ALERGIPEDIA.COM

FOOD ALLERGY AWARENESS – BETTER LIVES THROUGH SCIENCE

SENSITISASI ALERGEN MAKANAN PADA ANAK DENGAN AUTISM SPECTRUM DISORDER

SENSITISASI ALERGEN MAKANAN PADA ANAK DENGAN AUTISM SPECTRUM DISORDER

Reportase ilmiah berdasarkan penelitian dalam Annals of Allergy, Asthma & Immunology

Hubungan antara autism spectrum disorder (ASD) dan penyakit alergi menjadi salah satu bidang yang menarik perhatian dalam penelitian kesehatan anak. Gangguan alergi, termasuk respons terhadap makanan, dilaporkan dapat ditemukan pada anak dengan ASD. Namun, hubungan tersebut perlu dipahami secara hati-hati karena keberadaan sensitisasi imunologis terhadap suatu alergen tidak selalu identik dengan alergi makanan yang menimbulkan manifestasi klinis.

Penelitian yang dilakukan oleh Estrella dan kolega serta dipublikasikan dalam Annals of Allergy, Asthma & Immunology berfokus pada karakteristik sensitisasi terhadap alergen makanan pada anak dengan ASD. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan komparatif dengan membandingkan anak dan remaja yang telah didiagnosis ASD dengan kelompok kontrol yang memiliki rentang usia yang sebanding.

Subjek penelitian merupakan anak dan remaja usia sekolah hingga masa remaja. Kelompok ASD dan kelompok kontrol menjalani pemeriksaan skin prick test atau SPT terhadap sejumlah alergen makanan. Pemeriksaan ini digunakan untuk mengidentifikasi adanya sensitisasi yang dimediasi imunoglobulin E terhadap alergen tertentu.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna secara statistik dalam proporsi hasil SPT positif antara kelompok anak dengan ASD dan kelompok kontrol. Sensitisasi terhadap alergen makanan ditemukan lebih sering pada kelompok ASD. Temuan tersebut menjadi hasil utama penelitian dan menunjukkan adanya asosiasi antara status ASD dan sensitisasi terhadap alergen makanan pada populasi yang diteliti.

Pola alergen yang ditemukan pada kelompok ASD memperlihatkan bahwa gandum merupakan salah satu alergen yang paling sering menunjukkan hasil sensitisasi. Selain gandum, respons terhadap komponen telur, ikan, dan cokelat juga ditemukan pada sebagian peserta. Pola tersebut memberikan gambaran bahwa sensitisasi pada anak dengan ASD tidak terbatas pada satu jenis kelompok makanan tertentu.

Meskipun demikian, hasil SPT positif harus ditafsirkan secara hati-hati. Sensitisasi tidak sama dengan alergi makanan klinis. Seseorang dapat memiliki antibodi atau respons imun terhadap suatu alergen tanpa selalu mengalami gejala ketika mengonsumsi makanan tersebut. Diagnosis alergi makanan membutuhkan korelasi antara hasil pemeriksaan dengan riwayat klinis dan manifestasi setelah pajanan makanan.

Perbedaan antara sensitisasi dan alergi klinis menjadi sangat penting pada anak dengan ASD. Anak dengan ASD dapat memiliki karakteristik makan yang berbeda, termasuk kecenderungan memilih makanan tertentu secara sangat selektif. Apabila makanan dieliminasi hanya berdasarkan hasil pemeriksaan tanpa indikasi klinis yang jelas, pilihan makanan anak dapat menjadi semakin terbatas dan berpotensi memengaruhi kecukupan nutrisi.

Penelitian ini juga tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa alergi makanan menyebabkan ASD. Sebaliknya, penelitian tersebut juga tidak membuktikan bahwa ASD menyebabkan alergi makanan. Hubungan yang ditemukan merupakan asosiasi antara diagnosis ASD dan ditemukannya sensitisasi terhadap alergen makanan pada kelompok penelitian. Untuk memahami mekanisme biologis yang mungkin mendasari hubungan tersebut, diperlukan penelitian lebih lanjut dengan desain yang lebih besar dan longitudinal.

Secara biologis, hubungan antara sistem imun, saluran cerna, mikrobiota, dan perkembangan neurologis merupakan bidang penelitian yang terus berkembang. Namun, berbagai hipotesis mengenai hubungan tersebut masih memerlukan pembuktian melalui penelitian klinis dan eksperimental yang kuat. Karena itu, hasil penelitian mengenai alergi dan ASD sebaiknya tidak diperluas menjadi klaim kausal yang belum terbukti.

Dari perspektif klinis, penelitian ini memberikan alasan untuk memperhatikan kemungkinan gangguan alergi pada anak dengan ASD apabila terdapat riwayat gejala yang sesuai. Keluhan seperti reaksi berulang setelah mengonsumsi makanan tertentu perlu dievaluasi secara individual. Pemeriksaan alergi sebaiknya dilakukan berdasarkan indikasi klinis dan diinterpretasikan oleh tenaga kesehatan yang memahami konteks alergi makanan pada anak.

Temuan penelitian ini juga memiliki implikasi terhadap pengelolaan nutrisi. Anak dengan ASD yang memiliki pola makan selektif memerlukan perhatian khusus agar pembatasan makanan tidak dilakukan secara berlebihan. Apabila terdapat kecurigaan alergi terhadap makanan tertentu, pendekatan diagnostik yang sistematis lebih tepat daripada menghilangkan berbagai jenis makanan sekaligus.

Dari sisi metodologi, penelitian ini memiliki keterbatasan yang perlu diperhatikan ketika menginterpretasikan hasilnya. Jumlah peserta relatif terbatas dan penelitian menggunakan SPT sebagai metode untuk menilai sensitisasi. Selain itu, laporan yang diterbitkan dalam suplemen jurnal merupakan laporan singkat sehingga informasi mengenai karakteristik populasi, rincian alergen yang diuji, serta faktor perancu tidak tersedia selengkap penelitian primer dengan laporan metodologi yang lebih luas.

Secara keseluruhan, penelitian Estrella dan kolega memberikan bukti bahwa sensitisasi terhadap alergen makanan ditemukan lebih sering pada anak dengan ASD dibandingkan kelompok kontrol dalam populasi yang diteliti. Temuan ini memperkuat pentingnya perhatian terhadap aspek alergi dan nutrisi dalam pelayanan kesehatan anak dengan ASD, tetapi tidak membuktikan hubungan sebab-akibat antara alergi makanan dan autisme.

Pesan ilmiah terpenting dari penelitian ini adalah perlunya membedakan tiga konsep yang sering tercampur dalam masyarakat: autism spectrum disorder, sensitisasi terhadap alergen, dan alergi makanan klinis. Ketiganya bukan istilah yang dapat dipertukarkan. Pemeriksaan yang menunjukkan sensitisasi harus dibaca bersama gambaran klinis, bukan dijadikan dasar tunggal untuk memberikan diagnosis alergi atau melakukan eliminasi makanan. Pendekatan berbasis bukti, evaluasi individual, dan kolaborasi antara dokter anak, ahli alergi-imunologi, serta tenaga kesehatan terkait tetap menjadi dasar dalam penatalaksanaan anak dengan ASD dan dugaan alergi makanan.

Daftar pustaka utama

  • Estrella M, Gonzalez-Diaz S, Macouzet-Sanchez C, Noyola Pérez A. Food Allergies and Autism Spectrum Disorder: A Comparative Study of Sensitization in Children. Annals of Allergy, Asthma & Immunology. 2023;131(5 Suppl 1):S71–S72. doi:10.1016/j.anai.2023.08.216.
  • Miyazaki C, Koyama M, Ota E, et al. Allergies in children with autism spectrum disorder: a systematic review and meta-analysis. Review Journal of Autism and Developmental Disorders. 2015.
  • Wang L, Shen W, Yao H, et al. Association between autism spectrum disorder and food allergy: a systematic review and meta-analysis. Autism Research. 2021.
Visited 14 times, 14 visit(s) today

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *