ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Imunopatofisiologi Asma Terkini: Peran Inflamasi Tipe 2, Epitel Jalan Napas, Biomarker, dan Regulasi Imun dalam Era Precision Medicine

Imunopatofisiologi Asma Terkini: Peran Inflamasi Tipe 2, Epitel Jalan Napas, Biomarker, dan Regulasi Imun dalam Era Precision Medicine

Widodo Judarwanto, Audi Yudhasmara

Abstrak

Asma merupakan penyakit inflamasi kronis saluran napas dengan karakteristik utama berupa hiperresponsivitas bronkus, inflamasi mukosa, dan keterbatasan aliran udara yang bersifat variabel serta dapat membaik secara spontan atau dengan terapi. Pemahaman terbaru menunjukkan bahwa asma bukan merupakan satu penyakit dengan mekanisme tunggal, tetapi kumpulan gangguan inflamasi dengan berbagai fenotipe dan endotype. Inflamasi tipe 2 (Type 2 inflammation) menjadi mekanisme utama pada sebagian besar pasien, terutama melalui aktivasi epitel jalan napas, sel innate lymphoid type 2 (ILC2), limfosit T helper 2 (Th2), IgE, sel mast, dan eosinofil. Namun, sebagian pasien mengalami asma non-tipe 2 yang melibatkan mekanisme neutrofilik, infeksi kronis, polusi, obesitas, dan faktor metabolik. Pembaruan pedoman GINA 2026 semakin menekankan penggunaan biomarker seperti eosinofil darah, fractional exhaled nitric oxide (FeNO), dan IgE spesifik untuk menentukan fenotipe penyakit serta memilih terapi yang lebih tepat. Perkembangan terapi biologik, penggunaan inhaled corticosteroid (ICS)-formoterol, serta pendekatan precision medicine menjadi arah utama pengelolaan asma masa depan.

Kata kunci: asma, inflamasi tipe 2, Th2, eosinofil, IgE, biologik, GINA 2026, precision medicine.


Pendahuluan

Asma merupakan salah satu penyakit kronis saluran napas yang paling sering ditemukan pada anak maupun dewasa. Penyakit ini ditandai oleh gejala episodik seperti mengi, sesak napas, batuk, dan rasa berat di dada yang berhubungan dengan inflamasi kronis serta peningkatan sensitivitas bronkus terhadap berbagai rangsangan. Selama bertahun-tahun asma dipahami terutama sebagai penyakit akibat penyempitan bronkus, tetapi penelitian imunologi modern menunjukkan bahwa perubahan utama terjadi pada interaksi kompleks antara epitel jalan napas, sistem imun bawaan, sistem imun adaptif, lingkungan, dan faktor genetik.

Konsep terbaru memandang asma sebagai penyakit heterogen yang terdiri atas berbagai fenotipe dan endotype. Fenotipe menggambarkan karakteristik klinis penyakit, sedangkan endotype menjelaskan mekanisme biologis yang mendasari. Pemahaman terhadap mekanisme ini penting karena respons terhadap terapi berbeda antar pasien. Pasien dengan inflamasi eosinofilik dan peningkatan biomarker tipe 2 dapat memberikan respons baik terhadap kortikosteroid inhalasi dan terapi biologik tertentu, sedangkan pasien dengan inflamasi non-tipe 2 membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Pembaruan GINA 2026 menekankan bahwa seluruh pasien dengan asma yang memiliki gejala membutuhkan terapi yang mengandung inhaled corticosteroid (ICS) untuk mengurangi risiko eksaserbasi. Penggunaan bronkodilator kerja cepat seperti salbutamol sebagai terapi tunggal tidak lagi direkomendasikan karena tidak mengatasi proses inflamasi yang menjadi dasar penyakit. Pendekatan modern berfokus pada pengendalian inflamasi, pencegahan eksaserbasi, dan pemilihan terapi berdasarkan karakteristik biologis pasien.

Imunopatofisiologi Asma Tipe 2 (Type 2 High Asthma)

Asma tipe 2 merupakan bentuk asma yang paling banyak diteliti dan berhubungan dengan aktivasi jalur imun yang melibatkan sitokin IL-4, IL-5, dan IL-13. Proses ini sering dimulai ketika epitel jalan napas mengalami kerusakan akibat pajanan alergen, infeksi virus, polusi udara, asap rokok, atau iritan lingkungan. Epitel jalan napas tidak hanya berfungsi sebagai lapisan pelindung, tetapi juga sebagai organ imun aktif yang mampu mendeteksi bahaya dan menghasilkan mediator inflamasi.

Ketika terjadi kerusakan epitel, sel epitel melepaskan alarmin seperti thymic stromal lymphopoietin (TSLP), interleukin-25 (IL-25), dan interleukin-33 (IL-33). Mediator tersebut mengaktifkan sel imun bawaan terutama innate lymphoid cell type 2 (ILC2) dan sel dendritik. Sel dendritik kemudian mempresentasikan antigen kepada limfosit T naïve sehingga terjadi diferensiasi menjadi limfosit T helper 2 (Th2).

Sel Th2 menghasilkan berbagai sitokin yang memiliki fungsi berbeda. IL-4 dan IL-13 berperan dalam pembentukan IgE spesifik terhadap alergen melalui aktivasi sel B. IL-13 juga menyebabkan peningkatan produksi mukus, hiperplasia sel goblet, dan perubahan struktur jalan napas. IL-5 berperan utama dalam perekrutan dan aktivasi eosinofil dari sumsum tulang menuju jaringan paru.

IgE yang terbentuk kemudian berikatan dengan reseptor FcεRI pada permukaan sel mast dan basofil. Pada pajanan ulang terhadap alergen, terjadi ikatan silang antara alergen dan IgE yang menyebabkan degranulasi sel mast. Proses ini menghasilkan pelepasan histamin, leukotrien, prostaglandin, dan berbagai mediator inflamasi yang menyebabkan kontraksi otot polos bronkus, peningkatan permeabilitas pembuluh darah, edema mukosa, serta produksi lendir berlebihan.

Peran Eosinofil dan Remodeling Jalan Napas

Eosinofil merupakan salah satu sel inflamasi utama pada asma tipe 2. Aktivasi eosinofil terutama dipengaruhi oleh IL-5 yang meningkatkan produksi, migrasi, dan kelangsungan hidup eosinofil di jaringan paru. Eosinofil yang teraktivasi melepaskan protein toksik seperti major basic protein (MBP), eosinophil peroxidase (EPO), dan berbagai sitokin yang menyebabkan kerusakan epitel serta mempertahankan inflamasi kronis.

Inflamasi yang berlangsung lama menyebabkan remodeling jalan napas. Perubahan struktur ini meliputi penebalan membran basal, peningkatan deposisi kolagen, hipertrofi otot polos bronkus, peningkatan jumlah pembuluh darah, serta perubahan produksi mukus. Remodeling menyebabkan jalan napas menjadi lebih sensitif dan dapat berkontribusi terhadap penurunan fungsi paru yang menetap.

Proses remodeling menjelaskan mengapa sebagian pasien dengan asma yang tidak terkontrol mengalami penurunan fungsi paru meskipun gejala dapat berfluktuasi. Oleh karena itu, pengendalian inflamasi sejak dini menjadi tujuan utama terapi modern.

Asma Non-Tipe 2 dan Mekanisme Inflamasi Lain

Tidak semua pasien asma mengalami dominasi inflamasi tipe 2. Sebagian pasien mengalami asma non-T2 yang ditandai oleh peningkatan neutrofil, inflamasi akibat infeksi, paparan polusi, obesitas, atau gangguan metabolik.

Pada asma neutrofilik, inflamasi dapat melibatkan aktivasi sel imun bawaan seperti makrofag dan neutrofil dengan pelepasan mediator seperti IL-17. Kondisi ini sering ditemukan pada pasien dengan asma berat dan respons yang lebih rendah terhadap kortikosteroid.

Perbedaan mekanisme imun menjelaskan mengapa terapi yang efektif pada satu pasien belum tentu memberikan hasil yang sama pada pasien lain. Hal ini menjadi dasar berkembangnya pendekatan fenotipe dan endotype dalam pengelolaan asma.

Biomarker dan Precision Medicine pada Asma 

Perkembangan ilmu imunologi menyebabkan diagnosis dan terapi asma semakin bergeser menuju pendekatan individual. Biomarker digunakan untuk membantu menentukan mekanisme inflamasi dan memilih terapi yang sesuai.

Tabel Biomarker pada Asma Tipe 2

Biomarker Peran Klinis
Eosinofil darah Menunjukkan inflamasi eosinofilik dan prediksi respons terhadap terapi anti-IL-5
FeNO Menggambarkan inflamasi tipe 2 pada jalan napas
IgE spesifik Menunjukkan sensitisasi terhadap alergen tertentu
Periostin Berhubungan dengan aktivitas IL-13
Profil sitokin Membantu memahami mekanisme inflamasi pasien

Pemeriksaan biomarker membantu mengidentifikasi pasien yang kemungkinan mendapatkan manfaat dari terapi biologik. Pendekatan ini mengurangi penggunaan terapi yang tidak sesuai dan meningkatkan efektivitas pengobatan.

Perkembangan Terapi Asma Terkini

Terapi asma modern mengalami perubahan besar dari pendekatan yang hanya berfokus pada pelebaran saluran napas menjadi strategi yang menargetkan proses inflamasi sebagai dasar penyakit. Pedoman Global Initiative for Asthma (GINA) 2026 menekankan bahwa kortikosteroid inhalasi atau inhaled corticosteroid (ICS) harus menjadi komponen utama pada pasien asma yang memiliki gejala, karena inflamasi jalan napas tetap terjadi meskipun gejala bersifat hilang timbul. Penggunaan bronkodilator kerja cepat seperti short-acting beta-2 agonist (SABA) tanpa ICS tidak lagi dianjurkan sebagai terapi tunggal karena hanya mengurangi gejala sementara tanpa mengendalikan proses inflamasi yang mendasari. ICS bekerja dengan menekan aktivasi berbagai sel inflamasi, mengurangi produksi sitokin proinflamasi, menurunkan aktivitas eosinofil, serta memperbaiki sensitivitas reseptor beta-2 sehingga kontrol asma menjadi lebih baik dan risiko eksaserbasi dapat dikurangi.

Salah satu perkembangan penting adalah penggunaan kombinasi inhaled corticosteroid dengan formoterol sebagai terapi pengontrol sekaligus pereda gejala atau anti-inflammatory reliever. Formoterol memiliki onset kerja cepat sehingga dapat digunakan ketika gejala muncul, sementara ICS yang diberikan bersamaan langsung menekan inflamasi jalan napas. Strategi ini terbukti menurunkan kejadian eksaserbasi dibandingkan penggunaan SABA saja karena setiap kali pasien membutuhkan obat pereda, pasien juga mendapatkan terapi antiinflamasi. Selain pengobatan inhalasi, pemantauan asma saat ini semakin menggunakan pendekatan berbasis biomarker. Pemeriksaan eosinofil darah, fractional exhaled nitric oxide (FeNO), kadar IgE spesifik, riwayat alergi, serta pola eksaserbasi membantu menentukan fenotipe dan endotype asma sehingga terapi dapat disesuaikan dengan mekanisme penyakit masing-masing pasien.

Pada asma berat yang tidak terkontrol dengan terapi inhalasi optimal, perkembangan terapi biologik memberikan pilihan pengobatan yang lebih spesifik. Terapi biologik bekerja dengan memblok jalur imun tertentu yang berperan dalam inflamasi asma. Antibodi monoklonal anti-IgE seperti omalizumab digunakan pada pasien dengan asma alergi yang memiliki kadar IgE dan sensitisasi alergen tertentu. Terapi anti-IL-5 atau anti-reseptor IL-5 seperti mepolizumab, reslizumab, dan benralizumab ditujukan terutama untuk asma eosinofilik dengan peningkatan eosinofil. Antibodi yang menargetkan jalur IL-4 dan IL-13 seperti dupilumab berperan pada inflamasi tipe 2, sedangkan tezepelumab yang menargetkan thymic stromal lymphopoietin (TSLP) memberikan pilihan baru karena dapat digunakan pada sebagian pasien dengan inflamasi tipe 2 yang tidak terlalu jelas. Masa depan terapi asma bergerak menuju precision medicine dengan pemilihan terapi berdasarkan karakteristik biologis pasien, profil imun, biomarker, faktor lingkungan, dan respons terhadap pengobatan sebelumnya, sehingga terapi menjadi lebih efektif dengan efek samping yang lebih minimal.

Tabel Terapi Biologik Asma Berat

Target Terapi Contoh Mekanisme
IgE Omalizumab Mengurangi aktivitas IgE dan aktivasi sel mast
IL-5 Mepolizumab, Reslizumab Menghambat aktivasi eosinofil
Reseptor IL-5 Benralizumab Mengurangi eosinofil melalui mekanisme sitotoksik
IL-4/IL-13 Dupilumab Menghambat inflamasi tipe 2
TSLP Tezepelumab Menghambat aktivasi awal inflamasi tipe 2

Penambahan tezepelumab memberikan pilihan baru karena dapat digunakan pada sebagian pasien asma berat dengan biomarker tipe 2 yang tidak terlalu tinggi.

Penelitian Masa Depan Asma: Menuju Precision Medicine dan Terapi Individual

Penelitian asma masa depan akan semakin berfokus pada hubungan kompleks antara sistem imun, mikrobiota, metabolisme, faktor genetik, dan lingkungan. Pemahaman terbaru menunjukkan bahwa perkembangan asma tidak hanya ditentukan oleh respons imun terhadap alergen, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi sawar epitel, komposisi mikrobiota saluran napas dan usus, paparan polusi, infeksi virus, pola makan, serta faktor metabolik seperti obesitas. Mikrobiota berperan dalam membentuk keseimbangan antara inflamasi dan toleransi imun melalui regulasi sel T regulator (Treg), produksi metabolit seperti short-chain fatty acids, serta pengaruh terhadap maturasi sistem imun sejak masa awal kehidupan. Gangguan komposisi mikrobiota atau disbiosis diduga dapat meningkatkan kecenderungan inflamasi tipe 2, meningkatkan sensitivitas terhadap alergen, dan memengaruhi perjalanan penyakit asma. Penelitian mendatang akan mengevaluasi apakah modulasi mikrobiota melalui probiotik, prebiotik, diet tertentu, atau terapi berbasis mikrobioma dapat menjadi strategi pencegahan maupun tambahan terapi asma.

