Topikal Kortikosteroid pada Dermatitis Atopik, Perkembangan Terapi Berdasarkan Bukti Terkini
Abstrak
Kortikosteroid topikal (Topical Corticosteroids, TCS) tetap menjadi terapi lini pertama untuk mengatasi inflamasi pada dermatitis atopik. Selama lebih dari 70 tahun, obat ini terbukti efektif mengurangi eritema, pruritus, edema, dan likenifikasi. Perkembangan terapi dalam dekade terakhir tidak menggantikan peran kortikosteroid, tetapi menekankan penggunaan yang lebih rasional berdasarkan potensi, lokasi lesi, usia pasien, dan durasi terapi. Pedoman terbaru juga merekomendasikan terapi proaktif dengan aplikasi intermiten untuk mencegah kekambuhan. Artikel ini membahas perkembangan penggunaan kortikosteroid topikal, klasifikasi potensi, indikasi klinis, efek samping, serta posisi kortikosteroid di era munculnya obat nonsteroid terbaru.
Pendahuluan
Dermatitis atopik merupakan penyakit inflamasi kronis yang ditandai dengan gangguan sawar kulit, aktivasi imun tipe 2, dan rasa gatal yang menetap. Tujuan terapi adalah mengendalikan inflamasi, mengurangi gatal, memperbaiki fungsi sawar kulit, dan mencegah kekambuhan.
Meskipun telah tersedia inhibitor PDE-4, inhibitor JAK topikal, dan obat biologik, kortikosteroid topikal tetap menjadi terapi utama pada sebagian besar pasien karena efektif, cepat bekerja, mudah diperoleh, dan biaya relatif rendah.
Mekanisme Kerja
Kortikosteroid topikal bekerja dengan:
- Menghambat produksi sitokin proinflamasi.
- Menekan aktivasi limfosit T dan eosinofil.
- Mengurangi vasodilatasi dan edema.
- Menurunkan rasa gatal.
- Memperbaiki inflamasi sehingga sawar kulit dapat pulih.
Efek klinis biasanya mulai tampak dalam beberapa hari setelah terapi dimulai.
Tabel. Klasifikasi Kortikosteroid Topikal
| Potensi | Contoh | Penggunaan utama |
|---|---|---|
| Sangat ringan | Hidrokortison 1% | Wajah, bayi, lipatan kulit |
| Ringan | Hidrokortison butirat | Dermatitis ringan |
| Sedang | Triamcinolone acetonide 0,1% | Dermatitis sedang |
| Poten | Betamethasone valerate 0,1%, Mometasone furoate 0,1% | Lesi kronis pada badan dan ekstremitas |
| Sangat poten | Clobetasol propionate 0,05% | Dermatitis berat jangka pendek, tidak untuk wajah |
Pemilihan Berdasarkan Lokasi
| Lokasi | Potensi yang dianjurkan |
|---|---|
| Wajah | Sangat ringan hingga ringan |
| Kelopak mata | Sangat ringan, durasi singkat |
| Leher | Ringan |
| Lipatan ketiak dan selangkangan | Ringan hingga sedang |
| Badan | Sedang |
| Lengan dan tungkai | Sedang hingga poten |
| Telapak tangan dan kaki | Poten hingga sangat poten bila diperlukan |
Perkembangan Rekomendasi
Dahulu kortikosteroid digunakan hanya saat eksaserbasi. Saat ini, pedoman menyarankan terapi proaktif, yaitu aplikasi potensi sedang satu hingga dua kali per minggu pada area yang sering kambuh setelah lesi membaik. Strategi ini terbukti menurunkan frekuensi kekambuhan dan memperpanjang masa remisi.
Efek Samping
Efek samping lokal meliputi:
- Atrofi kulit.
- Striae.
- Telangiektasis.
- Hipopigmentasi.
- Dermatitis perioral.
- Infeksi sekunder bila digunakan tidak tepat.
Efek samping sistemik sangat jarang dan umumnya terjadi bila menggunakan kortikosteroid poten pada area luas dalam waktu lama, terutama pada bayi dan anak kecil.
Kortikosteroid topikal relatif aman bila digunakan sesuai potensi obat, lokasi kulit, usia pasien, dan durasi yang dianjurkan. Risiko efek samping meningkat bila menggunakan kortikosteroid potensi sedang hingga sangat kuat secara terus-menerus selama lebih dari 2 hingga 4 minggu, terutama pada wajah, kelopak mata, lipatan kulit, atau area genital yang memiliki kulit lebih tipis. Penggunaan jangka panjang tanpa pengawasan dokter dapat menyebabkan penipisan kulit (atrofi), striae, pelebaran pembuluh darah kecil (telangiektasis), perubahan warna kulit, jerawat steroid, dermatitis perioral, rosasea, serta meningkatkan risiko infeksi kulit. Pada bayi dan anak, penggunaan pada area luas atau di bawah balutan tertutup juga dapat meningkatkan penyerapan obat ke dalam tubuh.
Pedoman terbaru menganjurkan penggunaan kortikosteroid topikal selama fase akut hingga peradangan terkendali, umumnya 7 hingga 14 hari untuk potensi sedang atau kuat. Bila masih diperlukan terapi setelah 2 hingga 4 minggu, pasien harus dievaluasi kembali dan dipertimbangkan penurunan potensi, penggunaan intermiten, atau penggantian dengan obat nonsteroid seperti inhibitor kalsineurin atau inhibitor PDE-4. Untuk mencegah kekambuhan, terapi proaktif menggunakan kortikosteroid potensi rendah atau sedang sebanyak 2 kali per minggu pada area yang sering kambuh dinilai lebih aman dibandingkan penggunaan setiap hari dalam jangka panjang. Pendekatan ini didukung oleh pedoman dari American Academy of Dermatology, European Academy of Allergy and Clinical Immunology, dan berbagai studi klinis terkini.
Posisi di Era Terapi Baru
Walaupun tersedia obat nonsteroid seperti tacrolimus, pimecrolimus, crisaborole, ruxolitinib, delgocitinib, difamilast, dan tapinarof di beberapa negara, pedoman terbaru tetap menempatkan kortikosteroid topikal sebagai terapi lini pertama pada sebagian besar pasien. Obat nonsteroid digunakan pada area sensitif, kebutuhan terapi jangka panjang, atau bila respons terhadap kortikosteroid tidak memadai.
Kesimpulan
Kortikosteroid topikal tetap menjadi terapi utama dermatitis atopik karena memiliki efektivitas tinggi dalam mengendalikan inflamasi dan gatal. Penggunaan berdasarkan potensi, lokasi lesi, usia pasien, dan durasi terapi memberikan manfaat maksimal dengan risiko efek samping yang rendah. Pendekatan modern menekankan terapi proaktif dan penggunaan rasional, sementara obat nonsteroid berperan sebagai pelengkap pada kondisi tertentu.
Daftar Pustaka
- Saeki H, et al. English version of clinical practice guidelines for the management of atopic dermatitis 2024. J Dermatol. 2025;52:e70-e142. doi:10.1111/1346-8138.17544.
- American Academy of Dermatology. Updated Guidelines of Care for the Management of Atopic Dermatitis with Topical Therapies. 2023.
- Updates from the AAD and AAAAI Guidelines for Managing Atopic Dermatitis. 2025.
- Skin Allergy Research Society and Society for Eczema Studies. Guidelines of Care for Management of Atopic Dermatitis. 2025.








Leave a Reply