ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Alergi Mata pada Anak dan Dewasa: Tinjauan Ilmiah Mengenai Definisi, Klasifikasi, Diagnosis, dan Tata Laksana Berbasis Bukti

Alergi Mata pada Anak dan Dewasa: Tinjauan Ilmiah Mengenai Definisi, Klasifikasi, Diagnosis, dan Tata Laksana Berbasis Bukti

Audi Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Konjungtivitis alergi merupakan salah satu penyakit alergi mata yang paling sering dijumpai dalam praktik klinis dan sering menyertai rinitis alergi. Penyakit ini ditandai oleh inflamasi konjungtiva akibat respons imun yang sebagian besar dimediasi oleh imunoglobulin E (IgE). Manifestasi klinis utama berupa mata gatal, berair, merah, dan bengkak, yang dapat menurunkan kualitas hidup secara bermakna. Sebagian besar kasus bersifat ringan, namun bentuk yang lebih berat seperti Vernal Keratoconjunctivitis (VKC) dan Atopic Keratoconjunctivitis (AKC) dapat mengenai kornea dan menyebabkan gangguan penglihatan permanen bila tidak ditangani secara tepat. Diagnosis terutama ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis, sedangkan pemeriksaan alergi seperti skin prick test dan specific IgE digunakan untuk mengidentifikasi alergen penyebab. Penatalaksanaan meliputi edukasi, penghindaran alergen, antihistamin topikal, stabilisator sel mast, kortikosteroid topikal pada kasus berat, serta imunoterapi pada pasien terpilih. Artikel ini mengulas klasifikasi, mekanisme imunologi, diagnosis, diagnosis banding, dan tata laksana konjungtivitis alergi berdasarkan pedoman internasional terbaru.

Konjungtivitis alergi merupakan inflamasi konjungtiva akibat reaksi hipersensitivitas terhadap alergen lingkungan. Penyakit ini sering dianggap ringan sehingga banyak kasus tidak terdiagnosis, padahal dampaknya terhadap kualitas hidup, prestasi belajar anak, produktivitas kerja, dan aktivitas sehari-hari cukup besar.

Diperkirakan lebih dari 20 hingga 40% penderita rinitis alergi juga mengalami gejala pada mata. Hubungan antara hidung dan mata sangat erat karena keduanya merupakan bagian dari penyakit alergi saluran napas terpadu (united airway disease). Oleh karena itu, pasien dengan rinitis alergi perlu dievaluasi terhadap kemungkinan konjungtivitis alergi.

Walaupun sebagian besar kasus hanya menyebabkan mata gatal dan merah, bentuk yang lebih berat seperti VKC dan AKC dapat menyebabkan ulkus kornea, jaringan parut kornea, neovaskularisasi, hingga kebutaan bila terlambat ditangani.


Definisi

Konjungtivitis alergi adalah kelompok penyakit inflamasi konjungtiva yang terjadi akibat respons imun terhadap alergen. Penyakit ini mencakup berbagai bentuk klinis, mulai dari konjungtivitis alergi musiman yang ringan hingga keratokonjungtivitis kronis yang dapat mengancam penglihatan.

Pada sebagian besar kasus, mekanisme penyakit dimediasi oleh IgE. Paparan ulang terhadap alergen menyebabkan degranulasi sel mast dan pelepasan mediator inflamasi seperti histamin, leukotrien, prostaglandin, dan sitokin yang menimbulkan gejala khas berupa gatal, mata merah, dan berair.


Klasifikasi Konjungtivitis Alergi

Jenis Mekanisme Karakteristik
Seasonal Allergic Conjunctivitis (SAC) IgE Dipicu serbuk sari, musiman
Perennial Allergic Conjunctivitis (PAC) IgE Alergen sepanjang tahun seperti tungau debu
Vernal Keratoconjunctivitis (VKC) Campuran IgE dan non-IgE Berat, mengenai kornea, terutama anak laki-laki
Atopic Keratoconjunctivitis (AKC) Atopi kronis Berkaitan dengan dermatitis atopik
Giant Papillary Conjunctivitis (GPC) Trauma mekanik Berkaitan dengan lensa kontak atau benda asing

Epidemiologi

Jenis Kelompok usia
SAC Anak besar dan dewasa muda
PAC Semua usia
VKC 3–20 tahun
AKC Dewasa muda hingga usia pertengahan
GPC Pengguna lensa kontak

VKC lebih sering terjadi pada anak laki-laki dengan rasio sekitar 3:1 dan lebih banyak ditemukan di daerah tropis maupun subtropis.


Faktor Risiko

Faktor risiko meliputi:

  • Riwayat keluarga alergi
  • Rinitis alergi
  • Asma
  • Dermatitis atopik
  • Paparan tungau debu
  • Serbuk sari
  • Jamur
  • Bulu hewan
  • Penggunaan lensa kontak

Mekanisme Imunologi

Paparan alergen menyebabkan ikatan antara alergen dan IgE pada permukaan sel mast.

Selanjutnya terjadi pelepasan mediator inflamasi berupa:

  • Histamin
  • Leukotrien
  • Prostaglandin
  • IL-4
  • IL-5
  • IL-13
  • Eosinofil

Mediator tersebut menyebabkan:

  • gatal
  • hiperemia
  • edema
  • lakrimasi
  • kemotaksis eosinofil
  • inflamasi kronis

Peran Alergi Makanan dan Alergi Mata

  • Pada sebagian anak, alergi makanan dapat menjadi bagian dari spektrum penyakit alergi sistemik yang juga melibatkan mata, hidung, kulit, dan saluran napas. Anak dengan alergi makanan lebih sering memiliki riwayat rinitis alergi, asma, dermatitis atopik, maupun konjungtivitis alergi. Reaksi alergi yang dipicu makanan dapat memperkuat inflamasi tipe 2 sehingga pelepasan histamin dan berbagai sitokin meningkatkan gejala mata berupa gatal, merah, berair, dan bengkak. Walaupun alergi inhalan seperti tungau debu rumah tetap menjadi penyebab utama alergi mata, pada sebagian pasien makanan tertentu dapat berperan sebagai pencetus atau memperberat gejala, terutama bila terdapat riwayat keluhan saluran cerna, eksim, atau reaksi yang berulang setelah mengonsumsi makanan tertentu.
  • Penanganan tidak dianjurkan hanya berdasarkan dugaan atau hasil pemeriksaan laboratorium semata. Eliminasi makanan sebaiknya dilakukan secara terarah berdasarkan riwayat klinis yang kuat dan di bawah pengawasan tenaga medis agar tidak menimbulkan kekurangan gizi atau pembatasan diet yang tidak diperlukan. Perbaikan gejala mata setelah eliminasi makanan dapat menjadi petunjuk klinis, tetapi belum cukup untuk memastikan diagnosis alergi makanan. Pada saat yang sama, tata laksana alergi mata tetap harus dilakukan sesuai pedoman melalui penghindaran alergen inhalan, pengendalian rinitis alergi, penggunaan kompres dingin, air mata buatan, antihistamin topikal, atau terapi lain sesuai derajat keparahan penyakit.
  • Open Oral Food Challenge (OFC) merupakan baku emas untuk memastikan apakah suatu makanan benar-benar menyebabkan reaksi alergi. OFC dilakukan setelah evaluasi klinis menyeluruh dan bila kondisi pasien stabil, di fasilitas kesehatan yang mampu menangani reaksi alergi bila terjadi. Hasil OFC membantu membedakan antara sensitisasi dan alergi makanan yang benar-benar bermakna secara klinis, sehingga diet eliminasi hanya diberikan pada makanan yang telah terbukti sebagai pencetus. Pendekatan ini dapat menghindari overdiagnosis alergi makanan, memperluas pilihan makanan yang aman, memperbaiki status gizi anak, serta mendukung pengendalian penyakit alergi secara menyeluruh, termasuk pada pasien yang mengalami konjungtivitis alergi bersamaan dengan rinitis alergi, asma, atau dermatitis atopik.

Manifestasi Klinis

Gejala

  • Mata sangat gatal
  • Mata merah
  • Berair
  • Bengkak
  • Sensitif terhadap cahaya
  • Keluar lendir
  • Rasa mengganjal

Pada VKC dapat ditemukan:

  • fotofobia
  • nyeri
  • penglihatan kabur

Tanda Klinis

  • Hiperemia konjungtiva
  • Edema
  • Papil
  • Giant papillae
  • Horner-Trantas dots
  • Ulkus kornea
  • Keratitis

Perbedaan Berbagai Jenis Alergi Mata

Karakteristik SAC PAC VKC AKC GPC
Gatal Sangat khas Sangat khas Berat Berat Sedang
Musiman Ya Tidak Sering Tidak Tidak
Kornea Tidak Tidak Sering Sangat sering Jarang
Papil raksasa Tidak Tidak Ya Kadang Ya
Dermatitis atopik Tidak Tidak Kadang Hampir selalu Tidak
Risiko gangguan penglihatan Rendah Rendah Tinggi Sangat tinggi Rendah

Diagnosis

Diagnosis terutama ditegakkan berdasarkan:

  • Riwayat alergi
  • Mata gatal
  • Pemeriksaan mata
  • Pemeriksaan kelopak mata
  • Pemeriksaan slit lamp bila diperlukan
  • Pemeriksaan penunjang:
  • Skin prick test
  • Specific IgE serum
  • Konjungtiva eosinofil (jarang dilakukan)
  • Pemeriksaan mata oleh dokter mata pada kasus berat

Diagnosis Banding

Penyakit Pembeda utama
Konjungtivitis bakteri Sekret purulen
Konjungtivitis virus Adenopati preaurikular
Dry eye Mata kering dominan
Keratitis Nyeri berat
Abrasi kornea Riwayat trauma
Blefaritis Kelainan kelopak
Episcleritis Nyeri ringan tanpa gatal

Tata Laksana

Edukasi

  • Hindari mengucek mata
  • Hindari alergen
  • Kompres dingin
  • Cuci tangan

Terapi Farmakologis

Terapi Indikasi
Air mata buatan Ringan
Antihistamin topikal Ringan hingga sedang
Stabilizer sel mast Pencegahan
Kombinasi antihistamin dan stabilizer Pilihan utama
NSAID topikal Terbatas
Kortikosteroid topikal VKC atau AKC berat
Siklosporin tetes mata VKC kronis
Takrolimus topikal AKC berat

Kortikosteroid topikal hanya boleh diberikan di bawah pengawasan dokter mata karena dapat meningkatkan risiko glaukoma, katarak, dan infeksi sekunder.


Peran Imunoterapi

Imunoterapi alergen dapat dipertimbangkan pada pasien dengan:

  • rinitis alergi
  • konjungtivitis alergi persisten
  • sensitisasi IgE yang jelas
  • gejala tidak terkontrol dengan terapi standar

Imunoterapi dapat mengurangi gejala, penggunaan obat, dan memperbaiki kualitas hidup.


Pencegahan

  • Mengurangi paparan tungau debu
  • Menggunakan filter udara bila diperlukan
  • Menutup jendela saat musim serbuk sari
  • Menghindari asap rokok
  • Mengendalikan rinitis alergi
  • Mengobati penyakit alergi secara menyeluruh

Prognosis

  • SAC dan PAC umumnya memiliki prognosis sangat baik. Sebagian besar pasien dapat dikendalikan dengan penghindaran alergen dan terapi topikal.
  • VKC biasanya membaik setelah pubertas, sedangkan AKC merupakan penyakit kronis yang memerlukan pemantauan jangka panjang karena berisiko menyebabkan jaringan parut kornea dan penurunan tajam penglihatan.

Kesimpulan

Konjungtivitis alergi merupakan penyakit inflamasi mata yang sering dijumpai dan umumnya berkaitan dengan rinitis alergi. Mata gatal merupakan gejala paling khas dan harus membangkitkan kecurigaan terhadap alergi. Sebagian besar kasus bersifat ringan, namun VKC dan AKC dapat mengancam penglihatan apabila tidak dikenali sejak dini. Diagnosis terutama didasarkan pada anamnesis dan pemeriksaan klinis, sedangkan pemeriksaan alergi membantu mengidentifikasi alergen penyebab. Tata laksana meliputi penghindaran alergen, terapi topikal, serta imunoterapi pada pasien terpilih. Pendekatan multidisiplin antara dokter anak, ahli alergi-imunologi, dan dokter mata penting untuk memperoleh hasil terapi yang optimal.

Daftar Pustaka

  • Leonardi A, Silva D, Perez Formigo D, et al. Management of ocular allergy. Allergy. 2019;74(9):1611-1630.
  • Johansson SGO, Bieber T, Dahl R, et al. Revised nomenclature for allergy. Allergy. 2004;59(9):813-824.
  • Bousquet J, Schünemann HJ, Togias A, et al. Next-generation Allergic Rhinitis and Its Impact on Asthma (ARIA) guidelines for allergic rhinitis. J Allergy Clin Immunol. 2020;145(1):70-80.
  • Abelson MB, Shetty S, Korchak M, Butrus SI. Advances in pharmacotherapy for allergic conjunctivitis. Expert Opin Pharmacother. 2015;16(8):1219-1231.
  • Australasian Society of Clinical Immunology and Allergy (ASCIA). Allergic conjunctivitis clinical guideline. Updated 2024. Available at: https://www.allergy.org.au
  • Calderon MA, Penagos M, Sheikh A, et al. Sublingual immunotherapy for allergic conjunctivitis. Clin Exp Allergy. 2011;41(9):1263-1272.
Visited 3 times, 3 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *