HUBUNGAN PEMBERIAN MPASI DENGAN ALERGI MAKANAN, DERMATITIS ATOPIK, ASMA, DAN RINITIS ALERGI
Tinjauan Sistematis Berdasarkan Bukti Ilmiah
ABSTRAK
Masa pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) merupakan periode penting dalam pembentukan toleransi imun terhadap makanan. Selama bertahun-tahun, penundaan pemberian makanan alergenik dipercaya dapat mencegah penyakit alergi. Namun, bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa strategi tersebut tidak memberikan manfaat dan bahkan dapat meningkatkan risiko alergi terhadap beberapa makanan tertentu. Tinjauan sistematis oleh Obbagy dkk. yang diterbitkan dalam American Journal of Clinical Nutrition mengevaluasi hubungan antara waktu pemberian MPASI, jenis makanan pendamping, serta risiko alergi makanan, dermatitis atopik, asma, dan rinitis alergi. Artikel ini merangkum bukti ilmiah tersebut serta implikasinya terhadap praktik klinis. Bukti saat ini menunjukkan bahwa pemberian MPASI setelah usia 4 bulan dan selama tahun pertama kehidupan, termasuk pengenalan makanan alergenik seperti telur dan kacang tanah, tidak meningkatkan risiko alergi dan justru dapat menurunkan kejadian alergi terhadap kedua makanan tersebut pada kelompok tertentu.
Kata kunci: MPASI, makanan pendamping ASI, alergi makanan, dermatitis atopik, asma, rinitis alergi, pencegahan alergi.
PENDAHULUAN
Alergi makanan merupakan salah satu penyakit alergi yang prevalensinya terus meningkat di berbagai negara. Penyakit ini tidak hanya meningkatkan risiko anafilaksis, tetapi juga berdampak terhadap status gizi, kualitas hidup, kesehatan mental, serta biaya pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, upaya pencegahan primer sejak awal kehidupan menjadi fokus utama berbagai penelitian dalam dua dekade terakhir.
Salah satu faktor yang paling banyak diteliti adalah waktu pemberian makanan pendamping ASI. Selama bertahun-tahun dianjurkan agar makanan yang bersifat alergenik, seperti telur, kacang tanah, ikan, dan gandum, diberikan setelah usia tertentu. Namun, berbagai uji klinis acak dan tinjauan sistematis menunjukkan bahwa konsep tersebut tidak lagi didukung oleh bukti ilmiah
METODE TINJAUAN SISTEMATIS
Obbagy dan kolega melakukan tinjauan sistematis sebagai bagian dari Pregnancy and Birth to 24 Months Project yang diselenggarakan oleh United States Department of Agriculture (USDA) dan Department of Health and Human Services.
Penelusuran literatur dilakukan pada PubMed, Embase, CINAHL, dan Cochrane Library untuk publikasi tahun 1980 hingga Februari 2017. Penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dievaluasi menggunakan penilaian risiko bias yang terstandar, kemudian disintesis secara kualitatif berdasarkan kekuatan bukti.
Sebanyak 31 penelitian mengevaluasi waktu pemberian MPASI, sedangkan 47 penelitian menilai jenis dan jumlah makanan pendamping yang dikonsumsi bayi.
HUBUNGAN WAKTU PEMBERIAN MPASI DENGAN ALERGI MAKANAN
Bukti dengan tingkat kepastian sedang menunjukkan bahwa usia pertama kali pemberian MPASI tidak berhubungan dengan peningkatan risiko alergi makanan selama MPASI mulai diberikan setelah usia sekitar 4 bulan dan dalam tahun pertama kehidupan.
Sebaliknya, tidak terdapat bukti yang mendukung penundaan pemberian MPASI hingga setelah usia 6 bulan sebagai strategi pencegahan alergi makanan.
Temuan ini mengubah paradigma lama yang menganjurkan penundaan pemberian makanan alergenik.
PENGENALAN MAKANAN ALERGENIK
Bukti yang paling kuat ditemukan pada kacang tanah dan telur.
Pengenalan kedua makanan tersebut selama tahun pertama kehidupan, terutama setelah usia sekitar 4 bulan sesuai kesiapan perkembangan bayi, terbukti menurunkan risiko terjadinya alergi terhadap kacang tanah maupun telur.
Sebaliknya, tidak ditemukan bukti bahwa pemberian dini susu sapi, gandum, ikan, kedelai, atau makanan alergen lainnya meningkatkan kejadian alergi makanan.
HUBUNGAN DENGAN DERMATITIS ATOPIK
Analisis menunjukkan bahwa waktu pemberian MPASI tidak berhubungan dengan peningkatan risiko dermatitis atopik.
Selain itu, pemberian makanan alergenik selama tahun pertama kehidupan tidak meningkatkan kejadian eksim dan pada beberapa penelitian justru menunjukkan kecenderungan penurunan risiko.
Temuan ini mendukung perubahan rekomendasi berbagai organisasi alergi internasional.
HUBUNGAN DENGAN ASMA
Bukti ilmiah menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara usia pertama kali pemberian MPASI dengan kejadian asma pada masa kanak-kanak.
Penundaan pemberian makanan pendamping juga tidak terbukti memberikan perlindungan terhadap perkembangan penyakit asma.
HUBUNGAN DENGAN RINITIS ALERGI
Data yang tersedia menunjukkan bahwa waktu pemberian MPASI tidak berhubungan dengan meningkat ataupun menurunnya kejadian rinitis alergi.
Bukti mengenai hubungan pola makan bayi terhadap rinitis alergi masih terbatas sehingga diperlukan penelitian lanjutan.
KEANEKARAGAMAN MAKANAN
Penelitian mengenai jumlah variasi makanan yang diberikan selama masa MPASI masih menghasilkan bukti yang belum konsisten.
Belum terdapat cukup bukti bahwa keberagaman makanan secara langsung dapat mencegah penyakit alergi, walaupun pola makan yang beragam tetap dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan gizi dan mendukung perkembangan toleransi imun.
IMPLIKASI KLINIS
Hasil tinjauan sistematis ini mendukung perubahan besar dalam praktik pemberian MPASI.
Strategi penundaan makanan alergenik tidak lagi direkomendasikan sebagai metode pencegahan alergi.
Sebaliknya, bayi yang telah siap menerima MPASI dianjurkan mulai diperkenalkan berbagai jenis makanan, termasuk makanan yang berpotensi alergen, selama tahun pertama kehidupan dengan tekstur yang sesuai usia dan tetap memperhatikan keamanan pemberian makanan.
Pada bayi dengan dermatitis atopik sedang hingga berat atau faktor risiko tinggi alergi, pengenalan kacang tanah sebaiknya dilakukan setelah evaluasi oleh tenaga kesehatan sesuai pedoman yang berlaku.
INTERPRETASI BERDASARKAN BUKTI ILMIAH
Tinjauan sistematis ini memperkuat konsep toleransi oral, yaitu paparan makanan melalui saluran cerna pada awal kehidupan membantu sistem imun mengenali protein makanan sebagai zat yang aman sehingga menurunkan risiko sensitisasi alergi.
Sebaliknya, penundaan paparan makanan dapat mengurangi kesempatan terbentuknya toleransi imun dan pada sebagian bayi justru meningkatkan risiko alergi, terutama terhadap kacang tanah dan telur.
Temuan ini konsisten dengan berbagai penelitian besar seperti LEAP, EAT, PETIT, serta meta-analisis terbaru yang menunjukkan manfaat pengenalan dini makanan alergenik.
KESIMPULAN
Bukti ilmiah berkualitas sedang hingga kuat menunjukkan bahwa pemberian MPASI setelah usia 4 bulan dan selama tahun pertama kehidupan tidak meningkatkan risiko alergi makanan, dermatitis atopik, asma, maupun rinitis alergi. Pengenalan dini kacang tanah dan telur justru menurunkan risiko alergi terhadap kedua makanan tersebut. Penundaan pemberian makanan alergenik setelah usia 6 bulan tidak lagi direkomendasikan sebagai strategi pencegahan alergi. Pendekatan modern dalam pemberian MPASI menekankan pengenalan makanan yang beragam sesuai kesiapan perkembangan bayi untuk mendukung pembentukan toleransi imun dan mengurangi risiko alergi di kemudian hari.
DAFTAR PUSTAKA
- Obbagy JE, English LK, Wong YP, et al. Complementary feeding and food allergy, atopic dermatitis/eczema, asthma, and allergic rhinitis: a systematic review. Am J Clin Nutr. 2019;109(Suppl 7):890S-934S. doi:10.1093/ajcn/nqy220.
- Tuballa A, Connell D, Smith M, et al. Introduction of allergenic food to infants and allergic and autoimmune conditions: a systematic review and meta-analysis. BMJ Evidence-Based Medicine. 2024;29(2):104-113. doi:10.1136/bmjebm-2023-112445.
- Mathew M, Wong KH, Shook Munoz J, Leeds S. Prevention and Management of Food Allergy in Infants. Immunol Allergy Clin North Am. 2025;45(3):367-385. doi:10.1016/j.iac.2025.04.005.
- Devonshire AL, Lin AA. Tackling Food Allergy in Infancy. Immunol Allergy Clin North Am. 2021;41(2):205-219. doi:10.1016/j.iac.2021.01.008.









Leave a Reply