ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Anak 9 Tahun Sering Nyeri Perut, Sembelit, Bersin, Ngorok, Sleep Apnea, Batuk, dan Asma. Apakah Alergi Makanan? Apakah Perlu Oral Food Challenge (OFC)?

Anak 9 Tahun Sering Nyeri Perut, Sembelit, Bersin, Ngorok, Sleep Apnea, Batuk, dan Asma. Apakah Semua Ini Bisa Berhubungan dengan Alergi Makanan? Apakah Perlu Oral Food Challenge (OFC)?

Pertanyaan

Dokter, anak saya laki-laki berusia 9 tahun sudah bertahun-tahun sering mengeluh nyeri perut dan sembelit. Selain itu hampir setiap hari bersin-bersin, hidung sering tersumbat, tidur ngorok keras bahkan kadang seperti berhenti bernapas beberapa detik (sleep apnea). Ia juga sering batuk berulang dan pernah didiagnosis asma. Kami sudah mencoba berbagai obat, vitamin, probiotik, bahkan tes alergi, tetapi keluhannya sering kambuh. Ada yang menyarankan menghindari berbagai makanan karena diduga alergi makanan. Benarkah semua keluhan ini bisa saling berhubungan? Apakah anak saya perlu menjalani Oral Food Challenge (OFC)?

Jawaban

  • Keluhan yang dialami anak Anda memang dapat saling berkaitan, tetapi belum tentu semuanya disebabkan oleh alergi makanan. Nyeri perut dan sembelit dapat terjadi karena gangguan pencernaan fungsional seperti konstipasi kronis atau Irritable Bowel Syndrome (IBS). Sementara bersin, hidung tersumbat, batuk, dan asma lebih sering berhubungan dengan penyakit alergi saluran napas. Pada sebagian anak, beberapa gangguan tersebut dapat muncul bersamaan sehingga memerlukan evaluasi secara menyeluruh.
  • Ngorok dan sleep apnea pada anak juga tidak boleh dianggap sepele. Penyebab tersering adalah pembesaran adenoid dan amandel, rinitis alergi yang menyebabkan hidung tersumbat kronis, atau kombinasi keduanya. Bila napas sering berhenti saat tidur, kualitas tidur akan terganggu sehingga anak dapat mudah lelah, sulit berkonsentrasi di sekolah, mengalami gangguan perilaku, bahkan pertumbuhannya dapat terpengaruh apabila berlangsung lama.
  • Alergi makanan memang dapat menyebabkan keluhan saluran cerna, seperti nyeri perut, muntah, diare, konstipasi, kembung, atau sulit makan, terutama pada sebagian anak dengan alergi makanan non-IgE. Namun, tidak semua anak yang mengalami sembelit atau sakit perut berarti memiliki alergi makanan. Demikian pula, batuk, asma, dan rinitis alergi tidak selalu dipicu oleh makanan. Oleh karena itu, hubungan antara makanan dan gejala harus dinilai secara cermat.
  • Banyak orang tua langsung menghindari susu, telur, ayam, ikan, atau makanan lain hanya karena hasil tes alergi atau karena merasa gejala muncul setelah makan. Padahal, hasil tes alergi seperti skin prick test atau pemeriksaan IgE spesifik tidak dapat berdiri sendiri untuk memastikan alergi makanan, terutama bila keluhan utamanya berasal dari saluran cerna. Tes tersebut hanya menunjukkan adanya sensitisasi, bukan selalu berarti makanan tersebut benar-benar menyebabkan penyakit.
  • Apabila dokter mencurigai adanya alergi makanan berdasarkan riwayat penyakit, pola munculnya gejala, pemeriksaan fisik, dan respons terhadap eliminasi makanan yang dilakukan secara terarah, maka pemeriksaan yang paling akurat untuk memastikan diagnosis adalah Oral Food Challenge (OFC). Pada pemeriksaan ini, makanan yang dicurigai diberikan kembali secara bertahap di bawah pengawasan dokter yang berpengalaman untuk melihat apakah benar menimbulkan gejala. Karena itu, OFC dikenal sebagai standar emas (gold standard) dalam diagnosis alergi makanan.
  • Bila hasil OFC menunjukkan bahwa makanan tertentu memang menjadi penyebab keluhan, maka makanan tersebut perlu dihindari sesuai anjuran dokter, dan gejala biasanya akan dipantau apakah membaik. Sebaliknya, bila OFC negatif, anak tidak perlu menghindari makanan tersebut. Hal ini sangat penting karena pembatasan makanan yang tidak perlu dapat menyebabkan kekurangan zat gizi, mengganggu pertumbuhan, dan menurunkan kualitas hidup anak.
  • Selain mengevaluasi kemungkinan alergi makanan, dokter juga perlu mencari penyebab lain yang mungkin berperan, seperti konstipasi kronis, IBS, refluks gastroesofageal (GERD), intoleransi makanan tertentu, pembesaran adenoid atau amandel, rinitis alergi, maupun kontrol asma yang belum optimal. Pada banyak anak, beberapa kondisi tersebut dapat terjadi bersamaan sehingga penanganannya harus dilakukan secara terpadu oleh dokter yang berpengalaman.
  • Pesan terpenting bagi orang tua adalah jangan terburu-buru menghilangkan berbagai jenis makanan hanya berdasarkan dugaan, pengalaman sehari-hari, atau hasil tes alergi. Bila terdapat kecurigaan alergi makanan, lakukan evaluasi secara sistematis bersama dokter. Dengan diagnosis yang tepat, termasuk Oral Food Challenge (OFC) bila memang diperlukan, anak akan memperoleh terapi yang sesuai, terhindar dari pantangan makanan yang tidak perlu, serta memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh sehat, bernapas lebih nyaman, tidur lebih berkualitas, dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih baik.
Visited 12 times, 5 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *