KONSULTASI ALERGI: Anakku Konstipasi Tak Kunjung Sembuh? Katanya Kurang Serat, Kurang Air Putih. Apakah Benar Berkaitan Dengan Alergi Makanan
Pertanyaan
Dok, anak saya sekarang berusia 4 tahun dan sejak bayi sudah mengalami sembelit. Buang air besarnya sangat sulit, kadang sampai 5 sampai 7 hari tidak BAB. Kalau akhirnya BAB, tinjanya sangat keras, anak harus mengejan kuat, sering menangis karena kesakitan, bahkan kadang muncul luka di sekitar anus. Berat badannya juga sulit naik meskipun saya sudah berusaha memberikan makanan bergizi. Anak juga sulit makan, sering flu berulang, dan sejak kecil sering pilek. Saya sudah membawa anak ke banyak dokter, termasuk dokter spesialis anak, dokter konsultan gastroenterologi, bahkan pernah berobat ke rumah sakit di Penang. Hampir semua mengatakan anak saya kurang makan sayur, kurang buah, kurang minum air putih, lalu diberi obat pencahar. Memang kadang membaik sebentar, tetapi setelah obat dihentikan sembelitnya kambuh lagi. Saya mulai bertanya-tanya apakah ada penyebab lain yang belum diketahui. Saya membaca bahwa alergi makanan dapat menyebabkan konstipasi pada anak. Apakah benar alergi makanan bisa menjadi penyebab sembelit yang berkepanjangan? Bagaimana cara memastikan diagnosisnya, dan apa solusi yang paling tepat agar anak saya bisa sembuh tanpa harus terus bergantung pada obat pencahar?
Jawaban, dr Widodo Judarwanto, pediatrician
Keluhan yang Anda sampaikan memang sering dialami oleh banyak orang tua. Sebagian besar anak yang mengalami konstipasi memang hanya mengalami konstipasi fungsional, yaitu gangguan fungsi usus tanpa adanya penyakit tertentu. Penyebab tersering adalah kebiasaan menahan BAB, kurang serat, kurang cairan, atau pengalaman BAB yang nyeri sehingga anak takut buang air besar. Pada kondisi ini, pengobatan berupa perbaikan pola makan, latihan toilet, perubahan perilaku, dan obat pencahar biasanya memberikan hasil yang baik. Namun, bila konstipasi berlangsung bertahun-tahun, sering kambuh setelah obat dihentikan, atau tidak membaik meskipun terapi sudah diberikan dengan benar, dokter perlu mencari kemungkinan penyebab lain.
Salah satu penyebab yang kini semakin banyak mendapat perhatian adalah alergi makanan, terutama alergi makanan non-IgE. Berbeda dengan alergi yang langsung menyebabkan bentol, gatal, atau sesak napas, alergi non-IgE bekerja lebih lambat. Reaksi imun menyebabkan peradangan ringan tetapi menetap pada saluran cerna. Peradangan ini dapat mengganggu gerakan usus besar sehingga tinja menjadi lebih keras dan lebih lama berada di dalam usus. Selain itu, peradangan di daerah rektum dapat membuat proses buang air besar terasa nyeri. Anak kemudian menahan BAB karena takut sakit, sehingga tinja semakin keras dan konstipasi menjadi semakin berat. Terbentuklah lingkaran yang terus berulang apabila penyebab dasarnya tidak dikenali.
Riwayat anak Anda justru memberikan beberapa petunjuk yang patut dievaluasi lebih lanjut. Konstipasi sejak bayi, berat badan yang sulit naik, sulit makan, serta infeksi saluran napas atau flu yang berulang dapat menjadi bagian dari gambaran penyakit alergi pada sebagian anak. Bila disertai riwayat kolik saat bayi, muntah atau refluks, dermatitis atopik, rinitis alergi, asma, atau anggota keluarga yang memiliki penyakit alergi, maka kemungkinan alergi makanan semakin layak dipertimbangkan. Hal ini bukan berarti semua anak dengan konstipasi mengalami alergi makanan, tetapi pada kasus yang menetap dan tidak membaik dengan terapi standar, kemungkinan tersebut memang perlu dievaluasi.
Penelitian terbaru mendukung pendekatan tersebut. Position paper European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI) tahun 2024 menyatakan bahwa alergi makanan perlu dipikirkan pada anak dengan konstipasi yang tidak membaik setelah terapi standar. Berbagai penelitian menunjukkan sekitar 28 hingga 78 persen anak dengan konstipasi akibat alergi makanan mengalami perbaikan setelah makanan pencetus dihilangkan secara terarah. Penelitian lain menunjukkan bahwa sekitar 15 persen anak dengan konstipasi fungsional ternyata mengalami alergi makanan, dan sebagian besar merupakan alergi non-IgE. Makanan yang paling sering menjadi pencetus adalah susu sapi, telur, ikan, dan udang, meskipun setiap anak dapat memiliki pencetus yang berbeda.
Yang perlu dipahami, diagnosis alergi makanan tidak dapat ditegakkan hanya dengan tes darah, skin prick test, atau pemeriksaan IgG maupun IgG4 makanan. Pada alergi non-IgE, hasil skin prick test dan specific IgE sering kali normal. Pemeriksaan IgG atau IgG4 juga tidak dianjurkan untuk mendiagnosis alergi makanan karena hanya menunjukkan bahwa tubuh pernah terpapar makanan tersebut, bukan bahwa makanan itu menjadi penyebab penyakit. Bila berdasarkan riwayat dan pemeriksaan dokter terdapat kecurigaan kuat terhadap alergi makanan, biasanya dilakukan eliminasi makanan yang dicurigai dalam pengawasan dokter. Apabila gejala membaik, diagnosis masih harus dipastikan dengan Open Oral Food Challenge (OFC), yang hingga saat ini merupakan baku emas untuk memastikan hubungan antara makanan dan gejala. Pendekatan ini penting agar anak tidak menjalani pantangan makanan yang sebenarnya tidak diperlukan.
Solusi terbaik bukanlah terus mengganti obat pencahar atau langsung menghentikan berbagai jenis makanan tanpa kepastian diagnosis. Anak perlu dievaluasi secara menyeluruh, meliputi pola pertumbuhan, riwayat sejak bayi, pola buang air besar, riwayat alergi pribadi maupun keluarga, serta kemungkinan penyakit lain yang dapat menyebabkan konstipasi. Bila terdapat kecurigaan alergi makanan, eliminasi makanan dilakukan secara terarah dan dikonfirmasi dengan OFC sesuai indikasi. Dengan mengetahui penyebab yang sebenarnya, terapi dapat diberikan secara lebih tepat. Tujuannya bukan hanya membuat anak lebih mudah buang air besar, tetapi juga memperbaiki nafsu makan, mengurangi nyeri perut, mendukung kenaikan berat badan, serta meningkatkan kualitas hidup anak dan keluarganya.
Daftar Pustaka
- Meyer R, Vandenplas Y, Chebar Lozinsky A, Vieira MC, Berni Canani R, du Toit G, et al. Diagnosis and management of food allergy-induced constipation in young children: An EAACI position paper. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(6):e14163. doi:10.1111/pai.14163.
- Sissoko NDN, Chen W, Wang C, Wu Y, Zheng X, Dong X, et al. Associations between functional constipation and non-IgE-mediated food allergy in infants and children. Allergol Immunopathol (Madr). 2023;51(3):163-173. doi:10.15586/aei.v51i3.738.
- Syrigou EI, Pitsios C, Panagiotou I, Chouliaras G, Kitsiou S, Kanariou M, et al. Food allergy-related paediatric constipation: The usefulness of atopy patch test. Eur J Pediatr. 2011;170(9):1173-1178. doi:10.1007/s00431-011-1417-6.
- Scaillon M, Cadranel S. Food allergy and constipation in childhood: How functional is it? Eur J Gastroenterol Hepatol. 2006;18(2):125-128. doi:10.1097/00042737-200602000-00002.












Leave a Reply