Epidemiologi dan Beban Alergi Makanan di Masyarakat
Alergi makanan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang semakin mendapat perhatian di berbagai negara. Kondisi ini dapat terjadi pada anak maupun orang dewasa dan memberikan dampak tidak hanya terhadap kesehatan fisik, tetapi juga terhadap kualitas hidup serta kondisi ekonomi keluarga. Warren dan Gupta dalam tinjauan yang diterbitkan di Current Allergy and Asthma Reports membahas epidemiologi dan beban alergi makanan yang diperantarai imunoglobulin E (IgE). Berbagai survei populasi, data pelayanan kesehatan, dan penelitian kohort menunjukkan bahwa alergi makanan menjadi beban masyarakat yang semakin besar. Di Amerika Serikat, penelitian berbasis populasi memperkirakan alergi makanan yang meyakinkan secara klinis dialami oleh sekitar 1 dari 10 orang dewasa dan 1 dari 12 anak. Peningkatan kasus juga terlihat pada remaja dan dewasa muda, termasuk kasus alergi yang baru muncul saat dewasa. Selain risiko anafilaksis, penderita dan keluarga menghadapi pembatasan makanan, kebutuhan untuk selalu waspada terhadap alergen, kunjungan ke fasilitas kesehatan, serta beban psikososial. Meskipun demikian, penentuan prevalensi alergi makanan masih menghadapi keterbatasan karena sebagian penelitian menggunakan laporan diri tanpa konfirmasi klinis. Oleh karena itu, diagnosis yang akurat dan penelitian epidemiologi dengan metode konfirmasi yang lebih kuat diperlukan untuk memahami beban alergi makanan secara lebih tepat.
Dalam beberapa dekade terakhir, alergi makanan menjadi perhatian bagi keluarga, tenaga kesehatan, dan pembuat kebijakan. Alergi makanan merupakan bagian dari perjalanan penyakit atopik atau atopic march, yaitu rangkaian munculnya penyakit alergi yang dapat dimulai sejak masa bayi dan berkaitan dengan kondisi seperti dermatitis atopik, alergi makanan, asma, dan rinitis alergi. Alergi makanan dapat terjadi pada berbagai kelompok usia dan latar belakang sosial sehingga tidak lagi dipandang hanya sebagai masalah individu, tetapi juga sebagai persoalan kesehatan masyarakat.
Salah satu bentuk alergi makanan yang banyak dibahas dalam penelitian epidemiologi adalah alergi yang diperantarai IgE. Di Amerika Serikat, survei berbasis populasi yang melibatkan lebih dari 50.000 rumah tangga pada 2018 memperkirakan bahwa alergi makanan yang meyakinkan secara klinis dialami oleh sekitar 10% orang dewasa dan sekitar 8% anak. Sementara itu, lebih banyak orang melaporkan memiliki alergi makanan dibandingkan mereka yang memenuhi kriteria alergi yang dianggap meyakinkan berdasarkan gejala. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa angka alergi makanan dapat berubah bergantung pada definisi dan metode yang digunakan dalam penelitian.
Peningkatan laporan alergi makanan juga terlihat pada beberapa makanan tertentu. Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan adanya peningkatan prevalensi alergi kacang tanah dan kacang pohon dalam beberapa periode pengamatan. Namun, peneliti mengingatkan bahwa peningkatan kesadaran masyarakat dan tenaga kesehatan terhadap alergi makanan dapat ikut memengaruhi peningkatan angka yang dilaporkan. Selain itu, survei berdasarkan laporan pasien atau orang tua dapat menghasilkan angka yang lebih tinggi dibandingkan diagnosis yang dikonfirmasi secara klinis.
Penelitian kohort yang menggunakan oral food challenge memberikan gambaran yang lebih terukur mengenai alergi makanan pada anak. Salah satunya adalah studi HealthNuts di Australia yang menemukan bahwa alergi terhadap telur, kacang tanah, dan biji wijen dapat ditemukan pada bayi dan anak usia dini. Namun, sebagian alergi tersebut dapat menghilang seiring bertambahnya usia. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa riwayat alami alergi makanan tidak selalu sama untuk setiap jenis makanan. Sebagian alergi dapat membaik pada masa kanak-kanak, sementara kasus baru dapat muncul pada usia remaja atau dewasa.
Beban alergi makanan juga tidak terbatas pada prevalensi. Reaksi berat seperti anafilaksis dapat menyebabkan seseorang membutuhkan pertolongan darurat. Data yang dikaji Warren dan Gupta menunjukkan adanya peningkatan rawat inap akibat anafilaksis yang berhubungan dengan makanan di beberapa negara. Di Inggris, misalnya, angka rawat inap akibat anafilaksis yang dipicu makanan meningkat selama periode 1998–2012. Peningkatan kunjungan ke unit gawat darurat dan rawat inap juga dilaporkan dalam beberapa penelitian di Australia dan Amerika Serikat.
Selain dampak fisik, alergi makanan memberikan konsekuensi psikososial bagi penderita dan keluarganya. Kehidupan sehari-hari dapat dipengaruhi oleh kebutuhan untuk memeriksa kandungan makanan, menghindari alergen, memperhatikan makanan ketika berada di luar rumah, dan mempersiapkan penanganan apabila terjadi reaksi. Anak dengan alergi makanan dan orang tua atau pengasuhnya dapat mengalami kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya reaksi berat. Semakin banyak jenis makanan yang harus dihindari, semakin besar pula kewaspadaan yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
Beban alergi makanan juga dapat berbeda berdasarkan kelompok populasi dan lingkungan tempat tinggal. Beberapa penelitian di Amerika Serikat menunjukkan adanya perbedaan prevalensi dan keparahan alergi makanan berdasarkan ras atau kelompok etnis. Selain itu, sejumlah penelitian menemukan perbedaan antara masyarakat perkotaan dan pedesaan, meskipun hasilnya tidak selalu konsisten di semua negara. Faktor lingkungan, pola hidup, paparan mikroorganisme, polusi, pola pemberian makanan, serta perubahan mikrobioma menjadi beberapa faktor yang diteliti untuk menjelaskan variasi tersebut.
Migrasi dan perubahan lingkungan juga menjadi perhatian dalam epidemiologi alergi makanan. Penelitian menunjukkan bahwa anak dari keluarga imigran dapat memiliki pola risiko alergi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Beberapa kelompok yang awalnya memiliki prevalensi alergi lebih rendah dapat mengalami peningkatan sensitisasi atau alergi setelah tinggal di negara dengan prevalensi penyakit alergi yang lebih tinggi. Temuan tersebut menunjukkan kemungkinan adanya interaksi antara faktor genetik dan lingkungan dalam perkembangan alergi makanan.
Dari sisi ekonomi, alergi makanan dapat menimbulkan biaya langsung dan tidak langsung. Biaya dapat berasal dari pemeriksaan medis, kunjungan ke unit gawat darurat, obat-obatan, kebutuhan untuk menghindari makanan tertentu, serta perubahan pola makan keluarga. Pengasuh anak juga dapat menghadapi tambahan waktu dan biaya untuk memastikan makanan yang dikonsumsi aman. Dengan demikian, dampak alergi makanan tidak hanya dirasakan oleh penderita, tetapi dapat meluas kepada keluarga dan sistem pelayanan kesehatan.
Meskipun berbagai penelitian menunjukkan adanya peningkatan beban alergi makanan, Warren dan Gupta menekankan bahwa angka prevalensi perlu ditafsirkan secara hati-hati. Banyak penelitian epidemiologi menggunakan kuesioner dan laporan pasien atau orang tua tanpa melakukan konfirmasi klinis. Padahal, tidak semua gejala setelah mengonsumsi makanan merupakan alergi yang diperantarai IgE. Kondisi seperti intoleransi makanan atau sindrom alergi oral dapat memiliki gejala yang berbeda. Oral food challenge menjadi salah satu metode yang dapat digunakan untuk membantu memastikan diagnosis, tetapi penerapannya dalam penelitian populasi besar membutuhkan biaya, waktu, dan pertimbangan keamanan.
Penutup
- Alergi makanan merupakan masalah kesehatan yang memiliki dampak luas pada tingkat individu, keluarga, pelayanan kesehatan, dan masyarakat. Penelitian yang dibahas menunjukkan bahwa alergi makanan dapat terjadi pada berbagai kelompok usia dan bahwa beban penyakit tampak meningkat di sejumlah wilayah. Dampaknya tidak hanya berupa reaksi alergi dan anafilaksis, tetapi juga mencakup gangguan kualitas hidup, tekanan psikososial, serta biaya ekonomi.
- Pemahaman mengenai epidemiologi alergi makanan masih membutuhkan penelitian lebih lanjut dengan metode diagnosis yang lebih akurat. Penggunaan konfirmasi klinis penting untuk membedakan alergi makanan yang sebenarnya dari kondisi lain yang memiliki gejala serupa. Selain itu, penelitian perlu terus memperhatikan perbedaan usia, lingkungan, kelompok populasi, pola migrasi, serta faktor sosial dan ekonomi. Dengan data epidemiologi yang lebih kuat, strategi pencegahan, diagnosis, dan pengelolaan alergi makanan dapat dikembangkan secara lebih tepat.
Sumber utama:
- Warren CM, Jiang J, Gupta R. Epidemiology and Burden of Food Allergy. Current Allergy and Asthma Reports. 2020;20(2):6. DOI: 10.1007/s11882-020-0898-7. PMID: 32067114; PMCID: PMC7883751.













Leave a Reply