Pendekatan precision medicine diperkirakan menjadi dasar utama pengelolaan asma di masa depan. Selama ini pasien dengan diagnosis asma sering mendapatkan pendekatan terapi yang serupa, meskipun mekanisme biologis penyakit dapat berbeda antar individu. Penelitian terbaru berusaha menggabungkan berbagai informasi seperti gejala klinis, riwayat alergi, biomarker inflamasi seperti eosinofil darah dan FeNO, kadar IgE spesifik, profil sitokin, karakteristik sel imun, faktor genetik, serta respons terhadap terapi sebelumnya untuk menentukan strategi pengobatan yang paling sesuai. Dengan pendekatan ini, dokter dapat memilih pasien yang kemungkinan besar mendapat manfaat dari terapi biologik tertentu, menentukan kapan terapi perlu ditingkatkan atau diturunkan, serta mengurangi penggunaan obat yang tidak memberikan manfaat optimal. Pengembangan biomarker baru juga diharapkan mampu memprediksi risiko eksaserbasi berat dan perjalanan penyakit sejak dini.

Dengan perkembangan ilmu imunologi, asma saat ini tidak lagi dipandang sebagai satu penyakit yang memiliki mekanisme sama pada semua pasien. Asma merupakan kelompok penyakit inflamasi saluran napas yang terdiri dari berbagai fenotipe dan endotype dengan jalur biologis yang berbeda. Sebagian pasien mengalami dominasi inflamasi tipe 2 dengan keterlibatan eosinofil, IgE, IL-4, IL-5, dan IL-13, sedangkan pasien lain dapat memiliki mekanisme non-tipe 2 yang melibatkan neutrofil, infeksi kronis, polusi, atau gangguan metabolik. Penelitian masa depan akan mengarah pada terapi yang lebih spesifik, termasuk kombinasi terapi biologik, pengobatan berbasis biomarker, intervensi mikrobiota, serta strategi pencegahan sejak masa bayi. Tujuan akhirnya adalah memberikan terapi yang lebih efektif, mengurangi eksaserbasi, mempertahankan fungsi paru jangka panjang, dan meningkatkan kualitas hidup pasien dengan asma.

Daftar Pustaka

  • Global Initiative for Asthma (GINA). Global Strategy for Asthma Management and Prevention. 2026 Update. Global Initiative for Asthma. Available from: https://ginasthma.org/
  • Farne HA, Wong EHC. 2026 update in asthma diagnosis and management. Medicine (Abingdon). 2026;54(4):284-287. doi:10.1016/j.mpmed.2026.01.008.
  • Lambrecht BN, Hammad H. The immunology of asthma. Nature Immunology. 2015;16(1):45-56. doi:10.1038/ni.3049.
    Fahy JV. Type 2 inflammation in asthma: present in most, absent in many. Nature Reviews Immunology. 2015;15(1):57-65. doi:10.1038/nri3786.
  • Holgate ST. Innate and adaptive immune responses in asthma. Nature Medicine. 2012;18(5):673-683. doi:10.1038/nm.2731.
    Brusselle GG, Koppelman GH. Biologic therapies for severe asthma. New England Journal of Medicine. 2022;386(2):157-171. doi:10.1056/NEJMra2032506.
  • Pelaia C, Calabrese C, Vatrella A, Busceti MT, Garofalo E, Lombardo N, et al. Therapeutic effects of biologics for severe asthma: current evidence and future perspectives. Journal of Asthma and Allergy. 2021;14:1101-1118. doi:10.2147/JAA.S309847.
  • Agache I, Beltran J, Akdis C, Akdis M, Canelo-Aybar C, Chivato T, et al. Efficacy and safety of treatment with biologicals for severe asthma: a systematic review for the EAACI guidelines. Allergy. 2021;76(4):1169-1186. doi:10.1111/all.14632.
  • Menzies-Gow A, Corren J, Bourdin A, Chupp G, Israel E, Wechsler ME, et al. Tezepelumab in adults and adolescents with severe, uncontrolled asthma. New England Journal of Medicine. 2021;384:1800-1809. doi:10.1056/NEJMoa2034975.
  • Papi A, Brightling C, Pedersen SE, Reddel HK. Asthma. The Lancet. 2018;391(10122):783-800. doi:10.1016/S0140-6736(17)33311-1.
Visited 11 times, 11 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *