Alergi Makanan dan Alergi Mata pada Anak. Tinjauan Ilmiah, Manifestasi Klinis, dan Peran Oral Food Challenge dalam Diagnosis serta Penatalaksanaan
Abstrak
Alergi mata merupakan salah satu manifestasi penyakit alergi yang sering dijumpai pada anak maupun dewasa. Kondisi ini ditandai oleh inflamasi konjungtiva akibat respons imun terhadap alergen. Sebagian besar kasus dipicu oleh alergen inhalan seperti tungau debu rumah, serbuk sari, jamur, dan bulu hewan. Namun, pada sebagian pasien, terutama anak dengan penyakit atopik, alergi makanan juga dapat berperan sebagai pencetus atau memperberat inflamasi mata. Manifestasi klinis meliputi gatal, mata merah, berair, bengkak pada kelopak mata, hingga keratitis kronis yang dapat mengganggu penglihatan. Diagnosis memerlukan anamnesis yang teliti, pemeriksaan fisik, serta konfirmasi hubungan sebab akibat antara makanan dan gejala. Oral Food Challenge merupakan baku emas untuk menegakkan diagnosis alergi makanan sehingga eliminasi hanya dilakukan terhadap makanan yang benar terbukti sebagai penyebab. Pendekatan ini mengurangi overdiagnosis, mencegah pembatasan diet yang tidak diperlukan, serta memperbaiki kualitas hidup pasien. Edukasi masyarakat mengenai alergi mata juga masih perlu ditingkatkan karena berbagai penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan masyarakat masih rendah.
Pendahuluan
Alergi mata merupakan penyakit inflamasi yang dimediasi sistem imun dan menjadi salah satu penyebab tersering mata gatal kronis di seluruh dunia. Diperkirakan hampir 40 persen populasi pernah mengalami alergi mata selama hidupnya. Angka kejadian terus meningkat seiring meningkatnya penyakit alergi, perubahan lingkungan, urbanisasi, serta paparan polusi udara.
Bentuk alergi mata meliputi seasonal allergic conjunctivitis, perennial allergic conjunctivitis, vernal keratoconjunctivitis, atopic keratoconjunctivitis, dan giant papillary conjunctivitis. Sebagian besar disebabkan oleh alergen yang terhirup, namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa alergi makanan juga dapat menjadi faktor pencetus, terutama pada anak dengan dermatitis atopik, asma, rinitis alergi, atau riwayat alergi makanan.
Penelitian Alqurashi dan kolega yang dipublikasikan dalam Cureus tahun 2025 menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat mengenai alergi mata masih rendah. Dari 404 responden di Makkah, skor pengetahuan rata-rata hanya 3,41 dari 8. Hanya 16,8 persen responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik. Kekurangan pengetahuan terutama mengenai mekanisme penyakit dan pilihan terapi. Temuan ini menunjukkan pentingnya edukasi masyarakat agar diagnosis dan penatalaksanaan dilakukan lebih dini.
Penjelasan Ilmiah
Alergi mata merupakan reaksi hipersensitivitas yang dimediasi imunoglobulin E. Paparan alergen mengaktifkan sel mast pada konjungtiva sehingga terjadi pelepasan histamin, prostaglandin, leukotrien, tryptase, serta berbagai sitokin proinflamasi. Mediator tersebut menyebabkan vasodilatasi, peningkatan permeabilitas pembuluh darah, stimulasi saraf sensorik, dan infiltrasi eosinofil sehingga muncul mata gatal, kemerahan, berair, serta pembengkakan kelopak mata.
Pada alergi makanan, protein makanan yang memicu reaksi imun dapat menyebabkan aktivasi sistemik sehingga inflamasi tidak hanya terjadi pada saluran cerna dan kulit, tetapi juga mengenai konjungtiva dan kornea. Pada anak dengan predisposisi genetik, pajanan makanan tertentu dapat memperberat inflamasi mata yang telah ada sebelumnya. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada pasien dengan penyakit atopik multipel.
Manifestasi mata akibat alergi makanan dapat berupa konjungtivitis alergi, edema kelopak mata, angioedema periorbital, blefaritis, dermatitis kelopak mata, vernal keratoconjunctivitis, atopic keratoconjunctivitis, mata berair kronis, fotofobia, hingga keratitis pada kasus berat. Inflamasi kronis yang tidak tertangani dapat menyebabkan gangguan kornea dan penurunan ketajaman penglihatan.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dilakukan secara bertahap sesuai beratnya penyakit.
Langkah pertama adalah menghindari pajanan alergen lingkungan seperti debu, tungau, serbuk sari, asap rokok, dan bulu hewan.
Terapi simtomatik meliputi air mata buatan, kompres dingin, antihistamin topikal, stabilisator sel mast, kombinasi antihistamin dan stabilisator sel mast, serta kortikosteroid topikal jangka pendek pada kasus berat di bawah pengawasan dokter mata. Pada kasus kronis dapat dipertimbangkan imunomodulator topikal seperti siklosporin atau takrolimus.
Apabila dicurigai terdapat alergi makanan berdasarkan riwayat klinis, evaluasi harus dilakukan secara sistematis. Pemeriksaan IgE spesifik atau skin prick test dapat membantu mengidentifikasi sensitisasi, tetapi tidak dapat memastikan hubungan sebab akibat.
Oral Food Challenge tetap merupakan baku emas diagnosis alergi makanan. Pemeriksaan dilakukan secara bertahap di fasilitas kesehatan dengan pengawasan ketat. Hasil OFC menentukan apakah suatu makanan benar menjadi penyebab gejala mata. Eliminasi hanya diberikan pada makanan yang terbukti positif sehingga risiko malnutrisi, pembatasan diet yang berlebihan, serta overdiagnosis dapat dicegah.
Pendekatan ini juga memungkinkan reintroduksi makanan yang aman sehingga kualitas hidup anak dan keluarganya menjadi lebih baik.
Kesimpulan
Alergi mata merupakan manifestasi penyakit alergi yang semakin sering dijumpai dan dapat dipicu oleh alergen lingkungan maupun alergi makanan. Mekanisme penyakit melibatkan respons imun yang menyebabkan inflamasi konjungtiva dan jaringan mata. Diagnosis yang tepat sangat penting untuk menentukan terapi yang sesuai. Oral Food Challenge merupakan baku emas dalam memastikan hubungan antara makanan dan gejala sehingga eliminasi makanan dapat dilakukan secara tepat. Edukasi masyarakat mengenai alergi mata masih perlu ditingkatkan karena rendahnya tingkat pengetahuan dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis, pengobatan yang tidak tepat, serta penurunan kualitas hidup pasien.









Leave a Reply