PERTANYAAN
Benarkah pisang, alpukat, dan apel merupakan makanan tinggi histamin sehingga harus dihindari oleh semua penderita alergi makanan? Mengapa banyak informasi di media sosial menyebut ketiga buah tersebut sebagai makanan tinggi histamin, padahal sebagian dokter menyatakan tidak demikian? Bagaimana penjelasan ilmiahnya dan bagaimana cara memastikan apakah makanan tersebut benar menjadi penyebab alergi pada seseorang?
JAWABAN
Tidak benar. Berdasarkan bukti ilmiah saat ini, pisang, alpukat, dan apel tidak termasuk makanan dengan kandungan histamin tinggi. Makanan yang benar-benar tinggi histamin umumnya merupakan makanan yang disimpan lama, difermentasi, atau mengalami proses pematangan, seperti keju tua, ikan asap, ikan asin, makanan fermentasi, minuman fermentasi, dan beberapa produk olahan lainnya. Kesalahpahaman sering terjadi karena masyarakat mencampuradukkan makanan yang mengandung histamin tinggi dengan makanan yang pada sebagian orang dapat memicu pelepasan histamin. Kedua kondisi tersebut memiliki mekanisme yang berbeda sehingga tidak dapat disamakan.
Alergi makanan juga berbeda dengan intoleransi histamin. Alergi makanan merupakan reaksi sistem imun terhadap protein makanan tertentu, baik melalui mekanisme IgE maupun non-IgE. Sebaliknya, intoleransi histamin terjadi karena ketidakseimbangan antara jumlah histamin yang masuk ke dalam tubuh dengan kemampuan tubuh memecah histamin, misalnya akibat gangguan aktivitas enzim diamine oxidase. Oleh karena itu, seseorang dapat mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan tertentu bukan karena makanan tersebut mengandung histamin tinggi, tetapi karena kondisi tubuhnya atau karena makanan tersebut pada sebagian individu dapat memicu pelepasan histamin. Mekanisme ini berbeda dengan alergi makanan yang melibatkan respons imun spesifik terhadap protein makanan.
Banyak daftar makanan tinggi histamin yang beredar di internet tidak berasal dari pedoman ilmiah dan sering mencampurkan berbagai istilah, seperti makanan tinggi histamin, pelepas histamin, serta makanan penyebab alergi. Akibatnya, apel, alpukat, dan pisang sering dimasukkan ke dalam daftar yang sama dengan keju tua atau ikan fermentasi, padahal bukti ilmiah tidak mendukung bahwa ketiga buah tersebut merupakan makanan berkadar histamin tinggi. Kesalahan informasi ini menyebabkan banyak orang menjalani diet yang terlalu ketat, menghindari buah-buahan bergizi, bahkan mengalami kekurangan zat gizi tanpa memperoleh manfaat klinis yang jelas.
Penentuan apakah suatu makanan benar menjadi penyebab alergi tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan dugaan, daftar makanan di media sosial, atau hasil pemeriksaan laboratorium tertentu. Diagnosis harus didasarkan pada riwayat klinis yang konsisten, pemeriksaan yang sesuai, dan bila diperlukan dikonfirmasi dengan Oral Food Challenge yang dilakukan oleh dokter. Oral Food Challenge masih merupakan baku emas untuk memastikan apakah suatu makanan benar menyebabkan alergi atau justru aman dikonsumsi. Pendekatan ini membantu mencegah salah diagnosis, menghindari pembatasan makanan yang tidak perlu, mempertahankan kecukupan gizi, serta memberikan terapi yang tepat berdasarkan bukti ilmiah.
Referensi:
- Maintz L, Novak N. Histamine and Histamine Intolerance. American Journal of Clinical Nutrition. 2007;85(5):1185-1196.
- Reese I, et al. Guideline on Management of Suspected Adverse Reactions to Ingested Histamine. Allergologie Select. 2021;5:305-314.
- EAACI Food Allergy and Anaphylaxis Guidelines.
- WAO DRACMA Guidelines.









Leave a Reply