ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

Hipersensitivitas Makanan: Membedakan Alergi dan Intoleransi serta Mengenali Gejalanya

Hipersensitivitas Makanan: Membedakan Alergi dan Intoleransi serta Mengenali Gejalanya

Hipersensitivitas makanan menjadi persoalan kesehatan yang masih kurang mendapat perhatian, meskipun dapat dialami oleh masyarakat di berbagai belahan dunia. Dalam artikel tinjauan naratif yang diterbitkan di Nutrients pada April 2025, Gregory Hage dan sejumlah peneliti membahas perbedaan antara alergi makanan dan intoleransi makanan, termasuk karakteristik, mekanisme, gejala, diagnosis, serta penanganannya. Kajian tersebut menekankan bahwa reaksi terhadap makanan tidak selalu disebabkan oleh alergi. Sebagian reaksi terjadi karena sistem kekebalan tubuh, sementara sebagian lainnya muncul akibat tubuh tidak dapat mencerna komponen makanan tertentu dengan baik.

Hipersensitivitas makanan merupakan istilah yang mencakup berbagai reaksi yang tidak diinginkan setelah seseorang mengonsumsi makanan atau komponen tertentu. Kondisi tersebut dapat menimbulkan gejala ringan hingga reaksi yang mengancam jiwa. Dalam kajian Hage dkk., hipersensitivitas makanan mencakup alergi makanan yang berhubungan dengan respons imun serta intoleransi makanan yang tidak melibatkan mekanisme imun. Perbedaan mekanisme ini menjadi salah satu hal penting yang perlu dipahami karena dapat memengaruhi cara diagnosis dan penanganannya.

Alergi makanan merupakan salah satu bentuk hipersensitivitas yang melibatkan sistem kekebalan tubuh. Respons tersebut umumnya diarahkan terhadap protein makanan dan dapat dibedakan menjadi reaksi yang diperantarai imunoglobulin E atau IgE dan reaksi non-IgE. Pada reaksi alergi, tubuh mengenali komponen makanan tertentu sebagai ancaman sehingga memicu respons imun. Manifestasinya dapat berbeda pada setiap individu dan tingkat keparahannya juga tidak selalu sama.

Berbeda dengan alergi, intoleransi makanan merupakan reaksi yang tidak disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh. Salah satu contohnya adalah intoleransi laktosa, ketika tubuh kekurangan enzim laktase yang diperlukan untuk mencerna laktosa. Akibatnya, konsumsi produk yang mengandung laktosa dapat menyebabkan gangguan pencernaan pada orang yang intoleran. Kondisi ini berbeda secara mekanisme dari alergi susu sapi sehingga keduanya tidak seharusnya dianggap sebagai penyakit yang sama.

Gejala hipersensitivitas makanan dapat muncul pada berbagai sistem tubuh. Pada kulit, reaksi dapat berupa ruam, dermatitis, kemerahan, atau angioedema. Pada saluran pencernaan, keluhan yang dilaporkan antara lain kembung, diare, sembelit, produksi gas berlebih, dan refluks. Pada kondisi tertentu, gangguan pencernaan juga dapat berkaitan dengan masalah penyerapan zat gizi makro maupun mikro.

Saluran pernapasan juga dapat mengalami manifestasi akibat hipersensitivitas makanan, terutama pada reaksi alergi yang berat. Gejala yang dapat muncul antara lain hidung tersumbat, pilek, bersin, rasa gatal pada hidung atau tenggorokan, batuk, sesak napas, dan mengi. Dalam reaksi alergi yang sangat berat, seseorang dapat mengalami anafilaksis yang membutuhkan penanganan medis segera. Karena itu, reaksi makanan yang menyebabkan gangguan pernapasan atau gejala berat tidak boleh dianggap sebagai sekadar masalah pencernaan biasa.

Kajian tersebut menyebutkan bahwa prevalensi alergi makanan diperkirakan berada pada kisaran 2–10% populasi, meskipun angkanya dapat berbeda berdasarkan wilayah dan kelompok usia. Pada anak-anak, alergi makanan yang diperantarai IgE dilaporkan lebih umum, sedangkan hipersensitivitas non-IgE dan intoleransi lebih sering ditemukan pada orang dewasa. Perbedaan berdasarkan usia ini menunjukkan bahwa hipersensitivitas makanan merupakan kondisi yang kompleks dan tidak dapat dijelaskan dengan satu mekanisme saja.

Intoleransi laktosa menjadi salah satu contoh yang banyak ditemukan di dunia. Kajian tersebut menyebutkan bahwa lebih dari 65% populasi global mengalami intoleransi laktosa yang berkaitan dengan kekurangan enzim laktase. Namun, angka tersebut tidak berarti semua orang akan mengalami gejala dengan tingkat yang sama setelah mengonsumsi produk susu. Jumlah laktosa yang dikonsumsi, kemampuan tubuh mencerna laktosa, serta faktor individu lainnya dapat memengaruhi munculnya keluhan.

Selain intoleransi laktosa, sensitivitas terhadap gluten non-celiac juga menjadi perhatian dalam penelitian. Kondisi tersebut berbeda dari penyakit celiac dan alergi gandum, meskipun gejalanya dapat memiliki kemiripan. Hage dkk. mencatat bahwa sensitivitas gluten non-celiac telah semakin dikenal sebagai kondisi tersendiri, tetapi mekanisme yang mendasarinya masih terus diteliti. Hal ini menunjukkan bahwa keluhan setelah mengonsumsi makanan tertentu tidak selalu dapat langsung dikategorikan sebagai alergi.

Makanan yang sering dilaporkan sebagai pemicu reaksi hipersensitivitas dalam kajian tersebut antara lain susu sapi, gluten, telur, kacang-kacangan, dan makanan laut. Namun, keberadaan makanan tersebut dalam daftar pemicu tidak berarti setiap orang harus menghindarinya. Jenis makanan yang menimbulkan reaksi serta tingkat keparahannya berbeda pada setiap individu. Penghindaran makanan tanpa dasar diagnosis juga dapat menyebabkan pembatasan pola makan yang tidak diperlukan dan berpotensi memengaruhi kecukupan gizi.

Tabel Perbedaan Alergi Makanan dan Intoleransi Makanan

Aspek Alergi Makanan Intoleransi Makanan
Pengertian Reaksi tubuh terhadap makanan yang melibatkan sistem kekebalan tubuh Reaksi terhadap makanan yang tidak melibatkan sistem kekebalan tubuh
Mekanisme Dapat diperantarai IgE atau mekanisme non-IgE Umumnya berkaitan dengan gangguan pencernaan atau ketidakmampuan tubuh memproses komponen makanan tertentu
Pemicu Protein makanan tertentu Komponen makanan tertentu, misalnya laktosa
Contoh Alergi susu sapi, telur, kacang, ikan, dan makanan laut Intoleransi laktosa dan sensitivitas gluten non-celiac
Gejala kulit Ruam, dermatitis, gatal, dan angioedema Biasanya bukan gejala utama
Gejala pencernaan Dapat berupa nyeri perut, muntah, diare, atau gejala lainnya Kembung, gas, diare, sembelit, dan rasa tidak nyaman pada perut
Gejala pernapasan Hidung tersumbat, pilek, bersin, batuk, mengi, hingga sesak Umumnya tidak menjadi gejala utama
Reaksi berat Dapat menyebabkan anafilaksis yang mengancam jiwa Umumnya menyebabkan gangguan pencernaan dan tidak berupa anafilaksis
Diagnosis Memerlukan evaluasi medis dan pemeriksaan alergi yang sesuai Berdasarkan riwayat gejala, pola konsumsi, dan pemeriksaan yang relevan
Penanganan Menghindari alergen yang terbukti memicu reaksi dan penanganan medis sesuai tingkat keparahan Mengurangi atau menghindari komponen makanan yang tidak dapat ditoleransi sesuai kebutuhan
Dampak terhadap gizi Penghindaran makanan perlu direncanakan agar kebutuhan zat gizi tetap terpenuhi Pembatasan makanan juga perlu dilakukan secara tepat agar tidak menyebabkan kekurangan zat gizi
Pentingnya diagnosis Penting untuk mencegah reaksi alergi berulang dan reaksi berat Penting agar seseorang tidak melakukan pembatasan makanan yang sebenarnya tidak diperlukan

Tabel Contoh Makanan yang Sering Dikaitkan dengan Hipersensitivitas

Makanan/Komponen Kondisi yang Dapat Berkaitan Contoh Gejala
Susu sapi Alergi susu atau intoleransi laktosa Ruam, muntah, diare, kembung
Telur Alergi telur Ruam, gatal, muntah, gangguan pernapasan
Kacang-kacangan Alergi kacang Gatal, bengkak, muntah, sesak, anafilaksis
Makanan laut Alergi makanan laut Gatal, ruam, bengkak, gangguan pernapasan
Gluten/gandum Sensitivitas gluten non-celiac atau kondisi terkait lainnya Kembung, nyeri perut, diare, rasa tidak nyaman
Produk mengandung laktosa Intoleransi laktosa Kembung, gas, diare, sakit perut

Sumber: Hage G, Sacre Y, Haddad J, et al. Food Hypersensitivity: Distinguishing Allergy from Intolerance, Main Characteristics, and Symptoms—A Narrative Review. Nutrients. 2025;17(8):1359. DOI: 10.3390/nu17081359.

Membedakan alergi dan intoleransi menjadi bagian penting dalam pelayanan kesehatan. Diagnosis yang tepat membantu menentukan makanan yang perlu dihindari, jenis terapi yang diperlukan, serta strategi pemenuhan kebutuhan gizi. Kesalahan dalam membedakan kedua kondisi tersebut dapat menyebabkan seseorang melakukan pembatasan makanan secara berlebihan atau mendapatkan penanganan yang tidak sesuai. Karena itu, tenaga kesehatan dan ahli gizi memiliki peran dalam melakukan penilaian berdasarkan riwayat konsumsi makanan, gejala, pemeriksaan yang sesuai, dan kondisi individu.

Kajian dalam Nutrients tersebut pada akhirnya menunjukkan bahwa alergi dan intoleransi makanan memiliki perbedaan mendasar dalam mekanisme, gejala, komplikasi, diagnosis, dan penanganannya. Memahami perbedaan tersebut penting bagi masyarakat maupun tenaga kesehatan agar reaksi terhadap makanan dapat ditangani secara tepat. Pendekatan yang akurat juga membantu menjaga kualitas pola makan dan mencegah pembatasan makanan yang tidak diperlukan. Dengan meningkatnya perhatian terhadap hipersensitivitas makanan, penelitian lebih lanjut dan edukasi masyarakat menjadi penting untuk meningkatkan diagnosis, pengelolaan, serta kualitas hidup orang yang mengalami reaksi terhadap makanan.

Sumber utama:

  • Hage G, Sacre Y, Haddad J, Hajj M, Sayegh LN, Fakhoury-Sayegh N. Food Hypersensitivity: Distinguishing Allergy from Intolerance, Main Characteristics, and Symptoms—A Narrative Review. Nutrients. 2025;17(8):1359. DOI: 10.3390/nu17081359. PMID: 40284223; PMCID: PMC12029945.

 

Visited 16 times, 16 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *