ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Alergi Makanan pada Anak dengan Autisme: Apakah Dapat Menyebabkan Gangguan Saluran Cerna dan Memperberat Perilaku?

 

Alergi Makanan pada Anak dengan Autisme: Apakah Dapat Menyebabkan Gangguan Saluran Cerna dan Memperberat Perilaku?

Tanya

Dok, anak saya laki-laki berusia 4 tahun telah didiagnosis mengalami Gangguan Spektrum Autisme (Autism Spectrum Disorder/ASD). Selain menjalani terapi, hampir setiap hari ia mengalami gangguan saluran cerna berupa sulit makan, sembelit berulang, perut sering kembung, kadang muntah atau seperti makanan naik kembali ke tenggorokan, serta berat badan sulit bertambah. Ketika keluhan saluran cerna tersebut muncul, perilakunya juga berubah menjadi lebih gelisah, mudah marah, sulit tidur, lebih hiperaktif, sulit berkonsentrasi saat terapi, bahkan kadang memukul kepala atau menggigit tangannya sendiri. Saya juga memperhatikan bahwa keluhan tersebut tampak lebih berat setelah mengonsumsi makanan tertentu. Apakah alergi makanan dapat menjadi penyebab gangguan saluran cerna pada anak autisme dan ikut memperburuk perilakunya? Bagaimana dokter memastikan bahwa keluhan tersebut benar-benar disebabkan oleh alergi makanan, bukan hanya gangguan saluran cerna fungsional atau bagian dari autisme itu sendiri?

Jawab. Dr Widodo Judarwanto, pediatrician

Alergi makanan merupakan salah satu penyakit organik yang harus dipertimbangkan pada anak dengan Gangguan Spektrum Autisme (ASD) yang mengalami gangguan saluran cerna kronis atau berulang. Meskipun autisme bukan disebabkan oleh alergi makanan, berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian anak dengan ASD juga dapat mengalami alergi makanan sebagaimana anak pada populasi umum. Bila alergi makanan memang ada, proses inflamasi yang terjadi di saluran cerna dapat menimbulkan berbagai keluhan gastrointestinal dan secara tidak langsung memperburuk perilaku, kualitas tidur, maupun kemampuan anak mengikuti terapi.

Pada anak, terutama bayi dan balita, alergi makanan tidak selalu menimbulkan ruam kulit atau sesak napas. Sebagian besar kasus, terutama alergi makanan non-IgE, justru bermanifestasi sebagai gangguan saluran cerna, seperti sulit makan, muntah berulang, refluks gastroesofageal, sembelit kronis, diare, perut kembung, nyeri perut, pertumbuhan yang kurang baik, hingga gangguan makan (feeding disorder). Karena gejalanya tidak khas, kondisi ini sering disalahartikan sebagai konstipasi biasa, gangguan pencernaan fungsional, atau bahkan dianggap sebagai bagian dari autisme.

Secara patofisiologis, paparan protein makanan yang menjadi alergen dapat mengaktifkan sistem imun mukosa usus melalui mekanisme yang diperantarai IgE maupun non-IgE. Aktivasi sel mast, eosinofil, limfosit T, serta pelepasan berbagai sitokin proinflamasi menyebabkan gangguan fungsi sawar mukosa usus (epithelial barrier dysfunction), peningkatan permeabilitas usus, gangguan motilitas saluran cerna, dan inflamasi derajat rendah. Perubahan tersebut memicu timbulnya gejala gastrointestinal yang dapat berlangsung kronis apabila makanan pencetus terus dikonsumsi.

Peradangan dan gangguan fungsi saluran cerna akibat alergi makanan juga dapat memengaruhi gut–brain axis, yaitu sistem komunikasi dua arah antara saluran cerna dan otak melalui sistem saraf enterik, saraf vagus, sistem imun, hormon, dan mikrobiota usus. Pada anak autisme, yang sering memiliki kesulitan mengungkapkan rasa nyeri atau tidak nyaman, keluhan saluran cerna sering bermanifestasi sebagai perubahan perilaku, seperti mudah marah, gelisah, hiperaktif, gangguan tidur, penurunan konsentrasi, agresivitas, hingga perilaku melukai diri sendiri (self-injurious behavior). Oleh karena itu, perubahan perilaku yang muncul bersamaan dengan gangguan saluran cerna sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai perburukan autisme.

Namun demikian, tidak semua gangguan saluran cerna pada anak autisme disebabkan oleh alergi makanan. Penyebab lain yang jauh lebih sering dijumpai antara lain konstipasi fungsional, Disorders of Gut–Brain Interaction (DGBI), refluks gastroesofageal, intoleransi makanan, gangguan makan selektif (food selectivity), efek samping obat, maupun pola makan yang rendah serat dan cairan. Oleh sebab itu, alergi makanan hanya dapat ditegakkan setelah dilakukan evaluasi klinis yang sistematis dan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain yang lebih sesuai.

Diagnosis alergi makanan tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan hasil tes IgE spesifik atau uji tusuk kulit (skin prick test). Pemeriksaan tersebut hanya mendeteksi proses sensitisasi dan terutama bermanfaat pada alergi yang diperantarai IgE. Pada alergi makanan non-IgE, yang justru sering menimbulkan keluhan saluran cerna kronis, hasil tes alergi sering kali normal meskipun anak benar-benar mengalami alergi makanan. Oleh karena itu, hasil pemeriksaan laboratorium harus selalu diinterpretasikan bersama riwayat klinis dan perjalanan penyakit.

Bila terdapat kecurigaan klinis yang kuat, pendekatan yang direkomendasikan oleh berbagai pedoman internasional adalah diet eliminasi terarah terhadap makanan yang dicurigai selama waktu yang sesuai, kemudian dilanjutkan dengan Oral Food Challenge (OFC) di bawah pengawasan tenaga medis yang berpengalaman. OFC merupakan baku emas (gold standard) untuk membuktikan hubungan sebab-akibat antara konsumsi suatu makanan dengan timbulnya gejala. Tanpa OFC, banyak anak berisiko didiagnosis alergi makanan secara keliru sehingga menjalani pembatasan diet yang sebenarnya tidak diperlukan.

Diet eliminasi yang dilakukan tanpa diagnosis yang benar justru dapat menimbulkan dampak negatif. Anak dengan autisme sering mengalami keterbatasan pilihan makanan sehingga berisiko mengalami kekurangan energi, protein, zat besi, kalsium, vitamin D, maupun mikronutrien lainnya. Pembatasan makanan yang tidak tepat juga dapat memperburuk gangguan makan, menghambat pertumbuhan, dan meningkatkan beban psikologis keluarga. Oleh karena itu, setiap keputusan untuk menghindari suatu makanan harus didasarkan pada bukti klinis dan dilakukan dengan pemantauan status gizi secara berkala.

Kesimpulannya, alergi makanan merupakan salah satu penyebab organik yang penting untuk dipertimbangkan pada anak autisme yang mengalami gangguan saluran cerna kronis atau berulang. Melalui proses inflamasi mukosa usus dan gangguan gut–brain axis, alergi makanan dapat memperberat ketidaknyamanan fisik yang kemudian berdampak pada perubahan perilaku. Namun, alergi makanan bukan penyebab autisme dan tidak semua gangguan perilaku pada anak ASD disebabkan oleh alergi. Diagnosis harus ditegakkan berdasarkan anamnesis yang cermat, evaluasi klinis menyeluruh, diet eliminasi yang terarah, serta konfirmasi dengan Oral Food Challenge agar penatalaksanaan yang diberikan benar-benar tepat dan berbasis bukti ilmiah.

 

Perbedaan Gangguan Saluran Cerna pada Anak Autisme

Kondisi Apakah Dapat Menyebabkan Perubahan Perilaku? Apakah Semua Anak Autisme Mengalaminya? Cara Memastikan Diagnosis
Konstipasi (sembelit) Ya, sangat sering Tidak Anamnesis, pemeriksaan fisik
Refluks gastroesofageal Ya Tidak Evaluasi klinis, pemeriksaan bila diperlukan
Disorders of Gut–Brain Interaction (DGBI) Ya Tidak Berdasarkan kriteria klinis Rome
Alergi makanan Dapat terjadi pada sebagian anak Tidak Riwayat klinis, diet eliminasi terarah, Oral Food Challenge (OFC) bila diindikasikan
Intoleransi makanan Ya Tidak Evaluasi klinis dan uji eliminasi sesuai indikasi
Pola makan sangat terbatas (food selectivity) Ya Sangat sering Anamnesis dan evaluasi nutrisi

Daftar Pustaka

  • Hyman SL, Levy SE, Myers SM, et al. Identification, Evaluation, and Management of Children With Autism Spectrum Disorder. Pediatrics. 2020;145(1).
  • Buie T, Campbell DB, Fuchs GJ III, et al. Evaluation, Diagnosis, and Treatment of Gastrointestinal Disorders in Individuals With ASD: A Consensus Report. Pediatrics. 2010;125(Suppl 1)–S18.
Visited 15 times, 11 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *