Alergi Makanan, Dermatitis, dan Kulit Sensitif. Tinjauan Patofisiologi Molekuler, Manifestasi Klinis, dan Peran Oral Food Challenge dalam Diagnosis serta Penatalaksanaan
Abstrak
Alergi makanan merupakan salah satu faktor yang berperan dalam berbagai penyakit kulit, terutama dermatitis atopik pada bayi dan anak. Hubungan antara alergi makanan dan dermatitis paling kuat ditemukan pada anak dengan dermatitis atopik sedang hingga berat, terutama pada usia dini. Selain reaksi cepat yang dimediasi imunoglobulin E (IgE), makanan juga dapat memicu reaksi eksematosa lambat melalui mekanisme sel T. Gangguan sawar kulit, inflamasi kronis, dan disfungsi imun menyebabkan kulit menjadi lebih sensitif terhadap alergen, iritan, dan mikroorganisme. Diagnosis alergi makanan tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan pemeriksaan IgE spesifik atau skin prick test karena keduanya hanya menunjukkan sensitisasi. Oral Food Challenge (OFC) tetap merupakan baku emas untuk memastikan hubungan sebab akibat antara makanan dan gejala kulit sehingga eliminasi makanan dilakukan secara tepat, menghindari overdiagnosis, mempertahankan status gizi, dan meningkatkan kualitas hidup pasien.
Pendahuluan
Dermatitis atopik merupakan penyakit inflamasi kronis pada kulit yang ditandai oleh kulit kering, gatal, dan kekambuhan berulang. Prevalensi penyakit ini mencapai 10 sampai 20 persen pada anak dan terus meningkat di berbagai negara. Penyakit ini merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor genetik, gangguan sawar kulit, disfungsi sistem imun, mikrobiota kulit, dan faktor lingkungan.
Alergi makanan merupakan salah satu faktor yang dapat memperberat dermatitis atopik, terutama pada bayi dan anak dengan dermatitis sedang hingga berat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sekitar 30 sampai 60 persen anak dengan dermatitis atopik sedang hingga berat memiliki alergi makanan yang terkonfirmasi melalui Double Blind Placebo Controlled Food Challenge atau Oral Food Challenge. Sebaliknya, sebagian besar hasil skin prick test maupun IgE spesifik yang positif tidak selalu menunjukkan alergi makanan yang bermakna secara klinis sehingga konfirmasi dengan OFC sangat diperlukan.
Patofisiologi Molekuler
Disfungsi sawar kulit akibat mutasi filaggrin, loricrin, involucrin, dan tight junction menyebabkan peningkatan kehilangan air transepidermal serta memudahkan masuknya alergen makanan dan mikroorganisme melalui kulit.
Protein makanan dipresentasikan oleh sel dendritik kepada limfosit T CD4 sehingga mengaktifkan jalur T helper 2. Selanjutnya dilepaskan interleukin-4, interleukin-5, interleukin-13, thymic stromal lymphopoietin, interleukin-25, dan interleukin-33 yang merangsang pembentukan IgE spesifik.
Ikatan IgE dengan reseptor FcεRI pada sel mast menyebabkan degranulasi dan pelepasan histamin, triptase, prostaglandin D2, leukotrien, platelet activating factor, serta berbagai kemokin inflamasi yang memicu pruritus, eritema, edema, dan inflamasi kulit.
Interleukin-31 merupakan mediator utama rasa gatal kronis, sedangkan eosinofil melepaskan major basic protein dan eosinophilic cationic protein yang menyebabkan kerusakan epidermis, inflamasi kronis, dan remodeling kulit. Kolonisasi Staphylococcus aureus semakin memperburuk inflamasi melalui produksi superantigen dan biofilm.
Dua Puluh Gangguan Kulit yang Berkaitan dengan Alergi Makanan
1. Dermatitis atopik.
2. Eksim kronis.
3. Kulit sensitif.
4. Kulit kering kronis.
5. Pruritus kronis.
6. Urtikaria akut.
7. Urtikaria kronis pada sebagian pasien.
8. Angioedema.
9. Dermatitis kontak sistemik.
10. Protein contact dermatitis.
11. Dermatitis kontak alergi akibat makanan.
12. Dermatitis perioral.
13. Dermatitis wajah berulang.
14. Dermatitis tangan.
15. Dermatitis fleksural.
16. Dermatitis popok yang diperberat alergi makanan.
17. Cheilitis alergi.
18. Ruam makulopapular akibat makanan.
19. Dyshidrotic eczema pada kasus tertentu.
20. Eritema dan flare kulit setelah konsumsi makanan alergen.
Penanganan dengan Oral Food Challenge
Penatalaksanaan dimulai dengan optimalisasi sawar kulit melalui penggunaan emolien secara rutin, menghindari iritan, menjaga hidrasi kulit, dan mengendalikan inflamasi menggunakan kortikosteroid topikal atau inhibitor kalsineurin sesuai indikasi.
Apabila dicurigai terdapat hubungan antara makanan dan dermatitis, evaluasi dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, skin prick test, atau IgE spesifik. Hasil pemeriksaan tersebut hanya menunjukkan sensitisasi sehingga tidak boleh dijadikan dasar tunggal untuk eliminasi makanan.
Oral Food Challenge merupakan baku emas diagnosis alergi makanan. Pemeriksaan dilakukan secara bertahap di fasilitas kesehatan dengan pengawasan tenaga medis yang berpengalaman. Eliminasi hanya dilakukan terhadap makanan yang terbukti menyebabkan reaksi klinis. Pendekatan ini mengurangi eliminasi makanan yang tidak diperlukan, mempertahankan kecukupan protein, energi, vitamin, dan mineral, serta mendukung pertumbuhan optimal anak.
Pada pasien dengan dermatitis atopik yang berhubungan dengan alergi makanan, eliminasi berdasarkan hasil OFC terbukti dapat mengurangi frekuensi kekambuhan, menurunkan luas lesi kulit, mengurangi rasa gatal, memperbaiki kualitas tidur, serta meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga.
Kesimpulan
Alergi makanan merupakan salah satu faktor penting yang dapat memperberat dermatitis atopik dan berbagai gangguan kulit, terutama pada bayi dan anak dengan penyakit sedang hingga berat. Interaksi antara gangguan sawar kulit, aktivasi respons T helper 2, produksi IgE, sel mast, eosinofil, dan sitokin menyebabkan inflamasi kulit kronis serta meningkatkan sensitivitas terhadap berbagai alergen. Diagnosis alergi makanan harus ditegakkan secara hati-hati karena sensitisasi tidak selalu berarti alergi klinis. Oral Food Challenge tetap menjadi baku emas untuk memastikan hubungan sebab akibat antara makanan dan gejala sehingga terapi eliminasi dapat dilakukan secara tepat, aman, berbasis bukti, serta mampu menghindari overdiagnosis dan gangguan nutrisi.
Daftar Pustaka
1. Katta R, Schlichte M. Diet and dermatitis: food triggers. J Clin Aesthet Dermatol. 2014;7(3):30-36.
2. Wüthrich B. Food-induced cutaneous adverse reactions. Allergy. 1998;53(Suppl 46):131-135. doi:10.1111/j.1398-9995.1998.tb04983.x.
3. Tham EH, Yamamoto-Hanada K, Leung ASY, Ohya Y. Role of skin management in the prevention of atopic dermatitis and food allergy. Pediatr Allergy Immunol. 2024;35(3):e14094. doi:10.1111/pai.14094.
4. Ahuja K, Issa CJ, Nedorost ST, Lio PA. Is food-triggered atopic dermatitis a form of systemic contact dermatitis? Clin Rev Allergy Immunol. 2024;66(1):1-13. doi:10.1007/s12016-023-08977-x.












Leave a Reply