Hubungan Rome V dengan Alergi Makanan: Paradigma Baru dalam Diagnosis Gangguan Saluran Cerna
Reviewer: Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwant0
Salah satu implikasi penting dari Rome V adalah pengakuan bahwa Disorders of Gut–Brain Interaction (DGBI) dan berbagai penyakit organik dapat berdampingan (overlap) pada pasien yang sama. Rome V menekankan bahwa meskipun DGBI merupakan diagnosis positif berdasarkan kriteria klinis, dokter tetap harus mengevaluasi kemungkinan penyakit organik yang dapat menimbulkan gejala serupa, terutama bila terdapat alarm features, perjalanan penyakit yang tidak khas, atau respons terapi yang tidak memadai. Salah satu kondisi yang paling sering menjadi diagnosis banding sekaligus dapat tumpang tindih dengan DGBI adalah alergi makanan, terutama bentuk non-IgE-mediated food allergy.
Berbeda dengan alergi makanan yang dimediasi IgE dan umumnya menimbulkan urtikaria, angioedema, atau anafilaksis, alergi makanan non-IgE terutama mengenai saluran cerna melalui mekanisme imun seluler yang melibatkan limfosit T, eosinofil, sel mast, sitokin proinflamasi, serta gangguan fungsi sawar mukosa usus. Manifestasi klinisnya sering berupa refluks gastroesofageal, muntah kronis, nyeri perut, konstipasi, diare, kembung, gangguan makan (feeding disorder), hingga gangguan pertumbuhan. Gejala tersebut sangat mirip dengan berbagai bentuk DGBI sehingga sering menyebabkan keterlambatan diagnosis maupun salah diagnosis.
Konsep epithelial barrier dysfunction yang semakin ditekankan dalam Rome V juga memperkuat hubungan biologis antara DGBI dan alergi makanan. Kerusakan integritas tight junction mukosa usus meningkatkan permeabilitas intestinal (leaky gut), sehingga antigen makanan lebih mudah melewati epitel dan mengaktivasi sistem imun mukosa. Aktivasi ini memicu pelepasan sitokin inflamasi, aktivasi eosinofil dan sel mast, serta perubahan komunikasi antara usus dan sistem saraf enterik. Akibatnya, terjadi hipersensitivitas viseral, gangguan motilitas, dan perubahan persepsi nyeri yang merupakan karakteristik utama DGBI.
Selain gangguan sawar mukosa, penelitian terbaru menunjukkan bahwa gut microbiota berperan penting baik pada DGBI maupun alergi makanan. Disbiosis dapat mengurangi produksi short-chain fatty acids (SCFAs), mengganggu maturasi sel T regulator (Treg), meningkatkan respons imun tipe 2 (Th2), serta memperburuk inflamasi mukosa. Perubahan mikrobiota juga memengaruhi produksi neurotransmiter, metabolit mikroba, dan komunikasi melalui gut–brain–microbiome axis, sehingga menjelaskan mengapa pasien alergi makanan sering mengalami nyeri perut kronis, dispepsia, maupun sindrom iritasi usus yang sulit dibedakan dari DGBI primer.
Pada populasi pediatrik, hubungan ini menjadi lebih penting karena manifestasi alergi makanan non-IgE sering kali tidak disertai gejala kulit ataupun hasil pemeriksaan IgE yang positif. Banyak anak datang dengan keluhan sulit makan, refluks, konstipasi kronis, nyeri perut berulang, batuk kronis, atau berat badan sulit naik, kemudian memenuhi kriteria DGBI berdasarkan Rome. Namun, sebagian di antaranya ternyata mengalami alergi makanan yang mendasari atau memperberat gejala. Oleh karena itu, Rome V menekankan pentingnya evaluasi klinis yang menyeluruh sebelum menyimpulkan bahwa seluruh gejala semata-mata merupakan DGBI.
Sebaliknya, keberadaan alergi makanan juga tidak berarti seluruh keluhan saluran cerna pasien disebabkan oleh proses alergi. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pasien dengan penyakit organik, termasuk alergi makanan, penyakit celiac, inflammatory bowel disease (IBD), maupun eosinophilic gastrointestinal disorders (EGIDs), tetap dapat mengalami DGBI sekunder akibat perubahan motilitas, hipersensitivitas viseral, inflamasi derajat rendah, atau gangguan modulasi nyeri yang menetap setelah penyakit primernya terkontrol. Dengan demikian, hubungan antara DGBI dan alergi makanan bersifat dua arah (bidirectional relationship).
Rome V juga menekankan bahwa diagnosis DGBI tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk mengabaikan kemungkinan penyakit organik, terutama pada pasien dengan gejala berat, gagal tumbuh, anemia, perdarahan saluran cerna, muntah persisten, diare kronis, atau riwayat atopi yang kuat. Pada kelompok pasien tersebut diperlukan evaluasi lebih lanjut untuk menyingkirkan penyakit seperti alergi makanan, penyakit celiac, EGIDs, IBD, maupun kelainan metabolik sesuai indikasi klinis.
Dalam praktik klinis, penegakan diagnosis alergi makanan tetap mengikuti pedoman internasional dari EAACI, WAO, dan AAAAI. Diagnosis didasarkan pada anamnesis yang teliti, hubungan temporal antara konsumsi makanan dan timbulnya gejala, pemeriksaan fisik, eliminasi makanan yang terarah, serta konfirmasi melalui Oral Food Challenge (OFC) bila terdapat indikasi. Pemeriksaan IgE spesifik maupun skin prick test hanya merupakan pemeriksaan penunjang dan tidak dapat menggantikan evaluasi klinis maupun OFC sebagai gold standard untuk memastikan hubungan sebab-akibat antara makanan dan gejala.
Tabel. Perbedaan DGBI Primer dan Gejala Saluran Cerna akibat Alergi Makanan
| Aspek | DGBI Primer | Alergi Makanan (terutama non-IgE) |
|---|---|---|
| Mekanisme utama | Gangguan gut–brain axis, motilitas, hipersensitivitas viseral | Respons imun terhadap protein makanan |
| Inflamasi mukosa | Ringan atau minimal | Lebih nyata, melibatkan eosinofil, limfosit T, sel mast |
| Barrier dysfunction | Ya | Ya, sering lebih menonjol |
| Mikrobiota usus | Disbiosis | Disbiosis dapat berkontribusi |
| Hubungan dengan makanan | Tidak selalu konsisten | Umumnya berkaitan dengan makanan tertentu |
| IgE spesifik / Skin prick test | Tidak berperan | Dapat positif pada alergi IgE, sering negatif pada non-IgE |
| Oral Food Challenge | Tidak digunakan untuk diagnosis DGBI | Gold standard bila diindikasikan |
| Respons terhadap eliminasi makanan | Tidak konsisten | Sering membaik bila alergen dihindari |
| Gangguan pertumbuhan | Umumnya ringan | Dapat nyata pada kasus kronis |
| Pendekatan terapi | Edukasi, modifikasi diet sesuai gejala, farmakoterapi, psikoterapi, neuromodulator | Eliminasi alergen, terapi nutrisi, OFC, tata laksana alergi |
Pesan Klinis
Rome V tidak menempatkan alergi makanan sebagai bagian dari DGBI, tetapi menegaskan bahwa alergi makanan merupakan diagnosis banding sekaligus penyakit yang dapat tumpang tindih (overlap) dengan DGBI. Oleh karena itu, pada pasien dengan gejala saluran cerna kronis—terutama bayi dan anak dengan gangguan makan, gagal tumbuh, riwayat atopi, atau gejala yang tidak membaik dengan terapi standar—dokter perlu mempertimbangkan evaluasi terhadap alergi makanan selain menilai kemungkinan DGBI. Pendekatan ini akan meningkatkan akurasi diagnosis, mengurangi salah diagnosis, dan memungkinkan tata laksana yang lebih tepat sesuai prinsip evidence-based medicine.









Leave a Reply