri, paprika, bawang putih, mustard, serta berbagai rempah-rempah seperti ketumbar, adas, peterseli, dan jintan.

Tabel. Mekanisme Terjadinya Oral Allergy Syndrome (OAS/Pollen-Food Allergy Syndrome)

Tahap Proses yang Terjadi Penjelasan Ilmiah Dampak Klinis
1. Sensitisasi terhadap serbuk sari Paparan serbuk sari (birch, rumput, ragweed, mugwort, dll.) Sistem imun membentuk antibodi IgE terhadap protein serbuk sari pada individu yang memiliki bakat alergi (atopi). Timbul rinitis alergi atau hay fever.
2. Terjadi reaksi silang (cross-reactivity) Protein pada buah, sayuran, atau kacang memiliki struktur yang mirip dengan protein serbuk sari. IgE tidak dapat membedakan protein serbuk sari dengan protein makanan sehingga mengenali keduanya sebagai alergen yang sama. Makanan tertentu memicu reaksi alergi.
3. Makanan dikonsumsi Buah, sayuran, atau kacang mentah masuk ke rongga mulut. Protein alergen bersentuhan langsung dengan mukosa mulut dan tenggorokan. Gejala muncul sangat cepat, biasanya dalam beberapa menit.
4. Aktivasi sel mast IgE pada permukaan sel mast berikatan dengan protein makanan. Terjadi degranulasi sel mast dan pelepasan histamin serta mediator inflamasi lainnya. Muncul reaksi alergi lokal.
5. Timbul gejala OAS Histamin bekerja pada jaringan mulut dan tenggorokan. Menyebabkan gatal, kesemutan, rasa terbakar, dan pembengkakan ringan. Gatal pada bibir, lidah, langit-langit mulut, mulut, dan tenggorokan.
6. Gejala tambahan Pada sebagian kecil penderita reaksi meluas. Dapat terjadi bentol di sekitar mulut, mual ringan, atau gatal pada kulit saat menyentuh makanan mentah. Umumnya tetap ringan dan cepat membaik.
7. Protein rusak oleh panas Memasak atau memanggang makanan. Sebagian besar protein penyebab OAS bersifat labil terhadap panas sehingga kehilangan sifat alergennya. Banyak penderita dapat mengonsumsi makanan yang sudah dimasak tanpa gejala.
8. Reaksi berat (jarang) Alergen masuk ke sirkulasi pada sebagian kecil pasien. Reaksi sistemik dapat terjadi, tetapi jauh lebih jarang dibanding alergi makanan primer. Urtikaria menyeluruh, sesak napas, atau anafilaksis (sangat jarang).

Protein Serbuk Sari dan Makanan yang Sering Menyebabkan Reaksi Silang

Serbuk Sari Protein Utama Makanan yang Sering Bereaksi Silang
Birch (Bet v 1) PR-10 protein Apel, pir, persik, plum, aprikot, kiwi, ceri, wortel, seledri, kedelai, kacang tanah, hazelnut, almond
Rumput (Grass pollen) Profilin Melon, jeruk, tomat, kentang
Ragweed Amb a 1 Pisang, mentimun, zucchini, melon
Mugwort Art v 1 Wortel, seledri, kubis, brokoli, kembang kol, bawang, paprika, bawang putih, mustard, ketumbar, adas, peterseli

Pesan penting: Pada Oral Allergy Syndrome, reaksi biasanya terbatas pada bibir, mulut, lidah, dan tenggorokan karena protein penyebab umumnya mudah rusak oleh panas dan asam lambung. Oleh karena itu, banyak penderita dapat mengonsumsi makanan yang sama setelah dimasak. Berbeda dengan alergi makanan primer, anafilaksis pada OAS relatif jarang, meskipun tetap dapat terjadi pada sebagian kecil pasien.

Diagnosis OAS ditegakkan berdasarkan riwayat klinis yang khas, yaitu munculnya gejala segera setelah mengonsumsi makanan tertentu pada individu yang memiliki alergi serbuk sari. Pemeriksaan skin prick test, IgE spesifik terhadap serbuk sari dan makanan, atau component-resolved diagnostics (CRD) dapat membantu mengidentifikasi penyebab reaksi silang. Pada kasus yang belum jelas, dokter dapat mempertimbangkan Oral Food Challenge (OFC) di fasilitas kesehatan dengan pengawasan ketat untuk memastikan diagnosis sekaligus membedakan OAS dari alergi makanan primer yang berisiko lebih tinggi menyebabkan anafilaksis

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan utama OAS adalah menghindari makanan pemicu dalam bentuk mentah bila memang menimbulkan gejala. Banyak pasien tetap dapat mengonsumsi makanan yang telah dimasak karena protein alergen telah terdenaturasi oleh panas. Pada gejala ringan biasanya tidak diperlukan terapi khusus, meskipun antihistamin dapat membantu mengurangi keluhan bila diperlukan. Pada pasien yang pernah mengalami reaksi sistemik atau anafilaksis, dokter dapat meresepkan autoinjektor epinefrin sesuai indikasi. Selain itu, pengobatan alergi serbuk sari, termasuk imunoterapi alergen pada pasien tertentu, dapat membantu mengurangi gejala OAS.

Prognosis OAS umumnya sangat baik. Sebagian besar reaksi bersifat ringan dan hanya berlangsung beberapa menit hingga satu jam. Anafilaksis sangat jarang terjadi, tetapi tetap dapat terjadi pada sebagian kecil pasien, sehingga penderita harus segera mencari pertolongan medis bila mengalami sesak napas, suara serak, pembengkakan tenggorokan yang berat, pusing, atau penurunan kesadaran setelah mengonsumsi makanan. Penting untuk membedakan OAS dari alergi makanan primer karena pendekatan diagnosis, edukasi, dan tata laksananya dapat berbeda.

Tabel. Hubungan Serbuk Sari dengan Makanan pada Oral Allergy Syndrome

Alergi Serbuk Sari Makanan yang Sering Menyebabkan Reaksi Silang
Birch (Betula) Apel, pir, kiwi, alpukat, persik, aprikot, plum, ceri, wortel, seledri, almond, hazelnut, kedelai, kacang tanah
Rumput (Grass pollen) Melon, jeruk, tomat, kentang
Ragweed Pisang, mentimun, zucchini, melon
Mugwort Kubis, brokoli, kembang kol, wortel, seledri, bawang, paprika, bawang putih, mustard, adas, ketumbar, peterseli, jintan

Daftar Pustaka

  • Biedermann T, Winberg A, van Hage M, et al. EAACI Guidelines on the Management of IgE-Mediated Food Allergy. Allergy. 2023.
  • Cleveland Clinic. Oral Allergy Syndrome (Pollen-Food Allergy Syndrome).
  • Sicherer SH, Sampson HA. Food Allergy: A Review. J Allergy Clin Immunol.
Visited 3 times, 3 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *