ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Alergi Telur pada Anak: Membedakan Sensitisasi, Alergi Klinis, dan Peran Oral Food Challenge

Alergi Telur pada Anak: Membedakan Sensitisasi, Alergi Klinis, dan Peran Oral Food Challenge

Reportase Ilmiah Berbasis Bukti

Alergi telur merupakan salah satu alergi makanan yang paling sering ditemukan pada masa kanak-kanak. Manifestasinya dapat berupa gejala kulit, saluran cerna, maupun sistem pernapasan, dengan mekanisme yang dapat dimediasi IgE maupun mekanisme non-IgE. Namun, tidak setiap anak yang mempunyai keluhan setelah makan telur dapat langsung dinyatakan alergi telur. Diagnosis memerlukan korelasi antara riwayat klinis dan pemeriksaan penunjang. Studi kasus yang dipublikasikan oleh Cremonte dkk. menunjukkan bahwa alergi telur dapat mempunyai manifestasi gastrointestinal dan bahwa sensitisasi terhadap komponen protein telur dapat memberikan informasi tambahan dalam evaluasi klinis.

Telur dan protein penyebab alergi

Putih telur merupakan sumber utama alergen telur. Beberapa komponen yang telah dikenal antara lain ovomucoid (Gal d 1), ovalbumin (Gal d 2), ovotransferrin (Gal d 3), dan lisozim (Gal d 4). Ovomucoid relatif lebih tahan terhadap panas dibandingkan ovalbumin sehingga pola toleransi terhadap telur mentah, telur matang, atau telur panggang dapat berbeda antarindividu. Dalam laporan kasus Cremonte dkk., pasien menunjukkan sensitisasi terhadap putih telur dan terutama ovalbumin, dengan gejala gastrointestinal yang muncul setelah konsumsi beberapa produk telur.

Temuan tersebut penting karena bentuk makanan dan cara pemanasan dapat memengaruhi reaktivitas alergennya. Pedoman PRACTALL terbaru juga menjelaskan bahwa efek pemanasan terhadap alergenisitas protein telur cukup besar dan dipengaruhi oleh suhu, lama pemanasan, serta matriks makanan. Karena itu, anak yang bereaksi terhadap telur mentah belum tentu bereaksi dengan cara yang sama terhadap telur yang dipanggang atau dimasak dengan kondisi tertentu. Namun, toleransi terhadap baked egg harus ditentukan secara klinis dan tidak boleh diasumsikan hanya berdasarkan hasil pemeriksaan IgE atau skin-prick test.

IgE positif belum sama dengan alergi

Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam praktik adalah menganggap hasil specific IgE positif = pasti alergi makanan. Secara ilmiah, pemeriksaan specific IgE dan skin-prick test terutama menunjukkan sensitisasi, yaitu adanya respons imun terhadap alergen tertentu. Sensitisasi belum tentu berarti anak akan mengalami gejala ketika mengonsumsi makanan tersebut. Pedoman EAACI terbaru menegaskan bahwa hasil pemeriksaan harus selalu ditafsirkan bersama riwayat klinis.

Dengan demikian, apabila seorang anak mempunyai specific IgE terhadap telur tetapi selama ini dapat mengonsumsi telur tanpa gejala yang konsisten, dokter tidak seharusnya langsung memberikan label alergi telur hanya berdasarkan angka laboratorium. Sebaliknya, apabila terdapat riwayat reaksi yang khas dan berulang setelah konsumsi telur, hasil pemeriksaan IgE yang mendukung dapat memperkuat dugaan klinis.

Tabel. Pemeriksaan dalam Evaluasi Dugaan Alergi Telur

Pemeriksaan/komponen Apa yang dinilai Makna klinis
Anamnesis alergi Hubungan telur dengan gejala, waktu muncul, jumlah telur, pola berulang Langkah pertama dan sangat penting
Skin-prick test Sensitisasi terhadap alergen telur Mendukung diagnosis bila sesuai dengan riwayat
Specific IgE telur Antibodi IgE terhadap ekstrak telur Menunjukkan sensitisasi, bukan otomatis alergi klinis
Component-resolved diagnosis Misalnya Gal d 1/ovomucoid dan Gal d 2/ovalbumin Dapat memberikan informasi tambahan pada kasus tertentu
Oral Food Challenge Reaksi klinis setelah konsumsi makanan secara terkontrol Pemeriksaan penting untuk memastikan atau menyingkirkan alergi ketika diagnosis masih meragukan

Mengapa Oral Food Challenge penting?

Ketika riwayat klinis dan pemeriksaan alergi belum memberikan kepastian, Oral Food Challenge (OFC) mempunyai posisi penting dalam diagnosis alergi makanan. Pedoman EAACI menyatakan bahwa apabila setelah evaluasi klinis dan pemeriksaan kulit/darah masih terdapat keraguan, OFC dapat dilakukan dalam lingkungan medis yang terawasi.

Pembaruan AAAAI–EAACI PRACTALL 2024 memberikan standar terbaru mengenai pelaksanaan OFC. Untuk dugaan alergi yang dimediasi IgE, makanan diberikan dalam dosis bertahap berdasarkan kandungan protein, dengan interval yang umumnya sekitar 20–30 menit dalam praktik klinis, disertai kriteria yang jelas kapan tantangan dilanjutkan, dihentikan, atau pasien masuk dalam periode observasi.

OFC mempunyai nilai penting karena hingga saat ini tidak ada pemeriksaan darah atau kulit yang secara sempurna menggantikan penilaian reaksi klinis terhadap makanan. Bahkan kadar specific IgE yang tinggi tidak secara sederhana dapat digunakan untuk memprediksi beratnya reaksi yang akan terjadi pada OFC. Karena itu, keputusan melakukan OFC harus mempertimbangkan riwayat reaksi, hasil pemeriksaan, usia anak, kondisi klinis, dan risiko.

Baked egg tidak boleh diuji sendiri di rumah

Pada sebagian anak dengan alergi telur, telur yang dipanggang dalam matriks makanan dapat ditoleransi. PRACTALL 2024 mencatat bahwa sebagian besar anak dengan alergi IgE-mediated terhadap telur dapat mentoleransi bentuk telur yang dipanggang, tetapi reaksi terhadap baked egg tetap dapat terjadi dan dapat bersifat berat atau muncul lebih lambat. Oleh sebab itu, toleransi terhadap baked egg perlu ditentukan secara hati-hati, terutama bila terdapat riwayat reaksi sebelumnya.

Hal ini menjadi semakin penting pada anak yang sudah menjalani eliminasi telur cukup lama. Reintroduksi makanan yang sebelumnya dihindari dapat menimbulkan reaksi, sehingga tidak dianjurkan melakukan food challenge terhadap telur di rumah pada anak yang mempunyai kemungkinan alergi IgE-mediated. PRACTALL secara khusus menekankan pentingnya pengaturan keamanan dan kriteria penghentian selama OFC.

Bagaimana dengan alergi non-IgE?

Alergi makanan tidak seluruhnya dapat dijelaskan melalui mekanisme IgE. Pada beberapa gangguan gastrointestinal yang berkaitan dengan makanan, pemeriksaan IgE dapat tidak memberikan hasil positif. Karena itu, IgE negatif tidak otomatis menyingkirkan seluruh kemungkinan reaksi makanan.

PRACTALL 2024 bahkan telah memperluas pembahasan mengenai food challenge untuk sejumlah kondisi non-IgE-mediated, termasuk beberapa bentuk alergi gastrointestinal. Namun, protokolnya tidak sama dengan OFC untuk alergi IgE-mediated dan harus disesuaikan dengan pola penyakit yang dicurigai.

Implikasi bagi anak dengan masalah makan

Dalam konteks pediatri, diagnosis alergi telur menjadi semakin penting apabila anak mengalami picky eating, pembatasan makanan, berat badan sulit naik, atau diet yang semakin sempit. Eliminasi telur tanpa diagnosis yang kuat dapat mempersempit pilihan makanan anak dan berpotensi menurunkan kecukupan energi maupun zat gizi.

Pedoman EAACI 2024 merekomendasikan bahwa pada alergi makanan yang sudah terkonfirmasi, makanan penyebab memang harus dihindari, tetapi makanan lain yang masih dapat ditoleransi tetap dikonsumsi, dengan nasihat diet yang sesuai usia dan dukungan ahli gizi pada kasus kompleks.

Kesimpulan

Alergi telur tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan keluhan, hasil IgE positif, maupun dugaan orang tua. Diagnosis memerlukan hubungan klinis yang jelas antara konsumsi telur dan munculnya gejala, kemudian pemeriksaan skin-prick test atau specific IgE bila terdapat indikasi. Hasil tersebut menunjukkan sensitisasi dan harus diinterpretasikan bersama riwayat klinis.

Apabila diagnosis masih meragukan, Oral Food Challenge merupakan pemeriksaan konfirmasi yang sangat penting dan harus dilakukan dalam kondisi medis yang terkontrol. Pembaruan AAAAI–EAACI PRACTALL 2024 memberikan standar mengenai dosis, interval, observasi, serta kriteria penghentian untuk meningkatkan keamanan dan akurasi pemeriksaan.

Pesan klinis utama:

“IgE positif menunjukkan sensitisasi; alergi makanan adalah diagnosis klinis. Bila masih meragukan, OFC terawasi dapat menjadi penentu.”

Referensi utama

  • Cremonte EM, Galdi E, Roncallo C, et al. Adult onset egg allergy: a case report. Clinical and Molecular Allergy. 2021;19:17. doi:10.1186/s12948-021-00156-7.
  • Sampson HA, Arasi S, Bahnson HT, et al. AAAAI–EAACI PRACTALL: Standardizing oral food challenges—2024 Update. Pediatric Allergy and Immunology. 2024;35:e14276. doi:10.1111/pai.14276.
  • EAACI. EAACI Guidelines on the Diagnosis of IgE-Mediated Food Allergy. European Academy of Allergy and Clinical Immunology.
  • EAACI. EAACI Guidelines on the Management of IgE-Mediated Food Allergy. 2024.
  • Dona DW, Suphioglu C. Egg allergy: diagnosis and immunotherapy. International Journal of Molecular Sciences. 2020;21:5010.
  • Caubet JC, Wang J. Current understanding of egg allergy. Pediatric Clinics of North America. 2011;58:427–443.
Visited 6 times, 6 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *