Hubungan Asma dan Alergi Makanan pada Anak. Tinjauan Ilmiah Berbasis Bukti dan Update Literatur Internasional
Abstrak
Asma dan alergi makanan merupakan dua penyakit alergi yang sering ditemukan pada anak dan sering terjadi bersamaan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak dengan alergi makanan memiliki risiko lebih tinggi mengalami asma, sedangkan anak dengan asma memiliki risiko lebih besar mengalami anafilaksis yang berat bila terjadi reaksi alergi makanan. Hubungan keduanya bukan sekadar komorbiditas, tetapi merupakan bagian dari perjalanan penyakit alergi atau atopic march yang melibatkan disfungsi sawar epitel, inflamasi tipe 2, dan predisposisi genetik. Artikel ini merangkum bukti ilmiah terbaru mengenai hubungan asma dan alergi makanan, mekanisme patofisiologi, implikasi klinis, serta pendekatan diagnosis dan penatalaksanaan berdasarkan rekomendasi EAACI, WAO, AAAAI, GINA, dan berbagai tinjauan sistematik terbaru.
Prevalensi asma dan alergi makanan terus meningkat di seluruh dunia. Diperkirakan sekitar 8 sampai 10% anak mengalami asma dan sekitar 6 sampai 8% mengalami alergi makanan yang telah terkonfirmasi. Banyak penelitian menunjukkan kedua penyakit ini sering ditemukan pada pasien yang sama, terutama pada anak dengan dermatitis atopik sejak usia dini.
Konsep atopic march menjelaskan bahwa perjalanan penyakit alergi biasanya dimulai dengan dermatitis atopik pada bayi, kemudian berkembang menjadi alergi makanan, rinitis alergi, dan akhirnya asma pada sebagian anak. Walaupun tidak semua anak mengalami urutan tersebut, inflamasi imun tipe 2 menjadi mekanisme yang menghubungkan berbagai penyakit alergi tersebut.
Definisi Asma
- Asma adalah penyakit inflamasi kronis saluran napas yang ditandai oleh penyempitan bronkus yang bersifat reversibel, hiperresponsivitas bronkus, dan gejala berulang berupa batuk, mengi, sesak napas, serta rasa berat di dada.
- Inflamasi asma melibatkan eosinofil, sel mast, limfosit Th2, IL-4, IL-5, IL-13, IgE, dan berbagai mediator inflamasi yang menyebabkan penyempitan saluran napas dan peningkatan produksi mukus.
Definisi Alergi Makanan
- Alergi makanan adalah reaksi sistem imun terhadap protein makanan tertentu yang dimediasi IgE, non-IgE, atau campuran keduanya. Diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan hasil tes laboratorium, tetapi harus mempertimbangkan riwayat klinis dan bila diperlukan dikonfirmasi melalui Oral Food Challenge sebagai baku emas.
- Makanan yang paling sering menyebabkan alergi pada anak meliputi susu sapi, telur, kacang tanah, kacang pohon, gandum, kedelai, ikan, dan makanan laut.
Tanda dan Gejala
Tabel. Manifestasi Asma dan Alergi Makanan
| Sistem | Asma | Alergi makanan |
|---|---|---|
| Kulit | Tidak khas | Dermatitis atopik, urtikaria, angioedema |
| Hidung | Rinitis alergi | Dapat disertai rinitis |
| Mata | Mata gatal | Konjungtivitis alergi |
| Saluran napas | Batuk, mengi, sesak | Batuk, mengi sebagai bagian anafilaksis |
| Saluran cerna | Tidak khas | Muntah, diare, nyeri perut, konstipasi |
| Mulut | Tidak khas | Gatal mulut, bibir bengkak |
| Sistemik | Serangan asma | Anafilaksis |
Hubungan Asma dan Alergi Makanan
- Alergi makanan meningkatkan risiko asma Beberapa studi kohort menunjukkan bahwa anak dengan alergi makanan mempunyai kemungkinan dua sampai empat kali lebih tinggi mengalami asma dibandingkan anak tanpa alergi makanan. Risiko semakin besar bila alergi terjadi sejak usia dini, melibatkan lebih dari satu makanan, atau disertai dermatitis atopik.
- Bagian dari atopic march Dermatitis atopik menyebabkan kerusakan sawar kulit sehingga alergen makanan lebih mudah masuk ke sistem imun. Sensitisasi ini memicu respons Th2 yang selanjutnya meningkatkan risiko berkembangnya alergi makanan, rinitis alergi, dan asma.
- Jalur imun yang sama Asma dan alergi makanan memiliki mekanisme imunologi yang serupa, yaitu dominasi inflamasi tipe 2 dengan peningkatan IL-4, IL-5, IL-13, eosinofil, sel mast, dan IgE. Aktivasi sitokin tersebut menyebabkan inflamasi kronis pada berbagai organ.
- Asma meningkatkan risiko anafilaksis berat Literatur terbaru menunjukkan bahwa anak dengan alergi makanan yang juga memiliki asma, terutama asma yang tidak terkontrol, lebih berisiko mengalami reaksi alergi berat. Oleh karena itu pengendalian asma merupakan bagian penting dalam pencegahan komplikasi alergi makanan.
- Tidak semua asma disebabkan makanan Sebagian besar pasien asma tidak mengalami pencetus berupa makanan. Makanan hanya dicurigai bila terdapat hubungan waktu yang jelas antara konsumsi makanan tertentu dan munculnya gejala akut, terutama bila disertai gejala kulit atau saluran cerna. Tidak dianjurkan melakukan panel tes alergi makanan secara rutin pada semua pasien asma tanpa riwayat yang mendukung.
Diagnosis
Diagnosis asma ditegakkan berdasarkan riwayat klinis, pemeriksaan fisik, spirometri atau pemeriksaan fungsi paru sesuai usia.
Diagnosis alergi makanan dilakukan melalui:
- Riwayat klinis yang rinci.
- Pemeriksaan IgE spesifik atau skin prick test bila sesuai indikasi.
- Diet eliminasi terarah bila diperlukan.
- Oral Food Challenge sebagai baku emas diagnosis.
Panel pemeriksaan IgE tanpa indikasi klinis tidak dianjurkan karena dapat menghasilkan sensitisasi tanpa alergi klinis dan meningkatkan overdiagnosis.
Penatalaksanaan
- Pengobatan asma mengikuti pedoman GINA dengan kortikosteroid inhalasi sebagai terapi pengendali utama. Pengendalian inflamasi saluran napas merupakan langkah penting untuk menurunkan risiko eksaserbasi dan komplikasi.
- Penatalaksanaan alergi makanan meliputi eliminasi makanan yang telah terbukti menyebabkan reaksi, edukasi keluarga, pemantauan status gizi, serta evaluasi berkala untuk mengetahui perkembangan toleransi. Eliminasi makanan tidak boleh dilakukan hanya berdasarkan hasil tes IgE atau dugaan semata.
- Pada anak dengan asma dan alergi makanan, kontrol asma harus optimal sebelum dilakukan Oral Food Challenge. Asma yang tidak terkontrol meningkatkan risiko reaksi berat selama uji provokasi.
- Pasien dengan riwayat anafilaksis harus mendapatkan rencana penanganan darurat, edukasi pengenalan gejala awal, dan penggunaan epinefrin bila tersedia sesuai indikasi.
Saran
- Anak dengan asma yang memiliki riwayat reaksi setelah mengonsumsi makanan tertentu perlu dievaluasi oleh dokter yang berpengalaman dalam alergi anak.
- Jangan melakukan diet eliminasi berdasarkan hasil panel IgE, IgG, atau informasi media sosial tanpa korelasi klinis.
- Oral Food Challenge tetap merupakan standar baku untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menyebabkan alergi.
- Pengendalian asma yang baik penting untuk mengurangi risiko komplikasi pada anak dengan alergi makanan.
Kesimpulan
Asma dan alergi makanan memiliki hubungan yang erat melalui mekanisme inflamasi tipe 2 dan perjalanan atopic march. Alergi makanan meningkatkan risiko berkembangnya asma, sedangkan asma yang tidak terkontrol meningkatkan risiko anafilaksis yang berat pada pasien dengan alergi makanan. Diagnosis harus berbasis riwayat klinis yang baik, didukung pemeriksaan yang sesuai, dan dikonfirmasi dengan Oral Food Challenge bila diperlukan. Pendekatan berbasis bukti dapat mencegah overdiagnosis, pembatasan makanan yang tidak perlu, serta meningkatkan kualitas hidup anak.
Daftar Pustaka
- Stukus DR, Prince BT. Asthma and Food Allergy: A Nuanced Relationship. J Food Allergy. 2023;5(2):33-37.
- Emons JAM, Gerth van Wijk R. Food Allergy and Asthma: Is There a Link? Curr Treat Options Allergy. 2018;5:436-444.
- Chan A, Yu JE. Food Allergy and Asthma. J Food Allergy. 2020;2(1):44-47.
- di Palmo E, et al. Asthma and Food Allergy: Which Risks? Medicina (Kaunas). 2019;55:509.
- Muraro A, et al. EAACI Guidelines on IgE-mediated Food Allergy. Allergy.
- Global Initiative for Asthma. GINA Report 2025.
- Sicherer SH, Sampson HA. Food Allergy. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2018.
- World Allergy Organization. DRACMA Guidelines.
- NIAID-Sponsored Guidelines for the Diagnosis and Management of Food Allergy.
- EAACI Food Allergy and Anaphylaxis Guidelines.








Leave a Reply