ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Benarkah Probiotik Dapat Mencegah dan Mengobati Alergi pada Anak? American Academy of Pediatrics (AAP) Tidak Merekomendasikanya, Tidak Terbukti Ilmiah

Konsultasi Kesehatan Anak

Benarkah Probiotik Dapat Mencegah dan Mengobati Alergi pada Anak? American Academy of Pediatrics (AAP) Tidak Merekomendasikanya, Tidak Terbukti Ilmiah

Reviewer Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Pertanyaan:

Dok, anak saya berusia 2 tahun dan sering mengalami eksim serta pilek alergi. Banyak teman menyarankan agar saya memberikan probiotik setiap hari karena katanya dapat menyembuhkan alergi, meningkatkan daya tahan tubuh, bahkan mencegah asma. Ada juga yang menyarankan ibu hamil dan ibu menyusui mengonsumsi probiotik agar bayinya tidak terkena alergi. Benarkah probiotik memang terbukti dapat mencegah atau mengobati alergi pada anak? Apa rekomendasi American Academy of Pediatrics (AAP) mengenai penggunaan probiotik untuk alergi?

Jawaban:

Pertama, perlu dipahami bahwa probiotik adalah mikroorganisme hidup yang dapat memberikan manfaat kesehatan bila diberikan dalam jumlah yang cukup dan pada kondisi tertentu. Namun, manfaat probiotik tidak sama untuk semua penyakit. Setiap jenis probiotik (strain) memiliki efek yang berbeda, sehingga hasil penelitian pada satu jenis probiotik tidak dapat langsung diterapkan pada semua produk probiotik yang beredar di pasaran.

American Academy of Pediatrics (AAP), organisasi profesi dokter anak terbesar di Amerika Serikat, telah meninjau berbagai penelitian mengenai probiotik dan alergi. Kesimpulannya, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang cukup kuat untuk merekomendasikan pemberian probiotik secara rutin kepada ibu hamil, ibu menyusui, maupun bayi sebagai cara mencegah penyakit alergi, seperti eksim (dermatitis atopik), rinitis alergi, maupun asma.

Memang, beberapa penelitian awal memberikan hasil yang cukup menjanjikan. Salah satu penelitian menunjukkan bahwa pemberian probiotik Lactobacillus rhamnosus GG (LGG) kepada ibu menjelang persalinan, kemudian dilanjutkan pada ibu menyusui dan bayinya selama beberapa bulan, tampak menurunkan angka kejadian eksim pada anak yang memiliki risiko alergi tinggi. Temuan ini sempat menimbulkan harapan bahwa probiotik dapat membantu mencegah alergi sejak dini.

Namun, ketika penelitian serupa dilakukan di berbagai negara dengan jumlah peserta yang lebih banyak, hasilnya ternyata tidak konsisten. Sebagian penelitian tidak menemukan manfaat yang bermakna, bahkan ada penelitian yang melaporkan peningkatan sensitisasi terhadap alergen pada sebagian anak. Perbedaan jenis probiotik, dosis, lama pemberian, faktor genetik, pola makan, dan lingkungan diduga menjadi penyebab mengapa hasil penelitian tersebut tidak selalu sama.

AAP juga menyatakan bahwa probiotik belum terbukti efektif sebagai pengobatan rutin untuk eksim atau penyakit alergi lainnya. Meskipun ada beberapa penelitian yang menunjukkan perbaikan gejala pada sebagian anak, bukti ilmiahnya belum cukup kuat untuk menjadikan probiotik sebagai terapi standar. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak menghentikan pengobatan yang telah direkomendasikan dokter hanya karena berharap probiotik dapat menggantikannya.

Pada anak yang sudah mengalami alergi, penanganan utama tetap bergantung pada jenis penyakitnya. Misalnya, eksim ditangani dengan menjaga kelembapan kulit, menghindari pencetus, dan menggunakan obat sesuai anjuran dokter. Rinitis alergi memerlukan pengendalian paparan alergen serta obat bila diperlukan, sedangkan asma memerlukan pengobatan yang disesuaikan dengan tingkat keparahan penyakit. Hingga saat ini, probiotik bukan bagian dari terapi utama untuk penyakit-penyakit tersebut menurut rekomendasi AAP.

Bagi orang tua, yang lebih penting daripada memberikan probiotik secara rutin adalah memastikan anak memperoleh nutrisi yang seimbang, ASI bila memungkinkan, tidur yang cukup, imunisasi lengkap, serta penanganan alergi berdasarkan penyebab dan tingkat keparahannya. Bila terdapat dugaan alergi makanan, diagnosis sebaiknya ditegakkan melalui evaluasi dokter yang berpengalaman, karena tidak semua keluhan kulit atau saluran cerna disebabkan oleh alergi.

Kesimpulannya, American Academy of Pediatrics (AAP) tidak merekomendasikan penggunaan probiotik secara rutin untuk mencegah maupun mengobati penyakit alergi pada anak, karena bukti ilmiahnya masih belum memadai dan hasil penelitian masih saling bertentangan. Probiotik mungkin memiliki manfaat pada kondisi tertentu, tetapi bukan merupakan terapi utama untuk alergi. Oleh karena itu, keputusan penggunaan probiotik sebaiknya dilakukan secara individual setelah berkonsultasi dengan dokter, sehingga pengobatan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kondisi anak dan didukung oleh bukti ilmiah yang kuat.

Visited 9 times, 5 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *