Alergi Makanan Memasuki Era Terapi Baru: Dari Menghindari Alergen Menuju Modifikasi Respons Imun
Laporan reportase ilmiah
Alergi makanan kini menjadi persoalan kesehatan global dengan pola yang berbeda antarnegara. Editorial Leung, Xing, dan Wong dalam World Journal of Pediatrics, diterbitkan 14 Juni 2025, menggambarkan perubahan besar dalam cara dunia medis memahami dan menangani alergi makanan. Penulis menyoroti pergeseran dari pendekatan lama yang berpusat pada menghindari makanan pencetus dan menangani anafilaksis menuju terapi yang berusaha meningkatkan ambang toleransi terhadap alergen dan memodifikasi respons imun. (DOI.org)
Salah satu persoalan utama adalah menentukan siapa yang benar-benar mengalami alergi makanan. Skin prick test dan pemeriksaan serum specific IgE dapat menunjukkan sensitisasi, tetapi hasil positif tidak selalu berarti alergi klinis. Penulis menekankan adanya perbedaan antara prevalensi berdasarkan laporan gejala dengan prevalensi yang dibuktikan melalui oral food challenge atau OFC. Dalam studi HealthNuts Australia, alergi makanan yang terbukti melalui OFC ditemukan sekitar 10% pada bayi dan menurun menjadi 3,8% pada usia 4 tahun. Data ini menunjukkan pentingnya membedakan sensitisasi, alergi klinis, dan riwayat reaksi terhadap makanan. (DOI.org)
Perubahan penting juga terjadi dalam pencegahan alergi makanan. Pendekatan lama pernah menganjurkan penundaan makanan alergen tertentu pada bayi berisiko. Bukti dari penelitian LEAP dan EAT kemudian mengubah pemahaman tersebut. Pengenalan makanan alergen pada periode awal kehidupan, pada bayi yang sesuai dan dengan pendekatan yang tepat, dapat berperan dalam menurunkan risiko alergi tertentu. EAACI kemudian memasukkan pengenalan makanan alergen dalam strategi pencegahan alergi makanan pada bayi dan anak kecil. (DOI.org)
Dalam penanganan reaksi akut, adrenalin tetap memiliki posisi penting untuk anafilaksis. Perkembangan terbaru mencakup pemberian adrenalin melalui hidung. Editorial tersebut membahas intranasal adrenaline sebagai alternatif yang dapat mengurangi hambatan penggunaan obat suntik, termasuk ketakutan terhadap jarum. FDA sebelumnya telah menyetujui semprotan hidung epinefrin untuk anafilaksis. Namun, terapi ini tetap berfungsi terutama untuk menangani reaksi akut. Terapi tersebut tidak mengubah dasar imunologis alergi makanan. (DOI.org)
Perubahan paling besar terlihat pada imunoterapi oral atau oral immunotherapy. Prinsipnya adalah memberikan alergen makanan dalam dosis terukur dan meningkat secara bertahap untuk menaikkan ambang reaksi. Dalam studi PALISADE, 67,2% peserta berusia 4 sampai 17 tahun yang mendapat AR101 mampu mentoleransi sedikitnya 600 mg protein kacang tanah pada food challenge akhir, dibandingkan 4,0% pada kelompok plasebo. Namun, efek samping sering terjadi dan gejala gastrointestinal menjadi salah satu masalah penting. Terapi ini meningkatkan toleransi terhadap paparan tidak sengaja, tetapi tidak dapat disamakan dengan penyembuhan alergi secara permanen. (DOI.org)
Tahun 2020 menjadi salah satu tonggak penting ketika FDA menyetujui Palforzia, terapi berbasis bubuk alergen kacang tanah, untuk anak dan remaja tertentu dengan alergi kacang tanah. Tujuannya adalah meningkatkan jumlah protein kacang tanah yang dapat ditoleransi sehingga risiko dan beratnya reaksi akibat paparan tidak sengaja dapat berkurang. Pasien tetap harus menghindari kacang tanah dan mengikuti protokol terapi. Dengan demikian, Palforzia menunjukkan perubahan konsep terapi dari sekadar avoidance menuju desensitisasi yang terkontrol. (DOI.org)
Perkembangan berikutnya datang dari terapi biologis. Omalizumab merupakan antibodi monoklonal anti-IgE yang diteliti untuk pasien dengan beberapa alergi makanan. Studi OUtMATCH yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine pada 2024 menunjukkan potensi omalizumab dalam meningkatkan kemampuan pasien mentoleransi paparan beberapa makanan alergen. Pendekatan ini menarik karena targetnya berada pada jalur imunologis yang berperan dalam reaksi alergi. Namun, biaya, kebutuhan pemberian injeksi, akses layanan, dan kebutuhan terapi berkelanjutan tetap menjadi pertimbangan dalam penerapannya. (DOI.org)
Salah satu bidang yang masih berkembang adalah penggunaan inhibitor Bruton tyrosine kinase atau BTK. Obat dalam kelompok ini bekerja pada jalur FcεRI yang berhubungan dengan aktivasi sel mast dan basofil dalam respons alergi yang dimediasi IgE. Editorial tersebut melaporkan penelitian fase II terhadap 10 orang dewasa dengan alergi kacang tanah yang mendapat acalabrutinib. Median jumlah protein kacang tanah yang dapat ditoleransi meningkat dari 29 mg menjadi 4.044 mg setelah terapi. Data tersebut masih berasal dari penelitian kecil dan terbuka, sehingga diperlukan penelitian terkontrol dengan jumlah peserta lebih besar sebelum posisi klinisnya dapat ditentukan. (DOI.org)
Arah perkembangan terapi alergi makanan kini bergerak menuju pendekatan yang lebih individual. OIT, terapi anti-IgE, imunoterapi melalui kulit atau mukosa, serta inhibitor BTK sedang dikembangkan dengan tujuan meningkatkan ambang toleransi, mengurangi risiko reaksi berat, dan meningkatkan kualitas hidup. Kombinasi omalizumab dengan OIT juga sedang dipelajari karena secara teoritis dapat membantu mengurangi risiko selama proses peningkatan dosis. Namun, istilah “penyembuhan” harus digunakan secara hati-hati. Bukti saat ini lebih kuat untuk konsep desensitisasi dan peningkatan ambang toleransi pada terapi tertentu. Masa depan terapi alergi makanan akan bergantung pada efektivitas jangka panjang, keamanan, akses, biaya, serta kemampuan menentukan terapi berdasarkan profil imunologis masing-masing pasien. (DOI.org)
| Terapi atau pendekatan | Sasaran utama | Status berdasarkan artikel 2025 | Hal yang perlu diperhatikan |
|---|---|---|---|
| Menghindari alergen | Mencegah paparan | Terapi dasar | Tidak meningkatkan toleransi |
| Adrenalin intramuskular | Anafilaksis akut | Terapi standar | Digunakan saat reaksi berat |
| Adrenalin intranasal | Anafilaksis akut | Terapi baru yang tersedia di beberapa negara | Tidak memodifikasi penyakit |
| OIT | Meningkatkan ambang toleransi | Sudah digunakan pada kondisi tertentu | Membutuhkan protokol dan pemantauan |
| Palforzia | Alergi kacang tanah | Disetujui FDA untuk kelompok usia tertentu | Bukan penyembuhan dan tetap memerlukan penghindaran |
| Omalizumab | Jalur IgE | Terapi biologis dengan bukti klinis berkembang | Biaya dan pemberian injeksi menjadi pertimbangan |
| Inhibitor BTK | Aktivasi mast cell dan basofil | Masih dalam pengembangan | Membutuhkan penelitian lebih besar |
| Kombinasi biologis + OIT | Desensitisasi dengan dukungan imunomodulasi | Area penelitian | Efektivitas dan keamanan jangka panjang masih diteliti |
Sumber utama:
- Leung ASY, Xing YH, Wong GWK. “Food allergy: emerging therapies in the twenty-first century.” World Journal of Pediatrics. 2025;21:634–643. DOI 10.1007/s12519-025-00928-0. Artikel diterbitkan 14 Juni 2025. (DOI.org)













Leave a Reply