Benarkah Tes IgG Dapat Membuktikan Alergi Makanan? Ini Penjelasan Berdasarkan Rekomendasi Organisasi Alergi Dunia
Pertanyaan
“Dok, anak saya berusia 5 tahun. Sejak kecil ia sering batuk pilek berulang, asma, hidung sering tersumbat, sembelit, kadang mengeluh mual setelah makan, nafsu makannya kurang, pilih-pilih makanan, dan berat badannya sulit naik. Saya kemudian membawa anak saya ke sebuah klinik yang menawarkan tes IgG makanan. Hasilnya menunjukkan lebih dari 20 jenis makanan dinyatakan positif, seperti susu sapi, telur, ayam, ikan, udang, gandum, kedelai, tomat, pisang, dan beberapa buah lainnya. Saya disarankan menghentikan semua makanan tersebut agar alerginya sembuh. Saya menjadi khawatir karena hampir semua makanan yang biasa dimakan anak harus dipantang. Apakah hasil tes IgG memang dapat memastikan bahwa anak saya mengalami alergi makanan? Apakah saya harus langsung menghindari semua makanan yang hasilnya positif?”
Jawaban
Jawabannya adalah tidak. Hingga saat ini, pemeriksaan IgG atau IgG4 terhadap makanan tidak dapat digunakan untuk mendiagnosis alergi makanan. Hasil pemeriksaan tersebut hanya menunjukkan bahwa sistem kekebalan tubuh pernah mengenali atau terpapar makanan tersebut. Dengan kata lain, hasil IgG yang positif justru sering ditemukan pada orang yang rutin mengonsumsi makanan tersebut tanpa mengalami alergi. Oleh karena itu, hasil IgG tidak dapat membedakan apakah seseorang benar-benar alergi atau hanya memiliki respons imun yang normal terhadap makanan.
Karena bukti ilmiahnya tidak mendukung, berbagai organisasi alergi internasional secara tegas tidak merekomendasikan penggunaan tes IgG sebagai dasar diagnosis alergi makanan. Organisasi seperti World Allergy Organization (WAO), American Academy of Allergy, Asthma & Immunology (AAAAI), European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI), Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy (ASCIA), serta Canadian Society of Allergy and Clinical Immunology (CSACI) menyatakan bahwa pemeriksaan IgG tidak memiliki nilai diagnostik untuk alergi makanan. Pemeriksaan tersebut tidak boleh digunakan untuk menentukan makanan yang harus dipantang maupun sebagai dasar pemberian terapi.
Masalahnya, hasil IgG yang positif sering kali menyebabkan overdiagnosis. Anak yang sebenarnya tidak alergi akhirnya dianggap memiliki banyak alergi makanan. Akibatnya, orang tua menghentikan berbagai jenis makanan bergizi seperti susu, telur, ikan, gandum, atau kedelai. Pada anak yang sedang tumbuh, pembatasan makanan yang tidak diperlukan dapat meningkatkan risiko kekurangan protein, kalsium, zat besi, vitamin, dan berbagai zat gizi penting lainnya. Anak juga dapat menjadi semakin pilih-pilih makanan, mengalami gangguan makan, bahkan berat badannya sulit bertambah.
Dokter tidak menegakkan diagnosis alergi makanan berdasarkan hasil IgG. Diagnosis selalu dimulai dari riwayat gejala yang khas, pemeriksaan fisik, serta hubungan yang jelas antara konsumsi makanan tertentu dengan munculnya keluhan. Bila memang diperlukan, dokter dapat melakukan pemeriksaan Skin Prick Test atau IgE spesifik untuk membantu diagnosis alergi yang diperantarai IgE. Namun, kedua pemeriksaan tersebut juga tidak dapat berdiri sendiri karena hasilnya harus selalu diinterpretasikan bersama gejala klinis.
Apabila setelah evaluasi masih terdapat kecurigaan terhadap alergi makanan, dokter biasanya akan melakukan diet eliminasi yang terarah terhadap makanan yang paling dicurigai. Bila gejala membaik, diagnosis belum otomatis terbukti karena perbaikan dapat terjadi akibat faktor lain. Oleh sebab itu, bila kondisi pasien memungkinkan dan aman dilakukan, diagnosis akan dikonfirmasi melalui Oral Food Challenge, yaitu pemberian kembali makanan yang dicurigai secara bertahap di bawah pengawasan tenaga medis. Sampai saat ini, Oral Food Challenge merupakan baku emas dalam diagnosis alergi makanan.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tes IgG justru meningkatkan risiko salah diagnosis. Anak dapat menjalani diet yang sangat ketat selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun tanpa manfaat yang jelas. Selain meningkatkan beban biaya keluarga, kondisi tersebut juga dapat mengganggu kualitas hidup, pertumbuhan, status gizi, dan perkembangan kemampuan makan anak. Karena itu, berbagai pedoman internasional menganjurkan agar pemeriksaan IgG tidak digunakan dalam praktik rutin untuk mendiagnosis alergi makanan.
Jadi, bila hasil tes IgG menunjukkan banyak makanan positif, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa semuanya merupakan penyebab alergi. Konsultasikan hasil tersebut kepada dokter yang berpengalaman dalam bidang alergi anak agar dilakukan evaluasi berdasarkan riwayat klinis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan yang memang memiliki dasar ilmiah. Dengan pendekatan berbasis bukti, anak akan terhindar dari pantangan makanan yang tidak diperlukan dan tetap memperoleh asupan gizi yang optimal.
Tabel. Peran Berbagai Pemeriksaan dalam Diagnosis Alergi Makanan
| Pemeriksaan | Apa yang Dinilai | Dapat Menegakkan Diagnosis? | Rekomendasi Pedoman |
|---|---|---|---|
| Riwayat klinis | Hubungan makanan dengan munculnya gejala | Ya, merupakan dasar utama evaluasi | Direkomendasikan WAO, EAACI, AAAAI, ASCIA |
| Pemeriksaan fisik | Tanda alergi dan penyakit lain | Mendukung diagnosis | Direkomendasikan |
| Skin Prick Test (SPT) | Sensitisasi yang diperantarai IgE | Tidak bila digunakan sendiri | Direkomendasikan bila ada indikasi klinis |
| IgE spesifik | Antibodi IgE terhadap makanan tertentu | Tidak bila digunakan sendiri | Direkomendasikan bila ada indikasi klinis |
| Diet eliminasi terarah | Perubahan gejala setelah makanan dihentikan | Membantu evaluasi | Direkomendasikan pada kasus terpilih |
| Oral Food Challenge (OFC) | Reaksi setelah makanan diberikan kembali di bawah pengawasan medis | Ya, merupakan baku emas diagnosis | Direkomendasikan oleh WAO, EAACI, AAAAI, ASCIA |
| IgG atau IgG4 makanan | Paparan atau toleransi terhadap makanan | Tidak | Tidak direkomendasikan oleh WAO, EAACI, AAAAI, ASCIA, dan CSACI untuk diagnosis alergi makanan |
Referensi
- Muraro A, Werfel T, Hoffmann-Sommergruber K, Roberts G, Beyer K, Bindslev-Jensen C, Cardona V, Dubois AEJ, duToit G, Eigenmann P, Fernandez Rivas M, Halken S, Host A, Knol E, Lack G, Marchisotto MJ, Niggemann B, Nwaru BI, Papadopoulos NG, Poulsen LK, Santos AF, Skypala I, Schoepfer A, Van Ree R, Venter C, Worm M, Vlieg-Boerstra B, Panesar S, de Silva D, Soares-Weiser K, Sheikh A, EAACI Food Allergy and Anaphylaxis Guidelines Group. **EAACI Food Allergy and Anaphylaxis Guidelines: Diagnosis and Management of Food Allergy.** Allergy. 2014;69(8):1008-1025. doi:10.1111/all.12429. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/all.12429
- American Academy of Allergy, Asthma & Immunology (AAAAI). **The Myth of IgG Food Panel Testing.** AAAAI Patient Information. https://www.aaaai.org/tools-for-the-public/conditions-library/allergies/igg-food-test









Leave a Reply