ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Ternyata Bukan Hirschprung, Tapi Sembelit Kronis Karena Alergi Makanan

Perbedaan Penyakit Hirschsprung, Konstipasi Fungsional, dan Konstipasi akibat Alergi Makanan

Konstipasi pada anak tidak selalu disebabkan oleh kurang minum atau kurang serat. Sebagian besar memang merupakan konstipasi fungsional, tetapi sebagian kecil dapat disebabkan oleh penyakit Hirschsprung atau berkaitan dengan alergi makanan, terutama alergi protein susu sapi atau alergi makanan. Ketiga kondisi ini dapat menimbulkan gejala yang mirip sehingga sering membingungkan orang tua maupun tenaga kesehatan.

ILUSTRASI KASUS

Seorang bayi laki-laki berusia 4 bulan datang dengan keluhan sulit buang air besar sejak usia beberapa minggu. Bayi hanya dapat BAB setiap 4 sampai 6 hari, sering harus dibantu stimulasi anus, perut tampak membuncit, dan berat badan sulit meningkat. Karena konstipasi terjadi sejak usia dini, penyakit Hirschsprung sempat dicurigai. Namun, bayi tidak memiliki riwayat keterlambatan pengeluaran mekonium lebih dari 48 jam setelah lahir. Pemeriksaan enema kontras juga tidak menunjukkan gambaran yang khas sehingga diagnosis Hirschsprung masih meragukan. Di sisi lain, bayi memiliki dermatitis atopik, sering muntah setelah minum susu formula, serta terdapat riwayat alergi pada ayahnya, sehingga dicurigai kemungkinan alergi protein susu sapi yang bermanifestasi sebagai konstipasi.

Sebelum dilakukan tindakan invasif berupa biopsi rektum, dokter melakukan eliminasi protein susu sapi diikuti evaluasi klinis dan provokasi terkontrol menggunakan Open Oral Food Challenge (OFC) sesuai indikasi. Dalam waktu satu minggu setelah eliminasi, frekuensi BAB membaik menjadi setiap hari atau dua hari sekali, konsistensi feses lebih lunak, perut tidak lagi membuncit, muntah berkurang, dan berat badan mulai meningkat. Saat provokasi dilakukan, konstipasi dan keluhan saluran cerna kembali muncul sehingga menguatkan diagnosis alergi makanan. Kasus seperti ini menunjukkan bahwa pada sebagian bayi dengan dugaan Hirschsprung yang belum terkonfirmasi, terutama bila disertai gejala alergi, evaluasi alergi makanan secara sistematis dapat membantu menghindari salah diagnosis dan tindakan operasi yang tidak diperlukan. Sebaliknya, apabila biopsi rektum telah membuktikan adanya aganglionosis, maka operasi tetap menjadi terapi definitif.

Penyakit Hirschsprung

Penyakit Hirschsprung merupakan kelainan bawaan akibat tidak terbentuknya sel saraf pada sebagian usus. Sebaliknya, konstipasi fungsional tidak disebabkan oleh kelainan saraf maupun bentuk usus. Pada sebagian anak, alergi makanan juga dapat menyebabkan peradangan ringan pada saluran cerna sehingga timbul konstipasi kronis, nyeri saat BAB, perut kembung, dan gangguan makan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sebagian anak dengan konstipasi kronis yang tidak membaik dengan pencahar ternyata mengalami perbaikan setelah eliminasi makanan penyebab alergi.

Pada praktik klinis, terdapat sebagian kecil kasus yang pada awalnya dicurigai sebagai penyakit Hirschsprung karena mengalami konstipasi berat sejak bayi, perut membuncit, dan berat badan sulit naik. Namun setelah evaluasi lebih lanjut tidak ditemukan aganglionosis pada biopsi rektum. Pada kelompok inilah dokter dapat mempertimbangkan kemungkinan alergi makanan bila terdapat riwayat atau gejala yang mendukung, seperti dermatitis atopik, muntah berulang, diare bergantian dengan konstipasi, darah pada tinja, atau riwayat alergi dalam keluarga.

Bila penyakit Hirschsprung belum terbukti dan terdapat kecurigaan alergi makanan, salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan oleh dokter adalah melakukan eliminasi makanan berdasarkan evaluasi klinis, kemudian dikonfirmasi menggunakan Open Oral Food Challenge (OFC) sesuai indikasi. Pada sebagian anak, keluhan konstipasi dapat membaik dalam waktu sekitar 1 hingga 2 minggu setelah eliminasi makanan penyebab. Perbaikan ini lebih mendukung kemungkinan konstipasi yang berkaitan dengan alergi makanan daripada penyakit Hirschsprung. Namun, pendekatan ini tidak boleh menunda pemeriksaan bila terdapat tanda kuat yang mengarah ke Hirschsprung.

Sebaliknya, apabila diagnosis Hirschsprung telah dipastikan melalui biopsi rektum yang menunjukkan tidak adanya sel ganglion, maka terapi definitif adalah operasi pull-through. Diet eliminasi maupun terapi alergi tidak dapat menggantikan tindakan operasi pada penyakit Hirschsprung yang telah terkonfirmasi.

Karakteristik Penyakit Hirschsprung Konstipasi Fungsional Konstipasi terkait Alergi Makanan
Penyebab Tidak adanya sel ganglion pada usus Gangguan fungsi BAB Reaksi imun terhadap makanan tertentu yang memengaruhi saluran cerna
Awal keluhan Sejak lahir atau masa bayi Umumnya setelah usia 1 tahun Bayi atau anak, sering setelah konsumsi makanan tertentu
Mekonium >48 jam Sering Sangat jarang Umumnya tidak
Konstipasi Sangat berat dan menetap Ringan hingga berat Dapat berat dan menetap
Distensi abdomen Sangat sering Ringan Sering
Muntah hijau Dapat terjadi Hampir tidak pernah Jarang
Dermatitis atopik, eksim Tidak khas Tidak khas Sering ditemukan
Riwayat alergi keluarga Tidak berhubungan Tidak khas Lebih sering
Gangguan makan atau picky eater Dapat terjadi Kadang Sering
Darah pada tinja Jarang Kadang akibat fisura ani Dapat terjadi
Ampula rektum Kosong Berisi feses Berisi feses
Squirt sign Dapat positif Tidak ada Tidak ada
Respons terhadap pencahar Sering kurang baik Umumnya baik Sering kurang memadai bila alergen masih dikonsumsi
Respons terhadap eliminasi makanan Tidak membaik Tidak bermakna Sering membaik dalam 1 sampai 2 minggu bila penyebabnya benar
Pemeriksaan penunjang Enema kontras, manometri anorektal, biopsi rektum Biasanya tidak diperlukan Evaluasi alergi berdasarkan riwayat, eliminasi terarah, dan OFC bila diindikasikan
Diagnosis pasti Biopsi rektum menunjukkan aganglionosis Tidak ada kelainan anatomis OFC merupakan baku emas untuk konfirmasi alergi makanan
Terapi utama Operasi pull-through Edukasi, latihan BAB, serat, pencahar Eliminasi makanan penyebab yang telah terkonfirmasi dan tata laksana alergi

Kapan Perlu Memikirkan Alergi Makanan?

Kemungkinan alergi makanan dapat dipertimbangkan bila anak mengalami:

  • Konstipasi kronis yang tidak membaik dengan pencahar.
  • Disertai eksim, muntah, diare, darah pada tinja, atau gangguan makan.
  • Berat badan sulit naik.
  • Riwayat alergi pada anak atau keluarga.
  • Keluhan membaik setelah eliminasi makanan yang dicurigai dan kembali muncul saat OFC positif.

Pesan Penting

  • Pada bayi dengan mekonium terlambat lebih dari 48 jam, muntah hijau, distensi abdomen berat, atau kecurigaan kuat terhadap penyakit Hirschsprung, pemeriksaan diagnostik tidak boleh ditunda. Bila biopsi rektum telah memastikan adanya aganglionosis, operasi merupakan terapi yang harus segera dilakukan.
  • Sebaliknya, pada kasus yang belum terbukti Hirschsprung dan memiliki gambaran klinis yang mengarah ke alergi makanan, evaluasi alergi dengan pendekatan berbasis bukti, termasuk eliminasi makanan yang terarah dan konfirmasi menggunakan Open Oral Food Challenge bila diindikasikan, dapat membantu menghindari salah diagnosis dan tindakan yang tidak diperlukan. Pendekatan ini harus dilakukan di bawah pengawasan dokter dan tidak digunakan untuk menggantikan pemeriksaan standar pada dugaan penyakit Hirschsprung.
Visited 2 times, 2 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *