ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

HUBUNGAN ASMA DAN ALERGI MAKANAN PADA ANAK

HUBUNGAN ASMA DAN ALERGI MAKANAN PADA ANAK

Tinjauan Ilmiah Berdasarkan Children (Basel) 2024

Audi Yudhasmara , Widodo Judarwanto

Asma dan alergi makanan merupakan dua penyakit alergi kronis yang prevalensinya terus meningkat pada populasi anak di seluruh dunia. Keduanya tidak hanya sering ditemukan bersamaan, tetapi juga memiliki mekanisme imunologis yang saling berkaitan. Anak dengan alergi makanan diketahui memiliki risiko lebih tinggi mengalami asma, sedangkan anak dengan asma, terutama yang tidak terkontrol, memiliki risiko lebih besar mengalami reaksi alergi makanan yang berat. Hubungan tersebut menjadikan kedua penyakit ini sebagai bagian penting dari konsep atopic march, yaitu perjalanan alami penyakit alergi sejak masa bayi hingga anak yang lebih besar.

Hubungan dalam Atopic March

Konsep atopic march menjelaskan bahwa dermatitis atopik pada masa bayi sering menjadi manifestasi awal gangguan sistem imun tipe alergi. Kerusakan sawar kulit mempermudah masuknya alergen sehingga terjadi sensitisasi IgE. Selanjutnya, anak dapat mengalami alergi makanan, diikuti perkembangan rinitis alergi dan akhirnya asma. Tidak semua anak mengalami perjalanan penyakit yang sama, tetapi keberadaan dermatitis atopik dan alergi makanan sejak usia dini meningkatkan kemungkinan berkembangnya penyakit saluran napas alergi pada masa berikutnya.

Faktor Risiko yang Menghubungkan Asma dan Alergi Makanan

  • Faktor Genetik dan Riwayat Atopi. Riwayat keluarga dengan penyakit atopik merupakan faktor risiko utama terjadinya asma maupun alergi makanan. Anak yang memiliki orang tua atau saudara kandung dengan asma, dermatitis atopik, atau alergi makanan memiliki kemungkinan lebih besar mengalami penyakit alergi akibat predisposisi genetik yang memengaruhi regulasi sistem imun.
  • Inflamasi Tipe 2 sebagai Mekanisme Bersama. Baik asma maupun alergi makanan didominasi oleh inflamasi tipe 2 (T2 inflammation). Aktivasi sel limfosit Th2 menghasilkan sitokin seperti interleukin-4, interleukin-5, dan interleukin-13 yang merangsang pembentukan IgE, aktivasi eosinofil, serta degranulasi sel mast. Mekanisme ini menyebabkan terjadinya inflamasi kronis baik pada mukosa saluran napas maupun saluran cerna.

Pengaruh Alergi Makanan terhadap Terjadinya Asma

  • Risiko Asma pada Anak dengan Alergi Makanan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak dengan alergi makanan memiliki risiko lebih tinggi mengalami asma dibandingkan anak tanpa alergi makanan. Risiko tersebut semakin meningkat apabila alergi muncul pada usia dini, melibatkan lebih dari satu jenis makanan, atau disertai dermatitis atopik yang berat. Sensitisasi terhadap berbagai alergen makanan mencerminkan aktivasi sistem imun alergi yang lebih luas sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya inflamasi pada saluran napas.
  • Mekanisme Timbulnya Gejala Pernapasan. Paparan alergen makanan dapat menimbulkan gejala respirasi melalui aktivasi IgE yang memicu pelepasan mediator inflamasi seperti histamin dan leukotrien. Selain setelah makanan dikonsumsi, gejala juga dapat timbul akibat inhalasi partikel makanan yang tersebar di udara selama proses memasak, misalnya ikan, susu, telur, atau gandum, terutama pada anak yang sangat sensitif.

Dampak Klinis Kombinasi Asma dan Alergi Makanan

  • Risiko Eksaserbasi Berat Anak yang menderita asma sekaligus alergi makanan mempunyai risiko lebih tinggi mengalami serangan asma berat, kunjungan ke unit gawat darurat, rawat inap, hingga kebutuhan perawatan intensif. Inflamasi yang berlangsung pada kedua penyakit menyebabkan saluran napas menjadi lebih reaktif terhadap berbagai pencetus.
  • Risiko Anafilaksis dan Mortalitas. Asma yang tidak terkontrol merupakan salah satu faktor risiko terpenting terjadinya kematian akibat anafilaksis makanan. Oleh karena itu, pengendalian asma yang baik merupakan bagian integral dari upaya pencegahan komplikasi berat pada pasien dengan alergi makanan.

Diagnosis

  • Pendekatan Diagnosis. Diagnosis alergi makanan harus didasarkan pada riwayat klinis yang sesuai, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang yang relevan. Pemeriksaan IgE spesifik maupun uji tusuk kulit dapat membantu mengidentifikasi sensitisasi, tetapi hasil tersebut harus selalu diinterpretasikan bersama gambaran klinis karena sensitisasi tidak selalu menunjukkan adanya alergi makanan yang bermakna.
  • Oral Food Challenge. Oral Food Challenge (OFC) tetap merupakan baku emas untuk menegakkan diagnosis alergi makanan. Pemeriksaan ini dilakukan secara terkontrol oleh tenaga kesehatan yang berpengalaman sehingga dapat memastikan hubungan sebab-akibat antara konsumsi makanan dengan timbulnya gejala klinis.

Penatalaksanaan

  • Pengendalian Asma. Pengobatan asma harus mengikuti pedoman terkini dengan tujuan mencapai kontrol gejala yang optimal, mencegah eksaserbasi, dan mempertahankan fungsi paru. Asma yang terkendali juga menjadi syarat penting sebelum mempertimbangkan terapi imunoterapi pada alergi makanan.
  • Pengelolaan Alergi Makanan. Penatalaksanaan alergi makanan terutama meliputi penghindaran makanan penyebab yang telah terkonfirmasi, edukasi keluarga mengenai pembacaan label makanan, penyusunan rencana penanganan reaksi alergi, serta penggunaan adrenalin autoinjektor pada pasien yang berisiko mengalami anafilaksis.

Perkembangan Terapi Biologis

Terapi biologis seperti omalizumab menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam pengobatan pasien dengan asma berat dan alergi makanan. Selain memperbaiki kontrol asma, omalizumab dapat meningkatkan ambang toleransi terhadap alergen makanan dan meningkatkan keberhasilan oral immunotherapy pada pasien yang dipilih secara tepat.

Implikasi Praktis bagi Dokter Anak

Dokter anak perlu melakukan evaluasi adanya gejala asma pada setiap anak dengan alergi makanan serta menilai kemungkinan alergi makanan pada anak dengan asma yang sulit terkontrol. Pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter anak, ahli alergi-imunologi, ahli gizi, dan keluarga sangat penting untuk mengoptimalkan hasil pengobatan, mencegah komplikasi, serta meningkatkan kualitas hidup pasien.

Kesimpulan

Asma dan alergi makanan merupakan dua penyakit atopik yang saling berkaitan melalui faktor genetik, inflamasi tipe 2, dan perjalanan atopic march. Keberadaan alergi makanan meningkatkan risiko terjadinya asma, sedangkan kombinasi kedua penyakit meningkatkan risiko eksaserbasi berat, anafilaksis, rawat inap, dan kematian. Diagnosis yang tepat, pengendalian asma secara optimal, pengelolaan alergi makanan berbasis bukti, serta pemanfaatan terapi biologis pada pasien terpilih diharapkan mampu memperbaiki luaran klinis dan kualitas hidup anak.

Daftar Pustaka

  • Cunico D, Giannì G, Scavone S, Buono EV, Caffarelli C. The Relationship Between Asthma and Food Allergies in Children. Children (Basel). 2024 Oct 26;11(11):1295. doi: 10.3390/children11111295. PMID: 39594870; PMCID: PMC11592619.
Visited 1 times, 1 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *