ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Interleukin dalam Sistem Imun Manusia: Peran, Mekanisme Kerja, dan Relevansi Klinis dalam Inflamasi, Alergi, dan Penyakit Imun

Interleukin dalam Sistem Imun Manusia: Peran, Mekanisme Kerja, dan Relevansi Klinis dalam Inflamasi, Alergi, dan Penyakit Imun

Widodo Judarwanto, Audi Yudhasmara

Abstrak

Interleukin (IL) merupakan kelompok sitokin yang berperan sebagai molekul komunikasi utama dalam sistem imun manusia. Lebih dari 50 jenis interleukin telah diidentifikasi dan berfungsi mengatur aktivasi, diferensiasi, proliferasi, serta koordinasi berbagai sel imun seperti limfosit T, limfosit B, makrofag, sel dendritik, eosinofil, neutrofil, dan sel mast. Interleukin diproduksi oleh berbagai jenis sel, terutama sel imun seperti limfosit T helper, monosit, makrofag, dan sel penyaji antigen, tetapi juga dapat berasal dari sel epitel, endotel, dan jaringan lainnya. Keseimbangan aktivitas interleukin menentukan apakah respons imun menghasilkan perlindungan terhadap infeksi atau berkembang menjadi inflamasi kronis dan penyakit imunologis.

Perkembangan ilmu imunologi modern menunjukkan bahwa interleukin memiliki peran penting dalam berbagai penyakit seperti alergi, asma, dermatitis atopik, penyakit autoimun, inflamasi kronis, hingga kanker. Pada penyakit alergi, jalur inflamasi tipe 2 yang melibatkan IL-4, IL-5, IL-13, IL-25, dan IL-33 menjadi mekanisme utama dalam pembentukan IgE, aktivasi eosinofil, dan inflamasi mukosa. Pemahaman mengenai fungsi spesifik setiap interleukin telah membuka peluang terapi target menggunakan antibodi monoklonal yang menghambat jalur inflamasi tertentu.


Pendahuluan

Sistem imun manusia membutuhkan mekanisme komunikasi yang kompleks agar berbagai sel imun dapat bekerja secara terkoordinasi. Interleukin merupakan salah satu kelompok sitokin yang berfungsi sebagai pembawa pesan antar sel imun. Istilah interleukin berasal dari kata “inter” yang berarti komunikasi antar sel dan “leukin” yang awalnya dikaitkan dengan produksi oleh leukosit. Walaupun awalnya dianggap hanya berasal dari sel darah putih, penelitian modern menunjukkan bahwa interleukin juga diproduksi oleh berbagai sel tubuh lain seperti sel epitel, fibroblas, sel endotel, dan jaringan saraf.

Interleukin berperan dalam hampir seluruh tahapan respons imun, mulai dari aktivasi awal setelah masuknya antigen, perekrutan sel inflamasi, pembentukan antibodi, hingga proses resolusi inflamasi. Gangguan regulasi interleukin dapat menyebabkan dua kondisi yang berlawanan, yaitu imunodefisiensi ketika respons imun terlalu rendah atau penyakit inflamasi ketika respons imun terlalu aktif.

Dalam bidang alergi dan imunologi klinis, pemahaman terhadap interleukin mengalami perkembangan besar. Penyakit seperti asma alergi, alergi makanan, dermatitis atopik, dan rinitis alergi banyak berkaitan dengan aktivasi jalur imun tipe 2 yang melibatkan IL-4, IL-5, dan IL-13. Sebaliknya, interleukin seperti IL-10 dan IL-35 memiliki fungsi regulasi yang membantu menjaga toleransi imun dan mencegah inflamasi berlebihan.


Klasifikasi dan Fungsi Utama Interleukin

Interleukin Sumber Utama Target Utama Fungsi Imunologis Relevansi Klinis
IL-1 Makrofag, monosit, sel dendritik Sel T, endotel, jaringan inflamasi Memicu inflamasi akut, demam, aktivasi imun Penyakit inflamasi, artritis, infeksi
IL-2 Sel Th1 Sel T, sel NK, limfosit B Pertumbuhan dan proliferasi limfosit T Imunoterapi kanker
IL-3 Sel T aktif, sel mast Sel progenitor hematopoetik Pembentukan sel darah dan pertumbuhan sel mast Inflamasi hematologi
IL-4 Sel Th2, sel mast Sel B, sel T Pembentukan IgE, diferensiasi Th2 Alergi, asma, dermatitis atopik
IL-5 Sel Th2, sel mast Eosinofil Produksi dan aktivasi eosinofil Asma eosinofilik, alergi berat
IL-6 Makrofag, limfosit, endotel Sel B, hati, sel imun Inflamasi sistemik, fase akut Penyakit inflamasi kronis
IL-7 Sel stroma sumsum tulang dan timus Sel T dan B muda Perkembangan limfosit Imunitas adaptif
IL-8/CXCL8 Makrofag, epitel, endotel Neutrofil Kemotaksis neutrofil Infeksi dan inflamasi akut
IL-9 Sel Th2 Sel mast, limfosit Aktivasi sel mast dan produksi IgE Alergi dan asma
IL-10 Makrofag, Treg, sel T Sel imun inflamasi Menghambat inflamasi Regulasi imun dan toleransi
IL-12 Makrofag, sel dendritik Sel NK, sel T Pembentukan respons Th1 dan IFN-γ Pertahanan terhadap infeksi
IL-13 Sel Th2, sel mast Sel B, epitel, makrofag Produksi IgE, mukus, remodeling jaringan Asma tipe 2 dan alergi
IL-17 Sel Th17 Epitel, endotel Inflamasi neutrofilik Autoimun, inflamasi kronis
IL-18 Makrofag Sel NK, Th1 Produksi IFN-γ Respons antivirus
IL-21 Sel T helper Sel B, sel NK Aktivasi limfosit dan produksi antibodi Regulasi imun
IL-22 Sel Th17 Sel epitel Perbaikan jaringan dan produksi defensin Pertahanan mukosa
IL-23 Makrofag, dendritik Sel Th17 Mempertahankan respons Th17 Penyakit autoimun
IL-25 Sel epitel mukosa, eosinofil ILC2 dan Th2 Mengaktifkan inflamasi tipe 2 Alergi dan asma
IL-33 Sel epitel ILC2, Th2 Aktivasi respons alergi tipe 2 Asma, dermatitis atopik
IL-35 Sel T regulator Sel T efektor Menekan aktivasi imun Toleransi imun

Peran Interleukin pada Inflamasi Tipe 2 dan Penyakit Alergi

Inflamasi tipe 2 merupakan mekanisme utama pada berbagai penyakit alergi. Proses ini dimulai ketika jaringan epitel mengalami gangguan akibat alergen, infeksi, atau iritan lingkungan. Sel epitel kemudian melepaskan alarmin seperti IL-25, IL-33, dan thymic stromal lymphopoietin (TSLP). Molekul tersebut mengaktifkan innate lymphoid cell type 2 (ILC2) dan sel dendritik yang kemudian mengarahkan diferensiasi limfosit T menjadi Th2.

Sel Th2 menghasilkan IL-4, IL-5, dan IL-13 yang memiliki fungsi berbeda tetapi saling berkaitan. IL-4 dan IL-13 merangsang sel B melakukan class switching menjadi IgE spesifik terhadap alergen. IgE kemudian berikatan dengan reseptor FcεRI pada sel mast. Saat terjadi paparan ulang, aktivasi sel mast menyebabkan pelepasan histamin, leukotrien, dan prostaglandin yang menyebabkan gejala alergi.

IL-5 memiliki peran utama dalam mempertahankan eosinofil. Peningkatan eosinofil ditemukan pada berbagai kondisi seperti asma eosinofilik, rinitis alergi, dan beberapa penyakit saluran cerna akibat alergi. IL-13 juga menyebabkan peningkatan produksi mukus, hiperresponsivitas jalan napas, dan remodeling jaringan yang berperan pada penyakit kronis.


Interleukin sebagai Target Terapi Modern

Kemajuan pemahaman mengenai jalur interleukin telah mengubah pendekatan terapi penyakit imun. Terapi biologik saat ini dikembangkan untuk menghambat molekul spesifik yang berperan dalam inflamasi.

Target Interleukin Terapi Target Indikasi Utama
IgE Omalizumab Asma alergi berat, urtikaria kronis
IL-5 Mepolizumab, Reslizumab Asma eosinofilik
Reseptor IL-5 Benralizumab Asma eosinofilik berat
IL-4/IL-13 Dupilumab Asma tipe 2, dermatitis atopik
IL-13 Tralokinumab Dermatitis atopik
TSLP Tezepelumab Asma berat berbagai fenotipe

Pendekatan terapi berbasis interleukin memungkinkan pengobatan yang lebih individual sesuai mekanisme biologis pasien. Pemeriksaan biomarker seperti eosinofil darah, FeNO, IgE spesifik, dan profil inflamasi membantu menentukan pasien yang kemungkinan mendapatkan manfaat terbesar dari terapi target.


Kesimpulan

Interleukin merupakan komponen utama sistem komunikasi imun yang mengatur keseimbangan antara pertahanan tubuh dan inflamasi. Lebih dari 50 interleukin memiliki fungsi berbeda dalam mengendalikan aktivasi sel imun, pembentukan antibodi, inflamasi, dan toleransi imun.

Dalam penyakit alergi dan inflamasi kronis, interleukin seperti IL-4, IL-5, IL-13, IL-25, dan IL-33 menjadi pusat regulasi inflamasi tipe 2. Pemahaman terbaru mengenai jalur interleukin telah memungkinkan perkembangan terapi biologik yang lebih spesifik dan efektif. Masa depan pengobatan imunologi akan semakin mengarah pada precision medicine dengan pemilihan terapi berdasarkan profil imunologi setiap pasien.


Daftar Pustaka

  • Brocker C, Thompson D, Matsumoto A, Nebert DW, Vasiliou V. Evolutionary divergence and functions of the human interleukin (IL) gene family. Human Genomics. 2010;5(1):30-55. doi:10.1186/1479-7364-5-1-30.
  • Abbas AK, Lichtman AH, Pillai S. Cellular and Molecular Immunology. 10th ed. Philadelphia: Elsevier; 2021.
  • Dinarello CA. Overview of the interleukin-1 family of cytokines and receptors. Seminars in Immunology. 2013;25(6):389-393. doi:10.1016/j.smim.2013.10.001.
  • Turner MD, Nedjai B, Hurst T, Pennington DJ. Cytokines and chemokines: At the crossroads of cell signalling and inflammatory disease. Biochimica et Biophysica Acta (BBA) Molecular Cell Research. 2014;1843(11):2563-2582. doi:10.1016/j.bbamcr.2014.05.014.
  • Hunter CA, Jones SA. IL-6 as a keystone cytokine in health and disease. Nature Immunology. 2015;16:448-457. doi:10.1038/ni.3153.
  • Hirano T. IL-6 in inflammation, autoimmunity and cancer. International Immunology. 2021;33(3):127-148. doi:10.1093/intimm/dxaa078.
  • Paul WE, Zhu J. How are T helper cells activated and polarized? Science. 2010;327(5969):1098-1102. doi:10.1126/science.1188415.
  • Zhu J, Yamane H, Paul WE. Differentiation of effector CD4 T cell populations. Annual Review of Immunology. 2010;28:445-489. doi:10.1146/annurev-immunol-030409-101212.
  • Wynn TA. Type 2 cytokines: mechanisms and therapeutic strategies. Nature Reviews Immunology. 2015;15:271-282. doi:10.1038/nri3839.
  • Gieseck RL 3rd, Wilson MS, Wynn TA. Type 2 immunity in tissue repair and fibrosis. Nature Reviews Immunology. 2018;18:62-76. doi:10.1038/nri.2017.90.
  • Hammad H, Lambrecht BN. The basic immunology of asthma. Cell. 2021;184(6):1469-1485. doi:10.1016/j.cell.2021.02.016.
  • Lambrecht BN, Hammad H. The immunology of asthma. Nature Immunology. 2015;16:45-56. doi:10.1038/ni.3049.
  • Akdis CA. The cellular and molecular origins of allergic disease. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2021;147(2):365-376. doi:10.1016/j.jaci.2020.12.1245.
  • Corren J. Role of interleukin-13 in asthma. Current Allergy and Asthma Reports. 2013;13:415-420. doi:10.1007/s11882-013-0376-2.
  • Pelaia C, Vatrella A, Busceti MT, et al. Role of biologics in severe asthma: Current perspectives and future directions. Journal of Asthma and Allergy. 2021;14:1227-1243. doi:10.2147/JAA.S301046.
Visited 1 times, 1 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *