ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Alergi Makanan di Dunia: Ancaman yang Meningkat dan Pentingnya Pencegahan Sejak Dini

Alergi Makanan di Dunia: Ancaman yang Meningkat dan Pentingnya Pencegahan Sejak Dini

Alergi makanan menjadi persoalan kesehatan yang semakin mendapat perhatian di berbagai negara. Dalam ulasan yang diterbitkan di Journal of Allergy and Clinical Immunology pada Desember 2021, Vanitha Sampath dan sejumlah peneliti internasional melaporkan bahwa prevalensi alergi makanan meningkat di beberapa wilayah dunia. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan reaksi setelah mengonsumsi makanan tertentu, tetapi juga menjadi tantangan dalam pencegahan, diagnosis, dan pengobatan. Para peneliti menilai diperlukan strategi yang lebih baik untuk menghadapi permasalahan alergi makanan secara global.

Alergi makanan terjadi ketika sistem kekebalan tubuh memberikan respons terhadap komponen makanan yang sebenarnya tidak berbahaya bagi sebagian besar orang. Reaksi dapat muncul setelah seseorang mengonsumsi makanan pemicu dan tingkat keparahannya dapat berbeda-beda. Karena itu, alergi makanan menjadi persoalan yang membutuhkan perhatian, terutama pada anak-anak. Penanganan tidak cukup hanya dengan mengetahui makanan pemicu, tetapi juga memerlukan diagnosis yang tepat dan strategi pencegahan yang sesuai.

Menurut ulasan tersebut, pemahaman mengenai penyebab dan mekanisme alergi makanan telah berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir. Perkembangan ilmu tersebut kemudian mendorong perubahan dalam berbagai pedoman pencegahan alergi. Pandangan lama yang menganjurkan ibu menghindari makanan tertentu selama kehamilan dan menyusui, serta menunda pemberian makanan yang berpotensi menyebabkan alergi kepada anak, mulai ditinggalkan dalam pedoman yang lebih baru.

Pedoman terbaru yang dibahas dalam artikel tersebut justru menekankan pentingnya pola makan yang sehat dan beragam selama kehamilan dan menyusui. Ibu tidak dianjurkan menghilangkan makanan pemicu alergi secara rutin hanya untuk mencegah alergi pada anak, kecuali memang terdapat alasan medis. Dengan demikian, pencegahan alergi tidak lagi berfokus pada menghindari sebanyak mungkin jenis makanan, melainkan pada pola makan yang sehat dan seimbang.

Perubahan pandangan juga terlihat pada pemberian makanan kepada bayi. Sejumlah pedoman pencegahan alergi yang lebih baru menganjurkan pengenalan makanan yang berpotensi menyebabkan alergi pada usia yang lebih dini, setelah periode pemberian ASI eksklusif. Ulasan Sampath dkk. menyebutkan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai ASI eksklusif selama enam bulan, sementara European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI) menggunakan periode sekitar empat bulan dalam konteks rekomendasi pengenalan makanan alergen. Waktu dan cara pemberian tetap perlu mempertimbangkan kondisi setiap anak.

Temuan tersebut menunjukkan perubahan penting dalam pendekatan pencegahan alergi makanan. Jika sebelumnya orang tua banyak menerima anjuran untuk menunda pemberian makanan tertentu, perkembangan penelitian kemudian menunjukkan perlunya mempertimbangkan pengenalan makanan alergen secara tepat pada masa awal kehidupan. Namun, hal ini bukan berarti semua bayi harus diberikan makanan tertentu tanpa pertimbangan. Bayi dengan kondisi khusus atau risiko tertentu tetap memerlukan pertimbangan tenaga kesehatan.

Tantangan lain yang disoroti dalam laporan tersebut adalah diagnosis. Berbagai metode diagnosis alergi makanan telah dikembangkan, tetapi ketersediaannya berbeda antara satu negara dan negara lainnya. Perbedaan fasilitas kesehatan, sumber daya, serta akses terhadap pemeriksaan membuat pengalaman diagnosis alergi makanan tidak sama di seluruh dunia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi medis belum selalu dapat dinikmati secara merata oleh semua masyarakat.

Di sisi pengobatan, perkembangan juga mulai terlihat. Ulasan tersebut mencatat bahwa pada 2020, terapi imunoterapi oral untuk alergi makanan menjadi salah satu tonggak penting setelah obat pertama untuk kondisi tersebut memperoleh persetujuan dari U.S. Food and Drug Administration (FDA) dan European Medicines Agency (EMA). Imunoterapi oral pada dasarnya merupakan pendekatan yang menggunakan paparan makanan dalam jumlah terkontrol untuk membantu meningkatkan toleransi terhadap alergen tertentu. Terapi ini bukan berarti alergi dapat diobati sendiri di rumah dan penggunaannya memerlukan pengawasan medis.

Para peneliti juga menekankan bahwa pedoman alergi makanan di berbagai negara tidak selalu identik. Perbedaan tersebut dapat terlihat pada waktu pengenalan makanan alergen, metode diagnosis, maupun pendekatan pengobatan. Perbedaan rekomendasi dapat dipengaruhi oleh bukti ilmiah yang tersedia, karakteristik populasi, sistem pelayanan kesehatan, dan akses terhadap fasilitas medis. Karena itu, penerapan rekomendasi perlu memperhatikan konteks masing-masing negara dan kondisi individu.

Ulasan Food allergy across the globe memperlihatkan bahwa alergi makanan merupakan masalah kesehatan dengan dimensi global yang terus berkembang. Kemajuan penelitian telah mengubah sejumlah pendekatan lama, terutama terkait pola makan ibu, pemberian makanan pada bayi, diagnosis, dan terapi. Bagi keluarga, pesan pentingnya adalah bahwa pencegahan alergi sebaiknya dilakukan berdasarkan bukti ilmiah dan kondisi anak, bukan dengan menghilangkan banyak jenis makanan tanpa alasan medis. Pada akhirnya, peningkatan pengetahuan masyarakat, akses terhadap diagnosis yang tepat, serta penerapan pedoman yang sesuai menjadi bagian penting dalam menghadapi alergi makanan di berbagai belahan dunia.

Sumber utama:

  • Sampath V, Abrams EA, Adlou B, et al. Food allergy across the globe. Journal of Allergy and Clinical Immunology. 2021;148(6):1347–1364. DOI: 10.1016/j.jaci.2021.10.018. PMID: 34872649.
Visited 2 times, 2 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *