Imunoterapi Alergen Spesifik pada Asma Alergi: Tinjauan Meta-Analisis Terbaru Mengenai Efektivitas, Keamanan, dan Perbandingan Imunoterapi Sublingual dengan Subkutan
Audi Yudhasmara, Widodo Judarwanto
Abstrak
Asma alergi merupakan penyakit inflamasi kronis saluran napas yang didominasi oleh respons imun tipe 2 terhadap alergen inhalan seperti tungau debu rumah dan serbuk sari. Selain terapi farmakologis, allergen-specific immunotherapy (AIT) merupakan satu-satunya terapi yang dapat memodifikasi perjalanan alami penyakit alergi. Meta-analisis terbaru oleh Yin dkk. tahun 2026 yang melibatkan 28 uji klinis acak (randomized controlled trials) mengevaluasi efektivitas dan keamanan AIT pada pasien asma alergi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AIT secara bermakna memperbaiki gejala asma, menurunkan kebutuhan obat, serta meningkatkan fungsi paru yang diukur dengan forced expiratory volume in one second (FEV1). Imunoterapi subkutan (subcutaneous immunotherapy, SCIT) memberikan manfaat klinis yang lebih besar dibandingkan imunoterapi sublingual (sublingual immunotherapy, SLIT), meskipun keduanya efektif pada alergi tungau debu rumah maupun serbuk sari. Lama terapi dan kelompok usia tidak memengaruhi efektivitas secara bermakna. Dari aspek keamanan, AIT tidak meningkatkan reaksi lokal, tetapi meningkatkan risiko reaksi sistemik sehingga pemberiannya harus mengikuti indikasi dan dilakukan oleh tenaga medis yang berpengalaman. Temuan ini semakin memperkuat peran AIT sebagai terapi modifikasi penyakit pada asma alergi yang telah terkonfirmasi.
Kata kunci: asma alergi, imunoterapi alergen spesifik, SCIT, SLIT, meta-analisis, tungau debu rumah.
Asma alergi merupakan bentuk asma yang paling sering ditemukan pada anak maupun dewasa. Penyakit ini ditandai oleh inflamasi kronis saluran napas akibat respons imun terhadap alergen inhalan, terutama tungau debu rumah, serbuk sari, epitel hewan, dan jamur. Aktivasi limfosit T helper 2 (Th2), produksi imunoglobulin E (IgE), aktivasi eosinofil, serta pelepasan mediator inflamasi menyebabkan hiperrespons bronkus, obstruksi saluran napas, dan gejala berupa mengi, sesak napas, batuk, serta rasa berat di dada.
Selama beberapa dekade, tata laksana asma terutama berfokus pada pengendalian gejala menggunakan kortikosteroid inhalasi dan bronkodilator. Walaupun efektif mengendalikan inflamasi, obat-obatan tersebut tidak mengubah mekanisme dasar penyakit. Sebaliknya, allergen-specific immunotherapy (AIT) bekerja dengan meningkatkan toleransi imun terhadap alergen penyebab sehingga berpotensi mengubah perjalanan penyakit alergi dalam jangka panjang.
Meta-analisis Yin dan kolega yang dipublikasikan pada tahun 2026 memberikan bukti terbaru mengenai efektivitas AIT pada asma alergi. Analisis terhadap 28 uji klinis acak menunjukkan bahwa AIT memberikan manfaat klinis yang konsisten pada berbagai kelompok usia dan berbagai jenis alergen.
Imunopatofisiologi Asma Alergi
- Pada individu yang memiliki predisposisi genetik, paparan alergen menyebabkan sel dendritik mengaktifkan limfosit Th2. Selanjutnya dilepaskan IL-4, IL-5, dan IL-13 yang merangsang pembentukan IgE spesifik terhadap alergen.
- IgE kemudian berikatan dengan reseptor FcεRI pada sel mast dan basofil. Pajanan ulang terhadap alergen memicu degranulasi sel mast sehingga dilepaskan histamin, leukotrien, prostaglandin, dan berbagai sitokin inflamasi.
- Pada fase lanjut terjadi infiltrasi eosinofil, remodeling saluran napas, hiperrespons bronkus, dan penurunan fungsi paru. Proses inflamasi kronis inilah yang menjadi target utama imunoterapi alergen spesifik.
Cara Kerja Allergen-Specific Immunotherapy
AIT bekerja dengan memberikan alergen dalam dosis kecil yang meningkat secara bertahap sehingga sistem imun membentuk toleransi terhadap alergen tersebut.
Perubahan imunologis yang terjadi meliputi:
- Penurunan respons Th2
- Peningkatan sel T regulator (Treg)
- Peningkatan IL-10 dan TGF-β
- Penurunan produksi IgE spesifik
- Peningkatan antibodi IgG4 sebagai antibodi “blocking”
- Penurunan aktivasi sel mast, basofil, dan eosinofil
- Penurunan inflamasi kronis saluran napas
Dengan mekanisme tersebut, AIT tidak hanya mengurangi gejala tetapi juga memodifikasi perjalanan penyakit alergi.
Hasil Meta-Analisis Yin dkk. Tahun 2026
Meta-analisis mencakup:
- 28 randomized controlled trials
- Pasien anak dan dewasa
- SCIT dan SLIT
- Alergi tungau debu rumah maupun serbuk sari
Hasil utama menunjukkan bahwa dibandingkan kelompok kontrol, AIT:
- memperbaiki gejala asma secara bermakna (p < 0,001)
- menurunkan penggunaan obat asma (p < 0,001)
- meningkatkan nilai FEV1 (p < 0,001)
- efektif pada alergi tungau debu rumah maupun serbuk sari
- efektif pada anak maupun dewasa
- manfaat tetap konsisten pada berbagai lama terapi yang dianalisis.
Tabel 1. Ringkasan Hasil Meta-Analisis
| Parameter | Hasil |
|---|---|
| Jumlah RCT | 28 |
| Gejala asma | Membaik bermakna |
| Penggunaan obat | Menurun bermakna |
| FEV1 | Meningkat bermakna |
| Efektif pada HDM | Ya |
| Efektif pada pollen | Ya |
| Efektif pada anak | Ya |
| Efektif pada dewasa | Ya |
| Dipengaruhi lama terapi | Tidak bermakna |
Perbandingan SCIT dan SLIT
- Meta-analisis menunjukkan bahwa kedua metode efektif, tetapi SCIT menghasilkan perbaikan klinis yang lebih besar dibandingkan SLIT.
- SCIT diberikan melalui suntikan subkutan dengan dosis bertahap di fasilitas kesehatan. Metode ini memberikan paparan alergen yang lebih terkontrol dan menghasilkan respons imun yang lebih kuat.
- SLIT diberikan melalui tablet atau tetes di bawah lidah. Keunggulan utama metode ini adalah kemudahan penggunaan di rumah setelah fase awal serta risiko reaksi sistemik yang lebih rendah dibandingkan SCIT.
Tabel 2. Perbandingan SCIT dan SLIT
| Karakteristik | SCIT | SLIT |
|---|---|---|
| Cara pemberian | Suntikan subkutan | Tablet atau tetes sublingual |
| Tempat terapi | Fasilitas kesehatan | Sebagian besar di rumah setelah dosis awal |
| Efektivitas | Lebih tinggi | Tinggi |
| Penurunan gejala | Sangat baik | Baik |
| Penurunan kebutuhan obat | Lebih besar | Baik |
| Kepatuhan | Memerlukan kunjungan rutin | Lebih praktis |
| Reaksi lokal | Ada | Ada |
| Reaksi sistemik | Lebih sering | Lebih jarang |
Keamanan Imunoterapi
Secara umum AIT memiliki profil keamanan yang baik bila dilakukan sesuai pedoman.
Meta-analisis menunjukkan:
- reaksi lokal tidak meningkat secara bermakna
- reaksi sistemik meningkat dibandingkan kontrol
- anafilaksis tetap jarang, tetapi harus diantisipasi
- SCIT memerlukan observasi setelah penyuntikan
- terapi hanya diberikan pada fasilitas yang mampu menangani reaksi alergi berat.
Tabel 3. Efek Samping AIT
| Efek samping | SCIT | SLIT |
|---|---|---|
| Kemerahan lokal | Sering | Kadang |
| Gatal lokal | Sering | Kadang |
| Pembengkakan lokal | Kadang | Ringan |
| Gatal mulut | Jarang | Lebih sering |
| Reaksi sistemik | Ada | Lebih jarang |
| Anafilaksis | Sangat jarang | Sangat jarang |
Indikasi Imunoterapi
AIT direkomendasikan pada pasien dengan:
- asma alergi yang telah terkonfirmasi
- sensitisasi terhadap alergen yang relevan secara klinis
- gejala tetap ada meskipun terapi optimal
- pasien yang ingin mengurangi ketergantungan terhadap obat
- pasien yang mampu mengikuti terapi jangka panjang.
Tabel 4. Pasien yang Sesuai untuk AIT
| Kondisi | Direkomendasikan |
|---|---|
| Asma alergi terkontrol | Ya |
| Rinitis alergi dengan sensitisasi jelas | Ya |
| Alergi tungau debu rumah | Ya |
| Alergi serbuk sari | Ya |
| Asma tidak terkontrol | Tidak sampai kontrol tercapai |
| Riwayat anafilaksis tanpa evaluasi | Perlu penilaian khusus |
Implikasi Klinis
- AIT merupakan satu-satunya terapi yang secara konsisten menunjukkan kemampuan memodifikasi respons imun pada penyakit alergi. Dibandingkan hanya mengendalikan gejala, terapi ini memberikan manfaat jangka panjang berupa penurunan inflamasi, pengurangan penggunaan obat, serta perbaikan fungsi paru.
- Pemilihan antara SCIT dan SLIT harus mempertimbangkan efektivitas, keamanan, preferensi pasien, kepatuhan, jenis alergen, biaya, serta ketersediaan produk yang telah terstandar.
Kesimpulan
Meta-analisis tahun 2026 yang melibatkan 28 uji klinis acak memperkuat bukti bahwa allergen-specific immunotherapy merupakan terapi yang efektif pada asma alergi. Terapi ini secara bermakna memperbaiki gejala, mengurangi kebutuhan obat, dan meningkatkan fungsi paru. SCIT memberikan efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan SLIT, meskipun kedua metode tetap bermanfaat pada alergi tungau debu rumah maupun serbuk sari. Risiko reaksi sistemik lebih tinggi dibandingkan kontrol sehingga AIT harus diberikan sesuai indikasi, dengan pemilihan pasien yang tepat dan pengawasan tenaga kesehatan yang berpengalaman. Temuan ini mendukung penggunaan AIT sebagai bagian penting dari tata laksana asma alergi berbasis bukti.
Daftar Pustaka
- Yin W, Zeng W, Li Y, Huang S, Cen S, Su B, Zhou T, Qin X. Efficacy and safety of allergen-specific immunotherapy for allergic asthma: a meta-analysis comparing sublingual and subcutaneous routes across allergen types and age groups. Ann Med. 2026;58(1):2635778. doi:10.1080/07853890.2026.2635778.
- Global Initiative for Asthma (GINA). Global Strategy for Asthma Management and Prevention. 2025 Update.
- Dhami S, Nurmatov U, Arasi S, et al. Allergen immunotherapy for allergic asthma: A systematic review and meta-analysis. Allergy. 2017;72:1825-1848.
- Cox L, Nelson H, Lockey R, et al. Allergen immunotherapy: A practice parameter third update. J Allergy Clin Immunol. 2011;127:S1-S55.
- Roberts G, Pfaar O, Akdis CA, et al. EAACI Guidelines on Allergen Immunotherapy. Allergy. 2018;73:739-743.







Leave a Reply