URTIKARIA, ALERGI MAKANAN, RHINITIS, DAN INFEKSI SALURAN NAPAS BERULANG. Peran Oral Food Challenge dalam Menentukan Apakah Makanan Benar-Benar Menjadi Pencetus Alergi
Urtikaria atau biduran, rinitis, batuk berulang, dan infeksi saluran napas yang berulang sering muncul bersamaan pada anak dengan penyakit atopi. Kondisi tersebut dapat menimbulkan dugaan bahwa makanan tertentu merupakan penyebab seluruh keluhan. Namun, hubungan temporal antara makanan dan gejala harus dibedakan dari sensitisasi, alergi makanan yang terbukti, infeksi saluran napas, dan penyakit alergi saluran napas seperti rinitis alergi. Oral food challenge (OFC) merupakan pemeriksaan provokasi makanan terkontrol yang berperan penting untuk memastikan apakah seseorang benar-benar mengalami reaksi terhadap makanan tertentu. Pedoman AAAAI-EAACI PRACTALL 2024 menempatkan keamanan, pemilihan pasien, dosis bertahap, interval observasi, serta kriteria penghentian sebagai komponen utama OFC. (EAACI)
Pada anak dengan urtikaria berulang atau infeksi akut, pelaksanaan OFC memerlukan pertimbangan khusus. Penyakit akut dapat mengganggu interpretasi gejala dan dapat meningkatkan risiko atau mengaburkan respons selama challenge. Karena itu, OFC dilakukan ketika kondisi klinis stabil dan di fasilitas medis yang mampu mengenali serta menangani reaksi alergi akut. OFC bukan tes untuk mendiagnosis rinitis alergi atau infeksi saluran napas. Pemeriksaan ini terutama menjawab pertanyaan spesifik, yaitu apakah konsumsi makanan tertentu menimbulkan reaksi alergi yang dapat dibuktikan secara klinis. (EAACI)
Urtikaria pada anak mempunyai banyak penyebab. Infeksi virus merupakan salah satu pemicu penting urtikaria akut pada anak. Urtikaria juga dapat muncul sebagai manifestasi alergi makanan, obat, gigitan serangga, atau faktor fisik tertentu. Urtikaria kronis mempunyai mekanisme dan pendekatan diagnostik yang berbeda dari alergi makanan. Pedoman internasional urtikaria menekankan bahwa evaluasi harus disesuaikan dengan pola klinis dan durasi penyakit. (EAACI)
Masalah menjadi lebih kompleks ketika anak juga mengalami rinitis, batuk, pilek, atau infeksi saluran napas berulang. Tidak setiap episode setelah makan berarti alergi makanan. Anak dapat kebetulan mengalami infeksi virus pada periode yang sama ketika makanan tertentu dikonsumsi.
Kesalahan atribusi dapat menyebabkan eliminasi makanan yang tidak diperlukan. Pada anak, eliminasi yang terlalu luas dapat mengurangi variasi makanan dan meningkatkan risiko masalah nutrisi. EAACI menekankan pentingnya memastikan diagnosis alergi secara akurat dan meninjau kembali diagnosis dari waktu ke waktu agar makanan yang sebenarnya aman dapat diperkenalkan kembali bila memungkinkan. (EAACI)
Apa Itu Oral Food Challenge?
- Oral food challenge adalah pemberian makanan yang dicurigai sebagai alergen dalam jumlah bertahap dan terkontrol, dengan observasi medis untuk menentukan apakah terjadi reaksi klinis.
OFC mempunyai dua fungsi utama:
- Membantu memastikan diagnosis alergi makanan.
- Menilai apakah alergi makanan sebelumnya sudah menghilang dan makanan dapat diperkenalkan kembali.
- AAAAI menyebut OFC sebagai gold standard untuk menentukan ada atau tidaknya reaktivitas alergi terhadap makanan dan untuk mengevaluasi perkembangan toleransi. (AAAAI Education Center)
- EAACI juga merekomendasikan OFC ketika diagnosis masih belum dapat dipastikan setelah riwayat klinis dan pemeriksaan sensitisasi dilakukan. Open OFC dapat digunakan dalam banyak situasi klinis, sedangkan double-blind placebo-controlled food challenge terutama digunakan ketika hasil masih meragukan atau untuk penelitian. (EAACI)
Mengapa Skin Prick Test Tidak Selalu Cukup?
- Skin prick test dan pemeriksaan specific IgE menunjukkan sensitisasi terhadap alergen.
- Sensitisasi tidak selalu sama dengan alergi klinis.
- Contohnya:
- Anak mempunyai sIgE positif terhadap telur.
- Hal tersebut menunjukkan adanya IgE spesifik terhadap komponen telur.
- Namun, pertanyaan klinisnya adalah:
- “Apakah anak benar-benar mengalami reaksi ketika makan telur?”
- Jawaban tersebut tidak selalu dapat diperoleh dari angka sIgE atau ukuran wheal skin prick test saja.
- Karena itu, EAACI merekomendasikan interpretasi pemeriksaan IgE bersama riwayat klinis. Bila masih terdapat keraguan, OFC dapat digunakan untuk menentukan diagnosis. (EAACI)
Hubungan Urtikaria dengan Alergi Makanan
- Urtikaria merupakan manifestasi yang dapat terjadi pada alergi makanan IgE-mediated.
- Pola yang lebih mencurigakan terhadap alergi makanan antara lain:
| Temuan | Makna klinis |
|---|---|
| Biduran muncul beberapa menit sampai beberapa jam setelah makanan tertentu | Meningkatkan kecurigaan |
| Gejala selalu muncul setelah makanan yang sama | Meningkatkan kecurigaan |
| Disertai angioedema | Perlu evaluasi alergi |
| Disertai muntah akut | Dapat merupakan manifestasi alergi |
| Disertai mengi atau sesak | Perlu evaluasi segera |
| Disertai hipotensi atau gangguan multisistem | Dapat memenuhi kriteria anafilaksis |
| Biduran berlangsung berhari-hari tanpa hubungan jelas dengan makanan | Kurang khas untuk alergi makanan IgE-mediated |
| Biduran muncul bersamaan dengan infeksi virus | Infeksi perlu dipertimbangkan |
Pedoman urtikaria menempatkan urtikaria sebagai penyakit yang terutama didorong oleh aktivasi sel mast. Penyebabnya tidak selalu alergi makanan. (EAACI)
Urtikaria dan Infeksi Virus
- Pada anak, infeksi dapat menjadi pemicu urtikaria akut.
- Hal ini penting ketika orang tua melihat pola:
- Anak makan makanan tertentu → beberapa jam kemudian muncul biduran → ternyata anak juga sedang pilek atau demam.
- Dalam situasi seperti ini, makanan belum dapat langsung dinyatakan sebagai penyebab.
- Dokter perlu mempertimbangkan:
- • infeksi virus
• obat yang digunakan selama infeksi
• makanan
• faktor fisik
• urtikaria spontan
• penyebab lain sesuai gambaran klinis - Karena itu, waktu munculnya gejala, durasi, makanan yang dikonsumsi, obat yang diberikan, dan gejala infeksi perlu dicatat secara sistematis.
Rinitis Tidak Sama dengan Alergi Makanan
- Rinitis juga sering dikaitkan dengan makanan secara berlebihan.
- Rinitis alergi terutama berkaitan dengan sensitisasi terhadap alergen inhalan, seperti:
- • tungau debu rumah
• serbuk sari
• jamur
• epitel hewan - Gejalanya dapat berupa:
- • bersin berulang
• hidung gatal
• hidung berair
• hidung tersumbat
• postnasal drip - Food allergy dapat berkaitan dengan gejala saluran napas pada reaksi alergi sistemik, tetapi rinitis kronis tidak otomatis menunjukkan alergi makanan.
- Karena itu, anak dengan rinitis tidak seharusnya menjalani eliminasi berbagai makanan hanya berdasarkan dugaan tanpa bukti klinis.
Infeksi Saluran Napas Berulang
- Istilah “infeksi berulang” juga harus didefinisikan dengan hati-hati.
- Anak yang mengalami beberapa episode pilek dalam setahun belum tentu mengalami alergi makanan.
- Paparan virus di sekolah atau daycare dapat menyebabkan episode infeksi saluran napas berulang.
- Rinitis alergi juga dapat menyebabkan hidung tersumbat dan sekret hidung kronis yang kemudian dianggap sebagai “pilek yang tidak sembuh”.
Karena itu, evaluasi harus membedakan:
| Kondisi | Pola yang dapat ditemukan |
|---|---|
| Infeksi virus | Demam, malaise, kontak dengan penderita, gejala akut |
| Rinitis alergi | Bersin, gatal, hidung berair atau tersumbat, pola berulang |
| Alergi makanan | Hubungan konsisten dengan makanan tertentu |
| Urtikaria akut | Episode biduran yang biasanya berlangsung singkat |
| Urtikaria kronis | Biduran berulang selama lebih dari 6 minggu |
| Asma | Mengi, batuk, sesak dengan pola tertentu |
| Reaksi alergi berat | Gejala multisistem dan dapat berkembang cepat |
Kapan OFC Dipertimbangkan?
OFC terutama dipertimbangkan ketika terdapat ketidakpastian antara riwayat klinis dan pemeriksaan alergi.
- Contoh situasi:
- • Riwayat reaksi tidak jelas.
- • Anak mempunyai hasil sIgE positif tetapi tidak pernah mengalami reaksi saat mengonsumsi makanan.
- • Anak sudah lama menghindari makanan karena dugaan alergi tanpa diagnosis yang kuat.
- • Dokter ingin mengetahui apakah alergi sudah menghilang.
- • Riwayat menunjukkan reaksi ringan dan pemeriksaan menunjukkan kemungkinan toleransi.
- • Anak mempunyai sensitisasi terhadap beberapa makanan tetapi hubungan klinisnya tidak jelas.
- EAACI menekankan bahwa keputusan melakukan OFC harus mempertimbangkan riwayat klinis, hasil pemeriksaan, manfaat diagnostik, dan risiko reaksi. (EAACI)
Kapan OFC Sebaiknya Ditunda?
- OFC membutuhkan kondisi klinis yang stabil.
- Pedoman PRACTALL 2024 memberikan perhatian khusus pada keselamatan dan kondisi pasien ketika challenge dilakukan. (EAACI)
- Secara klinis, challenge biasanya perlu ditunda ketika anak mengalami kondisi akut yang dapat mengganggu interpretasi atau meningkatkan risiko, misalnya:
- • demam atau infeksi akut yang sedang berlangsung
• mengi atau eksaserbasi asma
• gejala alergi yang sedang tidak terkendali
• urtikaria aktif yang penyebabnya belum jelas
• kondisi medis akut lain
• kondisi yang membuat gejala challenge sulit dibedakan dari penyakit yang sedang berlangsung - Keputusan akhir ditentukan dokter yang melakukan OFC berdasarkan kondisi anak pada hari pemeriksaan.
Persiapan Sebelum OFC
- Persiapan merupakan bagian penting dari keselamatan.
| Komponen | Tujuan |
|---|---|
| Riwayat alergi | Menentukan kemungkinan pretest |
| Riwayat reaksi sebelumnya | Menilai tipe dan berat reaksi |
| Skin prick test atau sIgE bila diperlukan | Menilai sensitisasi |
| Evaluasi penyakit penyerta | Menilai risiko |
| Evaluasi asma | Mengurangi risiko komplikasi |
| Evaluasi infeksi akut | Menentukan apakah challenge perlu ditunda |
| Pemeriksaan obat yang digunakan | Menilai obat yang dapat mengganggu interpretasi |
| Persetujuan tindakan | Menjelaskan manfaat dan risiko |
| Persiapan obat emergensi | Menjamin penanganan reaksi akut |
| Observasi pascachallenge | Menilai reaksi segera dan tertunda |
OFC Bukan Oral Immunotherapy
- Keduanya sering tertukar.
| OFC | Oral Immunotherapy |
|---|---|
| Tujuan diagnostik | Tujuan terapi |
| Menilai apakah pasien bereaksi | Meningkatkan ambang reaksi |
| Dilakukan sebagai challenge terkontrol | Dilakukan dengan regimen terapi bertahap |
| Tidak bertujuan membangun desensitisasi | Bertujuan menghasilkan desensitisasi selama terapi |
| Tidak dilakukan sebagai konsumsi harian tanpa rencana | Memerlukan protokol terapi khusus |
EAACI menyatakan bahwa oral allergen immunotherapy merupakan intervensi berbeda dan harus dilakukan dengan pengalaman klinis yang memadai. (EAACI)
Contoh Kasus Klinis
- Seorang anak mengalami biduran berulang.
- Orang tua menduga telur sebagai penyebab.
- Anak juga mengalami pilek dan batuk berulang.
- Pemeriksaan menunjukkan sensitisasi terhadap telur.
- Namun, riwayat menunjukkan bahwa anak pernah makan telur tanpa gejala yang konsisten.
- Dalam situasi seperti ini, hasil sensitisasi tidak otomatis sama dengan alergi klinis.
Dokter perlu mempertimbangkan:
- Riwayat → pemeriksaan alergi → kondisi klinis → risiko → kebutuhan OFC.
- Jika diagnosis tetap tidak jelas dan anak memenuhi kriteria keamanan, OFC dapat digunakan untuk menjawab apakah telur benar-benar menimbulkan reaksi.
- Kerangka Evaluasi Klinis
| Tahap | Pertanyaan |
|---|---|
| 1 | Apa gejalanya? |
| 2 | Kapan gejala muncul setelah makan? |
| 3 | Apakah reaksi selalu terjadi dengan makanan yang sama? |
| 4 | Apakah terdapat infeksi pada saat kejadian? |
| 5 | Apakah terdapat rinitis atau asma? |
| 6 | Apakah ada obat yang digunakan? |
| 7 | Apakah ada sensitisasi IgE? |
| 8 | Apakah sensitisasi sesuai dengan riwayat? |
| 9 | Apakah manfaat OFC lebih besar daripada risikonya? |
| 10 | Apakah anak cukup stabil untuk menjalani challenge? |
Prinsip Utama
- Urtikaria tidak otomatis berarti alergi makanan.
- Rinitis tidak otomatis berarti alergi makanan.
- Pilek berulang tidak otomatis berarti alergi makanan.
- Infeksi saluran napas berulang tidak otomatis berarti alergi makanan.
- Skin prick test positif tidak otomatis berarti alergi klinis.
- Specific IgE positif menunjukkan sensitisasi, bukan selalu penyakit klinis.
- OFC digunakan ketika dokter perlu membuktikan apakah makanan tertentu benar-benar menimbulkan reaksi.
- Pedoman AAAAI-EAACI PRACTALL 2024 menekankan bahwa OFC harus dilakukan dengan protokol terstandardisasi, dosis bertahap, observasi yang memadai, serta kriteria “go, stop, observation”. (EAACI)
- EAACI juga menempatkan OFC sebagai pemeriksaan penting ketika diagnosis alergi makanan masih meragukan setelah evaluasi klinis dan pemeriksaan sensitisasi. (EAACI)
- Dengan pendekatan tersebut, tujuan OFC bukan sekadar mencari makanan yang harus dihindari. Tujuan utamanya adalah mendapatkan diagnosis yang akurat sehingga anak tidak menjalani pembatasan makanan yang tidak diperlukan dan dapat memperoleh pola makan yang aman, cukup, serta sesuai kebutuhan tumbuh kembang. (EAACI)













Leave a Reply