ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Konstipasi Akibat Alergi Makanan pada Anak: Tinjauan Ilmiah Berdasarkan Position Paper EAACI 2024

Konstipasi Akibat Alergi Makanan pada Anak: Tinjauan Ilmiah Berdasarkan Position Paper EAACI 2024

Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Konstipasi merupakan salah satu gangguan saluran cerna yang paling sering ditemukan pada anak, dengan prevalensi global mencapai sekitar 32%. Sebagian besar kasus merupakan konstipasi fungsional, namun pada sebagian anak, terutama yang tidak membaik dengan terapi standar, alergi makanan dapat menjadi penyebab yang mendasari. Position Paper European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI) tahun 2024 menegaskan bahwa konstipasi dapat menjadi manifestasi alergi makanan non-IgE, terutama alergi protein susu sapi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa 28% hingga 78% anak dengan konstipasi yang terbukti berkaitan dengan alergi makanan mengalami perbaikan setelah eliminasi makanan penyebab. Diagnosis tetap memerlukan pendekatan sistematis melalui anamnesis, pemeriksaan klinis, terapi eliminasi terarah, dan konfirmasi menggunakan Open Oral Food Challenge (OFC). Artikel ini mengulas mekanisme, manifestasi klinis, diagnosis, dan tata laksana konstipasi akibat alergi makanan berdasarkan bukti ilmiah terbaru.

Konstipasi fungsional merupakan penyebab tersering kesulitan buang air besar pada anak dan umumnya didiagnosis menggunakan kriteria Rome IV. Sebagian besar kasus tidak berkaitan dengan kelainan anatomi maupun penyakit organik. Namun, tidak semua konstipasi pada anak bersifat fungsional. Pada sebagian pasien, terutama yang gagal membaik setelah terapi laksatif, latihan toilet, serta modifikasi pola makan, perlu dipertimbangkan kemungkinan alergi makanan sebagai penyebab yang mendasari.

Position Paper EAACI tahun 2024 menempatkan konstipasi sebagai salah satu manifestasi alergi makanan non-IgE yang sering terlewatkan. Berbeda dengan alergi IgE yang biasanya menimbulkan urtikaria atau anafilaksis segera setelah makan, alergi non-IgE menimbulkan inflamasi kronis pada saluran cerna sehingga gejalanya muncul perlahan dan sering menyerupai konstipasi fungsional.


Definisi

Konstipasi akibat alergi makanan merupakan gangguan buang air besar yang disebabkan oleh respons imun terhadap protein makanan, terutama melalui mekanisme non-IgE. Inflamasi mukosa usus menyebabkan gangguan motilitas kolon, nyeri saat defekasi, retensi feses, dan konstipasi kronis.

EAACI menekankan bahwa diagnosis ini terutama dipertimbangkan pada anak dengan konstipasi persisten yang tidak memberikan respons terhadap tata laksana standar.


Epidemiologi

Konstipasi merupakan salah satu gangguan saluran cerna yang paling sering dialami anak, dengan prevalensi global mencapai sekitar 32,2%. Sebagian besar kasus termasuk konstipasi fungsional, yaitu konstipasi yang tidak disebabkan oleh kelainan anatomi, gangguan hormonal, atau penyakit saraf. Pada umumnya, konstipasi fungsional dapat membaik dengan perubahan pola makan, peningkatan asupan cairan dan serat, latihan buang air besar yang teratur, serta pemberian laksatif bila diperlukan. Namun, terdapat sekelompok anak yang tetap mengalami konstipasi kronis meskipun telah mendapatkan terapi standar secara optimal. Pada kelompok inilah dokter perlu mempertimbangkan kemungkinan penyebab lain, termasuk alergi makanan, terutama alergi makanan non-IgE.

Bukti ilmiah dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa alergi makanan dapat berperan pada sebagian anak dengan konstipasi yang sulit diatasi. Position paper dari European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI) tahun 2024 menegaskan bahwa konstipasi dapat menjadi manifestasi alergi makanan non-IgE, terutama bila tidak membaik setelah penatalaksanaan standar. Penelitian di Nanjing Medical University yang melibatkan 301 anak dengan konstipasi fungsional menemukan bahwa sekitar 15% terbukti mengalami alergi makanan setelah evaluasi menyeluruh. Dari kelompok tersebut, sekitar 77,8% merupakan alergi makanan non-IgE, sedangkan sisanya merupakan kombinasi alergi IgE dan non-IgE. Makanan yang paling sering berperan adalah susu sapi, telur, ikan, dan udang. Temuan ini menunjukkan bahwa walaupun sebagian besar konstipasi pada anak bukan disebabkan oleh alergi makanan, kemungkinan tersebut perlu dipertimbangkan pada kasus yang menetap, sering kambuh, atau tidak memberikan respons terhadap terapi konvensional.

Mekanisme Terjadinya Konstipasi Akibat Alergi Makanan

Konstipasi akibat alergi makanan umumnya tidak terjadi melalui mekanisme alergi IgE yang menimbulkan reaksi cepat seperti bentol, gatal, atau sesak napas. Sebaliknya, sebagian besar kasus berkaitan dengan alergi makanan non-IgE yang berkembang secara perlahan melalui respons imun seluler. Setelah makanan pencetus dikonsumsi berulang kali, terjadi aktivasi limfosit T dan pelepasan berbagai sitokin proinflamasi yang memicu peradangan kronis ringan pada mukosa usus. Pada pemeriksaan jaringan usus beberapa penderita ditemukan peningkatan infiltrasi eosinofil, limfosit, dan sel inflamasi lainnya yang mengganggu fungsi normal dinding usus. Peradangan kronis ini tidak selalu menimbulkan diare, tetapi justru dapat menyebabkan gangguan pergerakan usus besar sehingga proses pengeluaran tinja menjadi lebih lambat.

Inflamasi tersebut juga dapat meningkatkan tonus sfingter ani dan menyebabkan proses relaksasi otot dasar panggul menjadi tidak optimal saat buang air besar. Akibatnya, anak merasakan nyeri ketika buang air besar, sering mengalami fisura ani, atau keluar tinja berukuran besar dan keras. Pengalaman buang air besar yang menyakitkan membuat anak secara refleks menahan keinginan untuk buang air besar. Semakin lama tinja berada di dalam usus besar, semakin banyak air yang diserap kembali sehingga tinja menjadi semakin keras, besar, dan sulit dikeluarkan. Terbentuklah suatu lingkaran setan berupa retensi tinja, nyeri, menahan buang air besar, dan konstipasi yang semakin berat.

Selain konstipasi, anak dengan alergi makanan non-IgE sering memiliki keluhan lain yang mendukung, seperti nyeri perut berulang, perut kembung, mual, muntah, refluks gastroesofageal, nafsu makan menurun, sulit makan, pertumbuhan berat badan yang kurang optimal, atau riwayat penyakit atopi seperti dermatitis atopik, rinitis alergi, dan asma. Karena gejalanya tidak spesifik, diagnosis tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan pemeriksaan IgE, skin prick test, atau pemeriksaan IgG makanan. Pada anak dengan konstipasi kronis yang tidak membaik dengan terapi standar dan memiliki riwayat alergi yang kuat, evaluasi klinis yang komprehensif, diikuti eliminasi makanan yang terarah serta konfirmasi menggunakan Open Oral Food Challenge bila diindikasikan, merupakan pendekatan yang saat ini direkomendasikan untuk memastikan apakah alergi makanan benar-benar menjadi penyebab konstipasi.

Manifestasi Klinis

Gejala tidak hanya berupa sulit buang air besar.

  • Keluhan yang sering ditemukan meliputi:
  • konstipasi kronis
  • BAB keras
  • nyeri saat BAB
  • fisura ani
  • nyeri perut berulang
  • perut kembung
  • nafsu makan menurun
  • muntah
  • gagal tumbuh pada sebagian kasus

Pada banyak anak ditemukan penyakit alergi lain seperti:

  • dermatitis atopik
  • rinitis alergi
  • asma
  • alergi saluran cerna
  • riwayat kolik saat bayi

Kapan Harus Mencurigai Alergi Makanan?

EAACI menganjurkan mempertimbangkan alergi makanan bila terdapat:

  • konstipasi tidak membaik setelah terapi standar
  • riwayat alergi pada anak atau keluarga
  • dermatitis atopik
  • rinitis alergi
  • asma
  • alergi makanan lain
  • kolik berat saat bayi
  • muntah kronis
  • gangguan makan
  • pertumbuhan terganggu

Tabel 1. Perbedaan Konstipasi Fungsional dan Konstipasi Akibat Alergi Makanan

Karakteristik Konstipasi Fungsional Konstipasi akibat Alergi Makanan
Penyebab Gangguan motilitas fungsional Inflamasi imun terhadap makanan
Respons terhadap laksatif Umumnya membaik Sering tidak memadai
Riwayat atopi Jarang Sering
Dermatitis atopik Tidak khas Sering
Rinitis alergi Tidak khas Sering
Asma Tidak khas Dapat ditemukan
Nyeri perut Kadang Sering
Fisura ani Dapat terjadi Sering
Hubungan dengan makanan Tidak jelas Dapat berhubungan
Membaik setelah eliminasi makanan Tidak Sering
OFC positif Tidak Ya

Diagnosis

  • Diagnosis dimulai dari anamnesis dan pemeriksaan fisik.
  • Rome IV tetap digunakan untuk menegakkan diagnosis konstipasi fungsional.
  • Namun pada konstipasi yang tidak membaik, perlu dievaluasi kemungkinan alergi makanan.

Pendekatan yang direkomendasikan EAACI meliputi:

  • anamnesis rinci
  • evaluasi penyakit atopi
  • eliminasi makanan yang dicurigai
  • observasi klinis
  • konfirmasi dengan Open Oral Food Challenge (OFC)
  • Pemeriksaan IgE spesifik dan skin prick test dapat membantu mendeteksi alergi IgE, tetapi sering negatif pada alergi non-IgE sehingga tidak dapat digunakan untuk menyingkirkan diagnosis.

Tabel 2. Peran Berbagai Pemeriksaan

Pemeriksaan Peran Keterbatasan
Anamnesis Sangat penting Membutuhkan riwayat yang rinci
Rome IV Menegakkan konstipasi fungsional Tidak menentukan penyebab
Skin prick test Mendeteksi alergi IgE Sering negatif pada non-IgE
Specific IgE Membantu alergi IgE Tidak menilai alergi non-IgE
Atopy Patch Test Pernah diteliti Belum direkomendasikan sebagai pemeriksaan rutin
IgG/IgG4 makanan Tidak direkomendasikan Tidak memiliki nilai diagnostik
Diet eliminasi Evaluasi klinis Harus terarah dan diawasi
Open Oral Food Challenge Baku emas Dilakukan di fasilitas yang memadai

Tata Laksana

  • Penatalaksanaan konstipasi pada anak harus dimulai dengan pendekatan yang telah terbukti efektif, yaitu edukasi kepada orang tua, perbaikan pola makan, peningkatan asupan cairan dan serat sesuai usia, pembiasaan buang air besar secara teratur (toilet training), serta pemberian laksatif bila diperlukan. Sebagian besar anak dengan konstipasi fungsional akan menunjukkan perbaikan dengan pendekatan ini. Oleh karena itu, sebelum mempertimbangkan penyebab lain, terapi standar harus diberikan secara optimal dalam waktu yang memadai. Selain mengatasi konstipasi, dokter juga perlu mengevaluasi faktor lain yang dapat memperberat keluhan, seperti kebiasaan menahan buang air besar, kurang aktivitas fisik, gangguan psikologis, maupun penyakit organik yang lebih jarang.
  • Pada anak yang tidak menunjukkan perbaikan meskipun telah mendapatkan terapi standar secara adekuat, terutama bila disertai riwayat penyakit atopi seperti dermatitis atopik, rinitis alergi, asma, alergi saluran cerna, refluks gastroesofageal, atau riwayat keluarga dengan penyakit alergi, kemungkinan alergi makanan non-IgE perlu dipertimbangkan. Berdasarkan Position Paper EAACI 2024, pada kondisi seperti ini dokter dapat melakukan eliminasi makanan yang dicurigai sebagai pencetus, terutama protein susu sapi atau makanan lain yang diduga berdasarkan riwayat klinis. Eliminasi dilakukan dalam jangka waktu terbatas, di bawah pengawasan dokter atau ahli gizi, untuk menilai apakah terdapat perbaikan gejala konstipasi maupun keluhan penyerta seperti nyeri perut, kembung, refluks, atau gangguan makan.
  • Bila selama periode eliminasi terjadi perbaikan klinis yang bermakna, diagnosis alergi makanan belum dapat ditegakkan hanya berdasarkan respons tersebut. Perbaikan setelah eliminasi hanya menunjukkan adanya dugaan hubungan antara makanan dan gejala, tetapi belum membuktikan bahwa makanan tersebut benar-benar menjadi penyebab. Banyak anak dapat membaik karena faktor lain, seperti terapi laksatif yang mulai bekerja, perubahan pola makan, atau perjalanan alami penyakit. Oleh karena itu, eliminasi makanan tidak boleh dijadikan dasar untuk melakukan pembatasan diet jangka panjang.
  • Konfirmasi diagnosis harus dilakukan menggunakan Open Oral Food Challenge (OFC), yang hingga saat ini merupakan baku emas atau gold standard dalam menegakkan diagnosis alergi makanan, baik alergi IgE maupun banyak bentuk alergi non-IgE. Pada prosedur ini, makanan yang sebelumnya dieliminasi diberikan kembali secara bertahap dalam pengawasan tenaga medis untuk menilai apakah gejala muncul kembali secara konsisten. Apabila konstipasi atau gejala lain kambuh setelah pajanan makanan dan kembali membaik setelah eliminasi, hubungan sebab akibat menjadi jauh lebih kuat sehingga diagnosis alergi makanan dapat ditegakkan dengan lebih akurat.
  • Sebaliknya, pemeriksaan alergi lain tidak dapat menggantikan peran OFC dalam memastikan diagnosis alergi makanan penyebab konstipasi. Skin prick test dan pemeriksaan serum specific IgE hanya mendeteksi sensitisasi yang dimediasi IgE, sedangkan sebagian besar konstipasi akibat alergi makanan merupakan alergi non-IgE sehingga hasil kedua pemeriksaan tersebut sering kali normal. Pemeriksaan IgG atau IgG4 terhadap makanan juga tidak direkomendasikan untuk menegakkan diagnosis alergi makanan karena hanya menunjukkan adanya paparan imunologis atau toleransi terhadap makanan, bukan reaksi alergi yang bermakna secara klinis. Berbagai pedoman internasional dari EAACI, WAO, AAAAI, dan NIAID tidak menganjurkan penggunaan pemeriksaan IgG atau IgG4 sebagai dasar diagnosis maupun penentuan diet eliminasi.
  • Pendekatan berbasis OFC membantu mencegah overdiagnosis alergi makanan sekaligus menghindari pembatasan makanan yang tidak diperlukan. Eliminasi makanan tanpa konfirmasi dapat menyebabkan anak menjalani diet yang terlalu ketat, meningkatkan risiko kekurangan energi, protein, kalsium, vitamin D, zat besi, dan berbagai mikronutrien penting yang dibutuhkan untuk pertumbuhan. Selain berdampak pada status gizi, pembatasan makanan yang tidak tepat juga dapat menurunkan kualitas hidup anak dan keluarganya. Oleh karena itu, keputusan melakukan eliminasi jangka panjang sebaiknya hanya diberikan kepada anak yang telah memiliki diagnosis alergi makanan yang terkonfirmasi melalui evaluasi klinis yang menyeluruh dan Open Oral Food Challenge sesuai indikasi.

Tabel 3. Rekomendasi EAACI 2024

Situasi Klinis Rekomendasi
Konstipasi baru Tata laksana standar
Tidak membaik setelah terapi optimal Evaluasi kemungkinan alergi makanan
Ada dermatitis atopik, rinitis, asma Tingkatkan kecurigaan klinis
Eliminasi makanan Hanya bila ada indikasi klinis
OFC Konfirmasi diagnosis sebelum eliminasi jangka panjang
IgG/IgG4 makanan Tidak direkomendasikan

Kesimpulan

Sebagian besar konstipasi pada anak merupakan konstipasi fungsional. Namun, pada anak yang tidak membaik setelah tata laksana standar, terutama bila disertai dermatitis atopik, rinitis alergi, asma, kolik saat bayi, atau manifestasi alergi lainnya, alergi makanan non-IgE perlu dipertimbangkan sebagai diagnosis banding. Position Paper EAACI 2024 menegaskan bahwa konstipasi merupakan salah satu manifestasi alergi makanan yang penting tetapi sering tidak dikenali. Diagnosis harus ditegakkan melalui pendekatan klinis yang sistematis dengan eliminasi makanan terarah dan konfirmasi menggunakan Open Oral Food Challenge sebagai baku emas, sehingga terapi dapat diberikan secara tepat tanpa pembatasan makanan yang tidak diperlukan.

Daftar Pustaka

  • Meyer R, Vandenplas Y, Chebar Lozinsky A, Vieira MC, Berni Canani R, du Toit G, et al. Diagnosis and management of food allergy-induced constipation in young children: An EAACI position paper. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(6):e14163. doi:10.1111/pai.14163.
  • Sissoko NDN, Chen W, Wang C, Wu Y, Zheng X, Dong X, et al. Associations between functional constipation and non-IgE-mediated food allergy in infants and children. Allergol Immunopathol (Madr). 2023;51(3):163-173. doi:10.15586/aei.v51i3.738.
  • Syrigou EI, Pitsios C, Panagiotou I, Chouliaras G, Kitsiou S, Kanariou M, et al. Food allergy-related paediatric constipation: The usefulness of atopy patch test. Eur J Pediatr. 2011;170(9):1173-1178. doi:10.1007/s00431-011-1417-6.
  • Scaillon M, Cadranel S. Food allergy and constipation in childhood: How functional is it? Eur J Gastroenterol Hepatol. 2006;18(2):125-128. doi:10.1097/00042737-200602000-00002.
Visited 1 times, 1 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *