Diagnosis dan Diagnosis Banding Asma pada Anak: Tinjauan Ilmiah Berbasis Bukti
Diagnosis asma pada anak masih menjadi tantangan karena tidak tersedia satu pemeriksaan yang dapat dijadikan baku emas (gold standard). Diagnosis ditegakkan melalui kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, bukti adanya variabilitas obstruksi saluran napas, eksklusi penyakit lain, serta respons terhadap terapi. Kesalahan diagnosis masih sering terjadi, baik berupa underdiagnosis maupun overdiagnosis. Underdiagnosis menyebabkan keterlambatan pengobatan sehingga meningkatkan risiko eksaserbasi, sedangkan overdiagnosis mengakibatkan penggunaan obat yang tidak diperlukan, meningkatkan risiko efek samping, dan menimbulkan beban ekonomi bagi keluarga. Diagnosis banding sangat penting karena berbagai penyakit paru, kelainan kongenital, gangguan saluran napas atas, penyakit gastrointestinal, hingga gangguan imunologi dapat memberikan gejala yang menyerupai asma. Artikel ini mengulas pendekatan diagnosis asma pada anak berdasarkan pedoman Global Initiative for Asthma (GINA), National Institute for Health and Care Excellence (NICE), European Respiratory Society (ERS), American Thoracic Society (ATS), dan berbagai konsensus internasional terbaru.
Tantangan Diagnosis Asma pada Anak
Asma merupakan penyakit inflamasi kronis saluran napas dengan manifestasi klinis berupa batuk berulang, mengi, sesak napas, dan rasa berat di dada yang bersifat episodik. Meskipun gejala tersebut cukup khas, diagnosis asma pada anak sering kali tidak mudah ditegakkan karena gejala dapat menyerupai berbagai penyakit lain. Selain itu, gejala asma sangat bervariasi, baik dalam frekuensi maupun tingkat keparahan, sehingga tidak semua anak menunjukkan gambaran klinis yang sama.
Kesulitan diagnosis terutama terjadi pada anak usia di bawah lima tahun karena pemeriksaan fungsi paru belum dapat dilakukan secara andal. Pada kelompok usia ini, dokter lebih mengandalkan riwayat klinis, faktor risiko, pola gejala, serta respons terhadap uji terapi menggunakan bronkodilator atau kortikosteroid inhalasi. Diagnosis harus dievaluasi kembali secara berkala pada setiap kunjungan karena gambaran klinis dapat berubah seiring pertumbuhan anak.
OVERDIAGNOSIS DAN UNDERDIAGNOSIS ASMA
Overdiagnosis
- Overdiagnosis terjadi ketika seorang anak didiagnosis menderita asma padahal penyebab gejalanya adalah penyakit lain. Kondisi ini masih sering ditemukan karena batuk kronis atau mengi tidak selalu disebabkan oleh asma. Overdiagnosis menyebabkan penggunaan kortikosteroid inhalasi dan bronkodilator yang tidak diperlukan, meningkatkan risiko efek samping, serta menunda diagnosis penyakit yang sebenarnya.
Underdiagnosis
- Sebaliknya, underdiagnosis terjadi ketika asma tidak dikenali sehingga pasien tidak memperoleh terapi yang sesuai. Akibatnya, inflamasi saluran napas terus berlangsung, fungsi paru menurun, dan risiko eksaserbasi berat meningkat. Underdiagnosis lebih sering terjadi pada anak dengan gejala ringan, batuk sebagai satu-satunya gejala, atau pada bayi yang belum dapat menjalani pemeriksaan objektif.
Tabel 1. Dampak Kesalahan Diagnosis Asma
| Jenis Kesalahan | Dampak Klinis |
|---|---|
| Overdiagnosis | Pengobatan tidak diperlukan, efek samping obat, biaya meningkat |
| Underdiagnosis | Inflamasi tidak terkontrol, eksaserbasi, penurunan fungsi paru |
| Diagnosis terlambat | Kualitas hidup menurun, absensi sekolah meningkat |
DIAGNOSIS ASMA
Prinsip Diagnosis
Tidak terdapat satu pemeriksaan yang dapat memastikan diagnosis asma. Menurut GINA, diagnosis ditegakkan berdasarkan kombinasi gejala respirasi yang khas dan bukti adanya variabilitas keterbatasan aliran udara ekspirasi.
Empat komponen utama diagnosis meliputi:
- Anamnesis yang khas.
- Pemeriksaan fisik.
- Pemeriksaan fungsi paru atau pemeriksaan objektif lainnya.
- Menyingkirkan diagnosis banding.
Anamnesis
Riwayat penyakit merupakan komponen terpenting dalam diagnosis. Gejala yang mendukung diagnosis asma meliputi batuk berulang, mengi, sesak napas, dan rasa berat di dada yang muncul secara episodik. Gejala biasanya memburuk pada malam hari atau dini hari serta dipicu oleh infeksi virus, olahraga, udara dingin, asap rokok, polusi, maupun pajanan alergen.
Riwayat penyakit atopi seperti dermatitis atopik, rhinitis alergika, alergi makanan, maupun riwayat asma dalam keluarga semakin memperkuat kemungkinan diagnosis.
Tabel 2. Gejala yang Mendukung Diagnosis Asma
| Gejala | Karakteristik |
|---|---|
| Batuk | Berulang, terutama malam hari |
| Mengi | Hilang timbul |
| Sesak napas | Episodik |
| Dada terasa berat | Berulang |
| Dipicu olahraga atau alergen | Ya |
| Membaik setelah bronkodilator | Ya |
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dapat normal apabila pasien datang di luar serangan. Pada saat eksaserbasi dapat ditemukan mengi ekspirasi, takipnea, penggunaan otot bantu napas, retraksi dinding dada, serta pemanjangan fase ekspirasi.
Pemeriksaan Fungsi Paru
Pada anak usia lima hingga enam tahun ke atas, spirometri merupakan pemeriksaan objektif utama. Diagnosis semakin kuat apabila terdapat obstruksi saluran napas yang reversibel setelah pemberian bronkodilator, yaitu peningkatan FEV₁ sebesar ≥12% dari nilai awal.
Peak Expiratory Flow (PEF) dapat digunakan untuk menilai variasi harian fungsi paru apabila spirometri tidak tersedia.
Tabel 3. Pemeriksaan Objektif Diagnosis Asma
| Pemeriksaan | Tujuan |
|---|---|
| Spirometri | Menilai obstruksi dan reversibilitas |
| Bronchodilator test | Membuktikan reversibilitas |
| Peak Expiratory Flow | Menilai variasi fungsi paru |
| Bronchial challenge | Bila spirometri normal tetapi kecurigaan tinggi |
| Exercise challenge | Dugaan exercise-induced asthma |
Fractional Exhaled Nitric Oxide (FeNO)
FeNO merupakan biomarker inflamasi eosinofilik saluran napas. Nilai FeNO yang meningkat menunjukkan kemungkinan inflamasi tipe 2 dan mendukung diagnosis asma eosinofilik, meskipun hasil normal tidak menyingkirkan diagnosis asma. FeNO juga dapat membantu memantau respons terhadap kortikosteroid inhalasi.
Tabel 4. Interpretasi Pemeriksaan FeNO
| Hasil FeNO | Interpretasi |
|---|---|
| Rendah | Inflamasi eosinofilik kecil kemungkinan |
| Sedang | Perlu dikaitkan dengan gejala |
| Tinggi | Mendukung inflamasi tipe 2 dan respons terhadap kortikosteroid |
Pemeriksaan Alergi
Skin prick test maupun pemeriksaan IgE spesifik tidak digunakan untuk menegakkan diagnosis asma. Pemeriksaan ini bertujuan mengidentifikasi alergen pencetus pada pasien dengan dugaan asma alergi sehingga dapat membantu strategi penghindaran alergen dan menentukan kandidat imunoterapi.
DIAGNOSIS PADA ANAK USIA DI BAWAH LIMA TAHUN
Diagnosis pada kelompok usia ini merupakan tantangan karena spirometri dan pemeriksaan fungsi paru umumnya belum dapat dilakukan secara andal. Oleh karena itu, diagnosis didasarkan pada pola gejala yang berulang, adanya faktor risiko atopi, serta respons terhadap uji terapi menggunakan bronkodilator atau kortikosteroid inhalasi selama beberapa minggu.
Evaluasi ulang perlu dilakukan secara berkala karena sebagian anak dengan mengi berulang tidak berkembang menjadi asma menetap.
DIAGNOSIS BANDING
Pentingnya Diagnosis Banding
Berbagai penyakit dapat memberikan gejala batuk kronis, mengi, maupun sesak napas sehingga menyerupai asma. Diagnosis banding harus selalu dipertimbangkan terutama bila gejala muncul sejak lahir, tidak respons terhadap terapi asma, disertai gagal tumbuh, infeksi berulang, atau ditemukan kelainan pada pemeriksaan fisik.
Tabel 5. Diagnosis Banding Asma pada Anak
| Penyakit | Petunjuk Klinis |
|---|---|
| Fibrosis kistik | Gejala sejak lahir, gagal tumbuh, diare kronis, clubbing finger |
| Diskinesia silia primer | Batuk kronis sejak lahir, sinusitis kronis, infeksi berulang |
| Bronkopulmonari displasia | Riwayat prematuritas dan ventilasi neonatal |
| Bronkiektasis | Batuk produktif kronis, sputum banyak, clubbing finger |
| Disfungsi laring | Stridor, suara serak, kelainan pita suara |
| Gastroesophageal reflux (GERD) | Muntah berulang, aspirasi, batuk setelah makan |
| Aspirasi benda asing | Awitan mendadak, mengi unilateral |
| Bronkomalasia atau trakeomalasia | Mengi menetap sejak lahir, tidak membaik dengan bronkodilator |
| Kelainan kongenital paru | Gejala sejak bayi, tidak episodik |
| Imunodefisiensi | Infeksi berat atau berulang, gagal tumbuh |
Tanda Bahaya yang Mengarah ke Diagnosis Lain
Beberapa temuan klinis perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit selain asma, antara lain gejala yang muncul sejak lahir, batuk produktif kronis, gagal tumbuh, clubbing finger, muntah berulang, stridor, mengi unilateral, infeksi berat berulang, murmur jantung, sianosis, atau tidak adanya respons terhadap terapi asma standar.
Tabel 6. Red Flags pada Diagnosis Asma
| Temuan | Kemungkinan Penyakit |
|---|---|
| Gejala sejak lahir | Kelainan kongenital |
| Clubbing finger | Fibrosis kistik, bronkiektasis |
| Gagal tumbuh | Fibrosis kistik, imunodefisiensi |
| Mengi unilateral | Aspirasi benda asing |
| Stridor | Kelainan laring |
| Batuk produktif kronis | Bronkiektasis |
| Tidak respons terhadap terapi | Diagnosis selain asma |
KAPAN HARUS MERUJUK KE SPESIALIS
Pasien perlu dirujuk ke dokter spesialis anak konsultan respirasi atau alergi-imunologi apabila terdapat ketidakpastian diagnosis, serangan asma berat yang mengancam jiwa, gejala tetap tidak terkontrol meskipun telah mendapatkan terapi optimal, diperlukan pemeriksaan khusus seperti bronkoprovokasi, atau dicurigai terdapat penyakit lain yang menyerupai asma.
Tabel 7. Indikasi Rujukan
| Indikasi | Alasan |
|---|---|
| Diagnosis meragukan | Memerlukan evaluasi lanjutan |
| Tidak respons terhadap terapi | Mencari penyebab lain |
| Eksaserbasi berat | Penanganan spesialis |
| Dugaan penyakit paru lain | Pemeriksaan lanjutan |
| Memerlukan terapi biologik | Penilaian fenotipe dan endotipe |
Kesimpulan
Diagnosis asma pada anak memerlukan pendekatan klinis yang komprehensif karena belum tersedia satu pemeriksaan baku emas yang mampu memastikan diagnosis. Penegakan diagnosis harus didasarkan pada kombinasi anamnesis, pemeriksaan fisik, bukti variabilitas obstruksi saluran napas melalui spirometri atau pemeriksaan objektif lain, serta evaluasi terhadap respons terapi dan kemungkinan diagnosis banding. Pada anak usia di bawah lima tahun, diagnosis lebih banyak mengandalkan pola gejala dan uji terapi karena pemeriksaan fungsi paru masih terbatas. Mengingat tingginya angka overdiagnosis dan underdiagnosis, evaluasi ulang diagnosis pada setiap kunjungan sangat penting untuk memastikan ketepatan tata laksana dan mencegah keterlambatan diagnosis penyakit lain yang memiliki manifestasi klinis serupa.
Daftar Pustaka
- Global Initiative for Asthma (GINA). Global Strategy for Asthma Management and Prevention. 2025.
- National Institute for Health and Care Excellence (NICE). Asthma: Diagnosis, Monitoring and Chronic Asthma Management (NG80). Updated 2024.
- Bush A, Fleming L. Diagnosis and management of asthma in children. BMJ. 2024.
- Brand PLP, et al. Definition, assessment and treatment of wheezing disorders in preschool children. Eur Respir J. 2021.
- European Respiratory Society. ERS Clinical Practice Guidelines for Pediatric Asthma. 2023.
- Canadian Thoracic Society. Canadian Thoracic Society Guideline Update: Diagnosis and Management of Asthma in Preschoolers and Children. 2021.
- National Asthma Council Australia. Australian Asthma Handbook. 2021.
- Japanese Society of Allergology. Japanese Guidelines for Childhood Asthma. 2020.
- International Consensus on Pediatric Asthma. Allergy. 2015.
- Cloutier MM, et al. 2020 Focused Updates to the Asthma Management Guidelines. J Allergy Clin Immunol. 2020.









Leave a Reply